Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 25


__ADS_3

Pagi ini Naufal tengah selesai mandi. Ia mulai bingung dengan pakaian yang berada di kamar. Sementara itu Safira masih tidak mau membuka pintu.


"Safira. Buka pintunya dong!" bujuk Naufal.


"Nanti dibeliin makanan kesukaan Kamu," bujuknya lagi.


Tiba-tiba Safira keluar dengan memasang wajah masam.


"Apaan mau bujuk pake makanan. Buat ngebujuk supaya bisa deketin mahasiswi itu," cerocos Safira.


"Lah, harus apa coba?" Naufal pun bingung.


"Safira gak mau kalau A Naufal masih antar atau malah jemput dia lagi," rajuk Safira.


"Gak bakal kok, Sayang. Itu cuman kebetulan,"


"Ish, alesan. Kebetulan kok sampai berani minta dijemput," celetuknya.


'Sensinya kalau lagi hamil,' batin Naufal. Ia menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Gak bakal deh. Cuman seperlunya aja,"


"Kalau diulang gimana?" tanya Safira untuk memastikan sangsi bagi suaminya jika mengulanginya lagi.


"Kalau diulang...," Naufal tampak berpikir.


"Tuh 'kan. Udah sana!" tukas Safira. Ia masih saja mengerucutkan bibirnya.


Naufal pun memakai pakaiannya di dalam kamar. Safira masih mematung dan masih dengan wajah kesalnya.


Hari menjelang sore. Naufal memang sibuk untuk hari ini. Saat ia masuk ke dalam rumah, terlihat Safira yang masih cemberut karenanya.


"Duh ini rujak, sate maranggi sama uli bakar, terus pempek kemanain ya kalau gak ada ya mau?" celoteh Naufal dengan sengaja.


"Mana satenya?" dengan seketika Safira merampas makanan yang berada di meja.


"Udah beres ngambeknya?" goda Naufal.


"Gak juga,"


"Mau dong rujaknya enak kayaknya," celetuk Naufal.


"Rujak sama pempeknya masukin kulkas," ketus Safira.


"Yaaaah, gak ada buat diriku nih," protes Naufal.


"Ish, biar dingin dulu rujaknya," rengek Safira.


Naufal pasrah. Kalau soal makanan istrinya memang tidak akan menolak.


"Makan sate bareng aja," ujar Safira.


Ia menyiapkan sate dan uli bakar di meja. Keduanya makan bersama. Padahal yang ia mau rujak yang sekarang masuk ke dalam kulkas.


------



Setelah sekian lama, Safira pada akhirnya melahirkan. Ia merawat putranya sendiri dan kembali merawat dirinya. Tepat hari ini adalah hari ulang tahun Naufal. Ia datang ke Kampus tanpa memberitahu Naufal.


Dengan pakaian kasual dan kacamata hitam. Ia berjalan menuju area Kampus.


"Eh, tahu gak. Pak Naufal itu ganteng 'kan? Istrinya itu ih gak deh,"


"Emang Kamu udah ketemu sama istrinya?" tanya teman gadis itu.


"Gak sih. Cuman lihat selewat aja,"


"Ya, walaupun istrinya gak cantik. Kamu jangan jadi pelakor lah!" ucap yang lainnya.


"Hehe, Aku kesemsem sama dia. Walaupun umurnya mungkin gak muda, tapi ganteng banget,"


"Emang gak ada ya cowok lain selain pak Naufal itu?" timpal Safira yang gemas pada pembicaraan mereka.


"Kamu siapa? Seenaknya nimbrung pembicaraan orang," cecar gadis itu.


Safira menelpon seseorang. Membuat tiga gadis itu menganggap Safira aneh.

__ADS_1


"Aku di dekat gerbang. Keluar sekarang!" tegasnya pada orang yang di teleponnya.


Tibalah Naufal di antara istri dan tiga mahasiswi itu.


"Kamu gak tahu siapa Saya?" tanya Safira melepas kacamata hitamnya. "Saya istri sahnya pak Naufal yang akan Kau rebut. Jadi, jangan macam-macam!" sambungnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Naufal pada Safira.


"Mereka membicarakanmu dan dia juga 'kan yang bernama Sisi?" telunjuknya menunjuk Sisi yang mematung.


"Sudahlah! Kita ke ruanganku!"vajak Naufal. Ia tidak ingin istrinya terus merajuk.


Keduanya melangkah pergi.


"Ya elah. Kamu bilang dia gak cantik. Aku lihat cantik banget. Wajah mulus kulit juga bening. Ngaco aja," ejek teman Sisi.


"Udah ah. Kalau niat mau jadi perebut suami orang jangan ajak kita!" ucap satunya lagi.


Dua teman Sisi pun meninggalkan Sisi yang mematung.


Sementara itu di dalam ruangan. Safira merajuk pada suaminya. Ia tidak bisa menahan kesal karena gadis itu.


"Yang penting suamimu ini memberi peluang untuk wanita lain," ucap Naufal.


"Yakin?"


"Yakin, Sayang. Suamimu ini terus berjuang demi mendapatkan Kamu. Masak sekarang Mas main serong," ucap Naufal.


"Kalau ketahuan main serong. Awas saja!"ancam Safira.


"Udah! Yang cantik gak boleh marah! Sekarang kasih tahu dong! Kenapa istri cantikku ke sini?" rayu Naufal.


"Sekarang 'kan hari ulang tahun suamiku. Jadi wajar lah ngasih kejutan," rajuk Safira.


"Iya deh iya. Sekarang pulang dulu! Setelah selesai pasti pulang,"


"Awas kalau enggak!"


"Ish, kalau cemburu tiba-tiba galak," Naufal terkekeh.


-------


Saat ini putra mereka bisa berjalan. Keduanya bahagia dengan keluarga kecil mereka.


Sore hari bel bendenting. Seseorang ada di depan pintu rumah dan entah siapa. Safira membuka daun pintu. Ia terkejut dengan siapa yang datang.


"Bu Safira."


"Ya. Ada apa?" tanya Safira.


Gadis itu tidak menjawab dan hanya mengulurkan undangan yang ada di tangannya.


"Pernikahan siapa?" tanya Safira.


"Saya," jawab Safira.


"Baiklah,"


"Saya permisi!" pamitnya.


Safira membuka undangan itu. Ia melihat nama Sisi dan pria lain disana. Mungkin gadis itu ingin membuktikan bahwa Sisi tidak lagi mengganggu Naufal.


"Siapa, Sayang?" tanya Naufal.


"Sisi,"bjawab Safira. Kening Naufal mengkerut. Namun, ia lega setelah melihat istrinya tidak memasang wajah cemburu.


"Ada apa?" tanya Naufal.


"Dia mengundang kita ke pernikahannya," jawab Safira.


"Itu terserah Kamu, Sayang!"


"Kita akan pergi,"


Naufal menggaruk tengkuk tak gatal. Ia yakin istrinya tidak sepenuhnya tidak cemburu pada Sisi.


-------

__ADS_1


Sesuai dengan ucapannya. Safira benar-benar datang bersama sang suami. Ia lebih memilih menitipkan putranya sementara pada ibunya.


"Sayang," panggil Naufal pada istrinya.


"Ya," sahut Safira.


"Kamu gak bakal macam-macam disana 'kan?" tanya Naufal.


"Gak juga. Lagian buat apa? Kalau makan-makan Aku mau," celetuk Safira.


"Beneran gak marah gara-gara undangan itu?" tanya Naufal dengan hati-hati.


"Ish, udah dibilangin gak ada apa-apa. Takut banget istrinya ngamuk di pesta orang. Gak gitu juga kali ah," cerocos Safira.


"Iya deh,"


Naufal memilih fokus menyetir. Ia tidak mungkin menang berdebat dengan istrinya itu. Sementara itu Safira lebih memilih menonton drama korea di ponselnya.


'Pantes banyak drama akhir-akhir ini,' umpat Naufal.


Tiba di sebuah gedung dimana pesta tengah berlangsung. Safira tampak anggun dengan pakaiannya saat ini. Beberapa orang yang mengenal Naufal menyalaminya. Naufal pun tak lupa memperkenalkan istri tercintanya pada orang-orang yang mengenalnya.


Setelah pelaminan kosong keduanya pun menghampiri pengantin. Naufal begitu was-was. Namun, ia yakin dengan ucapan Safira.


"Selamat ya!" ucap Safira.


"Terimakasih!" ucap Sisi.


Hingga tiba Naufal yang memberi selamat. Sisi menatap Naufal tanpa menyadari genggamannya.


"Ekhem," Safira berusaha menghentikan adegan itu.


"Selamat ya! Jaga istrinya!" ucap Safira seakan menyindir apa yang dilakukan Sisi baru saja.


Naufal memberi selamat pada pengantin pria. Kemudian keduanya menjauh dari pelaminan.


"Seneng salamannya nempel banget," celetuk Safira.


"Maaf!"


"Kalau suka juga kenapa gak nikah aja sama dia?"


"Ish, Kamu ngaco terus. Udah ah!"


"Ya udah!" ketus Safira. "Aku lapar," sambungnya.


"Kita makan,"


"Makan diluar saja," ucap Safira yang melengos pergi.


Naufal pun mengusap wajah kasar saat berada di luar. Safira kembali merajuk karena kejadian tadi.


Di sebuah Resto. Safira memesan beberapa makanan. Ia menyantapnya tanpa bicara pada Naufal. Hingga sampai ia selesai menyantap makanan pun tidak sedikit pun celoteh Safira yang di dengar oleh Naufal.


Malam begitu pekat. Safira diam di samping box tidur putranya.


"Masih marah?" tanya Naufal dengan merangkul istrinya.


"Enggak,"


"Sayang. Udah dong!"


"Iya,"


"Karena bentar lagi libur panjang. Gimana kalau kita liburan,"


"Enggak ah," tolak Safira.


"Yah, padahal A Naufal pengen ke Yogyakarta. Udah kangen pengen jalan-jalan disana sekalian," tutur Naufal.


"Iya deh,"


Naufal mengecup pucuk kepala Safira dengan lembut.


"Sampai kapan pun hanya Kamu di hati ini. Jangan berpikir yang aneh lagi ya!" bisik Naufal. Naufal memeluk istrinya dengan erat.


Ia tidak mungkin menghadirkan wanita lain di kehidupannya setelah apa yang ia jalani bersama Safira selama ini. Meski berapa banyak orang ketiga mencoba masuk ke dalam hubungan mereka dan seberapa jauh mereka terpisah. Pada akhirnya Naufal dan Safira tetap bersama. Kini mereka menjadi keluarga kecil yang utuh saat buah hati mereka hadir di kehidupan mereka.

__ADS_1


__ADS_2