Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 18


__ADS_3

Dalam hening Safira terus berpikir. Ia tidak ingin ada yang mengetahui hubungan mereka yang membuat teman-temannya menjaga jarak dengannya.


"Ngelamun terus. Aku ada disini 'kan? Ngapain dilamunin?" ucap Naufal.


"Apaan sih? Ganggu aja," ketus Safira.


"Lah, kita kan sekarang sama-sama,"


"Ish, emang papa nyebelin. Kenapa juga harus pindah kesini?" gerutu Safira.


"Kamu udah jadi istri Aku lah. Wajar dong kalau kita seatap," ucap Naufal.


"Ya, ya. Hanya seatap. Tapi jangan berani macam-macam!" tegas Safira.


Naufal menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Jangan-jangan, Kak Naufal udah berpikir jauh," terka Safira.


"Eh, enggak. Aku gak mikirin itu. Udah ah mau mandi. Disini gak panas tapi gerah," kilah Naufal dan bergegas meninggalkan Safira yang masih menatapnya tajam.


"Serem juga," gumam Naufal.


Safira duduk di atas ranjang. Ia pun mengeluarkan barang-barang miliknya.


"Ngapain harus nikah sama dia sih?" gerutu Safira.


"Tapi, Aku juga gak rela kalau dia sama gadis lain. Aish, apa sih ini? Aku gak boleh terlalu percaya. Bisa-bisa dia malah mengabaikan perasaanku kayak dulu," gerutu Safira.


Rasanya tidak karuan saat ini. Terlebih tidak ada alasan lagi agar mereka tidak berduaan di rumah itu. Ia dan Naufal berada di atap yang sama berdasarkan permintaan orang tua mereka.


----


Pengantin baru kini mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. Gadis itu tampak sungkan untuk dekat dengan Naufal. Ia menjaga jarak dengan suaminya karena ia tidak ingin orang lain tahu tentang pernikahan mereka saat ini.


"Gimana kabar Kamu?" tanya Mira yang menghentikan lamunannya.


"Baik,"


"Liburan lama amat. Biasanya ngajak Aku,"vprotes Mira.


"Ya mau gimana lagi. Aku udah lama gak pulang, Mir."


"Iya juga sih,"bucap Mira terkekeh.


"Eh Aku mau kenalin Kamu sama sepupu Aku. Di cakep udah mapan juga loh," ucap Mira seolah ia ingin Safira menjadi pacar sang sepupu.


"Gak usah," tolak Safira.


"Ya kenalan aja dulu. Kalau gak cocok gak masalah," tutur Mira.


Safira tidak menjawab lagi ucap Mira. Ia lebih memilih untuk kembali berjalan. Namun, gadis itu tidak berhenti untuk berbicara mengenai sepupunya itu. Tanpa mereka sadari seseorang yang mendengar percakapan itu begitu geram.

__ADS_1


Perkataan Mira memang benar. Ia sengaja membuat seorang pria datang ke kampusnya untuk menjemput ia dan Safira. Pria itu berdiri menyambut kedua gadis itu.


"Kak, ini Safira." Ucap Mira.


"Saya Alan," pria itu mencoba menjabat tangan.


Safira hanya menjabat dan memberi sedikit senyuman. Mira menarik Safira untuk masuk ke dalam mobil. Dengan ragu gadis itu pun masuk menuruti Mira. Ia yakin suaminya akan marah karena hal ini.


'Ish, ngapain juga mikirin dia?' pikir Safira.


"Saya dengar Kamu termasuk mahasiswi yang berprestasi ya," tutur Alan menghentikan lamunan gadis itu.


"Iya," jawab Safira yang merasa kaku.


"Hemm, ternyata lebih cantik dari yang Aku kira," ujarnya.


Safira tidak terlalu banyak bicara. Ia merasa pertemuan ini membuatnya canggung. Terlebih pikirannya saat ini pada Naufal yang pasti menunggunya.


[Kamu dimana?] tiba-tiba sebuah pesan dari Naufal muncul.


[Aku pulang bareng Mira,] balas Safira.


[Dengan pria tampan dan mapan itu juga,] balas Naufal yang membuat Safira terkesiap.


Pria itu mengetahui pertemuannya dengan Alan. Meski ingin menolak, ia tidak mungkin secara langsung membeberkan tentang hubungannya dengan Naufal saat ini.



"Senang ya. Jika dengan pria lain," cecar Naufal.


Safira tidak menanggapi ucapan suaminya. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil air minum.


"Aku itu suami Kamu. Seharusnya Kamu tahu batasan," ucap Naufal dengan nada meninggi.


"Aku tahu batasan. Karena itu Mira tetap ada di sampingku. Dan satu lagi. Aku bahkan tidak begitu setuju dengan pernikahan kita,"ujar Safira. "Ini konsekuensi karena terlalu berambisi. Jangan pedulikan Aku!" Sambungnya. Ia bergegas pergi ke kamarnya dan menutup pintu.


'Dulu Aku mencintaimu dan Kau menyakitiku dengan tidak melakukan apapun saat Aku pergi. Sekarang Kau malah berharap Aku akan percaya begitu saja. Aku bahkan tidak tahu akankah Aku dapat bertahan atau mundur perlahan,' batin Safira.


"Aku butuh waktu," gumam Safira.


Malam terasa begitu panjang bagi keduanya. Mereka berada dalam pikiran masing-masing.


Keesokan harinya, Naufal keluar dari kamarnya. Ia tidak mendengar Safira sama sekali. Pria itu pun memilih untuk mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.


"Mungkin dia sudah pergi," gumam Naufal.


Naufal pun bersiap untuk pergi dan ia tetap tidak melihat kekasihnya itu.


Dari jauh terlihat olehnya Safira yang sedang bersama Mira. Ia begitu kesal karena kejadian kemarin. Pria itu pun berjalan dengan mempercepat langkahnya menuju Safira.


"Ikut denganku!" pinta Naufal. Pria itu menarik lengan Safira hingga membuat gadis itu setengah terseret.

__ADS_1


"Lepasin! Sakit tahu," ketus Safira.


"Sorry!"


"Ngapain narik Aku kasar gitu?" tanya Safira kesal.


"Kenapa Kau pergi sendiri dan tidak sarapan?"


"Itu urusanku. Sikapmu yang seperti itu membuatku jengah,"


"Aku minta maaf, Safira! Aku terlalu cemburu," ucap Naufal.


"Jangan sampai melakukannya lagi!" pinta Safira. Namun, Naufal tidak menjawab. Pria itu malah menarik Safira ke dalam pelukannya.


Jantung Safira berdegup dengan cepat. Ia merasakan rasa yang tak biasa pada pria itu. Ya, hangat dan nyaman saat berada dalam dekapan suaminya.


"Ih, lepasin!" tukas Safira saat ia menyadari apa yang dilakukan olehnya saat ini bisa saja membuat bahan gosip di kampus.


"Maaf!"


"Gak apa-apa," ucap Safira.


Wajahnya memerah seperti kepiting yang baru saja direbus. Rasa panas menjalar di sana. Ia tersipu saat mendapati Naufal menatapnya dengan lembut.


'Mungkinkah rasa ini ada untuknya lagi?' tanya Safira dalam hati.


Hatinya seakan kembali berbunga oleh orang yang sama. Namun, masih ada rumput keraguan dalam taman hatinya.


"Kita pulang bareng ya!" ajak Naufal dengan kalimat yang lembut.


"Iy-iya,"bucap Safira dengan gugup.


"Terimakasih, Sayang."


"Huh,"


"Terimakasih karena mau pulang bersamaku, Sayang!" ucap Naufal dengan menekan kata panggilannya pada Safira


Gadis itu kembali tersipu. Ia merasakan dadanya yang berdesir setelah mendengar panggilan "Sayang" dari Naufal. Ia seolah baru merasakan jatuh cinta.


Safira kemudian menyusul Mira yang sedari tadi ia tinggalkan. Namun, rupanya gadis itu memilih untuk tidak menunggunya dan pergi ke kelas mereka begitu saja.


Saat berada di kelas. Mira menatap penuh tanya sahabatnya itu. Ia mencoba menerka hubungan mereka, karena pemandangan tadi seolah Safira begitu berarti bagi pria yang dikatakan tidak akan membuat Safira tertarik itu.


"Kamu ada hubungan sama dia?" tanya Mira.


"Gak ada,"


"Beneran?"


"Ya,"

__ADS_1


Mira hanya mengangguk menyudahi pertanyaannya pada sahabatnya itu. Meskipun, gadis itu pun ingin tahu kebenarannya. Karena, ia merasa janggal dengan sikap keduanya.


__ADS_2