
Dibawah sebuah pohon rindang, bunga bermekaran dengan cepat, membentuk buah dan layu dengan cepat. Pohon kehidupan, hanya akan di jumpai disini, di kerajaan Rubah yang begitu asri yang menjadi pemandangan setiap hari oleh seorang gadis yang terus menunjukkan muka kesalnya. Mata biru dengan wajah rupawan itu terlihat lelah, tubuh rengkihnya bahkan telah menandakan jika sudah tak sanggup lagi berlama-lama di luar.
"Alisa, kau disini rupanya. Aku mencarimu kemana-mana," ucap seseorang yang begitu mirip dengannya, hanya perbedaannya gadis ini lebih terlihat berseri-seri ketimbang dirinya yang selalu kelelahan.
"Kau harus kembali masuk kedalam, disini dingin," lanjutnya yang memperbaiki mantalnya, membuat Alisa memandangnya.
"Aku tahu, kau memiliki tujuan untuk datang menemuiku," kata Alisa dingin.
Alika pun tersenyum. "Kau tahu, ucapanmu ini semakin membuatku merasa jika kau bukan Alisa. Bahkan si gadis Phoenix itu mengatakan jika aku adalah Akira ... Kau tidak tau siapa Akira?" tanya Alika yang membuat Alisa nampak berpikir, menunjukkan wajah datarnya seperti biasa.
Apa memang ikatan seorang anak kembar sekuat itu? Tapi, Alisa tak bisa menduganya karena selama ini mereka tinggal disatu atap, namun berbeda tempat. Dirinya berada di kesunyian, dengan mengabaian dan lirikan meremehkan. Sementara Alika, berada dikeramaian dengan menjadi pusat perhatian dengan binar memuja oleh semu orang.
"Kau pikir aku tahu? Kenapa kau berpikir, jika hal ini ada hubungannya denganku?" Alisa melemparkan pertanyaannya kembali.
"Mungkin saja karena kau berbeda tak seperti Alisa yang ku kenal," kata Alika yang kini meninggalkan Alisa.
"Katakan saja jika kau tak senang mengetahui jika aku lebih sehat dari terakhir kali kita bertemu kan? Apa kau merasa diriku lebih unggul darimu?" kata Alisa sambil tertawa. Alisa sangat tak menyukai Alika, bagaimana pun caranya ia ingin sekali menghindari gadis ini.
"Apa kau masih terganggu dengan ucapan banyak orang jika seandainya aku lebih sehat darimu, tentunya aku yang akan menjadi pewaris tahta," kata Alisa yang terus ingin memancing amarah Alika.
"Tutup mulutmu itu! Sejak awal semua orang pasti akan memilihku, bukan gadis cacat sepertimu!" teriak Alika yang kini melangkah pergi meninggalkan Alisa sendiri.
Gadis ini pun menghela napas, mengedarkan pandangannya disekitar. Kemudian, ia pun bergumam sendiri. "Gadis Phoenix? Siapa? Adel? Sara atau Reta? Aku harus mencaritahu ini, aku lelah menjadi gadis sakit-sakitan. Aku kembali ingin menjadi Akira," lirihnya sambil memejamkan matanya. Sementara tanpa Akira tahu, Alika terus mengawasinya.
"Aku akan segera menemukan keanehan pada dirimu," guman Alika yang kini benar-benar pergi.
---***---
Reta masih berada di kerajaan bawah, memantau kedekatan Arslaan dengan Sara. Reta mulai terlihat tak nyaman dengan hal ini, saat Sara tak merasa risau Arslaan disampingnya.
"Apa yang kau lakukan disini, ayo masuk," ajak Marshal. Reta seketika menoleh dan tersenyum.
"Tidak, aku akan pulang sebentar lagi. Aku yakin Gadi Ta sangat bingung, terima kasih untuk semua bantuanmu." Reta pun berdiri dan membungkuk sebentar, sebelum akhirnya melangkah.
"Bagaimana jika ku antar?" tawar Marshal, Reta menoleh dan lagi-lagi tersenyum.
"Keadaanku lebih baik sekarang, aku akan pulang sendiri," tolak Reta dengan halus, Marshal pun tak bisa memaksa gadis itu lagi. Hanya dapat mengantarkan kepergiannya lewat tatapan matanya itu.
Reta pun berjalan dengan berlahan. Ia berharap, Sara mengingat perkataannya dengan baik-baik.
Bledaaarr
Suara ledakan memekakan telinga, menggetarkan tanah disekitar. Reta dan semua orang terkejut.
"Tutup pintu gerbangnya! Para pembrontak datang!" seru prajurit yang berjaga dibangunan atas tapi sebelum mereka berhasil menutupnya. Beberaparas macam melompat tinggi, menerkam beberapa dari mereka dan mencabik-cabik pasukan lemah. Beberapa pelayan wanita menjerit ketakutan dan Reta pun cukup dibuat ngeri.
Beberapa badak bahkan membentur-benturkan culahnya pada gerbang separuh batu dan separuh kayu itu, membuatnya rusak. Semua orang semakin panik.
"Apa yang terjadi, bagaimana ini?" Reta memekik ketakutan tapi ia juga tak tega melihat beberapa pelayan dari ras lemah terbunuh dengan mengenaskan. Reta sangat benci dengan penindasan jenis apa pun.
Ia akan melangkah maju, tapi Marshal tiba-tiba berdiri dihadapannya. "Masuk! Tinggal lah bersama Nania," kata Marshal yang kini telah mengeluarkan sayapnya, hendak bertarung.
"Para sampah ini, kenapa kalian masih saja tak mau menyerah!" teriak Arslaan yang keluar dengan senjata seperti palu yang kemungkinan lebih dari 5 kg beratnya.
Arslaan dan Marshal menyerang mereka membabi buta. Reta merasa sedikit aneh dengan suasana ini, pasalnya tempat ini adalah pusat dari kejayaan kerajaan bawah tapi kenapa ia tak melihat prajurit yang melimpah, yang akan senantiasa menjaga kerajaan ini. Reta hanya melihat beberapa saja dan ras pemberontak sudah berhasil melewati pintu gerbang semua.
Sekuat apapun Arslaan dan Marshal, mereka jelas kalah jumlah dan Reta harus merelakan mata sucinya ini melihat betapa kejinya sebuah peperang. Tiba-tiba saja Reta memikirkan Draca dan mulai berpikir tentang alasan pria itu memaksanya menikah meskipun tidak suka dengan dirinya. Kenyataannya pria itu hanya berusaha mencoba mencegah peperangan yang akan selalu menghancurkan segalanya.
"Reta ..." Dan Reta cukup tahu siapa yang memanggilnya itu.
__ADS_1
Sara, ia memberikan kode untuk Reta mendekat. "Masuklah, ini berbahaya untukmu!" Reta mencoba untuk memperingatkannya.
Sara menggeleng. "Kau juga harus masuk, kita perlu menjaga diri kita agar tetap selamat sampai kepulangan kita," ucap Sara yang mencoba mengingatkan sahabatnya ini. Reta pun mendesah, ya benar memang jika tujuan satu-satunya mereka bertahan sampai saat ini adalah untuk pulang ke bumi.
"Baiklah ..." kata Reta yang mengikuti Sara tapi suara aungan Arslaan membuat Sara dan Reta menoleh.
Groaarr
Mereka berdua, menyaksikan Arslaan merubah wujud menjadi Singa yang cukup besar dengan di keliling 5 macam yang tak kalah besar. Belum lagi Marshal yang melayang dengan beberapa badak di bawah, bahkan buaya yang sepertinya siap untuk melahapnya.
Sara ketakutan dan Reta cukup ngeri melihatnya. Namun, ia tak bisa tinggal diam begitu saja.
"Sar, tidak ada cara lain kecuali membantu mereka. Ini sudah lebih dari cukup menyiksaku semenjak tadi. Aku juga tidak mau kehilangan rasa kemanusiaanku disini," ucap Reta dan Sara tak bisa mengatakan apa pun lagi. Dua orang itu telah menolongnya, karena itu lah Sara tak ingin terjadi apa pun kepadanya.
Sara pun mengangguk. "Jaga dirimu baik-baik," lirih Sara dan Reta mengangguk dengan penuh keyakinan.
Akhirnya, dengan membulatkan tekatnya pun Reta segera merubah dirinya menjadi Phoenix. "Aku sangat membenci berubahan ini tapi aku juga benci perbuatan semena-mena seperti yang kalian lakukan! Jangan mengeluh jika kulit kalian akan terbakar bahkan hancur tak tersisa," kata Reta dengan lantang.
"Apa yang kau lakukan gadis Phoenix!" Seekor macam mendekatinya dan Reta yang sudah sangat marah menatap tajam dan meremas tangannya kuat-kuat.
Macan itu pun hancur menjadi kengingan api dalam hitungan detik dan semua yang menyaksikan mulai menyadari betapa menakutkannya seorang ras Phoenix.
Namun, beberapa tiba-tiba dua buaya raksasa berusaha untuk menelannya.
"Reta awas!" Sara menjerit dan Reta yang mulai menyadari situasinya menghindar dari dua buaya tersebut.
"Jadi kalian ingin bermain picik? Ayo kita bermain!" geram Reta yang kini turun, berada ditengah-tengah buaya tersebut.
Sementara Marshal masih menjadi dikelilingi oleh beberapa badak. Arslaan sudah beberapa kali beradu dengan macam-macam itu. Keadaan istana kerajaan bawah sangat kacau saat ini, jumlah pembrontak itu cukup banyak dan beberapa prajurit yang kuat, serta ketiganya kewalahan.
"Kita harus pergi!" Marshal berseru pada Arslaan yang hanya menatapnya dengan mata buasnya. Sepertinya ia tak menyetujuinya.
"Kenyataannya kita kalah banyak!" ungkap Marshal.
Arslaan yang akan membantahnya dibuat terkejut dengan kehadiran salah satu macan yang mencoba mendekati Sara.
"Nania!" Arslaan berteriak dan Reta yang menyaksikan detik dimana macan itu akan melahap Sara.
Reta terbang dengan kecepatan penuh, api semakin menjalar dalam dirinya dan Reta pun menyentuh macan itu dan seketika hancur menjadi bagian kecil api dan segera membawa Sara pergi terbang bersamanya.
"Nania! Lihatlah, ia membawanya pergi!" Arslaan berseru pada Marshal.
"Itu karena kita tidak punya pilihan lain selain pergi. Arslaan kita telah kalah jumlah, jika kau tetap bersikeras, kau juga akan mati disini!" tekan Marshal yang masih mencoba untuk membujuk Arslaan dan pria singa ini nampak berpikir.
"Baiklah, kita kejar mereka!" ucap Arslaan menatap istananya yang telah hancur dengan sedih.
Sementara Reta terus terbang tinggi dengan cepat, membawa Sara yang terus ketakutan. "Reta, sebenarnya dunia apa ini? Kenapa kita berada disini? Kenapa harus ada makhluk mengerikan seperti mereka? Lalu aku dan kau menjadi seperti ini," lirih Sara yang membuat Reta merasa cukup emosional. Pikirannya kacau dan ketidak setabilan emosinya memperburuk semuanya.
Reta hampir saja oleng. "Reta!" Sara menjerit ketakutan.
"Ada apa?" tanya Sara saat dirasa Reta terbang dengan tidak setabil.
"Aku belum bisa mengontrol sepenuhnya kekuatanku," lirih Reta.
Saat ia melihat sekitar, Reta tidak menyangka jika ia terbang tinggi bahkan melebihi kerajaan atas. Ini pertama kalinya ia terbang setinggi ini, melihat 4 kerajaan yang saling terhubung. Kerajaan Naga, Pegasus, Rubah dan Phoenix.
"Inikah kerajaan atas?" Sara yang memberanikan diri untuk menatap bawah, menemukan kerajaan atas yang nampak lebih baik dari kerajaan bawah.
"Iya, aku juga baru tahu," gumam Reta dan matanya tertujuh pada sebuah gerbang dengan simbol naga disana. Reta menebak jika itu batas dari kerajaan Naga dan ia mendesah jika mengingat siapa yang tinggal disana. Draca, pria menyebalkan yang terus-terusan mencurigainya.
__ADS_1
"Kenapa?" Sara melihat Reta mendesah.
"Aku ingin pulang," lirih Reta yang sepertinya sudah tak sanggup lagi untuk terlalu lama didunia ini. Memikirkan semua hal mengerikan yang baru saja mereka alami, mengenangnya terlalu lama Reta tak sanggup.
Kini Sara mendesah. "Aku tidak pernah melihatmu seputus asa ini? Bukankah kau penggila fantasi? Reta, kita berada di dunia fantasi sekarang, dimana aku menjadi gadis Rusa dan kau gadis Phoenix yang memiliki kekuatan besar. Aku melihatmu saat kau berhasil menghanguskan Macan itu," kata Sara yang terdengar lebih bersemangat, kemudian, ia tersenyum. "Mungkin, saat kembali ke bumi aku akan beralih menjadi penulis cerita fantasi," gumamnya yang kali ini membuat Reta sedikit terhibur, gadis itu tersenyum.
"Fantasi dewasa maksudmu?" ejek Reta dan Sara tertawa.
"Tentu, aku tidak suka cerita cinta remaja, dewasa itu lebih baik," Sara beralasan membuat Reta geli sendiri.
"Siapa kalian?! Kenapa kalian disini?!" teriak seseorang yang membuat Reta dan Sara terkejut. Ditambah lagi tiba-tiba sesosok Naga muncul dihadapan mereka. Reta dan Sara terpental dan oleng, jatuh kebawah dengan drastis.
"RETA!" Sara menjerit saat tubuh mungilnya terlepas dari genggaman Reta.
"Sara!" Reta turun dengan cepat untuk meraih tubuh Sara tapi sesosok Naga itu memberikan serangan tombak es bertubi-tubi kepada Reta. Membuat gadis itu harus terus menghindar.
"Sialan! Siapa kau!" maki Reta dan Naga itu tak mengindahkan ucapanya, ia terus-terusan menyerang Reta dengan es yang dingin. Membuat Reta tidak sanggup, ia pun berbalik dan memberikan serangan api untuk mengecoh Naga tersebut dan Naga itu terkecoh. Reta menggunakan kesempatan ini untuk terbang turun.
"Reta!" Sara masih berteriak, memudahkan Reta untuk menemukannya.
"Jangan takut, aku akan menangkapmu!" balas Reta yang kini bergegas meraih tubuh Sara. Namun, tiba-tiba saja Naga itu kembali dan menyahut tubuh Sara dengan cepat.
"SARA!" Reta berteriak berusaha mengejarnya tapi serangan es Naga tersebut membuat tubuhnya membeku.
Reta tak bisa menggerakkan sayapnya dan berlahan tubuhnya terus jatuh kebawah. "Seperti inikah akhir dari hidupku?" lirih Reta yang kini memejamkan matanya dan menangis.
---***---
Dikerajaan bawah, saat seluruhnya telah dikuasai oleh ras Macam, Badak dan Buaya.
"Jangan menyentuh apa pun sebelum Yang Mulia datang!" perintah salah satu pemimpin mereka dari ras Badak.
"Yang Mulia telah datang!" seru penjaga dan muncul lah sosok Draca.
"Bersujud pada Yang Mulia!" seru salah satu pemimpin mereka. Semuanya secara serempak bersujud dihadapan Draca.
"Kalian sudah berhasil menguasai kerajaan ini. Aku akan mengangkat pemimpin dari ras Badak, Macan dan Buaya untuk memimpin wilayah bawah. Akan ada 3 ibu kota dengan 3 pemimpin dan yang terpenting adalah kalian harus mutlak tunduk kepada kerajaan Naga!" pinta Draca mata tajam dan keseriusannya.
"Siap Yang Mulia," jawab mereka serempak dan Draca pun menunjukkan smirknya.
Draca sangat menanti hari ini, hari dimana satu persatu kerajaan jatuh dan tunduk di bawah kerajaan Naga.
"Yang Mulia, maafkan kami karena tak bisa menangkap raja Arslaan dan ketiga yang lainnya," ucap pemimpin Buaya.
"Ketiga lainnya? Siapa?" Draca tiba-tiba saja menjadi penasaran.
"Em, seseorang pangeran dari kerajaan Pegasus, seorang budak dari ras Rusa dan satu bangsawan dari kerajaan Phoenix yang kekuatannya hampir sama dengan keluarga kerajaan," terangnya.
"Meira? Apakah dia?" Draca mencoba menduga. "Apa yang dilakukan wanita itu disini?" Draca masih mencoba menggali.
"Untuk melindungi budak Rusa itu, ia pergi membawanya dan sepertinya Arslaan dan pangeran Pegasus itu mengejarnya," lanjutnya yang membuat Draca geram.
"Meira, apa yang sebenarnya kau rencanakan? Apa budak itu begitu penting untukmu?" guman Draca yang kini berbalik.
"Kalian urus semuanya. Aku harus pergi," perintahnya.
"Baik Yang Mulia," jawab mereka serempak.
Draca pun mengubah dirinya menjadi Naga dan melayang di udara.
__ADS_1