Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 20


__ADS_3

Angin yang sejuk membelai wajah dan rambut Safira yang kini tergerai. Gadis itu menunggu suaminya yang ingin pulang bersamanya. Sebenarnya hal yang paling ia benci adalah menunggu, tapi untuk saat ini entah apa yang dirasakannya membuat ia rela menunggu cukup lama.


[Sayang lima belas menit lagi ya. Ada perlu. Maaf!] Sebuah pesan diterima oleh Safira. Gadis itu pun menjawab ya.


Sebuah earphone terpasang di telinganya. Gadis itu memilih menunggu sembari mendengarkan lagu.


"Kamu sama Naufal nikah bohongan 'kan? Atau jangan-jangan Kamu hamil diluar nikah terus minta pertanggungjawaban sama Naufal yang jelas-jelas pria polos seperti itu," cecar Lia yang menghampiri Safira.


Gadis itu menatap tajam Safira seperti elang yang akan memangsa makanannya.


"Maksud Kamu apa ya?"


"Kamu nikah sama dia karena Kamu hamil anak orang dan minta tanggu jawab sama Naufal,"


"Ish, cantik tapi mulut tak bisa dijaga,"


"Mending mulut daripada,,," ucapannya terjeda.


"Cukup, Lia!" pekik Naufal tiba-tiba. "Jika tidak tahu apa-apa tidak seharusnya Kau berkata seperti itu pada istriku. Dia sangat menjaga kehormatan lebih dari yang Kau tahu. Jangan mengusik hubungan Kami!" sambungnya.


Lia yang kesal pun akhirnya pergi meninggalkan Safira dan Naufal.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Naufal.


"Aku tidak apa-apa, Kak." Jawab Safira.


Naufal mengulur tangannya disambut tangan Safira. Mereka saling menggenggam seolah tidak ingin lagi melepaskan.



Malam ini dengan cekatan Safira menyiapkan makanan untuk suaminya. Ia tampak begitu bersemangat. Bunga-bunga cinta dalam hatinya bermekaran dan kupu-kupu menghiasinya dengan warna-warna yang indah.


"Terimakasih!" ucap Naufal yang secara tiba-tiba memeluk Safira dari belakang. Safira merasakan hembusan napas yang hangat dari suaminya.


"Aku lagi masak, Kak." Ucap Safira. Ia mencoba mengontrol kegugupannya saat berada dalam pelukan Naufal.


"Sebentar saja," ucap Naufal. Gadis itu tidak berkutik.


Setelah beberapa menit. Pada akhirnya Naufal pun melepas pelukan. Safira bisa bernapas lega dan kembali berkonsentrasi memasak.


Di meja makan terhidang beberapa makanan. Naufal tersenyum bahagia dengan sikap istrinya saat ini.


"Fira," panggil Naufal.


"Ya,"


"Bisakah kita lupakan saja tentang sebuah perpisahan dan memulai hubungan kita dengan sepenuhnya,"


"Hemm,"


"Rupanya Kau masih tak mencintaiku," keluh Naufal.


"Bukan begitu, Kak. Aku...,"


"Tidak apa-apa,"


"Aku cinta sama Kak Naufal. Bahkan dari sejak SMA." Jelas Safira yang membuat Naufal menghentikan aktifitasnya.


"Selama ini Kau mencintaiku, tapi mengapa Kau harus pergi kesini?"

__ADS_1


"Wanita itu butuh kepastian bukan digantung," sindir Safira.


"Ish, Kamu. Tapi Aku bersyukur kita sudah menikah,"


"Ya,"


Keduanya sesekali saling menatap dengan senyum.


Usai menyantap makanan mereka dengan tandas. Safira memilih untuk mandi meski sebenarnya sudah malam. Rasa gerah karena memasak membuatnya memilih mandi dengan air hangat.


Naufal berada di dalam kamarnya dengan beberapa buku yang menemaninya malam ini. Ia begitu sibuk, tapi pikiran pun teralihkan pada Safira yang begitu lembut untuk hari ini. Ia pun berharap sang istri akan bersikap lembut seterusnya.


"Aaaakkkkhhh," sebuah teriakan terdengar.


Pemadaman listrik membuat semuanya terlihat gelap. Naufal mencari keberadaan Safira.


"Safira,"


"Aku takut," pekik Safira.


Terdengar suara Safira berada di kamarnya.


"Kamu gak...,"ucapannya terjeda.


"Sorry-sorry. Aku gak tahu Kamu,"


"Ponsel Aku lowbet," rengek Safira.


"Ini pake ponsel Aku. Aku nyari lilin atau apa buat penerangan," gadis itu mengangguk. Namun, hanya beberapa menit Naufal keluar Safira kembali berteriak.


Naufal bergegas menuju kamar dengan susah payah. Gadis itu mendekap Naufal begitu saja.


"Maaf! Aku juga lupa isi baterai ponselnya. Tadi sibuk ngerjain tugas," sesal Naufal.



Mata Safira mengerjap. Kini terlihat cahaya terang. Ia mengingat apa yang terjadi semalam dengan malu. Terlihat juga Naufal yang ada di sampingnya tengah tertidur lelap. Namun, seketika terbangun karena pergerakan Safira.


"Safira," Naufal terkejut.


"Maaf!" ucap Naufal.


"Tidak apa-apa," ucap Safira tersenyum."Fira mandi dulu ya,"sambungnya. Naufal mengangguk setuju.


Naufal menyesal dengan apa yang dilakukan karena memaksa kehendak. Ia pun takut jika apa yang dilakukan semalam membuat Safira membencinya. Ia masih mengingat tentang perjanjian untuk tidak menyentuhnya sebelum ia setuju.


Waktu sarapan. Safira nampak biasa saja hanya saja tidak banyak bicara.


"Kau marah padaku?" tanya Naufal.


"Marah untuk apa?"


"Karena semalam,"


"Kita sudah menikah. Kita juga seatap. Hal itu pasti terjadi,"


"Aku terlalu memaksamu," ucap Naufal penuh sesal.


Safira menghampiri Naufal dengan senyuman. Ia pun mengecup pipi pria yang kini menjadi suaminya itu.

__ADS_1


"Harusnya Aku yang minta maaf, Sayang. Selama ini Aku tidak memenuhi kewajiban sebagai istrimu," tutur Safira dengan lembut.


Rasa panas menjalar di pipi seketika. Naufal tidak menyangka dengan sikap Safira pagi ini.


Hari-hari berlalu. Naufal dan Safira tampak begitu dekat.


"Safira," Safira menoleh pada sumber suara.


"Kak Zian,"


"Akhir-akhir ini Kamu jarang ikut acara sosial,"


"Hemmm,"


"Sorry, Safira sibuk."Ucap Naufal yang tiba-tiba datang dan menggenggam tangan istrinya."Sayang, kita pulang sekarang,"sambungnya.


Safira hanya tersenyum pada Zian dan mengikuti suaminya.


"Kak,"


"Hemmm,"


"Cemburu ya?" tanya Safira menggoda.


"Kalau tahu kenapa nanya?" ketus Naufal.


"Ish, Aku kan udah gak ada apa-apa sama dia. Lagipula sekarang 'kan Aku udah punya Kak Naufal,"


"Siapa tahu mau berbagi cerita masa lalu sama dia,"


"Ya enggak lah, Kak. Kebetulan aja dia nyamperin." Jelas Safira.


"Ya deh,"


Safira menghentikan langkahnya. Ia pun mengecup Naufal begitu saja dan mengapit tangan suaminya. Pria itu pun akhirnya menghentikan ocehannya.


Sebuah notifikasi aplikasi hijau terdengar. Safira yang baru saja sampai menjatuhkan bobotnya di sofa.


"Apa-apaan ini?" ucap Safira geram.


"Kenapa, Sayang?" tanya Naufal.


"Ini Kak. Ada yang ngegosip kalau Aku cewek gak bener,"


"Hemmm, nanti Kakak urus,"


"Iya deh,"


"Sabar! Mereka tidak tahu apapun." Ucap Naufal lembut.


Pria itu pun mengusap dan mengecup pucuk kepala Safira agar istrinya tenang.


[Ada apa, Fira?] tanya Mira dalam sebuah pesan.


[Kamu datang aja ke kontrakan baru Aku. Nanti Aku ceritain,] balas Safira.


Pada akhirnya, Safira harus mengatakan sejujurnya pada Mira. Walau ia pun tahu temannya itu pasti akan marah karena tidak jujur dari awal.


Kali ini dia terus menerka-nerka siapa yang telah menyebar sebuah berita palsu di kampus. Ia juga tidak menyangka ada orang yang tega melakukan hal yang tidak pantas itu. Sementara itu Naufal pun geram dengan apa yang dilakukan seseorang pada istrinya. Ia tidak rela jika istrinya difitnah sebagai wanita yang tidak benar.

__ADS_1


'Mau tak mau Aku harus mengatakan kalau Aku suaminya.' pikir Naufal.


Kedua insan itu berada dalam pikiran masing-masing. Mereka tampak tidak tenang karena masalah yang menimpa Safira saat ini.


__ADS_2