Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
The Resurrection


__ADS_3

Dikerajaan bawah, saat Sara terlihat berbaring dikamar yang begitu mewah dengan beberapa pelayan dari ras Rusa yang terlihat merawatnya. Mata hijau itu tak terlihat membuka, masih setia menyembunyikan diri dibalik kelopaknya. Arslaan yang semenjak tadi duduk tak jauh darinya, hanya terus memandangi gadis itu dengan segala amarah yang ia pendam.


"Jangan mencoba berpikir untuk menyerang kerajaan atas!" Marshal duduk disampingnya. "Ia akan sadar besok, aku sudah memberikan energi juga dan karena tubuhnya sangat lemah, ia tidak bisa segera bangun." lanjut Marshal.


"Aku memang tak menyukai kerajaan atas, apa pun itu. Si Naga itu bahkan telah membunuh ayahku karena telah mencoba menyerang kerajaannya dan aku sudah berencana untuk menyerangnya kembali tapi tidak sekarang. Gadis Phoenix itu tiba-tiba saja datang dan mengacaukan semuanya. Sepertinya aku tidak dapat menunda terlalu lama, aku akan segera menyerang kerajaan Naga, jangan menghalangiku!" kata Arslaan dan Marshal mendesah.


"Aku tidak akan menghalangimu, tapi jika kau bertindak karena perasaanmu bukan berdasarkan pemikiran yang tajam dam dengan mempertimbangkan segalanya. Jangan pernah meminta bantuanku jika kau kalah telak dalam peperangan. Kerajaan Pegasus tidak akan membantumu, bahkan jika itu ucapan kepedulian," ucap Marshal dengan serius yang tentu saja membuat Arslaan kesal.


"Lalu kau memiliki rencana? Katakan sekarang kepadaku!" desaknya dan Marshal tersenyum.


"Ya, aku punya rencana dan kau hanya perlu mengikuti rencanaku," ucapnya yang kali ini berbicara dengan berbisik.


---***---


Malam telah berganti siang, saat beberapa Phoenix mencoba terbang, mondar-mandir di depan mata Reta yang hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Pikirannya kacau, kesal pada diri sendiri yang tak bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Sara. Dalam benaknya selalu saja berandai-andai, jika saja ia lebih matang untuk menyiapkan rencananya dalam membawa Sara pergi, mungkin gadis itu tidak akan terluka.


"Meira, kenapa kau tidak ingin memakan makananmu?" Ratu datang membuat Reta mendesah, ia sangat kacau saat ini, tidak sedang ingin bersandiwara.


"Hamba, tidak berselera Bunda," jawab Reta seadanya dan wanita tua nan anggun ini pun memeluknya dengan hangat, membuat Reta seketika rindu dengan Mamanya, teman-temannya dan bumi.


Reta menangis dalam pelukan ibu palsunya ini untuk pertama kalinya. Gadi Ta yang menyaksikannya merasa iba dan bingung karena tidak mengertiannya tentang sosok majikannya. Dulu, meskipun putri Meira sangat keras kepala dan kekanakan, tapi gadis itu mudah ditebak, namun putri Meira yang sekarang jauh berbeda. Gadi Ta tak mengerti apapun yang dipikirkannya.


Gadi Ta pun pergi saat merasakan krystal bulat yang ia bawa menyala. Sepertinya Draca ingin menemuinya. Benar saja, pangeran itu telah menunggunya di hutan belakang istana.


"Hormat hamba, pangeran Draca," ucap Gadi Ta dan Draca mengangguk.


"Bagaimana keadaannya?" Draca bertanya dan Gadi Ta menunduk, merasa bersalah.


"Semenjak semalam putri Meira terus menangis, bahkan tak makan dan juga tak ingin berbicara dengan hamba. Setiap kali hamba bertanya ia selalu saja mengabaikan hamba, bahkan ia menangis saat Ratu datang dan memeluknya. Hamba merasa, sesuatu besar dan mengganggunya membuat putri risau sepanjang waktu." Pendapat Gadi Ta.


"Apa itu karena budak itu?" Draca mencoba untuk menduganya dan Gadi Ta mengangguk, mengiyakan dugaan Draca.


"Iya, nama budak itu adalah Sara. Hamba mendengar putri Meira memanggilnya beberapa kali," terang Gadi Ta membuat Draca terkejut. "Hamba tak pernah melihat kepedulian yang begitu besar pada seseorang selain kepada Anda. Hamba rasa, mungkin budak itu adalah seseorang dimasa lalunya," lanjut Gadi Ta.


"Dia sebenarnya adalah anak dari pemimpin ras Rusa Tandi Ja Ji dan namanya adalah Nania Ja Ji." Draca berhasil mencari tahu siapa Sara sebenarnya.


"Lalu kenapa ia bisa menjadi budak?" Gadi Ta tak mengerti.


"Sepertinya Arslaan menyukainya cukup lama, karena Tandi terus menolaknya saat ia mencoba untuk mempersuntingnya. Arslaan mengirim pasukan khususnya untuk menyerang pemukiman mereka dan Tandi telah gugur, Nania sempat melarikan diri dan terjun ke sungai tapi ia berhasil sadar kembali setelah beberapa minggu tak sadarkan diri," terang Draca dan Gadi Ta mulai paham kenapa gadis malang itu kini menjadi budak.


"Apa karena hal ini, putri begitu memperdulikannya?" Gadi Ta bertanya dan Draca menggeleng dengan helaan napasnya.


"Aku tidak tahu, tapi setelah melihat seberapa pedulinya Arslaan kepadanya. Aku rasa Meira memilki tujuan untuk memanfaatkannya. Hanya itu yang mampu ku fikirkan saat ini dan aku tidak dapat memahami bagaimana Meira menangisi gadis itu," kata Draca dan Gadi Ta juga merasa bingung dengan semua ini.


"Pangeran, aku akan benar-benar mengawasi putri Meira mulai dari sekarang." Gadi Ta bersungguh-sungguh.


"Tentu, kau harus mengawasinya. Aku akan memikirkan cara agar semuanya segera ku ketahui," ucap Draca. "Pergilah, jaga dia baik-baik," pesan Draca yang kini menghilang, menjadi sosok Naga kembali. Terbang diangkasa dengan cepat.


Gadi Ta memandanginya sambil tersenyum dan seketika senyum itu hilang saat ia melihat sosok Pegasus yang cukup ia kenal melayang-layang di depan jendela putri Meira.


"Pangeran Marshal, apa yang ia lakukan disini!" gumamnya dengan tak senang, mencoba melangkah cepat memasuki istana.


Sementara, di kamar Reta gadis itu duduk diatas kasur sambil bersandar, masih termenung dan tak bersemangat untuk melakukan apa pun, kecuali ia bisa keluar untuk menjenguk Sara.


"Tuan Putri Meira ..." Seseorang mencoba memanggilnya dan Reta mencoba untuk mencari sumber suara dan ia menemukan sosok Marshal di balik jendela.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya tanpa minat, Reta masih belum beranjak dari tempatnya sekarang. Memandang tak suka sosok Marshal yang membuat dirinya sedikit sadar jika telah di manfaatkan oleh pria ini.


Marshal pun mencoba masuk lewat jendela, namun Reta menghalanginya dengan perisai apinya. "Jangan mencoba untuk masuk, sebelum ku ijinkan!" katanya dingin.


Marshal pun berhenti, memandangi Reta dengan harap. "Maafkan aku untuk yang kemarin," ucapnya dan Reta menatapnya dengan ekspresi penuh curiga.


"Tidak! Aku tidak bisa memaafkanmu, kalau saja kau tak menghalangiku saat itu. Sara tidak perlu menerima luka bakar seperti itu," sesal Reta dengan terus meneteskan air matanya.


Marshal sedikit tersenyum, sepertinya ia tahu apa yang membuat gadis ini cukup resah. "Aku sudah mengobatinya, tenang saja luka itu tidak akan berbekas. Hanya menunggu waktu sampai ia sadar kembali," katanya sambil tersenyum tapi Reta sedang tidak ingin membalas senyum menawan pria berambut perak dihadapannya ini.


"Apa kau ingin melihatnya?" Marshal menawarkan yang seketika membuat kilahan minat di kedua bola mata kejinggahan itu.


Marshal melihatnya dan merasa cukup senang. "Ayo, kita menjenguknya bersama," ajaknya dengan mengulurkan tangannya dan Reta terlihat menimbang. Memikirkan, apakah pria ini layak untuk dipercayai?


Namun, beberapa kali pun Reta berpikir, hal ini bukan sesuatu yang penting karena yang terpenting saat ini ia bisa melihat Sara. Jadi, seharusnya ia tidak perlu mempedulikan siapapun kan? Mendapatkan Sara dan membuatnya berada di sisinya adalah tujuan utamanya dan setelah itu, mungkin ia akan mencari sebab kenapa wajah Alika sangat mirip dengan Akira tapi jiwanya bukan milik Akira. Jika Sara dan dirinya seperti sekarang, kenapa Akira tidak bisa? Apa yang terjadi sebenarnya? Kepala Reta mau pecah rasanya memikirkan hal ini.


Belum lagi, ia harus mencari Adel karena tanpa si jenius itu, akan susah untuk hanya merancang hal mustahil tentang bagaimana cara kembali ke bumi.


Sepertinya perjalananya akan sangat panjang dan Reta harus tetap berhati-hati agar ia bisa tetap hidup sampai di detik kepulangannya ke bumi.


Masih banyak waktu dan terpenting ia harus berani membesarkan harapannya.


"Baiklah, tapi aku dilarang keluar," ucap Reta yang terlihat ingin tahu, apa yang akan dilakukan pria dihadapannya ini.


"Bukalah perisainya dan aku akan membawamu dengan selamat tanpa di ketahui oleh mereka," katanya dengan serius dan Reta pun menyetujuinya.


Reta menghilangkan perisainya dan Marshal segera menjemputnya. Lebih tepatnya membawa Reta terbang menggunakan sayap putihnya yang besar dan kuat itu.


Gadi Ta yang baru saja sampai, melihat Putri Meiranya di bawah pergi oleh pangeran Pegasus itu. Hal ini tentu membuatnya cemas, ia berharap Draca tak melihatnya.


---***---


Draca, pria ini terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Apa rencanamu selanjutnya yang mulia," sosok naga es, melayang disekitarnya membuat Draca memandangnya.


"Aku ingin kerajaan bawah," jawab Draca dan Naga es itu berubah menjadi pria paruh bayah yang gagah.


Dia tersenyum sebelum akhirnya membungkuk hormat. "Hamba sudah menyiapkan semua yang anda butuhkan, hari ini tepatnya ras macan, buaya dan badak akan bersatu menuju kota. Mereka akan melakukan kudeta dan alasan ini akan terdengar masuk akal, sebagaimana mereka merasa tidak puas terhadap kepemimpinan Arslaan. Beberapa keluarga bangsawan di hukum mati karena tak mau memberikan upeti oleh Arslaan, jadi mereka tak menerimanya sampai detik ini," terangnya dan Draca mengangguk.


"Pastikan Arslaan selalu sibuk menangani pemberontakan-pembrontakan tersebut, hingga ia sadar kalau tak memiliki sepeser pun kekayaam," ucap Draca sambit tersenyum sinis.


"Baik Yang Mulia," ucanya yang kini mengubah dirinya kembali menjadi Naga es dan pergi.


Kemudian, sesosok wanita paruh bayah datang. Rambutnya berwarna putih senada dengan warna matanya. Hampir mirip dengan wujud para Pegasus, hanya matanya saja yang berbeda.



Giyara Gen La


Ia duduk disebalah Draca dan pria itu pun berbaring di pangkuannya.


"Nak, sampai kapan kau akan terus menyembunyikan dan membohongi semuanya," ucap wanita itu yang kini menyisir rambut merah anaknya dengan tangan mungilnya.


Draca menikmatinya dengan memejamkan matanya. "Draca, apa kau mendengarkanku?" tanya wanita itu lagi.

__ADS_1


"Hmm..." balasnya singkat membuat wanita itu mendesah.


"Sampai mereka semua mengakuiku sebagai penguasa di Phatasia dan tak berani menghinamu lagi," ucap Draca sembari mencium tangan ibunya.


"Tapi nak, kau harus membuat beberapa orang mendukungmu, bukan menjadikan semuanya musuhmu," nasehat Giyara dan Draca tersenyum, memandang wanita ini dengan sayu.


"Aku memiliki Alika, ia akan selalu menurutiku bahkan ia bersumpah akan menyerahkan kerajaannya kepadaku dan Meira yang memiliki kekayaan tak terhingga untuk pembiayaan beberapa perang," ucapnya yang tentu membuat wanita itu menggeleng.


"Tidak anakku, bukan seperti itu yang Ibu maksud. Ibu, menginginkan kau mendapat seseorang yang benar-benar menerimamu apa adanya. Lupakan semua ini dan hiduplah dengan bahagia dengan mencintai seseorang," ucapnya yang kali ini membuat Draca terduduk.


"Jika cinta yang Ibu maksud adalah cinta Ibu terhadap Ayah? Aku tidak punya dan tidak menginginkannya. Aku tidak suka memikirkan cintaku harus berakhir di gua es seperti ini. Ibu adalah Ratu kerajaan Naga dan mereka mengurung Ibu hanya karena Ibu lemah sehabis melahirkanku dan semua orang meremehkanku karena aku bukan keturunan murni klan api. Aku adalah naga separuh klan api dan separuh klan es. Bahkan mereka semua menganggapku pangeran yang cacat, tapi kenyataannya aku lahir dengan sangat sehat," ucap Draca yang kini mengepalkan tangannya Ratu Giyara meraih tangan dingin anaknya.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan selama ini, maafkan Ibu," lirihnya sambil menangis dan Draca menatapnya dingin.


"Aku berjanji kepadamu Ibu, aku akan mengusai Phatasia dan semua orang tidak bisa menghalangiku untuk hal ini." Tatapannya menunjukkan keyakinan begitu kuat dan Giyara hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk anaknya ini.


---***---


Reta telah sampai di depan gerbang kerajaan bawah. Terlihat ragu untuk memasukinya, bahkan ia terus memperhatikan Marshal dan mencoba mencari kecurangan yang mungkin bisa nampak secara tiba-tiba.


"Aku tahu, kau tidak mempercayaiku tapi bukankan bertemu dengan Sara lebih penting?" tanyanya yang membuat Reta mendesis. Melangkah memasuki gerbang dengan langkah lebih cepat dari biasanya.


Entah kenapa? Pemandangan ini membuat Marshal ingin tertawa. "Kepribadian yang unik, bahkan ia akan mudah menarik perhatian pria dibandingkan dulu," gumam Marshal yang kini pun melangkah mengikuti Reta.


Gadis itu tiba-tiba berhenti saat melihat Arslaan mencoba menuntum Sara. Reta mengamatinya, cukup terkejut saat Arslaan memperlakukan Sara dengan baik.


"Kau! Apa kau mencoba membuat keributan lagi disini!" tuding Arslaan dan Reta hanya menghela napas.


"Reta ..." Tidak mempedulikan tudingan Arslaan, Sara memilih untuk berjalan sendiri mendekati sahabatnya.


"Aku merindukanmu dan maaf untuk semuanya," bisik Reta saat berhasil memeluk tubuh mungil Sara.


"Ya, itu bukan salahmu atau salah kita. Hanya saja, kita tersesat disini. Sungguh, aku ingin pulang." Sara tiba-tiba menangis membuat Arslaan panik, hendak menghampirinya tapi Marshal malah menghampirinya, mengajaknya pergi.


Reta menenangkanya dan suasana hati Sara sedikit membaik. Mereka duduk disebuah bangku dan menatap sekitar.


"Apa kau menyukainya? Hidup disini, mimpimu benar-benar terwujud," rancau Sara dan Reta menggeleng.


"Tidak, aku juga ingin pulang dan sekarang aku sedang memikirkan bagaimana caranya kita pulang," terang Reta.


Sara memperhatikan Reta. "Bagaimana caranya?" tanyanya dan Reta menggendikkan bahunya.


"Aku belum tahu dan akan segera mencari tahu." Reta pun tiba-tiba memegang tangan Sara. "Kita hanya berdua disini, aku belum menemukan yang lain. Jadi Sara, jangan mempercayai siapa pun kecuali diriku. Kau juga harus membiasakan menggunakan nama kita yang sudah ada disini untuk menghindari kecurigaan mereka. Jika mereka bertanya kenapa kita saling mengenal, bilang saja jika kita pernah bermain saat kecil," pinta Reta dan Sara mengangguk.


"Kita harus segera mencari Adel karena aku merasa jika hanya ia yang tahu bagaimana caranya kita kembali." ucap Reta sambil berbalik, memandang Sara seksama.


"Jadi, siapa namamu?" Reta bertanya dan Sara pun menjawabnya.


"Nania Ja Ji, dan kau?" kini Sara balik bertanya.


"Meira, putri Meira," balas Reta yang kini memeluk Sara lagi.


"Aku sebenarnya ingin membawamu tapi akan sulit untukmu tinggal di kerajaan Phoenix. Jadi kau harus menjaga dirimu dengan baik. Aku akan menyusun rencana untuk merebutmu kembali." Reta menghembuskan napas beratnya. "Tolong sedikit bersabar untuk menghadapi parah bedebah itu," perintah Reta.


"Ya, aku akan mempercayaimu dan kita tidak boleh mati sia-sia disini. Kita semua harus kembali denga selamat," ucap Sara dengan optimis, membuat senyum Reta mengembang. Sepertinya Sara sudah kembali dan Reta cukup senang dengan ini.

__ADS_1


__ADS_2