
Pagi ini mendung, saat seluruh persiapan menuju kerajaan naga telah usai. Reta, memandang langit kelabu dengan desahan panjangnya. Bukan berarti ia tidak pernah mengerti, jika setelah ini semuanya akan berubah. Tentang bagaimana rencana Draca dan kekuasaannya yang menjadi terbatas. Membuatnya tak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Untuk hal semacam ini, Reta telah mempersiapkan beberapa hal yaitu Gadi Ta harus terus bersamanya, Sara dan Jara Ta. Reta jelas ingin menjadikan mereka tim yang dapat membantunya untuk mengurusi beberapa hal rahasia yang tak boleh Draca ketahui.
"Apa yang putri cemaskan?" Seperti biasa, Gadi Ta selalu perhatian. Membuat Reta kini memandangnya dan tersenyum. Apa sekarang saatnya untuk mengatakan jika ia tahu Gadi Ta bekerjasama dengan Draca?
"Aku tahu kau bekerjasama dengan Draca," ucapnya yang tentu membuat Gadi Ta terkejut bukan main. "Bahkan aku tahu jika kau menyukainya," lanjut Reta yang seolah menjadi pukulan telak bagi pelayan Phoniex ini.
Reta selama ini hanya bisa menduga, tapi semenjak di malam pernikahannya. Ia dapat memastikan kerja sama diantara keduanya. Namun, Reta sangat membutuhkan Gadi Ta untuk misinya kali ini dan wanita ini mencoba untuk bernegosiasi dengan keadaan yang ada.
"A-ampuni saya putri," mohonnya dengan bersujud. Ia tentu tak bisa mengelak lagi dari semua ini.
"Kau harus tahu ini ... Mungkin kau dan aku sama-sama menyukainya, tapi tolong jangan berharap terlalu banyak." Reta menjeda, menghela napas kuat-kuat. "Kita hanya bagian dari rencananya. Aku tak berniat untuk menentangnya atau tetap berada di sampingnya, Gadi Ta," lanjut Reta yang membuat Gadi Ta terlihat tak memahaminya.
"Kenapa putri?" Akhirnya pertanyaan itu keluar saat Reta tak segera mengeluarkan suaranya.
"Karena aku memiliki hal lain yang harus ku selesaikan. Aku berharap kepadamu, setiap hal yang ku lakukan jangan sampai Draca tahu. Lagi pula ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya, aku punya misi sendiri untuk diriku, Nania dan beberapa temanku yang lainnya. Jadi Gadi Ta, bisakah kau melakukan hal semacam ini untukku?" mohon Reta dan Gadi Ta pun mengangguk.
"Hamba bersedia putri dan maafkan untuk semua perbuatan hamba selama ini," pintanya yang tak menyangka jika Reta mengetahui semuanya. Apa yang telah ia rencanakan dengan Draca.
Reta seketika merasa cukup lega, setidaknya ia tidak ragu lagi untuk memasukkan Gadi Ta dalam timnya. Sebab, nantinya ia akan sulit untuk terus berpura-pura kepada Gadi Ta, pernikahan ini ternyata membuat berbagai hal semakin mudah untuk Reta putuskan. Salah satunya untuk tak terus larut dalam dilema cinta yang menjemukan antara terbalas dan tidak terbalas. Sungguh, itu seperti pertunjukkan drama romance yang seharusnya tak pernah seindah itu. Jadi, Reta harus melangkah maju untuk misinya dan melupakan semua hal yang sepantasnya ia pikirkan. Di sisi lain Gadi Ta memandanginya dengan senang dan perasaan sedih pula.
---***---
"Seharusnya kau membiarkanku menyerangnya saat pernikahan itu terjadi." Arslaan terlihat cukup kesal saat ini. Ia sudah teratung-atung, terlihat tidak berguna berada di kerajaan pegasus.
Marshal yang semenjak tadi hanya membaca beberapa lembar kertas kini menatap Arslaan. "Lakukan saja jika kau sudah bosan dengan hidupmu. Bahkan klan serigala yang menguasai daerah pesisir dan hutan gelap tak menyarankanmu untuk menyerang sekarang. Penyatuan kedua kerajaan terkuat adalah bencana besar untuk kerajaan lainnya, hanya kita tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Draca, benar-benar berada di puncak kekuasaannya, jika kita tiba-tiba seseorang mencoba menyerangnya apa lagi jika itu seceroboh dirimu ... Ku jamin, kau pasti sudah tidak berada di sini sekarang," kata Marshal yang sangat kesal dengan Arslaan yang selalu tak sabaran itu.
"Lalu sampai kapan aku harus seperti ini? Aku terlalu marah saat melihat mereka bisa bersenang-senang seperti ini," akuinya yang membuat Marshal cukup mengerti.
"Selain kau ingin kembali menguasai kerajaan bawah, kau juga ingin bertemu dengan Nania kembalikan?" tebak Marshal dan Arslaan pun mengangguk.
"Aku merindukannya," balasnya yang tak seperti Arslaan biasanya yang tentu membuat Marshal tertawa.
"Ayolah, ini seperti bukan dirimu. Kau bisa mengambilnya satu dari beberapa pelayan di sini," tawar Marshal.
"Lalu, apa kau bisa menjamin jika mereka seperti Nania? Ayolah, bahkan sampai detik-detik dimana kau akan dilantik menjadi putra mahkota, bahkan kau tak memiliki selir satu pun. Kenyataannya kau masih dibutakan dengan wanita jalang seperti Alika." Ucapan terakhir Arslaan membuat Marshal melotot.
__ADS_1
"Aku tak percaya kau bisa menyukainya, wanita itu sama sekali tak sama seperti apa yang kau gambarkan. Mungkin saja kau ... Salah mengenali seseorang, mungkin saja ia adalah Alisa, kembarannya yang entah berada dimana," ucap Arslaan yang membuat Marshal mendesah.
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dan mencaritahu sekarang. Kita hanya perlu menunggu ... Aku rasa putri Meira tak sama seperti saat kita bertemu dulu. Berlahan, ia akan tahu bagaimana sosok Draca yang sebenarnya, aku pun telah mengutus beberapa orang untuk mengawasi mereka dari kejauhan, jadi kau tenang saja." kata Marshal yang membuat Arslaan tidak bisa membantahnya lagi.
---***---
Kerajaan naga yang megah dan kokoh, sama seperti yang dibicarakan oleh banyak klan. Lampion warna merah hadir di setiap sisi dengan naga yang hilir mudik di angkasa saat malam, seolah menyatu dengan bintang-bintang. Reta jadi mengingat beberapa festival tahun baru China dengan banyak atraksi naga. Ia selalu mengajak teman-temannya untuk membolos les hanya untuk melihat atraksi itu.
"Coba anda lihat putri, sepertinya mereka menyambut kedatangan anda dengan meriah," Gadi Ta memuji dan Reta tak menunjukkan respon apa pun.
Ingatan Reta berkelana, pada saat mereka berempat berkumpul bersama. Bahkan terkadang membolos hanya untuk berkeliling Jakarta dengan menggunakan mobil Akira, itu pun mereka harus membohongi Adel dan mengikat tangannya agar tak kabur, bahkan menyimpan mulutnya agar tak terus-terusan berceramah tentang pentingnya sekolah. Sungguh, Reta rindu saat-saat seperti itu dan sekarang mereka terjebak di sini. Menjalani takdir yang sama sekali tak dapat ia pahami.
"Apa yang kau pikirkan?" bisik Sara yang terlihat khawatir saat melihat ekspresi Reta.
"Tentang, kenapa bisa sampai di sini dan tiba-tiba aku harus menikah dengan seekor naga," ucap Reta asal yang membuat Sara harus menyenggolnya agar Gadi Ta tak mendengarnya.
"Ada apa putri?" Gadi Ta yang mendengarnya secara samar-samar hanya mampu bertanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa gugup saja," balas Reta.
"Putri, silahkan turun," ucap Gadi Ta yang turun beberapa saat untuk mempersiapkan beberapa hal agar Reta bisa turun.
Reta sudah melihat Draca berdiri beberapa meter di hadapannya. Seorang pria tua dengan mahkota bersimbol naga yang sudah pasti adalah raja kerajaan ini, ayah Draca. Kemudian, wanita paruh bayah yang terlihat begitu cantik dan anggun, tapi kesan sinisnta cukup kentara, Reta rasa ia adalah ibu tiri Draca, si ratu pengganti.
Sampai kapan pun sosok pengganti itu, selalu saja terlihat tak baik meskipun berupaya terlihat begitu terhormat. Seketika Reta teringat pada sosok ibu Draca yang cukup sederhana, bijaksana dan baik, jauh dari kata angkuh.
"Entah mengapa, aku merasa antara diriku dan Alika akan sama menjadi kisah yang sama seperti ini" Reta bergumam pada dirinya sendiri.
"Apa yang ingin anda katakan putri?" tanya Gadi Ta.
"Tidak ada," balas Reta yang kini sudah berdiri dihadapan Draca, mencoba memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Draca pun membalas senyumannya, sebelum tiba-tiba ia mengecup dahi Reta, membuat pipi wanita ini bersemu merah.
"Beri hormat kepada ayahanda dan bunda," ucapnya yang begitu berat ia ucapkan. Reta merasakan itu, rasa ketidak sukaan dari tatapan serta nada bicara Draca. Sepertinya hubungan keluarga ini sangatlah rumit dan tidak ada baiknya sama sekali. Mengingat Draca penuh kepicikan seperti itu, jelas sesuatu telah mendorongnya jauh pada kegelapan. Reta pun mengingat kata-kata Draca yang seharusnya dirinya merasa bersyukur karena telah dilahirkan di kerajaan Phoenix yang cukup makmur.
__ADS_1
"Hormat hamba kepada ayahanda dan bunda," ucap Reta yang meniru Draca dengan mudahnya.
"Kau sangat cantik seperti yang kebanyakan mereka bilang. Pantas saja Yang Mulia sangat ingin Draca menikah dengan putri Meira," puji ratu naga dan Reta hanya menanggapinya dengan kikuk.
"Tentu, aku akan selalu memberikan pilihan terbaik untuk pangeran kami," sahut sang raja yang membuat Reta pun semakin kikuk.
Dan tiba-tiba saja sosok pria berambut karamel berdiri di samping sang ratu. Terlihat rupawan seperti Draca, hanya saja ekspresinya cukup menyenangkan. "Perkenalkan, hamba adalah pangeran Danual Gen Ra," sapanya, membungkuk dengan sopan.
"Danual adalah pangeran keduaku, saudara Draca." Raja mencoba memperkenalkan putra keduanya kepada Reta dan wanita ini pun hanya mengangguk untuk menunjukkan bahwa ia mengerti.
"Ayo, sebaiknya kita masuk." Draca yang semenjak tadi hanya diam, kini memilih untuk bersuara. Menarik tangan Reta dengan sedikit terburu-buru, membuat Reta kewalahan mengimbangi langkahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" tanya Reta yang tak memahaminya.
Draca meliriknya, sebelum akhirnya tetap menariknya masuk. Reta pun enggan untuk memprotes, ia sudah cukup lelah dengan perjalanan meskipun hanya duduk dan memandangi awan berkumpal, langit yang terkadang berganti warna, beberapa ras dengan wujudnya yang melintas dihadapannya.
Bahkan ia mengabaikan bangunan megah istana naga yang cukup berbeda corak serta bentuknya dari istana Phoenix. Reta hanya merasa lelah dengan perjalanan yang lumayan jauh, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi saat berada di sini, bahkan rencananya yang akan sulit ia lakukan atau rencana Draca yang mungkin saja membahayakannya sebelum ia berhasil menemukan jalan keluar untuk kembali ke dunianya yaitu bumi.
"Kita sudah sampai," ucapan yang berubah lembut itu membuat Reta mendongak, bahkan tatapan tajam itu pun melunak. Hanya satu kata yang mampu Reta pikirkan.
Kali ini apa yang pria ini rencanakan?
Bahkan saat Draca menariknya masuk kamar, Reta masih diam dan seperkian detik saat tiba-tiba Draca mencumbunya dengan cepat dan kuat.
"Jangan mempercayai siapa pun di sini kecuali diriku," bisiknya yang dapat Reta dengar, saat Draca melepaskan tautan bibirnya sesaat sebelum akhirnya melumatnya kembali dengan lebih bergairah.
"Tapi-" Reta mencoba melepaskan dirinya dari serangan Draca tapi sangat sulit.
"Aku tidak suka penolakan dan apa kau tidak tahu, ini bukan saatnya untuk berdebat. Aku butuh dirimu untuk memenuhi kewajibanmu sebagai istriku, Meira," ucapnya dengan tatapan dalam yang seketika membuat tubuh Reta memanas.
Sialan! Kenapa hanya dengan kata-kata semacam itu saja, sudah membuat dirinya seperti wanita murahan yang telah lama mengharapkan belaian dari Draca. Reta sungguh ingin membenturkan kepalanya apa pun yang ada di dalam kamar megah ini.
Tidak ingatkah dirinya pada perkataannya beberapa saat lalu kepada Gadi Ta, jika ia tidak akan selamanya tinggal bersama Draca dan sekarang apa? Bahkan ia tak bisa menolak Draca.
Bahkan pria di hadapannya ini tersenyum. Senyum yang jarang sekali ia tunjukkan. "Aku sedikit suka dengan reaksimu yang sekarang," gumamnya yang kini mulai melumat bibir Reta kembali dan mengangkat tubuh mungil gadis ini, membaringkannya di atas kasur empuk miliknya.
__ADS_1
Reta merasakan wangi yang sama seperti di gua waktu itu dan tentunya sentuhan-sentuhan Draca yang selalu membuatnya menggila tanpa sadar dengan dirinya sendiri.