Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
Prevention


__ADS_3

Reta telah tertidur pulas dan Draca kini memandangi wanita yang telah dinikahinya beberapa bulan yang lalu. Pria ini mencoba mengecek kondisi tubuh istrinya, memeriksa detak nadi di tangannya dan tersenyum saat ia merasa detak yang lain di dalam sana.


Pria ini pun bangkit, mencoba untuk duduk sembari memandangi Reta, kemudian ia bergumam. "Apa kau sudah tahu rencanaku? Seharusnya Alisa telah memberitahumu bukan? Tapi, kenapa kau masih kembali?" tangannya datang dan membelai pucuk kepala Reta.


"Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kau tak segera pergi. Untuk itu jangan salahkan aku jika aku kali ini tak akan melepaskannya," ucapnya yang kini mengecup dahi Reta dan pergi.


Reta pun membuka matanya dan mulai menangis tersedu. Ia sangat tidak menyangka jika suaminya ini bisa bertindak sekeji ini. Namun, Reta tentu juga sudah memperkirakan semenjak awal dan ia juga tidak akan menyerah begitu saja. Setidaknya demi teman-temannya, Reta akan berjuang.


Reta mulai memikirkan hal apa yang perlu ia lakukan. Pertama-tama, Reta harus membuat Sara jauh darinya. Akan sangat berbahaya jika temannya itu, terus di tempat dengan berjuta intrik ini dan untuk memuluskan jalannya, Reta seketika mengingat Arslaan.


"Aku pikir, Arslaan berada di kerajaan Pegasus," gumam Reta.


Wanita ini pun menghela napas. "Besok, aku harus menemuinya, bagaimana pun caranya," lanjutnya yang kini memejamkam matanya kembali dan mulai larut dalam alam mimpi.


---***---


Draca tidak muncul semenjak pagi, membuat Reta bertanya pada Gadi Ta dan pelayan ini mengatakan jika Draca memiliki beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan di kerajaan bawah dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama, mungkin besok pria itu akan kembali.


Reta pun tak lantas mempercayainya. Wanita ini pun mencoba memastikannya dan ia pun mendengarkan langsung dari beberapa pelayan, bahkan prajurit yang melayani Draca secara khusus.


"Sebenarnya, apa yang ia rencanakan sekarang?" gumamnya yang kini melangkah menuju kamarnya, di sana sudah ada Sara dan Gadi Ta.


Reta lagi-lagi harus berpikir untuk mengelabuhi Gadi Ta dan bersamaan dengan itu sosok ratu Adistya datang.


"Ratu telah tiba!" seru salah satu dayang ratu dan wanita itu kini saling berhadapan dengan Reta.


Reta seketika berpikir, apa yang diinginkan wanita licik ini. Tetapi, Reta berusaha sebisa mungkin untuk menunjukkan ketenangannya.


"Apa yang membuat ibu ratu datang kemari?" tanya Reta setelah memberikan rasa hormatnya.

__ADS_1


Ratu pun tersenyum, sebelum akhirnya mengatakan sesuatu. "Tentu saja aku merasa kesepian dan membutuhkan seseorang untuk berbicara. Saat ini, kau adalah menantuku, putri di kerajaan ini. Jadi, aku ingin kau menemaniku berjalan-jalan untuk menikmati beberapa pemandangan indah di sekitar istana yang ku rasa, belum pernah kau jumpai," katanya beralasan dan Reta pun balas tersenyum.


"Tentu saja Yang Mulia, hamba akan merasa senang menemani Yang Mulia," balas Reta dan mereka mulai jalan beriringan.


Hanya saat para dayang, Gadi Ta, bahkan Sara mengikuti mereka. Ratu Adistya mencoba memberikan kode, agar mereka mundur beberapa langkah. Sementara keduanya berjalan di depan, lebih jauh.


"Draca berada di kerajaan bawah," Reta berseru dan sang ratu mengangguk.


"Ya, aku hanya ingin memberitahumu jika seribu pasukan bayangan kami telah mengejarnya. Setelah kematiannya nanti, aku berharap kau bisa bersandiwara dengan baik," pinta sang ratu yang seketika membuat Reta berusaha sekali menutupi keterkejutannya.


"Tentu, apa Yang Mulia telah mengintruksikan mereka untuk melewati jalur yang hamba sampaikan?" tanya Reta dan sang ratu mengangguk.


Reta pun menunjukkan kelegaannya. "Baiklah, hamba akan menyiapkan beberapa pasukan kaum bawah untuk mempermudah pasukan kalian," lanjut Reta dan sang Ratu pun tersenyum.


"Semoga kau benar-benar bisa menunjukkan kesungguhanmu kali ini," bisiknya saat ia mendekat dan Reta pun menunjukkan senyuman penuh keyakinannya.


"Yang Mulia jangan khawatir ini, aku sudah mempersiapkannya," lanjut Reta.


"Apa yang terjadi? Kenapa ratu menemuimu?" tanya Sara yang merasa jika yang mereka bicarakan bukan sesuatu yang sederhana.


Bukannya menjawab pertanyaan Sara. Reta malah memandangi Gadi Ta. " Gadi Ta, bisakah kau membantuku?" terlihat sekali Reta memohon.


"Tentu saja putri Meira, hamba akan melakukan apa pun untuk Yang Mulia," ucapnya.


"Mari kita kembali ke kamar dan membahas ini," ajak Reta yang membuat keduanya mengekor tanpa mengatakan apa pun.


Di sepanjang jalan menuju kamarnya Reta nampak begitu berpikir. Ia benar-benar harus menguras otaknya untuk menemukan jalan yang tepat. Sebenarnya, ia tidak menyangka jika Ratu melakukan pergerakan secepat ini. Reta, harus memutar otaknya dengan melakukan tiga rencana sekaligus. mengirim Sara ke kerajaan Pegasus, memberi petunjuk pada Draca jika dirinya diserang serta memberikan instruksi beberapa pasukan khusus dari klan bawah yang dihadiahkan oleh sang raja untuknya dengan sangat rahasia dan memberikan perintah pada beberapa klan beruang untuk berpura-pura menyerang Draca.


Sesampainya di depan kamar, ia memandangi dua penjaga kamarnya. "Aku ingin siapa pun tidak menggangguku, aku sedang tidak enak badan!" perintahnya.

__ADS_1


"Baik, yang mulia putri Meira," jawab mereka dengan sangat kompak.


"Ayo masuk!" ajak Reta kepada Sara dan Gadi Ta. "Kalian harus menjagaku, aku merasa seluruh tubuhku begitu lemas," keluhnya yang berjalan lebih dulu. Diikuti keduanya yang sebenarnya penuh tanda tanya dengan sikap Reta yang tidak biasa ini.


Saat Gadi Ta berhasil menurut pintu, barulah Reta mengeluarkan sihir untuk membuat ruangan ini kedap suara.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Sara nampaknya tak dapat membendung lagi rasa penasarannya.


"Gadi Ta, aku akan membuat dirimu sedikit berubah dan datanglah pada pangeran Draca. Berikan ini kepadanya," perintah Reta dengan memainkan tangannya dan muncullah sebuah botol kaca kecil yang jika di keluarkan akan muncul sebuah kerlip dan membentuk sebuah tulisan.


"Ada apa putri? Apa yang terjadi sebenarnya?" Melihat kepanikan Reta tentu itu cukup mengkhawatirkan.


Reta sepertinya enggan untuk menjelaskan dan ia juga tak memiliki banyak waktu. "Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskannya kepadamu Gadi Ta. Lakukan apa yang ku perintahkan dan kau akan tahu sendiri saat berada di sana," terang Reta yang masih menunjukkan teka-teki. Gadi Ta pun tak bisa melakukan apa pun, hanya ia mencoba berpegang pada keyakinannya jika Reta sedang berusaha melindungi Draca.


"Maafkan kelancangan hamba putri Meira, baiklah hamba akan melakukannya," ucap Gadi Ta dan Reta menghela napas.


"Bersiaplah," ucap Reta yang kali ini tangannya memegangi kalung yang biasa ia gunakan untuk berteleport itu dan Gadi Ta pun menghilang.


Hanya tinggal dirinya dan Sara yang nampak sangat cemas. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku Reta?" Sara terlihat begitu kesal pada sahabatnya ini.


Reta menatap Sara dan berjalan mendekatinya. Memeluk sahabatnya ini dengan erat. "Aku harap kau bisa menerima keputusanku Sara. Ini sulit, jadi sepertinya aku harus mengirimu ke Arslaan. Ia dapat menjagamu dengan baik," ucap Reta sambil terus memeluk Sara.


"Kenapa tiba-tiba?" Akhir-akhir ini Sara sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya ini.


"Di sini sangat berbahaya bagimu, aku dan Draca masih berusaha untuk menyingkirkan para be**bah itu, tapi Sara ... Aku tidak ingin membuatmu terlibat. Jadi, lebih baik kita pergi ke kerajaan Pegasus," ucapnya yang membuat Sara terdiam, gadis ini berpikir.


"Jika sampai seperti, aku akan menurutimu," putus Sara yang membuat Reta tersenyum.


"Terima kasih Sara. Ayo kita pergi, tapi sebelum itu aku mau memanipulasi benda-benda itu untuk menjadi diri kita."

__ADS_1


Benar saja, beberapa guci itu seketika berubah menjadi Reta, Sara dan Gadi Ta. Reta pun tersenyum, saat merasa percobaannya tidak buruk juga setelah berlatih beberapa waktu lalu. Reta juga baru tahu, jika ia memiliki kekuatan sejenis ini dan ini sangat menguntungkan dirinya.


__ADS_2