
Gadi Ta berjalan cepat, menuju tempat yang cukup jauh dari kerajaan Phoenix dan masuk kedalam sebuah hutan lebat. Disana, sosok pria bertubuh tegap, rambut kemerahan dengan bola mata merah yang menatapnya dengan tajam.
"Sembah hamba Pangeran Draca," ucapnya yang kini bersujud dihadapan pria dengan pandangan tajam itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu," ucapnya dan Gadi Ta pun mulai bercerita.
"Semenjak putri Meira sadar, hamba merasakan banyak keanehan. Ia tidak mengingat siapapun, bahkan itu Anda dan yang membuat saya begitu terkejut adalah saat melihat wajahnya terkejut, ketika menyadari jika ia memiliki kekuatan yang bisa melukai orang lain. Putri Meira ketakutan dengan dirinya sendiri dan kenyataan tentang dirinya. Seperti itu lah yang dapat hamba tangkap Yang Mulia. Ia sangat jauh berbeda dengan dirinya yang pemarah dulu. Bahkan, ia meminta maaf kepada hamba karena melukai hamba tanpa sengaja," terang Gadi Ta yang tentu membuat dahi pria ini mengkirut, nampak memikirkannya.
"Aneh, sepertinya aku harus melihat langsung keadaannya." Pria ini pun hendak pergi tapi Gadi Ta memanggilnya.
"Pangeran Draca, Anda tidak bisa kesana. Disana keadaannya begitu tegang, apa lagi utusan dari kerajaan Anda sedang berunding disana," cegah Gadi Ta dan pria yang merupakan pangeran Draca itu mengangguk.
"Aku tahu, tapi aku bisa menyelinap. Berpura-pura menjadi dirimu. Jadi tunggulah disini, sampai aku bisa memastikan jika ia benar-benar tak merencanakan sesuatu," ucapnya yang membuat Gadi Ta mau tak mau mengiyakannya.
Draca, mengubah dirinya menjadi sosok Gadi Ta dan berjalan dengan cepat menuju istana Phoenix. Sementara Gadi Ta yang asli, hanya terus memandanginya dengan cemas. Ia menyukai pangeran Draca semenjak dulu, semenjak diselamatkan saat Meira mencoba menjatuhkannya kejurang karena cemburu padanya.
Draca dan Meira ditunangkan semenjak kecil, semenjak saat itulah Meira selalu mengeklaim Draca adalah miliknya dan akan melukai wanita mana pun yang berani mendekati Draca. Hal itu, tentu membuat Draca cukup muak, hingga diambang batas.
Ketika Meira mengajaknya bertemu, Draca terpaksa menurutinya tapi ia terus mengabaikan Meira dan lebih sering berbicara dengan Gadi Ta. Karena hal ini lah, Meira marah dan membuat Gadi Ta jatuh kejurang. Namun, dengan sigap Draca menyelamatkannya, membuat dirinya bisa hidup sampai detik ini. Mengabdikan dirinya pada pria itu bukanlah sesuatu yang tercela meskipun sejatinya ia adalah seorang penghianat bagi kerajaan dan rasnya.
Di istana Phoenix, Reta masih terlihat berusaha berpikir keras. Ia semakin frustasi saja saat tangannya dengan mudah mengeluarkan api karena sangat gugup.
"Bagaimana ini?" Reta berjongkok dan lagi-lagi menangis. Ia masih belum bisa menerima semua ini dan Reta sangat ingin pergi dari tempat ini.
Pikirannya kacau dan ia tidak bisa memikirkan apa pun kecuali pergi keluar dan menghirup udara yang segar.
Reta pun hendak membuka pintu kamarnya tapi ia sangat terkejut saat melihat seseorang berdiri dihadapannya. "Ah, Gadi Ta. Kenapa kau berdiri disini," Reta mengelus dadanya yang terasa hampir copot karena kaget dengan kehadiran Gadi Ta.
Bukan menanyakan keadaan Meira, pelayan wanita yang bernama Gadi Ta ini diam, memandanginya dengan beribu pikiran misteriusnya.
"Gadi Ta ..." Reta memanggilnya dan sepertinya gadis ini tidak tahu keanehan pada pelayannya ini.
"Iya Putri ..." sahutnya dengan datar.
"Apa semua orang sedang berkumpul?" tanyanya dan Gadi Ta pun mengangguk.
Reta menghela napas. "Bagus, aku ingin keluar. Bisakah kau temani aku?" mohonnya dan terlihat sedikit keterkejutan di wajah Gadi Ta.
"Tidak bisa? Apa tubuhmu masih sakit?" Reta segera meraih tangan Gadi Ta yang membuat sosok sebenarnya dalam wujud Gadi Ta itu semakin dibuat tercengang.
"Maafkan aku, kau istirahat saja di kamarku. Aku akan pergi sendiri," usul Reta dan Gadi Ta segera menggeleng.
"Tidak Putri, tugasku adalah untuk menjaga dan melindungi Anda," ucapnya yang membuat Reta menghela napas.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu bawa aku ketaman," pinta Reta dan Gadi Ta mengangguk.
"Ikuti hamba," katanya dan Reta yang tak menyadari apa pun, mengikuti Gadi Ta.
Awalnya Reta berjalan dibelakang Gadi Ta, tapi Gadi Ta tiba-tiba memelankan langkahnya, mencoba mengimbangi gerak Reta yang cukup lemah.
"Apa yang ingin anda lakukan di luar Putri," tanya Gadi Ta.
"Aku ingin menghirup udara segar. Disini, aku merasa sesak," akui Reta yang tentu membuat wajah Gadi Ta keheranan.
"Kenapa? Apa Anda ingin menemui pangeran Draca?" pancing Gadi Ta membuat Meira menoleh.
"Siapa itu?" tanya Reta dengan wajah ketidaktahuannya.
"Orang yang begitu Anda sukai, hingga membuat Anda melukai siapa pun yang mencoba untuk mendekatinya," ungkap Gadi Ta yang sepertinya ingin tahu seperti apa reaksi Meira.
"Benarkah? Kenapa aku bisa sekejam itu?" Lagi-lagi Reta menjambak rambutnya, membuat sosok Gadi Ta terkejut.
"Kenapa diriku yang dulu begitu buruk? Sungguh, aku malu mendengarkannya." Lagi-lagi Reta menangis, emosinya tak stabil sekarang dan Gadi Ta hanya memperhatikannya dengan wajah keingin tahuannya.
"Kenapa Putri harus malu? Seseorang dengan kedudukan setinggi Anda, tentu saja bisa melakukan apa pun," ucap Gadi Ta dengan sindiran tersembunyi.
Reta menggeleng cepat. "Tidak, aku benci penindasan jenis apa pun! Aku selalu membela mereka yang lemah dan teraniaya, tapi kenapa aku terjebak disini? Dengan tubuh seseorang yang memiliki sikap cukup buruk dan kekanakan," rancau Reta yang membuat Gadi Ta berpikir sangat keras.
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin kembali," lirihnya yang sama sekali tak Gadi Ta mengerti.
"Pada pangeran Draca? Anda ingin bertemu dengannya?" tebak Gadi Ta dan Reta menggeleng.
"Tidak! Kau tidak akan mengerti, aku harus mencari teman-temanku karena dengan itu aku bisa kembali."
Tetap saja Gadi Ta tak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Reta. Namun, sosok dalam wujud Gadi Ta ini cukup kesal dengan segala omong kosong yang Reta katakan kepadanya.
"Apa Anda tidak takut dengan peperangan? Jika perundingan ini tak mencapai sebuah kesepakatan maka perang akan datang," kata Gadi Ta yang membuat Reta menggeleng.
"Menurutmu, apa aku juga menyukainya? Tidak! Gadi Ta, aku tidak menyukainya tapi aku tidak punya kekuatan untuk menghentikannya," lirih Reta dan topik yang mereka bahas kini lebih serius dari urusan hati.
"Anda salah Putri, Anda memiliki hak penuh untuk menghentikan perang ini." Terlihat sekali jika Gadi Ta mencoba mengarahkan pikiran Reta yang sedang linglung.
"Dengan cara apa?" Reta bertanya.
"Menyetujui pernikahan yang di ajukan oleh kerajaan Naga," terang Gadi Ta yang tentu membuat Reta menganga.
"Hah? Kau tidak salah bicara? Bagaimana kau bisa tau?" Rentetan pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Reta.
"Maafkan aku Putri, aku mendengarnya sedikit dan menurutku dengan menerimanya adalah solusi terbaik," lanjutnya yang membuat Reta menghela napas.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain? Aku mungkin tak mengingat apa yang terjadi dulu tapi tak bisakah kita membicarakan semua ini dengan baik-baik. Maksudku, aku akan menemui pangeran Draca dan mengatakan kepadanya untuk membujuk orang tuanya agar tak lagi mengungkit masalah pernikahan dan aku juga akan meyakinkan orang tuaku juga tentang hal ini," ungkap Reta yang kali ini membuat sosok yang serupa dengan Gadi Ta itu tak bisa lagi mengontrol dirinya. Ia merumah dirinya menjadi bentuk dirinya yang sebenarnya yaitu pangeran Draca Gen La.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" tanyanya dengan mata tajam dan terdengar tak sabaran. Mencoba berjalan mendekati Reta yang begitu terkejut.
"Kau siapa?" tanyanya dengan terbata. Ketakutan dan mencoba terus mundur dan Draca terus mendekatinya tanpa gentar.
"Kau benar-benar tak mengingatku?" tanyanya yang masih tak percaya jika sosok dihadapannya ini tak mengingatnya sama sekali.
"Meira, sampai kapan kau akan memainkan semua orang?" geramnya yang telah berhasil menangkap tubuh mungil itu.
"Apa maksudmu? Kau siapa? Kenapa kau tiba-tiba mendesakku seperti ini!" Reta memberanikan diri bertanya kepada pria jangkung ini.
Draca tersenyum sinis. "Aku Draca Gen La, yang terikat dengan pertunangan konyol denganmu dan kau mencoba untuk membunuh ku bersama putri Alika dari kerajaan Rubah," ungkapnya yang tentunya membuat tubuh Reta melemah.
Kejutan apa lagi sekarang? Ini lebih menyakitkan dari yang sebelum-sebelumnya. Membunuh? Dirinya mencoba membunuh?
Reta menggeleng keras. "Tidak, aku tidak akan melakukan itu," lirihnya dengan isak tangisnya.
"Sadarlah, kau mencoba membunuhku dengan Alika. Kau wanita kejam yang sangat ku benci dan semua ini rencanamu bukan? Membuat orang tuaku harus mengambil pilihan untuk menikahkan kita secepatnya. Kau senang sekarang?" katanya dengan sinis yang tentu membuat Reta yang masih lemah dan tak stabil terlihat semakin down.
Reta menggeleng dan menangis. Sementara Draca masih mencengkramnya dengan kuat. "Aku tidak akan melakukan itu," tolak Reta.
"Kalau begitu, mungkin dengan membangkitkan ingatanmu, kau tidak akan bisa menyangkalnya lagi!" ucap Draca yang kini menempelkan tangannya pada dahi Reta dan gadis ini mulai melihat bayangan-bayangan masa lalunya saat dengan kejamnya ia mencoba membunuh Draca karena mencoba menghianatinya dengan mencintai putri Alika.
Reta yakin itu bukan dirinya, tapi sosok jiwa yang pernah bersemayam dalam tubuh ini tapi Reta tak menyangka jika wujud yang sama dengan dirinya ini begitu kejam.
Jiwa Reta terguncang, lemas dan tak sadarkan diri secara tiba-tiba.
"Meira, aku tahu kau berpura-pura. Bangun!" Draca mencoba mengguncang-guncang tubuh Reta tapi tak ada tanggapan membuat Draca sedikit bingung.
"Pangeran Draca ..." Gadi Ta datang dan segera mengambil tubuh Reta.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku memberikan kilas memori ingatannya saat ia berusaha membunuhku dan ia tiba-tiba tak sadarkan dirinya," terang Draca.
"Pangeran, sudah ku katakan bukan? Jika Putri Meira tak seperti dulu. Suasana hatinya mudah berubah, ia lebih sering menunjukkan kesedihannya dan mungkin ia sangat terguncang saat ini," ungkap Gadi Ta membuat Draca nampak berpikir keras.
"Dan kau percaya begitu saja? Bukankah kau yang lebih tahu bagaimana piciknya dia?" Draca terlihat cukup kesal dan Gadi Ta merasa bersalah.
"Maafkan hamba Pangeran," lirih Gadi Ta.
"Aku yakin, ia menyembunyikan sesuatu. Tadi, ia mengatakan ingin mencari teman-temanya. Kau cari tahu, siapa teman-temannya. Jika kita menemukan niatnya dengan cepat, kita akan bisa mencegah pernikahan ini dan tidak akan terjadi peperangan," tekan Draca dan Gadi Ta pun mengangguk paham.
"Aku pergi, berhati-hatilah dengannya," ucap Draca yang kini menghilang, menyisahkan Gadi Ta, udara dingin dan sosok Reta yang tergeletak.
__ADS_1