Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
Lie For Good


__ADS_3

Gua energi yang nampak terlihat sepi, kereta dengan Phoenix sebagai pembawanya telah sampai di depannya. Reta turun dengan dibantu Gadi Ta dan Darasiya. Sosok Akira pun muncul dengan sedikit terkejut. Reta tidak memberitahunya jika ia akan datang kemari.


"Ada apa?" tanyanya dan Reta segera memeluk sahabatnya ini.


"Aku sudah tidak sanggup lagi," bisiknya yang menunjukkan kini dirinya berada diambang batas kesanggupannya untuk menahan racun tersebut.


Akira sangat terkejut dan keterkejutannya bertambah saat ia melihat sosok Darasiya. "Adel?" tanyanya yang membuat Reta mengangguk.


"Jangan mencoba bertanya apa pun karena ia tidak ingat apa pun. Aku juga ingin kau segera menemukan cara untuk menyelamatkan bayiku bersamanya," ungkap Reta yang meminta Akira dan sosok Adel itu berkerjasama.


Akira menghela napas, wanita ini pun mulai mengerahkan tangannya untuk menyentuh tubuh Reta yang begitu dingin. "Kondisimu lebih parah dari sebelumnya," gumamnya yang seketika menunjukkan raut wajah sedih bercampur tangisan.


Reta menggeleng, tidak ingin Akira menangis disaat seperti ini. "Kau hanya perlu menyelamatkan anakku dan membuatku bisa bertahan sampai dimana aku bisa melahirkannya, hanya itu Akira." Seketika napas itu tersengal dan merasa sesak.


"Reta!" pekik Akira yang berusaha untuk menahan tubuh Reta yang terjatuh.

__ADS_1


"Putri!" seru Gadi Ta dan Darasiya bersamaan. Mereka terkejut dan begitu khawatir dengan kondisi Reta yang tiba-tiba drop.


"Bantu aku membawanya kedalam dan kau ...," tunjuknya pada Darasiya yang Akira sendiri bingung mau memanggilnya apa. Ia jadi merasa asing dengan dua orang di hadapannya ini.


"Panggil saja amba Darasiya," ucapnya dan Akira mengangguk.


"Ya kau, bantu aku membawanya dan Gadi Ta juga," ucap Akira yang sedikit mengenal dayang Reta itu dari beberapa cerita yang sering Reta sampaikan kepadanya.


Keduanya pun menuruti setiap intruksi dari Akira dan membawa Reta masuk kedalam dan menidurkannya di atas batu energi yang membuat mata Darasiya penuh rasa takjub. Di bukit es memang ada batu energi, tapi tidak ada yang seperti milik Akira yang bisa berubah-ubah warna tanpa disuruh.


"Akan hamba lakukan." Lagi-lagi keduanya menunjukkan kekompakan saat menyanggupi perintah Akira. Darasiya kini mengeluarkan seluruh bahan untuk ramuannya yang ada di tas yang semenjak tadi ia bawa. Akira melihatnya sekilas dan mendesah, jika saja ia adalah Adel mereka, mungkin masalah ini tidak akan terlalu berat untuk dilalui. Sebab, Adel yang berpengetahuan luas dan bijaksana itu akan selalu menemukan banyak cara.


Akira pun memegang tangan Reta yang dingin. "Jika pada akhirnya kau tetap bersikeras memilih jalan ini, kau seharusnya menyelesaikannya dengan benar. Sebab, sekarang hanya ada kau dan aku," lirih Akira yang mulai menangis kembali.


"Akira!" teriak seseorang di luar dan Akira tahu siapa pemilik suara kecil nan melengking itu.

__ADS_1


"Sara?" Akira bangkit dan terus melangkah keluar untuk membuka perisai yang ia buat dan benar, Sara sudah berada di hadapannya bersama dua orang yang lain. Akira bisa menebah jika keduanya berasal dari klan singa serta klan pegasus dan tentunya mereka klan bangsawan dari cara mereka berpakaian.


"Akira!" Sara memanggilnya lagi, membuat Akira tersadar dan segera membuka perisai berlapis yang telah terpasang di gua ini. Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang sering datang kemari, membuatnya harus terus membuka segel pisainya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Akira telah membuka segelnya dan Sara seketika menyelonong masuk, ia mencari sosok Reta dan seketika histeris saat menemukan sahabatnya itu terbaring pucat di atas batu energi.


"Reta! Apa yang terjadi sebenarnya, hiks," Sara mulai menangis tersedu dan Akira tidak bisa mencegahnya. Baik di dunia maupun di tempat ini, Sara tetap sama dan akan selalu histeris untuk banyak hal yang terjadi. Karakternya yang cengeng ini, sering kali membuat teman-temannya risih dan semakin pusing. Jadi, seharusnya memang Sara tidak di libatkan dalam beberapa urusan yang berhubungan dengan ketenangan dalam pengambilan keputusannya.


Namun, siapa sangka? Jika Sara tiba-tiba tahu keberadaan Reta sekarang dan sebentar lagi akan tahu apa yang terjadi. Namun, saat Gadi Ta dan Darasiya muncul, Akira segera memberikan kode kepada mereka untuk bungkam, sekaligus melakukan sesuatu agar tubuh Reta tak tampak diracuni.


Mereka berdua akhirnya masuk dan menyisahkan pertemuan antara Akira, dengan dua pria di hadapannya ini. "Apakah kami boleh melihat putri Meira?" Seperti yang dibicarakan banyak orang jika sosok pangeran dari kerajaan Pegasus ini tentunya memiliki sopan santun dan kepribadian yang baik. Bodoh sekali kembarannya itu malah memilih Draca dibandingkan pria ini. Namun, untuk apa juga Akira peduli dengan Alika yang sebenarnya hanya saudara secara biologis. Biarkan saja wanita jahat itu mendapatkan karma untuk setiap perbuatannya yang membuat sahabatnya ini harus teracuni seperti ini.


Seharusnya Akira bisa menyembuhkan Reta dengan kekuatan dari klan rubahnya, hanya saja seperti banyak klan yang memiliki dua sisi kekuatan yang mereka miliki yaitu gelap dan terang. Entah bagaimana Alika mempelajari banyak racun yang menjadi larangan jika itu digunakan untuk melukai seseorang jika tidak dalam posisi berperang untuk mempertahankan kerajaannya.


"Tentu saja, tapi biarkan kami mempersiapkannya dulu dan kalian akan masuk setelah kami persilahkan," ucapnya yang membuar Arslaan mengkirutkan keningnya.

__ADS_1


link lanjutan : https://www.\*\*\*\*\*\*.com/novel/BoWj%2FsO1WIQaH1yxlVCJYg%3D%3D-Super-Blue-Blood-Moon.html


__ADS_2