Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
Black Pearl


__ADS_3

Di tengah taman dengan dikelilingi ribuan corak bunga, alangkah indahnya dan sejuk. Namun, suasana ini tidak dapat membuat Reta lebih baik. Pikirannya melambung saat ingatannya kembali pada rencana gilanya bersama Draca beberapa saat lalu. Reta merasa bodoh karena harus terlibat dengan permainan mereka yang berkuasa. Namun, ia tidak bisa tinggal diam saat Danual dengan lancangnya memasukkan Sara dalam permainan ini.


Kunci mereka untuk kembali adalah Reta dan untuk itu Reta harus mengusahakan apa pun untuk menjaga mereka agar tetap hidup sampai detik dimana kembali ke bumi dan itu adalah rencana terbesar dan beresikonya untuk saat ini.


"Apa yang membuat calon ratu kerajaan naga menjadi cukup murung?" seru seseorang wanita paruh bayah dengan tiara berbentuk naga dan mutiara hitam menjadi pelengkap di atas rambut kemerahannya. Ialah ratu Adista Gen Ru, salah satu penguasa kerajaan naga dari klan naga api yang membuat mertuanya harus tersingkir. Klan naga api adalah klan terbesar setelah klan naga es. Raja Amarta Gen Ru juga merupakan klan naga api, masih memiliki hubungan saudara dengan ratu, bisa dikatakan mereka adalah sepupu.


Sesungguhnya Reta sudah tahu cerita cinta menyakitkan yang melegenda antara raja Amarta dan ratu Derila Gen La. Gadi Ta menceritakannya beberapa waktu lalu dan itu adalah kisah yang benar-benar menyesakkan,  bagaimana ratu mengorbankan kekuasaannya untuk dapat bersama raja Amarta yang sebenarnya menikahinya hanya untuk tujuan menguasai wilayah bukit es yang luasnya sepertiga kerajaan naga dan merupakan wilayah kekuasaan terbesar kaum naga es. Setelah mendapatkan semua yang ia mau termasuk anak laki-laki yang sempurna, wanita di hadapannya ini muncul dan mengatakan jika ia juga mengandung anak dari raja Amarta. Ratu Derila mengijinkan raja Amarta untuk menikah kembali dan setelah itu ia dibuang dengan beberapa rencana.


Reta sudah bisa membayangkan dari mana sifat Draca yang picik itu berasal. Tentu dari ayahnya dan dendam karena perlakukan mereka kepada ibunya, belum lagi wanita ini tentu tidak akan membiarkan Draca menjadi putra mahkota dengan mudahnya. Buktinya dapat Reta lihat sekarang, ia datang mencoba memastikan apakah Reta layak untuk ia jadikan sekutu? Dugaan Draca memang benar dan Reta akan mencoba berakting semampunya.


"Karena hamba tidak menjumpai beberapa burung Phoenix terbang atau beberapa kembang api bermunculan di langit," sahut Reta yang membuat ratu Adista tertawa. Pasalnya di negeri Phoenix festival selalu terjadi kapan pun, bisa dikatakan negeri tersebut adalah surga untuk para pengunjung yang ingin melihat banyak pertunjukkan indah setiap harinya.


"Ah, benar juga ... Negeri naga ini cukup sepi, rakyat biasa tidak diperbolehkan untuk melintas di atas kerajaan, Jadi, maaf membuatmu kecewa karena tidak dapat melihat apa pun di langit kecuali prajurit yang sedang berkeliling," ucapnya yang membuat Reta tersenyum. Alasan dirinya mengatakan ini adalah untuk tetap mengontrol suasana, agar sang ratu naga ini ingat jika Phoniex adalah kerajaan termasyur dengan kekayaan yang melimpah dibandingkan tiga negara lainnya.


"Mungkin nanti hamba bisa mempersembahkan beberapa pertunjukan yang memukau dari negeri Phoniex untuk menghibur ibu ratu. Hamba akan sangat senang jika anda mengizinkannya," lanjut Reta yang membuat wajah ratu semakin pias saja. Sebab, Reta benar-benar memberikan tekanan secara verbal, ini sangat aneh semenjak kapan ia sudah menjadi seperti ini? Suka mengancam orang lain dan lihai dalam mengolah kata. Apa tiba-tiba Adel merasukinya? Secara diantara mereka semua, Adel lah sang jago berdebat.


"Baiklah, kali ini aku ingin mendengarkan apa yang ingin kau katakan sebenarnya." Reta seketika bersyukur, ia tak perlu melakukan basa-basi memuakkan.


"Tentu saja seperti yang anda harapkan, sebuah kerjasama untuk menjatuhkan Draca." Kali ini Reta menunjukkan wajah seserius mungkin agar sang ratu ini mempercayainya.

__ADS_1


Ratu Adista terdiam sesaat, menatap manik mata kejinggan Reta. Mencoba menyelaminya dan mencari sebuah kesalah di dalamnya. Namun, Reta tentunya sudah dapat mengantisipasi hal ini. "Apa tujuanmu mengatakan ini kepadaku, terutama kepada Danual. Kau punya niat lain?" tanya sang ratu dan Reta tersenyum, senyum yang menunjukkan kegeliian yang tentu membuat ratu Adista tak menyukainya.


"Apa menurut ibu ratu, hamba mencoba mencari keuntungan mutlak dengan memanfaatkan Draca dan Danual?" tanyanya dengan tatapan datarnya. "Jika itu yang ibu ratu pikirkan, maka pemikiran anda terlalu dangkal. Jika ini mengacu pada kekuasaan, maka kerajaan Phoniex sudah cukup membuat hamba sangat puas," ungkap Reta yang membuat ratu tak suka, sebab wanita ini terlalu berani mengatakannya dengan terus terang jika kerajaannya lebih unggul dari kerajaan Naga.


"Baiklah, aku akan mempercayaimu jika kau bisa melakukan sebuah pekerjaan kecil," ucapnya dengan senyum licik dan Reta mencoba untuk tak menunjukkan kekagetannya.


"Tentu, apa yang harus ku lakukan?" tanya Reta dan wanita ini pun mengisyaratkan Reta untuk mendekat, lalu membisikkan sesuatu kepadanya.


"Baiklah, hamba akan segera menghubungi ibu ratu setelah tugas yang anda berikan selesai." Reta pun bangkit, memberi hormat sebentar dan pergi.


Saat tubuhnya berbalik, wajah Reta berubah dingin dan Gadi Ta yang melihatnya pun merasa khawatir sekaligus penasaran.


Reta masih diam, enggan untuk mengatakan apa yang baru saja ratu katakan. Sampai lagi-lagi ia melihat Sara berbicara berdua dengan Danual.


"Gadi Ta, panggil Nania. Aku tak menyukai mereka bersama-sama seperti itu," perintahnya dengan tatapan tajamnya.


"Ibu dan anak yang sangat picik! Aku akan memberi sedikit pelajaran untuk kalian berdua," gumamnya yang kini pergi.


---***---

__ADS_1


Kerajaan Rubah yang indah dengan taman bunga yang mengelilingi, Alika terlihat menebar serbuk penyubur tanaman yang merupakan keahlian yang dimiliki kaumnya. Draca muncul dan memeluknya dari belakang, Alika langsung membalikkan badan dan membalas pelukan Draca.


"Kenapa kau lama sekali datang?" tanya Alika dan Draca mencium kening Alika.


"Ada banyak hal yang harus ku selesaikan," jawabnya yang tentu tak memuaskan Alika.


"Banyak hal, termasuk bersenang-senang dengan Meira?" tanyanya dengan tatapan sebal yang membuat Draca gemas sendiri.


"Kau cemburu? Ayolah, Alika ... Aku menjalankan semua ini sesuai rencana kita. Kau harus menguatkan dirimu," balas Draca yang membuat Alika menghela napas panjang.


Alika melepaskan pelukan Draca dan memilih duduk di sebuah kursi kayu ukir dengan segenap wajah murungnya. "Sampai kapan? Aku sudah tidak sabar ingin bersamamu. Kau tahu kan jika aku akan melakukan apapun. Bahkan, jika itu harus mengorbankan seluruh kerajaan ini atau seluruh Phatasia," lanjutnya dan Draca punendekat, berjongkok di hadapan Alika serta memandangnya dengan senyuman yang memikat.


"Aku tahu, kau adalah pasangan yang paling cocok untukku ... Tunggulah sebentar lagi, saat Meira berhasil melahirkan seorang anak. Ia akan menjadi pewaris kerjaan Phoenix dan secara tidak langsung aku telah menguasainya, saat ini aku memberi racun terlarang untuk klan Phoenix yang setiap hari ku berikan kepadanya. Itu akan membuatnya kehilangan kekuatan, tapi tidak mempengaruhi kondisi kandungannya. Panglima kerajaan Phoenix masih sangat kuat, aku tidak bisa menyerang mereka meskipun aku sudah membuat Leysa menggodanya mati-matian," katanya.


"Leysa? Sundal yang suka menggodaku itu?" tanya Alika sambil mencibir.


"Ya, sekarang kau tahu kenapa aku membiarkannya masih berada di sisiku? Itu karena rencana ini. Jika Leysa berhasil menikahinya, maka posisiku semakin kuat. Aku memiliki garis keturunan pemimpin kerajaan Phoenix dan senjata untuk meruntuhkan pertahanannya. Jadi setelah itu, kita bisa membunuh Meira dan kau menjadi ratuku, membantuku membasmi seluruh klan Gen Ru dari Phatasia," serunya dengan menggebu, Alika tersenyum karena ia merasa Draca masih lelakinya yang memiliki rencana gila dan dirinya akan mendukungnya sampai akhir.


"Aku mencintaimu," gumam Alika yang kini mencium Draca dan pria ini pun membalasnya, menjadikan cumbuan penuh gairah dan mereka menghilang bersama. Menyisahkan sosok yang masih mematung tak jauh dari sana.

__ADS_1


Alisa yang merupakan Akira menganga. "Bagaimana ini? Aku harus memberitahu Reta. Dia tidak boleh mati hanya karena pria brengsek itu!" kesal Alisa yang entah mengapa merasa dirinya harus kembali kerajaannya. Ia datang dengan menyamar hanya untuk melihat beberapa hal dalam kerajaan yang membuatnya rindu. Namun, ia tak menyangka jika kedua orang hebat itu memiliki rencana selicik itu.


__ADS_2