
Safira tampak tidak bisa berbuat apa-apa setelah Zian mengajaknya untuk kembali berkumpul. Gadis itu kemudian mengingat kembali bahwa Naufal sudah bertunangan dan ia tidak mungkin berharap untuk bersama Naufal. Ia juga tidak mungkin menyakiti orang yang saat ini menjadi pacarnya itu.
"Kenapa?" tanya Zian.
"Gak apa-apa, Kak." Jawab Safira berbohong.
Zian hanya ber-oh ria. Sementara itu Safira sendiri merasa tidak nyaman saat mendapati Naufal memperhatikannya saat ini. Ia berusaha untuk bersikap biasa saja meski jantungnya berdebar kencang dan perasaannya tidak karuan.
Di dalam kamarnya kini. Safira merasa perasaanya seperti lukisan abstrak yang tidak dimengerti. Ia mulai kembali dilema saat Naufal akan kuliah di kota yang saat ini ia berada.
"Datang lagi. Muncul lagi," gerutu Safira.
Ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang membuatnya selalu berharap.
[Kau seperti air yang menyirami hatiku yang gersang,]
Tiba-tiba sebuah pesan dengan nomor yang tidak bernama muncul. Safira mencoba mengingat-ingat si pengirim pesan itu. Namun, meski ia mencoba menerka-nerka. Ia tidak tahu siapa yang mengirimnya.
Safira yang penasaran pun menekan untuk memanggil si pemilik nomor, tapi tetap tidak ada suara dari sebrang sana. Membuat Safira acuh pada nomor itu. Hanya saja ia pun tidak menghapus pesan itu untuk mencoba mencari tahu pengirim pesan itu.
Hari ini Safira menunggu Zian yang katanya akan mengatakan hal yang penting di taman kampus. Gadis itu terus mencari sosok Zian yang belum juga datang.
"Maaf lama," ucap Zian yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Kak Zian. Gak apa-apa kok, Kak."
"Aku cuman mau bilang kalau yang ganggu Kamu waktu itu Natalie. Maaf! Aku selalu lupa memberitahumu," ucap Zian penuh penyesalan.
"Gak apa-apa kok, Kak. Dia 'kan sayang sama Kak Zian," ujar Safira dengan senyuman.
"Jika itu karena rasa sayang. Apa Kamu akan seperti itu jika Aku dekat dengan gadis lain?" tanya Zian yang membuat gadis itu membisu.
Sebenarnya Zian merasa tidak yakin dengan hubungan mereka. Apalagi, ia memiliki rahasia yang suatu saat Safira akan tahu. Ia juga merasa janggal dengan Safira yang begitu mudah menerimanya, walau sudah beberapa bulan mereka bersama dengan status pacar. Safira hanya tersenyum tanpa menjawab.
------
__ADS_1
Satu tahun sudah Safira kuliah. Ia tetap mengutamakan kuliah, walau kadang ia pun memberi sedikit waktu dengan Zian. Ia pun mulai bisa menerima pemuda itu sebagai pacarnya. Sejenak ia pun mulai lelah jika terlalu berharap, sementara yang diharapkan menghilang kembali setelah muncul sesaat.
"Hai, Safira!" sapa sebuah suara yang tidak asing bagi gadis itu.
"Pak Naufal,"
"Saya bukan gurumu lagi, Safira. Saya kuliah disini sekarang,"
"Ya,"
"Lama tidak bertemu. Ternyata Kau tampak senang dengan pacarmu," ucap Naufal dengan senyuman yang dibuat-buat. Padahal, hatinya begitu sakit karena Safira bahagia dengan orang lain.
"Hemm, ya. Selamat juga, karena Pak Naufal udah tunangan. Mungkin sekarang sudah menikah," ujar Safira.
Naufal tertegun. Rupanya Safira mengetahui pertunangannya yang sebenarnya tidak jadi itu.
"Oh ya. Terimakasih!" ucap Naufal.
Ia pun pergi sesaat kemudian. Hatinya begitu perih dengan sikap Safira. Hingga ia pun berpikir apakah ia terlambat untuk mendapatkan cinta dari Safira.
Naufal berjalan dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan. Ia begitu merindukan gadis itu, tapi sepertinya hanya ia yang merindu. Karena itulah Naufal pun hampir menyerah untuk cinta Safira.
"Dia,"
"Mantan pacar ya. Cantik banget," ujar seorang wanita sama-sama kuliah pascasarjana itu.
"Dia bukan siapa-siapa," ujar Naufal dengan menekuk wajahnya.
"Ish, Kau pikir Aku bisa dibohongi. Inget ya! Jangan sampai janur kuning melengkung baru nyesel karena gak perjuangin cinta Kamu,"
"Apaan sih, Lia?"
"Aku pernah seperti itu dan sekarang Aku menyesal karena telah melihat pria yang Aku cintai kini tengah bahagia dengan orang lain. Aku menyesal juga karena menyerah begitu saja. Ya, sampai saat ini Aku jadi agak malas pacaran. Kadang-kadang bikin panas kuping karena usiaku udah seperempat abad hehe," ujar Lia panjang lebar.
Naufal yang mendengar ucapan Lia pun kembali memikirkan Safira yang dicintainya. Ia hanya berharap Safira bisa mencintainya. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa Safira kini berpacaran dengan orang lain.
__ADS_1
-------
Hari ini ada janji antara Safira dan Zian. Gadis itu menunggu di taman kota dan berharap Zian segera datang. Ia menunggu cukup lama hingga sang pacar pun datang dengan tergesa-gesa.
"Maaf!" ucap Zian.
"Gak apa-apa,"
Zian mengajak Safira pergi ke tempat dimana dijajakan aneka makanan. Namun, sekilas ia melihat sebuah benda berkilau di leher Zian yang tidak ia ketahui sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Zian.
"Hanya lapar," ucap Safira berbohong. Ia enggan untuk menanyakan perihal benda itu.
"Ah, mungkin kenangan dari orang," gumam Safira saat jarak di antara mereka agak jauh karena Zian memesan makanan.
Ketika Zian berbicara dan matanya fokus ke depan. Safira sesekali melirik kekasihnya itu. Hatinya tetap ingin tahu apa yang dipakai oleh Zian. Memang selama ini Safira tidak pernah tahu benda berkilau itu.
Usai makan. Zian masih mengajak jalan-jalan Safira dengan mobil milik Zian. Pikiran dan perasaannya tidak menentu saat ini.
Di perjalanan, Zian mencari minuman karena tenggorokannya terserang dahaga. Ia pun membiarkan Safira berada di mobilnya sementara ia menuju minimarket.
"Ini," kata Safira yang terkejut dengan buku yang ada dalam genggamannya saat ini.
"Kerena inikah?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
Ia menahan kesal dengan apa yang disembunyikan Zian selama ini. Rasa penasaran pun semakin membuatnya ingin tahu tentang Zian sebenarnya. Namun, gadis itu tidak mungkin lancang untuk mengobrak-abrik mobil milik pacarnya tanpa izin.
Safira menyimpan kembali buku itu di dasboard yang baru saja tidak sengaja ia buka karena mencari tissue. Safira hanya menghela nafas panjang menahan rasa kesalnya pada Zian yang penuh dengan misteri itu.
"Kenapa Sayang?" tanya Zian pada kekasihnya itu.
"Tidak apa-apa,"jawab Safira berbohong.
Zian kembali mengendarai roda empatnya itu. Sementara itu, Safira terdiam. Ia masih memikirkan tentang apa yang ditemukannya. Gadis itu berusaha tenang, walau hati tidak karuan. Ia berusaha mengontrol emosi agar tidak meledak-ledak. Apalagi saat ini Zian sedang menyetir. Jika ia menanyakannya sekarang, konsentrasi pacarnya itu akan terganggu.
__ADS_1
Safira turun dari mobil dan masih membisu. Zian tampak tidak peka dengan sikap Safira saat berada di mobil atau mungkin raganya bersama Safira, tapi pikirannya entah dimana.
Dengan senyuman, Zian pun pamit dan melajukan mobilnya. Mobil itu pun menjauh dari pandangan Safira yang masih membisu dan mematung.