
Pagi menjelma saat terdengar aungan beberapa naga yang hilir mudik di angkasa. Reta membuka matanya dan menemukan dirinya masih berantakan, tubuhnya hanya berselimut kain dan pelukan yang menghangatkan dari sosok yang terkadang membuatnya benci dan sedih dalam bersamaan.
Terkadang, ia tidak menyangka bisa berjalan sejauh ini. Gadis umur 18 tahun yang seharusnya menjalani hari-harinya dengan bersekolah atau terkadang bermain-main dengan teman-teman seumurannya, kini harus terjebak di dunia sejenis ini. Seperti sebuah komik saja, banyak sekali komik yang beredar tentang terjebak di dunia lain. Seperti komik yang selalu bergerak sesuai trend, apa harus cerita hidupnya bergerak semacam ini?
"Apa yang kau pikirkan?" Reta terkejut bukan main, saat tiba-tiba wajah Draca sudah berjarak beberapa inci dengannya. Ia tidak menyangka pria ini benar-benar peduli hanya untuk urusan sesepele ini.
"Bukan sesuatu yang penting," jawab Reta asal. Draca adalah orang asing dan selamanya akan seperti itu dimatanya.
Draca nampak terdiam, memandangi Reta yang ia kenal sebagai putri Meira itu memunggunginya. Sungguh, ia tidak bisa memahami wanita yang satu ini. Karakternya sangat jauh berbeda dengan Meira yang ia kenal semenjak dulu. Seolah gadis ini menutup dirinya terlalu kuat.
Kalau hubungan mereka berdua terus seperti ini, Draca ragu bisa dengan mudah untuk menjalankan segala rencananya.Ia harus berhasil membuat Meira tak akan ragu lagi kepadanya dan segera membuat kerajaan Phoenix berpihak sepenuhnya kepadanya. Danual, sudah berhasil memperoleh perhatian ayah dan beberapa pejabat kerajaan. Jika Danual bergerak satu langkah, maka Draca harus bergerak 2 langkah atau bahkan lebih untuk memperoleh kemenangan mutlak.
"Meira ...." Draca mencoba meraih tubuh mungil Reta dan memeluknya dengan hangat. Membuat Reta begitu heran, panggilannya lebih lembut dari biasanya.
"Apa? Kau menginginkan sesuatu lagi dariku?" tanyanya dan Draca pun tertawa mendengarkan ucapan istrinya ini.
Reta berbalik dan menemukan tawa yang belum sirna dari bibir Draca. "Kenapa kau tertawa? Apa pertanyaanku lucu?" tanyanya yang masih saja heran dan tak mengerti dengan cara pikir pria satu ini. Pria asing yang mendadak menjadi suaminya dan membuatnya terjebak dalam segala petaka ini.
"Apa kau lupa? Dulu, kau suka sekali menempel kepadaku, kemana pun kau mendengar tentang keberadaanku, kau akan datang dan menghalau semua gadis yang mencoba untuk merayuku. Bahkan Alika tak berani untuk terang-terangan menentangmu karena kau akan menghukum semuanya yang menentangmu," terangnya yang membuat Reta mendengus.
"Lalu?" Reta sangat tidak menyukai sesuatu yang selalu dibanding-bandingkan termasuk dirinya.
"Sekarang kau sangat acuh, bahkan kau seolah tertutup. Ketertarikanmu kepadaku berkurang dan itu terlihat sangat aneh. Dulu kau selalu mengatakan aku adalah milikmu, jika tidak ... Kau akan memilih mati," lanjutnya yang tentu membuat Reta semakin kesal saja.
"Itu dulu, saat aku sangat bodoh dan manja. Saat ini semua berbeda, aku tidak ingin terlalu menggantungkan diriku kepadamu. Jika, aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan menghilangkan semua kecerobohanku. Setidaknya saat ini mungkin aku bisa meraih sesuatu yang lebih berguna," akui Reta yang selalu berbicara apa adanya, ketakutannya kepada sosok suaminya ini seolah hilang, tertelan oleh angin.
__ADS_1
Kirutan di dahi Draca pun tercipta. "Jadi menjadi istriku sama sekali tidak berguna?" Terlihat sekali pria ini mudah tersinggung dan Reta pun menghela napas.
"Aku pikir, setelah kecelakaan itu ... Aku merenungkan banyak hal. Seperti dirimu yang ingin memiliki kekuasaan terbesar di Phatasia. Aku, juga mulai memiliki tujuan baru dan menjadi istrimu, bukan tujuanku lagi," jawab Reta dengan sangat yakin.
Kirutan di dahi Draca makin nampak jelas. Pria naga ini tidak menyangka jika Meira yang ia kenal saat ini memiliki pemikiran lain. Awalnya, ia mengira Meira memiliki rencana terselubung untuk mendapatkannya. Namun, sampai detik ini Draca tidak menemukan rencana apa pun, bahkan ketika ia mengejar wanita ini sampai di kerajaan bawah. Tidak ada persekongkolan antara dirinya dan para klan bawah, bahkan itu dengan Marshal sekali pun.
Draca tidak berhenti memperhatikan gerak-gerik wanita ini. Selain Gadi Ta, ia masih memiliki banyak mata-mata di kerajaan Phoenix hanya untuk sekedar mengawasinya. Bahkan, ia juga tahu untuk apa Meira menemui Alika. Hanya saja, ia tidak mengerti hubungan antara Alisa, Meira dan Nania. Mereka merencanakan sesuatu dan itu jauh kaitannya dari dirinya atau kekuasaan jenis apa pun.
Draca sungguh penasaran, apa yang telah direncanakan istrinya ini. Namun, ia juga tidak akan mencegahnya, selama hal itu tidak membahayakan kekuasaan dan segala rencananya untuk menguasai seluruh Phatasia.
Draca pun menghela napas. Ia sudah bertekad membuat Meira tunduk kepadanya. Agar kedepannya wanita ini tidak akan menjadi penghalang terbesar untuk rencananya. "Itu memang keinginan terbesarku, kau juga bisa memiliki ambisi seperti itu, tapi Meira ... Jangan pernah lupa, jika saat ini kau adalah putri dari kerajaan Phoniex, mereka hanya memiliki dirimu untuk menjadi ratu selanjutnya dan di sini, kau adalah istriku, pangeran tertua di kerajaan Naga. Setelah aku dilantik menjadi putra mahkota, tentu aku akan menjadi raja selanjutnya, kau pun akan menjadi ratu di dua kerajaan. Tanggung jawabmu sangat besar, jadi jika saat ini kau mengatakan hal semacam itu dengan mudah, itu tandanya kau kekanak-kanakan!" tekannya yang membuat Reta tersinggung, tapi ia juga tidak bisa menampik jika ucapan Draca ada benarnya juga.
"Kekanak-kanakan kau bilang?" tanyanya dan Draca pun mengangguk.
"Aku tahu itu ...." Reta menghela napas panjang. Kalau saja Draca tak mengatakan hal semacam ini, mana mungkin ia sempat memikirkannya. Dari pada ia marah, Reta lebih suka membela dirinya sendiri. Ayolah, ia baru saja 18 tahun dan apa seharusnya Reta berpikir sejauh itu?
"Tapi ini terlalu sulit ...," ucapnya begitu saja. Ia lupa jika ada Draca di sampingnya. Reta sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menunjukkan kelemahannya di harapan Draca karena pria ini sangat pandai mengambil kesempatan dengan kelicikannya.
Draca tersenyum, satu sisi lain yang tak pernah Meira tunjukkan kepadanya. Kini ia bisa sedikit memahami wanitanya ini.
"Kalau begitu kau harus berbagi kepadaku, semua hal yang membuatmu kesulitan. Kita sudah menikah dan menjadi suami-istri. Kita bisa berbagi apa pun bukan?" ucapnya yang membuat Reta terdiam. Jelas ia merasa menyesal telah mengeluh di hadapan Draca. Mulut cerobohnya ini sungguh sulit untuk di kendalikan.
Reta pun mencoba untuk bangkit dan berdiri dengan menutup tubuhnya memakai selimut. "Aku bisa mengatasinya sendiri," putusnya yang kini berjalan menuju ruang mandi dan Draca hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Tunggu saja, sampai kau tak bisa sehari saja tanpa diriku. Meira, ku pastikan aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku," gumamnya tanpa Reta dengar.
__ADS_1
---***---
Di tempat asing dengan kebosanan yang mendera. Sara hanya bisa menguap beberapa kali, memandangi makanan yang telah dingin. Beberapa kertas berserakan dan kuas yang membekas dengan pola yang tak biasa. Ia kemudian tersenyum, melihat tulisannya yang berbeda dari pada biasanya. Anehnya, ia bisa menulis dengan lancar dengan model tulisan di dunia ini.
"Wah, tulisanmu sangat bagus. Bisakah kau mengajariku?" celetuk seseorang yang membuat Sara menoleh dan terkejut melihat seorang pria tampan menyambutnya dengan senyum. Ia berusaha menyembunyikan tulisan dengan rate tinggi ini.
"Ah pangeran Danual ... Hamba tidak sepandai itu, apa anda tidak melihat kertas yang berserakan di bawah? Tulisan ini menjadi sedikit bisa di baca setelah beberapa kekacauan," ungkap Sara merendah. Ia tidak boleh ketahuan telah menulis cerita erotis, tapi salahkan semangat menulisnya ini yang terkadang di luar nalar.
Kenyataannya meskipun ia terjebak di dunia ini, Sara tidak bisa menghentikan kesukaannya untuk menulis. Bahkan dengan tidak tahu dirinya, gadis ini menceritakan kisah Reta bersama Draca dengan gaya tulisan erotisnya. Mungkin, jika Reta tahu ini ... Gadis itu akan membakarnya seperti ayam goreng Bu. Ina yang selalu mereka pesan di persimpangan jalan menuju sekolah mereka.
"Aku berkata sungguh-sungguh, tulisan ini sangat bagus sama seperti dirimu yang begitu cantik."
Danual pun tak sungkan duduk di hadapan Dara dan menatap gadis ini dengan senyuman indah gemilang. Membuat Sara gugup setengah mati, salah tingkah tentunya.
Demi tuhan! Kenapa bisa ada jelmaan naga setampan Danual dan Draca. Sungguh mereka seperti bius yang membuat kesadaran tiap gadis menurun.
Sara, jelas tidak bisa menolak pesona pria tampan. Semenjak dulu, ia akan menjadi penggemar nomer satu pria tampan di sekolahnya yang tentu terkadang membuat teman-temannya risih.
"Apa yang membawa pangeran datang kemari?" tanyanya dengan suara aneh karena berusaha untuk menghilangkan kegugupannya.
"Hanya ingin melihatmu. Bagaimana kalau kau ku antar berkeliling istana ini?" tawarnya yang membuat Sara membisu.
"Aku tidak menerima penolakan karena aku juga tidak pernah menawarkannya pada gadis mana pun," ungkapnya yang semakin membuat Sara kikuk.
"Ayo ...." Bahkan kini Danual menarik tangan Sara, membuat gadis ini mau tidak mau mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Apakah Sara menyukai Danual? Bagaimana dengan Arslaan? Tentu saja Sara masih mengingatnya. Namun, kekagumannya pada pria tampan tak bisa ia sembunyikan. Hatinya berbunga saat Danual terus menarik tangannya.
Gadi Ta yang melihatnya merasa cukup aneh. Ia pun berniat melaporkan hal ini kepada Draca dan Meira.