
Malam telah larut dengan kehampaan yang semakin merasuk. Reta mencoba memejamkan matanya, berharap kelelahan membuatnya tertidur pulas. Namun, sepertinya tubuhnya tak ingin melakukan hal itu meskipun ia terus memaki dalam hatinya.
Saat membuka matanya, Gadi Ta masih terjaga dan memandangnya dengan sayu. "Apa yang kau lakukan? Tidurlah," perintah Reta yang tak bisa mengerti jalan pikiran Gadi Ta. Dulu, bukankah ia selalu menuruti perkataan Draca, bahkan rencananya, Namun, sekarang ini apa? Terlihat sekali ia bersimpatik kepadanya tanpa memikirkan perasaannya yang sebenarnya juga menyukai Draca.
Dan semuanya itu begitu mengesalkan ketika Reta menyadari bahwa mereka berdua adalah wanita-wanita terbuang yang mengharapkan kasih sayang Draca. Reta merasa muak dengan keinginan dan kerinduan semu ini. Belum lagi, rasa sakit sekujur tubuhnya yang ia rasakan setiap saat membuat sangat frustasi.
"Put-"
"Kembalilah ke tempatmu, aku akan tidur. Kalau kau terus mengkhawatirkanku dengan seperti itu, bagaimana aku bisa tidur?" lirih Reta yang membuat Gadi Ta tidak bisa melakukan apa pun lagi kecuali pergi dari kamar Reta.
Ditengah kegelapan yang sengaja tak ia nyalakan lilin-lilin, Reta mengubah sebuah guci menjadi dirinya. "Kau harus menjadi diriku," perintahnya dan sosok yang mirip dengan dirinya pun mengangguk. Kemudian Reta memegangi kalungnya dan menghilang seketika.
Reta muncul di tengah-tengah bukit es. Ia sedang tidak ingin menjadi beban untuk Akira yang setiap hari sudah penuh dengan beban hidup untuk setiap penyakitnya. Apa lagi mendengarkan segala keluh kesahnya tentang Draca dan Alika yang melalui malam dengan indah di antara deritanya. Itu sungguh alasan yang kekanakan.
__ADS_1
"Yang mulia putri Meira, apa yang anda lakukan di sini?" Reta menoleh dengan terkejut dan ia sangat tak menyangka bertemu dengan Darasiya yang sebenarnya adalah Adel, sahabatnya.
"Aku hanya ingin menyendiri," balas Reta berusaha sebiasa mungkin. "Tolong jangan katakan ini kepada siapapun, termasuk ibu ratu," lanjut Reta dan Darasiya pun diam.
---***---
Draca membuka mata dan ia tersenyum saat melihat Alika di sampingnya, memeluk erat. Draca cukup senang karena dirinya telah berhasil menundukkan Alika dan itu berarti ia telah berhasil memperoleh kerajaan Rubah. Namun, dibenaknya seketika terbayang sosok putri Meira saat pergi meninggalkan dirinya tadi.
Draca pun berlahan bangun, entah mengapa ia ingin sekali melihat Meira saat ini. Berusaha meyakinkan dirinya jika ia hanya khawatir pada janin yang ada dalam perut istrinya itu tanpa mau menyentuhnya.
Dengan mudah, ia menghilang dan muncul di kamar Meira. Draca melihat Meira tidur dengan meringkuk di bawah selimut, segera ia menghela napas lega. Namun, saat Draca mencoba mendekatinya dan membelai rambut indah Meira yang terurai, Draca merasakan sesuatu yang membuatnya sadar bahwa ini hanyalah tiruan Meira.
Seketika ia mencoba untuk mengeluarkan kekuatannya dan sosok itu pun berubah menjadi guci dan Draca terlihat panik. "Kemana kau pergi Meira?" gumamnya yang menghilang.
__ADS_1
Lanjutannya bisa baca di link dibawah dan gratis sama seperti di sini kok. Jadi jangan lupa untuk cek link di bawah ya. Aku tunggu dan terima kasih untuk dukungan kalian selama ini, aku sangat menanti komentar yang luar biasa dari kalian semua.
link lanjutan :https://www.\*\*\*\*\*\*.com/novel/BoWj%2FsO1WIQaH1yxlVCJYg%3D%3D-Super-Blue-Blood-Moon.html
Selamat membaca ^ - ^
__ADS_1