
Hari ini, Safira mendatangi sebuah tempat dengan mengikuti Zian. Ia tidak ingin jika masalah mereka berlarut-larut.
"Kak Zian," lirihnya saat melihat pemandangan di depannya.
"Mengapa Kau tidak jujur? Pantas saja Kau selalu membuat banyak alasan," umpatnya.
Safira menunggu sampai Zian keluar dari tempat itu. Sampai orang yang dimaksud keluar dan ia pun menghampirinya.
"Sa-safira," ucap Zian gagap.
Gadis itu pun berdiri seketika setelah Zian melangkah mendekatinya.
"Kamu berbohong soal ini, Kak?" tanya Safira dengan menatap tajam lawan bicaranya.
"Kita pergi dari sini dulu," ucap Zian.
Safira mengikuti pacarnya itu. Santunnya terbungkam. Gadis itu sibuk dengan pikiran-pikiran yang tidak menentu.
Zian menghentikan mobilnya di depan kostan Safira. Gadis itu turun begitu saja tanpa bicara.
"Fira," panggil Zian.
"Aku gak suka dibohongin, Kak." tegas Safira.
"Iya. Maafin Aku, Fira!"
"Entahlah. Lebih baik Kak Zian pergi!" Safira masuk begitu saja tanpa peduli tentang Zian.
Zian mundur lalu berbalik. Ia pun meninggalkan Safira dengan kebisuan. Rasa sesal dalam hatinya. Ia berbohong untuk pribadinya. Ia selalu beralasan sudah a dan b saat Safira mengingatkan. Namun, pada kenyataannya gadis itu pun tahu bahwa keduanya berbeda keyakinan. Itu adalah hal yang ditakutkan Zian, tapi ia pun tahu suatu waktu gadis itu akan tahu.
"Seharusnya Aku tidak memaksa dia menjadi pacarku. Seharusnya Aku tidak membuat Safira lebih kecewa karena Aku. Seharusnya, lebih baik cinta ini hanya Aku yang tahu," gumam Zian penuh sesal. Sepanjang perjalanan ia menyesali perbuatannya yang tidak jujur pada Safira.
Sementara itu, Safira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Patah hati itu ternyata begitu sakit. Orang yang dulu Aku cinta malah dengan wanita lain dan sekarang kak Zian malah berbohong soal jati dirinya," umpat Safira.
Air matanya luruh. Saat mengingat apa yang ditemukannya saat itu. Kalung dan buku yang ia temukan rupanya benar milik Zian bukan kebetulan milik orang lain. Gadis itu pun membenamkan wajahnya di bantal untuk meredam suara tangis karena kekecewaannya.
Dengan ragu Safira masuk ke area kampus. Gadis membisu dan fokus pada langkahnya.
"Safira," panggil Zian. Namun, panggilan pacarnya itu justru membuat ia mempercepat langkahnya.
"Tunggu!" pinta Zian yang seketika mencekal tangannya.
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya Safira. Kemudian memutar manik matanya.
"Aku minta maaf!" ucap Zian.
"Ya," sahut Safira malas.
"Kita putus saja. Aku rasa hubungan kita tidak akan menjadi lebih baik," ujar Zian. Ia terpaksa mengatakannya meski hatinya pun tak terima keputusannya.
"Hemm," Safira mendehem. "Aku tahu, Kak. Aku juga tidak mungkin jika suatu saat Aku harus memaksamu untuk memiliki keyakinan yang sama denganku," ucapnya kemudian.
"Ya. Kita tetap pada keyakinan kita masing-masing, tapi...," ucap Zian terjeda.
"Kita tetap berteman,"
"Terimakasih!" ucap Zian.
Safira pura-pura tegar menerima, meski sebenarnya ada ruang yang terisi oleh nama Zian disana. Kini pupus sudah harapan baginya untuk menata hatinya setelah luka dan kekecewaan dari Naufal. Zian terlihat tersenyum, tapi hatinya seakan hujan dengan begitu derasnya. Perih yang ia rasakan, tapi semuanya pun akan sia-sia meski dilanjutkan. Hal yang tidak mungkin untuk tetap bersama, karena jika lebih lanjut dan sampai orang tua mereka tahu tak akan ada yang setuju dengan cinta mereka.
-----
Di dalam keramaian, Safira merasa sepi. Kali ini gadis itu tampak lebih pendiam.
"Kenapa?" tanya Mira.
"Iya nih. Dari tadi diem mulu," ujar Michelle.
"Loh kok,"
"Kamu kok gak tahu sih kalau kak Zian itu non muslim?" tanya Safira pada Mira yang merupakan pacar teman pacarnya itu.
"Ish, Aku pikir Kamu udah tahu. Makanya Aku aneh karena Kamu pacaran sama dia," ujar Mira.
"Iya bener kata Mira. Aku juga nyangkanya Kamu udah tahu. Aku kadang lihat dia sama-sama ke gereja setiap ibadah," ujar Michelle.
Safira mengerucutkan bibirnya.
"Ah sudahlah! Lagipula kalau kita lanjutin pun percuma. Semoga dia punya pacar yang seiman dan bisa ke jengjang yang serius," ucap Safira.
"Kamu yang sabar juga. Semoga ada pangeran baik hati yang bisa jadi suami Kamu," ucap Mira dengan terkekeh.
"Apaan sih? Orang galau malah gitu,"
"Aminin aja kali. Berharap ada cinta yang bisa bertahan seumur hidup biar gak patah hati lagi," celoteh Michelle.
"Bukanya bikin mood membaik. Ini malah bikin Aku pusing," gerutu Safira.
__ADS_1
"Ish, Kamu lupa ada yang suka sama Kamu juga," ujar Mira.
"Sok tahu," ketus Safira.
"Itu yang kuliah pascasarjana itu tuh. Kayaknya suka sama Kamu," ucap Mira.
"Dia cowok orang woy,"
"Ish, ngegas gitu. Kayaknya udah tahu banget soal itu cowok. Ya, selama janur kuning belum berkibar gak apa-apalah. Sikat aja!" cerocos Mira.
"Aww," Mira meringis tiba-tiba saat dua jari mengapit sedikit kulit tangannya itu.
"Galak amat," protes Mira.
"Ngomong mulu kayak lagi nge MC."
Mira dan Michelle hanya tersenyum melihat Safira masih mengerucutkan bibirnya karena kesal. Keduanya pun membiarkan Safira berada dalam pikirannya sendiri.
----
Waktu terus berlalu. Safira dan Zian masih saling membisu. Gadis itu masih berusaha untuk menerima bahwa kini Zian bukan pacarnya lagi. Ia begitu canggung terhadap Zian begitupun sebaliknya.
"Fira,"
"Eh, Kak."
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Zian.
"Sama Mira, Kak." Jawab Safira begitu gugup.
Apa yang dirasakannya saat ini berbeda dari biasanya. Dulu mereka begitu dekat, sekarang seolah ada benteng diantara mereka sebagai pembatas.
"Zian," panggil sebuah suara perempuan.
"Ya," sahut Zian.
"Kita pulang bareng ya! Kita 'kan searah,"ajak gadis itu.
"Oke." Zian setuju dengan ajakan gadis itu.
"Oh ya. Safira, maaf Zian sama Aku ya. Kalian udah putus 'kan? Jadi gak masalah kalau Aku bareng Zian." Jelas gadis yang tidak lain adalah Natalie itu.
Safira tersenyum simpul. Ia pun mengangguk pasrah. Zian bukan lagi pacarnya sekarang. Hatinya sakit saat ia mulai bisa mencintai Zian, hubungan mereka berakhir begitu saja.
Gadis itu terpaku. Ia memilih menunggu Mira yang mungkin masih bersama pacarnya itu. Meski malas untuk bersama Mira yang pasti akan naik mobil milik pacarnya dan sering menjadi nyamuk untuk keduanya. Tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikannya diri jauh. Hati si pemilik netra itu pun merasakan sakit saat melihat Safira menunduk pilu.
__ADS_1
Dalam perjalanan Safira lebih banyak diam. Dua sejoli di hadapannya tampak enggan mengganggu lamunan Safira. Meski sesekali keduanya menghibur, tapi mereka tidak bisa membuat Safira tersenyum. Sehingga mereka memilih memberi waktu untuk Safira berada dalam pikirannya. Mereka berharap gadis itu pun kembali ceria seperti biasanya. Mungkin saja kebersamaan mereka telah membuat gadis patah hati itu mengingat kebersamaannya dengan Zian yang kini lebih memilih mengakhiri hubungan mereka.