
Sebuah tempat dengan hiruk pikuk penghuninya yang berlalu lalang dengan sangat sibuk. Bertukar barang yang dibutuhkan, atau menggunakan batu sihir sebagai mata uang. Seorang pria tua nampak berjalan pelan, matanya menjelajah sekitar. mencoba menikmati segala hal yang ada di hadapannya ini.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat sosok wanita yang begitu anggun, rambut merahnya terurai, mata kejinggahan dan bibir merah merekah. Sudah sangat jelas, wanita sejenis ini hanya dimiliki klan Phoenix dan pria ini pun berjalan cepat, bersembunyi dalam semak dan mengubah wujudnya menjadi seorang wanita layaknya dari klan Phoenix.
Berbeda dari cara berjalannya beberapa saat lalu, kini ia terlihat sangat anggun dan percaya diri. Mencoba untuk mendekati sosok wanita yang dilihatnya tadi itu.
"Gadi Ta, apa yang membawamu kemari?" tanyanya dengan sangat heran, sementara Gadi Ta berbalik dan merasa kebingungan dengan wanita asing di hadapannya ini.
"Ini aku Draca. Apa yang kau lakukan di sini? Lalu dimana Meira?" tanyanya yang tentu membuat Gadi Ta terkejut.
"Maafkan hamba Yang Mulia karena tak mengenali Yang Mulia." Gadi Ta merasa bersalah karena selalu tak mengenali Draca saat pangerannya ini berubah menjadi sosok lain.
"Tak masalah, hanya saja apa yang kau lakukan di sini? Dimana Meira?" Draca mengulang lagi pertanyaanya, sementara Gadi Ta tak terlalu berkonsentrasi. Matanya mencoba untuk menjelajah, wajahnya terlihat ketakutan.
"Apa sesuatu terjadi?" Draca mulai mencoba untuk menduganya.
Gadi Ta pun mengangguk, membuat Draca terkejut. "Kalau begitu katakan!" tanyanya dan Gadi Ta semakin bingung.
"Yang Mulia, kita harus berbicara ditempat yang lebih sepi," mohonnya yang tentunya tak ingin Draca ditemukan dan diserang.
Draca menghela napas dan mengangguk mengiyakan. Draca pun menarik tangan Gadi Ta ke semak-semak dan di sana Draca berubah kembali. "Jadi ... Apa yang telah terjadi?" tanyanya.
Gadi Ta pun memberikan hormat secara resmi kepada Draca dan menyodorkan sebuah botol kecil dengan pemandangan kerlip di dalamnya. "Putri Meira mengutus hamba untuk memberikan ini kepada Pangeran."
Draca menerawang botol tersebut dan kini mulai membukanya. Kerlip itu berhamburan keluar dan membentuk sebuah pesan yang berbunyi 'Ratu mengutus pasukan khususnya untuk membunuhmu. Pergunakan kesempatan ini untuk menjebak mereka. Aku mengirim bala bantuan dan membiarkan ras beruang untuk berpura-pura menyerangmu.'
Gadi Ta yang kini tahu apa isi pesan tersebut terlihat cukup tercengang, berbeda sekali dengan Draca yang terlihat menyeringai. "Jadi mereka sudah tidak sabar, ingin bermain-main denganku?" gumamnya.
__ADS_1
"Gadi Ta, kembalilah ke Kerajaan Naga dan lindungi putri Meira. Tapi, sebelum itu aku ingin tahu siapa yang mengantarmu kemari? Aku tidak melihat siapa pun?" tanya Draca yang melihat Gadi Ta hanya datang sendiri dan sepertinya ia melakukannya dengan sangat cepat.
"Putri Meira yang melakukannya dengan membuat hamba berteleport kemari," jawab Gadi Ta yang membuat Draca tersenyum.
"Sepertinya kekuatannya semakin meningkat. Gadi Ta, jangan biarkan Meira keluar dari kamarnya, aku akan menyuruh beberapa orangku untuk mengantarmu mengawasi kalian. Jangan lupa untuk selalu memberikan ramuan yang telah ku berikan kepadamu. Di tengah perang ini, ia harus tetap kuat," ucap Draca yang tentunya Gadi Ta pahami. Hanya wanita ini tak benar-benar tahu tujuan sebenarnya dari ramuan yang sebenernya adalah racun yang disiapkan untuk membuat Meira mati secara berlahan.
"Baik pangeran, hamba akan segera kembali," ucapnya yang kini berjalan saat Draca menunjuk beberapa orang tak jauh dari sana.
"Beberapa yang terhebat dari ras Landak akan membawamu melewati tanah. Setelah itu ada beberapa ras elang akan membawamu terbang di daerah rahasia menuju kerajaan Naga, jadi kau tidak perlu khawatir akan ketahuan," terang Draca yang memang bisa membawa orang berteleport tapi tidak bisa mengirim seseorang untuk berteleport ke te.pat lain sendiri tanpa dirinya. Jadi, untuk keahlian ini, Reta satu tingkat lebih baik darinya.
---***---
Di kerajaan Pegasus yang megah, terdominasi dengan warna putih dan ukiran klasik di setiap dinding bangunan istana. Reta dan Sara telah sampai di sini dan merasakan kontradiktif yang berbeda dari tiga kerajaan yang lain. Mereka berjalan memasuki kediaman pangeran Marshal tanpa di ketahui oleh para penjaga karena setiap kali mereka hampir berbenturan, Reta langsung berteleport dengan Sara yang membuat dirinya benar-benar kelelahan saat ini. Hingga mereka berpapasan dengan Marshal dan Arslaan.
"Putri Meira ...." gumam Marshal, menatap Reta dan Sara bergantian tak percaya.
"Apa yang membuat kalian datang? Ini sangat luar biasa di luar dugaan kami." Marshal masih belum bisa mempercayai semua ini.
Kali ini perhatian Reta teralih pada sosok berparas tampan dengan senyum ramah yang selalu mengembang. Seketika Reta membayangkan Draca bisa setulus Marshal, hanya saja itu tidak mungkin dan dengan segera Reta membuang jauh-jauh harapannya itu.
"Aku hanya ingin menitipkan Nania kepada kalian." Hanya kata ini yang mampu Reta sampaikan diatas segala hal yang terjadi kepada dirinya.
"Hanya itu? Apa terjadi sesuatu? Apa Draca menyakitimu?" Rentetan pertanyaan Marshal ini membuat Reta sedikit terlarut dalam kesedihannya. Mungkinkah jika dulu ia bisa atau menemukan sosok yang seperti Marshal di dunia ini, Reta yakin dirinya tidak akan jatuh pada kesengsaraan.
"Tidak, hanya saja di sana tidak aman. Aku takut Danial mencob menjebak Nania dan aku tidak bisa mempercayai siapa pun kecuali kau ... Arslaan yang mencintai Nania dengan tulus," kata Reta, tapi terlihat sekali Marshal tidak bisa mempercayai itu.
"Aku tau kau tidak mengatakan semuanya, hanya saja putri Meira ... Aku akan menunggu sampai kau siap bercerita dan saat itu aku akan melakukan apa pun untuk membantumu. Ini bukan untuk dengan maksud lain karena Alika, tapi untuk pertemanan kita yang baru terbentuk," ungkapnya yang sungguh membuat Reta ingin menangis tapi ia berusaha keras menunjukkan ketenangannya.
__ADS_1
"Sejak kapan kita berteman?" tanyanya dengan tawa.
Marshal membalasnya dengan tawa, kemudian mengatakan sesuatu. "Sejak kau berani menyusup di kerajaanku tanpa takut. Hanya orang-orang berani dengan niatan yang tulus mampu melakukan ini," ucapnya yang seperti sebuah sindiran dan ini membuat semua terkekeh.
Hanya Reta yang nampak berpikir. "Mengenai Alika, apa kau tidak penasaran dengan sosok yang kau lihat begitu baik itu? maksudku, Alika memiliki saudara kembar yang berna.a Alisa dan dia begitu baik. Aku hanya takut kau salah mengenali orang." Reta sepertinya ingin menggali tentang wanita yang sebenarnya Marshal sukai.
"Ya, Alisa lebih baik dari Alika. Kami sudah pernah bertemu," sahut Sara dan Arslaan di sampingnya nampak berpikir pula.
"Aku tidak pernah menyangka kerajaan Rubah memiliki dua calon pewaris tahta?" gumamnya.
"Bagaimana pendapatmu Marshal?" Reta lebih tertarik mendengarkan komentar Marshal.
Pria ini tersenyum. "Aku tau, hanya saja itu tidak mungkin. Alika pernah mengakuinya kepadaku, tapi ia tetap memilih Draca untuk dirinya," lirihnya dengan sedih. Reta tahu karena dirinya pernah dan sering kali terluka karena hal ini.
"Baiklah, aku akan kembali. Aku harap kau akan menjaga Nania dengan sangat baik Arslaan." Reta berbalik dan menatap Arslaan tajam.
"Ah, kenapa kau cerewet sekali. Tentu saja aku akan menjaga wanitaku dengan baik," ungkapnya dan Reta hanya tertawa mendengarnya.
"Nania, selamat tinggal dan terima kasih untuk kebaikan kalian berdua," pamit Reta dan menghilang.
Hanya tinggal Sara, Arslaan dan Marshal yang masih nampak berpikir. Baginya Reta sangat aneh.
"Aku harus menyelidiki apa yang terjadi," gumam Marshal.
"Jangan membuang energimu, kita masih belum cukup kuat," balas Arslaan.
Marshal menghela napas panjang. Dirinya memang belum bisa menandingi kehebatan Draca. Hanya saja, saat melihat satu persatu wanita yang ia pedulikan sedih karena pria itu. Marshal ingin sekali membuat Draca jatuh.
__ADS_1