Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
Love & Lies


__ADS_3

Reta kembali ke kerajaan Naga dengan kehancuran yang tak bisa ia ungkapkan. Namun, saat ia melihat Sara berbincang dengan Danual. membuat Reta semakin marah, ia berjalan lebih bertenaga dan cepat hanya untuk membuat Sara menjauh dari Danual.


Reta juga baru menyadari jika Gadi Ta tak ada bersama Sara dan itu semakin membuat emosi Reta memuncak. Gadi Ta, benar-benar telah mempermainkannya dan hal inilah yang kini terngiang dalam benaknya.


"Sepertinya ada hal baik di sini, kalian terlihat begitu akrab," ucap Reta yang sebenarnya berusaha menekan Danual. Jika seluruh hatinya hancur berkeping, maka empatinya tak boleh dengan mudah hancur. Sara adalah kelamahan dan peringatan untuk selalu menunjukkan kekuatan bahkan jika itu hanya luarnya saja karena Reta harus ingat jika hanya dia pelindung di sini.


"Nania ... Bisakah kau mencari Gadi Ta untukku?" perintah Reta dengan dingin. Sara diam, sedikit bingung dan juga takut. Ia mencoba menduga-duga jika Reta marah terhadapnya. Tapi kenapa? Sara tak mengerti.


"Gadi Ta diperintahkan oleh pangeran Draca untuk pergi mencari beberapa bahan makanan untuk putri Meira." Sara mencoba menjawab dan Reta sama sekali tak menyukai jawaban gadis di hadapannya ini.


"Tapi, aku harus berbicara dengan pangeran Danual. Jadi, tinggalkan kami sekarang!" tekannya yang tentu membuat Sara terkejut bukan main. Kali ini Reta menunjukkan ketegasannya yang bahkan tak Sara pahami.


"Ba-baiklah," jawab Sara terbata, Reta seketika merasa bersalah, tapi ia harus tetap melakukan ini. Jika tidak, Sara akan dalam bahaya!


Reta masih memandangi punggung mungil Sara yang semakin lama semakin menjauh.


"Jadi?" pertanyaan Danual membuatnya kembali dan sadar dimana dirinya berada.


"Harus berapa kali ku katakan untuk tak melibatkan dayangku itu?" tanya Reta yang terdengar sedingin es dan hal ini cukup mengejutkan Danual sekaligus


membuatnya senang karena berhasil memprovokasi Reta.


Danual pun duduk sambil tersenyum. "Sampai kau memberitahuku bagaimana caranya membuat Draca mati," ucapnya dengan sangat lancang. Ingin sekali Reta menonjok mulut itu, atau mungkin bahkan membungkamnya dengan api abadi miliknya. Hanya saja, Reta harus ingat tujuannya. Mereka masih sangat bermanfaat baginya dan tentu Draca akan membunuhnya seketika jika ia mengacaukan rencananya.


"Kau yang menginginkannya dan kau pula yang harus memikirkannya. Aku hanya akan membantumu satu kali, kalau kau gagal ... Itu adalah resikomu," balas Reta yang kini meninggalkan Danual yang terus memandanginya penuh minat.


Sementara Reta, wanita ini terus melangka dengan cepat menuju kamar Sara dan ia menemukan gadis itu berdiri membelakanginya. "Jangan menemui Danual dengan alasan apa pun Sara," ucap Reta tiba-tiba yang membuat Sara menoleh dan terkejut.


"Ada apa sebenarnya?" tanyanya dan Reta masih diam. Jelas Reta tidak bisa seterbuka itu kepada Sara yang memang semenjak dulu tak bisa menjaga rahasia. Selalu saja keceplosan tanpa sengaja.


"Dia sangat berbahaya untuk kita, kau tidak punya pilihan untuk mempercayai siapa pun di tempat ini kecuali aku," pungkas Reta yang entah mengapa seolah mengintimidasi Sara.

__ADS_1


"Reta, apa sesuatu terjadi? Katakanlah." Sara melihat banyak perubahan dari sikap Reta dan itu tentunya membuat Sara tak suka.


Reta menghela napas dan akan mengatakan sesuatu sampai seruan seseorang lebih dulu memotongnya. "maafkan saya putri." Itu adalah suara Gadi Ta yang terdengar gugup sekaligus ketakutan.


"Kemana saja kau!" tekannya Reta dengan tampang garangnya. Gadi Ta dan Sara sedikit ketakutan melihat perubahan Reta. Wanita di hadapan mereka ini, seolah wanita yang berbeda.


"Aku menyuruhnya untuk membelikan beberapa ramuan. Ada apa? Kenapa kau terlihat marah sekali?"


Draca sudah hadir diantara ketiga wanita ini. Reta menghela napas, mencoba menahan segala amarah dan rasa sesak yang menerjangnya. Bayangkan, dari semua yang membuatnya marah, Draca berada diurutan pertama dan Reta harus berusaha untuk menahannya. Jika tidak, maka semuanya akan berbeda.


"Aku tidak enak badan, ingin istirahat," jawab Reta yang bahkan kali ini meninggalkan ketiganya.


Draca memandangi Sara dan Gadi Ta bergantian. "Apa yang terjadi pada putri Meira?" tanyanya dengan santai, tapi Gadi Ta tahu jika Draca mengkhawatirkannya.


"Sepertinya sesuatu terjadi kepadanya, entah itu apa?" gumam Sara yang nampaknya berpikir cukup keras.


"Baiklah, masuk. Ini sudah malam," perintah Draca yang kini menghilang dan muncul di dalam sebuah kamar yang cukup besar, dilihatnya punggung Reta yang membelakanginya dan Draca pun berteleport kembali, tidur di sebelah Reta dan memeluknya erat.


"Aku mengurusi sesuatu dari pagi dan baru kembali sekarang, apa kau tidak ingin menyambut suamimu dengan hangat?" bisiknya yang membuat Reta yang semenjak tadi tidak tidur pun menghela napas panjang. Dengan begitu keras ia berusaha untuk tidak menangis.


Sebenci itukah Draca kepadanya? Hingga harus berpura-pura menjadi baik, menciumnya, menggodanya dan berkata begitu lembut terkadang. Seharusnya semenjak lama Reta tau, jika sikap seseorang tidak akan berubah dalam satu malam.


Katakan jika Draca memiliki banyak rencana licik, kenapa itu harus membunuhnya? Kenapa seperti itu? Kenapa?


Reta terus berpikir, beradu dengan hati dan pikirannya. Mencari pembenaran untuk segala prasangka dan dugaannya.


"Meira, apa kau mendengarkanku?" pertanyaan Draca membuat Reta kembali pada dunia nyata. Wanita ini menoleh dan menghela napas kembali.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Reta balik bertanya, kali ini dengan tatapan datarnya yang membuat Draca terkejut sesaat sebelum akhirnya ia menarik Reta dan memeluknya erat.


"Pelukan seperti ini yang ku inginkan," gumamnya sambil memeluk Reta dan tanpa Draca tahu mata Reta berkaca-kaca.

__ADS_1


Baginya, semakin sering Draca memberikan sentuhan, semakin dekat waktunya untuk pergi. Mungkin, Draca melakukan ini untuk salam perpisahan sebelum kematiannya yang tak dapat ia tentukan kapan itu terjadi.


"Apa hidup di istana ini begitu sulit?" gumam Reta yang membuat Draca melepaskan pelukannya dan memandang lekat manik mata kejinggahan itu.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Dahi Draca mengkirut menunjukkan ketidak Tahuan.


"Karena semua ingin bertahan di puncak tertinggi. Meskipun harus mengorbankan segalanya," jawab Reta yang kali ini terdengar sangat kaku. Draca tahu, istrinya ini akan mulai membuka sesi berdebat dengannya.


"Apa kau ingin menyindirku lagi?" tanya Draca yang kini menarik Reta dan memeluknya erat, merasa gemas.


Reta masih saja diam, hingga perkataan tragis itu keluar dari mulutnya. "Jika, aku mati sebelum kau mendapatkan tahta, apa yang akan kau lakukan?" Draca membatu dan segera melepaskan pelukannya, mata kelamnya bertemu dengan tatapan datar Reta.


Draca mencoba untuk menelusup jauh ke dalam mata datar itu. Berpikir segala kemungkinan, hanya saja tidak ada yang berubah dari manik mata Meira.


"Kenapa kau mengatakan itu? Kau akan hidup panjang dan akan selalu menemaniku."


Jika sebilah pedang mampu menciptakan perih, bahkan jika itu racun telah berhasil menggerogoti dirinya. Maka, semua itu tidak akan sepadan dengan rasa sakit saat seseorang membohongimu tentang seberapa lama dirinya mencoba memainkan peran sebagai pria yang mencintainya.


Hanya sebuah peran, tidak lebih dari itu!


"Mungkin saja, lusa aku pergi dan tak kembali. Maka kau bisa menikahi Alika, atau wanita mana pun yang kau suka dan aku akan memberikan kerajaanku kepadamu dengan cuma-cuma jika kau bisa terus melindungi kedua orang tuaku," lirih Reta yang masih saja mempertahankan kedatarannya.


Draca memandangnya, tangannya menelisik, membelai rambut indah Reta. "Tanpa seizin ku kau tidak boleh pergi. Aku akan selalu mengawasi dan menjagamu di sisiku," balasnya yang membuat Reta tersenyum getir.


"Baik, aku hanya perlu menunggu sampai kau melepaskan diriku untuk pergi bukan? Itu dapat dimengerti," balas Reta yang tentu saja membuat Draca tak menyukainya.


"Sebenarnya ada apa denganmu?" desaknya tak mengerti. Reta menoleh dan memandangnya tanpa gugup.


"Detik dimana pertempuran antara dua saudara sangat dekat, jadi aku hanya ingin mengingatkanmu tentang ini," ucapnya beralasan dan Draca mulai memahaminya.


"Sudah ku katakan, tidak akan ku biarkan siapa pun menyentuh sehelai rambutmu!" tekan Draca dan Reta sangat ingin tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Benar, hanya kau yang berhak untukku," balas Reta yang kali ini memeluk Draca erat dan wajahnya berubah saat memunggungi Draca.


Perasaan hancur itu, menerjangnya sampai habis tak tersisa.


__ADS_2