Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon
Attack


__ADS_3

Draca terlihat memasuki istana kerajan bawah. Draca pun memasuki aula utama, dimana setiap tapat di laksanakan disana. Klan buaya mencoba memberikan hormatnya. Beberapa prajurit klan ukar pun melakukan hal yang sama. Mereka duduk bersama dengan Draca sebagai pemimpin.


"Sepertinya kalian ingin menyampaikan beberapa hal?" tanya Draca.


"Benar yang mulia, kami memiliki beberapa laporan dari beberapa bagian kerajaan-"


Sting


"Suara apa itu?" Beberapa yang berada dalam merasa penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Draca yang mengetahui apa yang terjadi di luar menyeringai.


"Perintahkan pasukan khusus untuk membunuh mereka semua yang terlibat, bahkan jika itu adalah orang-orang dari kerajaan naga. Habisi sampai tak tersisa, itu adalah hukuman bagai mereka yang bermain-main denganku!" tekan Draca yang tak main-main.


"Baik Yang Mulia!" jawab mereka kompak.


---***---


Pagi menyapa, saat Reta merasakan dekapan hangat yang tak lain adalah dekapan Draca. Entah berapa lama pria ini tidur di sebelahnya. Reta tidak tahu karena ia tidak bisa terbangun karena efek racun yang pria ini berikan kepadanya.


Reta pun mencoba melepaskan rengkuhan Draca. "Kau sudah bangun?" bisik Draca lembut, sembari mengecup pipi seputih susu Reta dan memeluknya penuh erat, tak membiarkan wanita ini jauh darinya.


"Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Reta yang saat ini berpura-pura untuk panik. Sepertinya wanita ini memiliki sedikit trik.

__ADS_1


"Kau ingin aku bercerita mulai dari mana? Ada banyak hal yang terjadi setelah kau tertidur," ucapnya yang tentu membuat Reta kesal dan menyalahkan Draca yang membuatnya harus meminum racun itu dan melewatkan banyak hal. Namun, lagi-lagi ia menahan segala perasaan itu. Untuk ukuran dirinya yang berniat meninggaljan segalanya untuk kebaikan semua orang, seharusnya ia tidak boleh memiliki banyak keinginan tak penting seperti ini kan?


"Kau berhasil menang dari mereka kan? Lalu, bagaimana  nasib ratu dan Danual?" Hal ini juga membuat Reta sangat penasaran dan Draca tersenyum mendengarkan pertanyaan itu.


"Seharusnya kau menanyakan keadaan suamimu terlebih dahulu, tapi kau malah menanyakan mereka berdua," protesnya yang bahkan kali ini menyandarkan kepalanya pada bahu Reta.


Reta pun mencoba untuk membelai kepala Draca meskipun dengan kekikukan. Setelah semua yang terjadi, apa ia masih bisa memperlakukan Draca seperti dulu? Lagi pula, apa dulu mereka juga sedekat ini? Tidak bukan, mereka hanya mencoba mengakrabkan diri untuk kepentingan masing-masing.


"Aku melihatmu dapat kembali kemari dan tidur dengan memelukku, itu berarti kau pasti baik-baik saja," balas Reta dan Draca tersenyum mendengarnya.


"Ya, seperti itulah putri Meira yang ku kenal," ucapnya yang kali ini memandnag Reta dan mulai mendekat, menciumnya dengan lembut. "Aku menyukaimu," gumam Draca yang masih ******* bibir mungil Reta dan tubuh wanita ini seketika menegang.


Reta tidak mengatakan apa pun, hanya berusaha untuk menikmati setiap sentuhan Draca yang tidak akan pernah ia jumpai nantinya. Mungkin saat ini ia hanya akan menerima segalanya dengan lapang, agar kelah ia tidak berlebihan menjadi sakit dan patah hati. Percayalah, melakukan hal semacam ini lebih sulit dari pada di pukuli lebih dari 100 kali. Hari ini sepertinya mereka akan menghabiskan waktu bersama tanpa ada yang akan mengganggu dan tentunya Draca tidak akan membiarkan hal ini terjadi.


---***---


 


 


.

__ADS_1


.


.


link lanjutan :https://www.\*\*\*\*\*\*.com/novel/BoWj%2FsO1WIQaH1yxlVCJYg%3D%3D-Super-Blue-Blood-Moon.html


.


.


Selamat membaca ^ - ^


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2