Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 9


__ADS_3

Dalam hening malam. Safira menatap langit yang terdapat rembulan disana. Jauh di lubuk hatinya. Semakin ia mencoba untuk melupakan gurunya itu semakin ia merasa bahwa ia menyukainya.


"Safira," suara wanita membuyarkan lamunannya.


"Iya, Ma."


"Tidurlah! Besok kita akan ke Yogyakarta bukan?"


"Hemm, iya."


Safira berusaha untuk menutup matanya agar dapat tidur dan bangun esok pagi. Tidak ada yang tahu kemana ia akan pergi. Ia hanya tidak ingin orang yang menyukainya berusaha untuk mengikutinya ke Yogyakarta. Ia ingin suasana dan teman baru disana. Berharap tidak ada yang membuatnya pusing tujuh keliling.


********


Menghilang. Itulah yang dilakukan oleh gadis yang aku sukai. Entah mengapa aku begitu sulit untuk mencoba membuatnya yakin. Aku seperti mundur sebelum berperang meski aku menyukainya.


Pada awalnya, Safira begitu tidak aku sukai karena aku selalu mendengar tentang gadis itu yang sering bolos saat pelajaran tertentu, sering terlambat sekolah dan keburukan Safira yang lainnya. Namun, dibalik semua yang dilakukan gadis itu ada kebaikan yang membuatku terpesona.


Pernah suatu hari aku pergi ke sebuah panti asuhan. Gadis itu tampak ada disana dengan begitu riangnya mengajari anak-anak berhitung dan membaca. Aku pun pernah melihat gadis yang terlambat pulang itu pergi untuk les. Gadis itu ternyata tampak rajin jika diluar jam sekolah.


"Kamu lagi apa, Nak?" tanya ibuku.


"Belajar menulis, Bu." Jawabku.


"Lah, Kamu 'kan udah lulusan kuliah. Masak belajar nulis, Nak?"


"Hemm, buat seseorang,"bjawabku.


"Bukannya sekarang bukan zaman pake surat gitu? Zaman udah canggih, tinggal pake ponsel malah pake surat," protes Ibu.


"Naufal masih minder kalau buat langsung ngatain cinta, Bu. Naufal baru lulus kuliah tahun ini dan baru kerja,"


"Terserah Kamu saja, Nak. Semoga gadis yang dimaksud suka!" ucap Ibuku penuh harap.


Ya, selama ini aku tidak dekat dengan siapapun dan fokus pada kuliah. Aku tidak ingin menikah jika belum bisa menafkahi orang yang akan aku nikahi nanti. Namun, entah mengapa gadis itulah yang membuat hati ini tersentuh. Meski aku pun tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.


Aku merasa bersalah menganggap gadis itu tidak bisa bersekolah dengan benar, padahal aku tidak tahu alasan gadis itu selalu terlambat. Ketika aku bertanya pada guru bimbingan konseling. Rupanya gadis itu merasa tertekan oleh sang ayah sampai suatu waktu aku mendengar ayahnya kecelakaan. Namun, hal itu membuat Safira tidak terlalu tertekan lagi seperti biasanya.


Kini aku masih memikirkan gadis itu yang entah dimana. Aku bahkan selalu berharap bertemu dengannya jika lewat rumahnya. Namun, aku tidak lagi melihat motor yang selalu keluar masuk dari rumah itu. Ia seakan menghilang dengan sengaja. Meski aku tahu ia berkata kuliah diluar kota, tapi aku tidak tahu ke Kota mana ia pergi.

__ADS_1


"Safira. Jika waktu kembali membuatku bertemu denganmu. Aku selalu berharap rasa kita sama. Maafkan Aku yang tidak begitu tegas membuktikan bahwa Aku menyukaimu," lirih batinku, setiap aku melihat bintang yang terkadang tanpa rembulan disana.


******


Pada akhirnya Safira kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Yogyakarta. Safira bergegas masuk untuk ke dalam kelasnya. Bruk, ia tidak sengaja menabrak orang lain di hadapannya karena mengecek buku digenggamannya.


"Maaf! Gak sengaja," tutur Safira.


"Iya gak apa-apa. Lain kali hati-hati!" tutur pemuda bermata sipit itu.


"Maaf ya!" sesal Safira.


"Iya. Kamu mahasiswi baru ya. Kenalin, Aku Zian."


"Safira," ucap Safira. Pria itu menjabat tangan dan ia membalasnya.


Beberapa menit kemudian gadis itu berpamitan untuk segera masuk ke kelasnya.


'Dia cantik,' puji Zian. Kemudian, ia pun pergi dari tempat ia bertabrakan baru saja.


Hari-hari berlalu. Kali ini, Safira mulai terbiasa dengan suasana kampus dan teman-temannya yang baru.


"Fira. Makan di kedai dekat sini yu sebelum pulang!" ajak temannya yang bernama Mira. Gadis itu baik hampir sama dengan Risa saat ia sekolah dulu.


Safira dan Mira pun berjalan keluar gerbang. Teman-teman mereka yang penasaran pun menghampiri mereka dan pada akhirnya mereka pun ingin ikut bersama dua gadis itu.


Sesampai di Kedai. Safira memilih makanan khas di tempat itu. Baru saja ia akan menyuapkan makanan di atas sendoknya.


"Lo punya pacar gak sih, Fira?" tanya pemuda yang memakai kacamata itu.


"Uhuk-uhuk," Safira terbatuk. Ia malah kembali mengingat Naufal yang jauh disana.


"Aku gak punya," jawab Safira datar.


"Hah," tiga orang yang bersamanya malah menatap tidak percaya.


"Aku gak pernah pacaran." Ucap Safira jujur.


"Terlalu sibuk belajar kayaknya," ujar Rio.

__ADS_1


"Ya,"


"Terus, kapan punyanya kalau Kamu sibuk banget sama belajar?" celoteh Michelle.


"Ish, ngapain ngurusin si Aku ini? Aku mau langsung nikah," tuturnya. Ups, dia keceplosan dengan kalimat itu.


"Ada calon kali," ucap Mira yang melihat reaksi Safira.


"Entahlah. Jodoh itu Tuhan yang ngatur," ucap Safira.


Teman-temannya mengangguk setuju. Kini, hatinya berdesir mengingat orang yang ditinggalkan olehnya. Bahkan, ia berkata seperti itu pada pria itu.


Ketika Safira hendak pulang ke kostannya. Zian memberi tumpangan dengan senang hati.


Meski ragu, pada akhirnya ia pun mau ikut dengan Zian.


"Thanks udah nganterin, Zian!" ucap Safira pada Zian.


"Sama-sama. Hemm, boleh minta nomor ponselnya, Safira?"


Safira mengangguk. Ia memberi nomor ponselnya pada Zian meskipun ia tidak terlalu antusias pada pemuda itu. Ia merasa tidak enak karena sudah diantar oleh Zian.


Zian pamit dari hadapan Safira. Gadis itu kemudian masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas matras tebal itu.


"Apa Aku keterlaluan padanya dulu?" gumamnya saat mengingat tidak sedikitpun kesempatan bagi Naufal untuk dekat dengannya.


Hanya harap dan doa. Ia tidak tahu apakah ia bisa bersama Naufal nantinya. Karena, ia sendiri tahu kalau dirinya pergi tanpa ada yang tahu kemana. Ia tidak ingin Naufal mencarinya. Meski ia tidak tahu alasan ia melakukannya. Sementara itu, untuk Faiz. Ia hanya berusaha membuat Faiz melupakannya dan memberi kesempatan untuk Risa menjadi pengisi hatinya.


Dering ponsel berbunyi. Safira menggeser layar pipihnya itu.


[Assalamualaikum, Sayang,] ucap ibu Safira di sebrang sana.


"Wa'alaikum salam, Ma!"


[Kamu betah disana, Nak?] tanya wanita itu.


"Betah, Ma. Jangan bilang Safira kuliah disini ya!" pinta Safira.


Ibunya mengiyakan permintaan putrinya. Meski tidak tahu alasan putrinya itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Safira mengakhiri sambungan teleponnya. Ia merasa lelah dengan kegiatan seharian ini. Gadis itu pun merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk beristirahat.


Malam yang begitu sunyi. Kini, gadis itu terlelap setelah ia berusaha untuk menepis pikirannya yang masih berada di kota asalnya. Setelah ia berusaha menepis bayangan saat ia bersama orang yang entah benar mencintainya atau hanya perkataan semata.


__ADS_2