Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
Emergency Call


__ADS_3

Kaki kecil nan lemah itu merangkak, mencoba untuk meraih satu demi satu anak tangga yang dibuat dengan sederhana dari cetakan tanah itu sendiri. Jika ini bukan karena begitu darurat, ia pasti sudah menyerah dan kembali ke gua, meratapi waktu yang terus berlalu dengan umur yang semakin memendek. Namun, jika itu demi temannya yang begitu berharga dan merupakan salah satu kunci bagi mereka untuk kembali, mungkin Akira yang bersemayam dalam tubuh lemah Alisa tidak akan memaksakan diri sampai seperti ini.


Akira mengingat beberapa hal yang harus ia lakukan untuk memanggil Reta. Seperti yang diintruksikan Reta beberapa saat yang lalu, jika ia membutuhkannya maka Alisa harus memberikan sinyal kepada Reta yaitu seperti ledakan api di angkasa yang nampak seperti festival kembang api tengah malam. Ledakan dengan kekuatan itu tentunya dapat Reta rasakan nantinya.


"Reta, aku berharap kau merasakannya," gumam Akira sebelum seluruh tubuhnya merosot dan tak sadarkan diri.


---***---


Setelah ketegangan yang terjadi ketika bertemu dengan ratu, Reta memilih mencari Draca dan ia tidak menemukan suaminya itu di mana pun. Reta menduga, Draca pasti memiliki rencana licik lainnya yang tidak Reta mengerti.


Setelah berkeliling istana lumayan lama, Reta kelelahan, akhir-akhir ini ia sering merasa lemas dan kepalanya pusing. Akhirnya ia memilih duduk di halaman belakang istana ditemani oleh Gadi Ta.


"Putri, mungkin pangeran Draca sedang melaksanakan tugas," ucapnya dengan pembelaan mutlak kepada Draca. Reta tahu seberapa besar rasa suka Gadi Ta kepadanya, hanya saja ... Bisakah untuk saat ini ia tidak mengatakan hal ini? Reta lelah dan kesal dalam bwrsamaan, membuat Reta tersenyum sinis tanpa Gadi Ta tau.


"Kau tidak perlu membelanya, ia memang memiliki banyak rencana. Jika pada akhirnya kau tetap memilih untuk memihaknya, mulai dari hari ini pergilah temui Nania. Aku memiliki tugas baru bagimu untuk menjaganya," putus Reta yang seketika membuat Gadi Ta terkejut. Putri Meira yang mulai menunjukkan kebijaksanaan ini, apakah kembali berubah seperti dulu? Tapi, hal ini jelas tidak mungkin.


"Pu-putri, hamba tidak bermaksud-"


"Apa?" Reta memotong pembelaan Gadi Ta. Jelas sekali Reta marah dan itu karena Draca, ditambah pembelaan yang terlalu dari Gadi Ta. "Kecintaanmu pada Draca sudah dibatas ketidak wajaran. Aku tidak bisa lagi menghadapi ini, karena aku harus menyelesaikan semua dengan segera. Jadi, dengarkan perintahku Gadi Ta ... Kau harus menjaga dan melindungi Nania mulai dari sekarang dan jangan lagi membantahnya jika kau tidak ingin ku beri hukuman!" titah Reta yang membuat Gadi Ta tak bisa menolaknya lagi.

__ADS_1


"Ba-baik putri," ucapnya.


"Pergilah temui Nania," usir Reta yang sepertinya benar-benar marah dan Gadi Ta merasa takut, kenangan bagaimana kejamnya putri Meira dulu seketika melintas begitu saja dalam benaknya. Apa mungkin majikannya ini berubah seperti dulu lagi? Namun Gadi Ta ragu, karena buktinya Meira masih sangat peduli dengan Nania.


"Baik putri," ucapnya lagi dengan pergi tergesa-gesa.


Setelah kepergian Gadi Ta, Reta menghela napas panjang dan wajahnya kini menunjukkan kekhawatiran. Reta menyadari panggilan Akira yang terlihat jelas di langit malam. "Ada apa ini? Pasti sesuatu terjadi dan aku harus ke sana," gumamnya yang kini memegangi kalungnya dan memejamkan matanya untuk berteleport.


Reta tidak bisa mengubah dirinya menjadi Phoenix dan pergi begitu saja, karena semua penghuni istana ini akan tahu. Beberapa waktu lalu, ibunya mengirimi dirinya surat tentang kegunaan kalung permata merah ini. Sang ratu Phoenix memberikannya untuk berjaga-jaga dan membuat putrinya tak terlalu lelah jika ingin pergi ke kerajaan Phoenix.


Reta hanya perlu memejamkan mata dan menyebut tempat yang ingin ia datangi, maka ia akan sampai di sana. Benar saja, saat dirinya membuka mata, Reta telah sampai di tempat Akira memberikan percikan api dan melihat sahabatnya itu tergeletak dengan menggigil.


Akira yang tersadar, tersenyum. "Kau sudah datang?" tanyanya yang membuat Reta mengangguk sekaligus merasa prihatin dengan kondisi sahabatnya ini.


"Apa yang terjadi, Akira?" tanya Reta pelan, ia juga sedang memberikan sedikit energinya pada Akira.


Akira mencoba untuk memperbaiki posisi duduknya dan mulai menangis. Reta dibuat terkejut dengan tingkah Akira yang tak biasa ini. "Ada apa?" tanya Reta dan Akira mencoba menarik napas dalam.


"Aku mendengarkan rencana licik mereka, tolong jangan memakan dan minum yang disajikan para dayang," ucapnya yang cukup ambigu. Namun hanya dengan mendengarkan ucapan ambigu ini saja, Reta sudah dapat menduganya.

__ADS_1


"Apa mereka menaruh sesuatu dalam makananku? seperti racun?" Reta menduga dan mata Akira melebar seketika, senyum getir itu seketika tercetak di bibir mungil Reta.


"Racun itu akan menghilangkan kekuatanmu, mereka mengaturnya sampai kau melahirkan seorang penerus untuk menguasai kerajaanmu," lanjut Akira dan Reta menghela napas dalam.


"Aku tidak menyangka jika cara keji seperti ini yang direncanakannya. Tapi, aku akan mengikuti segala rencananya."


"Apa maksudmu? Aku akan mati setelah melahirkan jika seperti itu!" teriak Akira yang tentu sangat panik melihat Reta yang tak biasa ini.


Apa mungkin Reta telah sangat menyukai Draca? Hingga membuat dirinya begitu tak berdaya? Lalu, jika Reta mati ... Bagaimana mereka akan kembali? Tunggu, siapa pun diantara mereka tidak boleh ada yany mati. Akira segera memeluk Reta.


"Reta, tolong jangan berkata seperti itu. Kenapa kau harus mengorbankan segalanya hanya untuk pria brengsek sepertinya?" Lagi, Akira merasa Reta tak seharusnya melakukan pengorbanan sejauh ini.


Air mata Reta jatuh. "Kau tahu, sampai saat ini aku belum memiliki cara akurat untuk dapat kembali ke bumi. Hanya beberapa hari ini aku merasa mungkin dengan cara mati, barulah kita bisa kembali ke bumi." Untuk ucapan yang terkahir ini, tentu seketika membuat Akira membatu.


"Ba-bagaimana bisa kau mengatakan hal semengerikan ini dengan sangat santainya." Akira memahami seluruh kekecewaan Reta, tapi kenapa harus sejauh ini?


Reta terduduk dan menangis. "Maafkan aku, aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Mungkin, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diriku."


Akira pun memeluk Reta dan dirinya pun menangis dalam diam.

__ADS_1


Hening menjelma, pekatnya malam menjadi saksi bisu kenelangsaan yang dialami keduanya. Dunia seindah ini seolah hanya menjadi sesak yang menyakitkan bagi mereka untuk berlama-lama tinggal, sebab jika jeratan kasih itu telah tercipta dan sambut tak semeriah seharusnya, maka hanya akan ada keterpaksaan untuk membesarkan hati yang semakin lama tertahan dan menggerogoti jiwa. Hanya tinggal menunggu detik sampai kehancuran itu akan tercipta dengan sangat mudah.


__ADS_2