
Pagi ini, Safira datang ke sekolah terlambat. Ia berlari menuju kelasnya. 'Kenapa harus telat lagi sih?' umpatnya dalam hati. Gadis ini memang selalu terlambat sekolah. Bukan karena jarak yang jauh atau tidak punya kendaraan dan harus naik kendaraan umum. Ia adalah gadis yang bisa dinobatkan anak sekolah yang bangun paling akhir.
Deg, jantung Safira hampir lompat dari tempatnya. Jika itu adalah jantung buatan mungkin itu akan terjadi. Ia melihat seorang pria asing yang hendak memulai pelajaran fisikanya.
'Ish, menyebalkan,' umpatnya lagi.
"Kamu! siapa nama Kamu?" tanya laki-laki berkacamata itu.
"Sa-saya Safira, Pak." Jawab Safira.
"Ini udah jam berapa, Safira? Kamu terlambat hampir setengah jam," pria itu menegur. Safira diam menunduk, tapi ekspresi wajah saat tidak dilihat sang guru malah seperti mengejek.
"Hahahaha," riuh para murid di kelas.
"Safira, Kamu diam di depan kelas di dekat meja Saya! Sekarang!" titah pria itu tegas.
Safira akhirnya menerima hukuman. Walaupun sebenarnya ia memang sulit untuk menyesali perbuatannya. Ia akan tetap terlambat.
Semua murid nampak serius dengan pelajaran itu. Kalian tahu pelajaran fisika apapun yang ada di sekitar akan dibahas. Bahkan listrik yang kita tahunya ada dan hanya memakainya saja di pelajaran fisika akan dibahas. Membuat para murid harus ekstra konsentrasi.
Dua jam pelajaran berlalu. Safira akhirnya duduk di bangkunya. Ia merasakan kakinya seperti dikerumuni oleh semut. Ia pun merasa pegal karena terlalu lama berdiri.
"Apaan sih? main hukum segala," gerutu Safira.
"Lah, Lo bandel orangnya. Udah dibilangin belajar bangun pagi. Tidur mulu. Masih untung gak jadi sleeping beauty," oceh teman sebangku Safira bernama Risa itu.
"Ish, amit-amit deh. Untung guru kalau pacar udah Gue tinggalin tuh," celoteh Safira.
"Haha, berkhayal itu jangan kebangetan! Yang ada orang kayak gitu mana mau sama Lo. Orang kayak gitu berarti orangnya disiplin waktu. Lah, kalau Lo jadi pacar dia paling pas mau nge date telat udah out aja,"cerocos Risa.
"Ish, emangnya lagi audisi apa main out segala," protes Safira.
"Udah ah! Bu Ida bentar lagi pasti datang. Lumayan muter otak lagi," ujar Risa.
"Kenapa juga harus ada kimia? Masih untung matematika sama bio gak sekarang," gerutu Safira.
"Sabar! Gue tahu kok. Walau Kamu itu udah dicap jadi si cewek langganan telat masuk sekolah, tapi otak Lo 'kan encer," celoteh Risa.
"Encer kayak larutan kimia," ucap Safira ketus.
Risa menahan tawa. Kemudian mereka kembali serius. Ya, guru yang satu ini memang termasuk guru honorer cantik dan ia termasuk guru killer.
Jam menunjukkan waktu istirahat. Guru kimia keluar dari kelas. Suasana kelas seketika menjadi riuh.
"Ke Kantin yuk!" ajak sebagian teman laki-laki Safira.
__ADS_1
Mereka memang selalu mencuri perhatian Safira. Meskipun Safira sering terlambat. Safira adalah gadis yang supel dan pintar.
"Ya deh. Tapi, ada yang mau traktir gak ya?" gurau Safira.
"Gue deh," ucap beberapa orang.
"Hemm, kagak deh. Gue punya uang sendiri,"
Safira dan yang lainnya pun pergi ke kantin yang melewati ruang laboratorium. Terlihat pria bernama Naufal itu pun tidak sengaja menatap Safira.
"Ish, Guru itu natap Lo," celoteh Risa.
"Perasaan Lo aja kali. Udah ah! Gue laper," ketus Safira.
"Ish, Lo. Ada guru ganteng juga malah cuek amat. Kapan Lo punya pacarnya Kalau kayak gitu?" protes Risa.
"Gue masih sekolah. Ujian kelulusan bentar lagi. Lah, kalau Gue pacaran. Sekolah Gue keganggu, terus nilai Gue jelek. Emang Lo mau tanggung jawab?" cerocos Safira.
Risa tampak cengengesan. Setiap ia bahas soal teman jomblowati itu. Ucapan yang sama akan diucapkan oleh Safira.
Jam sekolah hari ini telah usai. Safira mengendarai motornya itu dan bergegas untuk pulang.
"Ish, kok mogok sih?" umpat Safira. Motor berhenti secara mendadak. Safira menendang motornya yang membuat ia harus diam di tengah terik matahari. Ia pun menepikan kuda besi itu dan menelpon orang-orang yang ia kenal.
"Kenapa motornya?" tanya seorang pria yang menghampirinya.
"Pak Naufal," Safira terkesiap.
"Kenapa motornya?" tanya pria itu lagi.
"Mogok, Pak." Jawab Safira.
Sebenarnya ia masih kesal, tapi ia berusaha bersikap baik saja. Ia membutuhkan bantuan untuk motor mogoknya itu.
Pria itu mengecek motor tersebut. Safira memperhatikan apa yang dilakukan Naufal. Mungkin jika sewaktu-waktu mogok lagi, ia bisa menanganinya jika tahu cara memperbaikinya.
"Oh, saklar nya. Untung ada cadangan," ujar pria itu.
"Udah selesai, Pak?" tanya Safira.
"Udah," jawab Naufal.
"Makasih ya, Pak!" ucap Safira.
"Ya terimakasih kembali. Saya jalan duluan," pamitnya.
__ADS_1
"Iya Pak,"
Pria itu berlalu dengan motor miliknya. Safira menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.
Sesampai di rumah. Safira tampak kegerahan. Ia harus merasakan panas terik saat di perjalanan.
"Pelan-pelan minumnya, Fira!"
"Ih, Ma. Aku haus banget. Motor itu nyebelin, mogok segala," celoteh Safira.
"Lah, bukan salah motornya. Kamu yang males buat service rutin," selorohnya.
"Iya deh iya. Fira mau istirahat ya," ujar gadis itu. Kemudian masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Tiba-tiba pikirannya pun pada pria yang merupakan gurunya itu.
"Ish, nyebelin. Kenapa kebetulan banget ada pak Naufal yang nolongin?" gerutu Safira.
Ia pun menepis pikiran tentang pria yang baru ditemuinya hari ini. Gadis itu pun memutar musik di ponselnya.
Hari ini adalah hari dimana Safira harus bertemu lagi dengan Naufal. Ya, dalam sepekan dua kali pertemuan membuat Safira segan pada gurunya itu.
"Kenapa harus bagian jam pertama tiap pertemuan?" tanya Safira dengan bergumam.
Ia berjalan menunduk. Hari ini dia terlambat lagi meski waktu lima menit.
"Kenapa terlambat? Motornya mogok lagi?" Naufal membrondong pertanyaan usai Safira mengucap salam dan izin untuk masuk.
"Ti-tidak Pak," jawab Safira.
"Baiklah. Kalau sampai minggu depan Kamu terlambat lagi. Kamu akan Saya beri pelajaran tambahan!" Naufal memberi peringatan.
"Iya Pak,"
Safira kemudian duduk dengan lesu. Ia amat kesal dengan ucapan gurunya itu. Namun, ia memang sepertinya harus berubah mulai sekarang. Ya, walau itu masih dalam rencana dan dalam pelaksanaan jarang dilakukan olehnya.
Tiba saatnya jam pelajaran. Naufal menerangkan di depan. Kemudian ia pun menguji gadis yang sudah dua kali terlambat datang itu. Syafira pun menuliskan jawaban di papan tulis. Naufal mengkerutkan keningnya. Soal itu lumayan sulit sebenarnya, tapi gadis itu bisa menjawabnya.
Lima belas menit terakhir menuju pergantian jam pelajaran. Naufal pun memberikan soal kuis. Semua murid kecuali Safira tampak kesusahan meski hanya satu soal. Tiba-tiba Safira pun menghampiri meja pria itu.
"Saya sudah selesai, Pak." Ucap Safira sembari memberikan secarik kertas soal dan jawaban itu.
"Baiklah. Kau boleh duduk,"
Safira duduk diantara teman-temanya yang masih mengerjakan. Hingga bel berbunyi mereka pun tergesa-gesa untuk menyelesaikan soal itu. Safira tampak begitu santai dan kalem. Ia pun tidak menyadari bahwa sepasang mata memperhatikannya.
__ADS_1