
Reta telah kembali ke kamarnya, ia begitu kelelahan dengan teleport yang lumayang jauh dan kini Reta membaringkan dirinya dan hampir saja tertidur kalau saja ia tak mendengarkan ketukan dari arah belakang kamarnya dan Reta sangat mengenali ketukan ini. Biasanya Gadi Ta akan melakukannya saat ia mengemban tugas dadi Reta untuk memata-matai Danual.
Reta lagi-lagi menggunakan teleport untuk sampai di halaman belakang dan menemukan Gadi Ta dengan beberapa klan landak serta elang. Reta menyadari jika mereka adalah prajurit khusus Draca di kerajaan bawah.
"Terimalah hormat kami putri Meira," sambut mereka dengan hormat saat melihat Reta muncul dengan tiba-tiba. Beberapa pasang mata terlihat kagum dan mungkin berpikir jika Reta sangat pantas untuk menjadi pendamping pangeran Draca yang tak tertandingi kekuatannya.
Tentu sangat wajar jika mereka beranggapan seperti itu, karena hanya beberapa orang saja yang bisa berteleport dengan mudahnya.
"Bangunlah kalian," perintah Reta dan mereka pun berdiri.
"Kalian harus segera kembali, bantu pangeran Draca sampai akhir." Permintaan ini membuat para prajurit ini kebingungan, karena awalnya mereka ditugaskan untuk melindungi Reta oleh Draca.
__ADS_1
Reta menghela napas. "Seperti yang kalian lihat, aku bisa melakukan apa pun yang ku mau dengan kekuatanku. Tidak akan ada orang yang berani melukaiku, jadi kalian kembalilah." Kali ini Reta meminta mereka dengan sangat.
"Baik yang mulia putri Meira," jawab mereka serempak dan mereka pun pergi. Hanya tersisa dirinya dan Gadi Ta.
Reta segera memegang tangannya dan menghilang bersama, mereka muncul di kamar Reta. "Apa yang Draca katakan?" todong Reta membuat Gadi Ta segera merunduk untuk memberikan hormatnya.
"Pangeran Draca akan melaksanakan semuanya sesuai arahan anda," jawab Gadi Ta yamg entah mengapa membuat Reta sama sekali tak puas.
Reta pun duduk dengan menghela napas berat. "Apa kau tahu, jawabanmu itu tak memuaskanku, Gadi Ta ...," lirih Reta dengan mata jauh menerawang. Dirinya tak bisa memikirkan yang lain, kecuali rasa khawatirnya. Terkadang Reta ingin sekali membenturkan kepalanya pada tembok, saat satu demi satu kenangan tentang bagaimana Draca melukainya. Namun, tetap saja Reta ingin Draca hidup bagaimana pun caranya.
Seketika air mata Reta jatuh. Gadi Ta membisu melihatnya, wanita ini tentunya cukup tahu apa yang dirasakan tuan putrinya saat ini karena Gadi Ta pun merasakannya. Kekhawatiran dan rasa takut kehilangan membuat kebisuaan untuk sesaat.
__ADS_1
"Maafkan hamba putri, pangeran terlihat sekali begitu yakin dapat melaluinya dan pangeran juga berpesan agar anda meminum ramuan ini," Gadi Ta menyodorkan secangkir ramuan dan Reta cukup tahu apa yang ada di dalamnya.
Perasaan sedih dan kehancuran terus menerobos masuk. Air mata Reta lagi-lagi tak terbendung. Wanita ini menangis dalam diam, tapi ia tetap meminumnya.
Reta terus merasakan jiwanya hancur. Bagaimana tidak? Disaat dirinya begitu mengkhawatirkan Draca, pria itu lebih memilih untuk segera menyingkirkannya. Tidak ada yang lebih gila dari ini bukan?
Lanjutannya bisa baca di link dibawah dan gratis sama seperti di sini kok. Jadi jangan lupa untuk cek link di bawah ya. Aku tunggu dan terima kasih untuk dukungan kalian selama ini, aku sangat menanti komentar yang luar biasa dari kalian semua.
__ADS_1
link lanjutan :https://www.\*\*\*\*\*\*.com/novel/BoWj%2FsO1WIQaH1yxlVCJYg%3D%3D-Super-Blue-Blood-Moon.html
Selamat membaca ^ - ^