
Hari ini Safira tampak sudah datang sebelum teman-teman sekelasnya datang. Ia mencari benda miliknya dibawah meja, tapi ia menemukan secarik kertas di dalamnya.
-------
From:
To: Safira Tania Putri
Saat melihatmu seperti terkena pembiasan cahaya. Hari-hariku menjadi penuh warna pelangi yang indah.
_____
Dengan perlahan gadis itu membaca tulisan yang sangat rapi itu. Ia mengernyitkan keningnya yang tidak tahu siapa pengirimnya. Usai membaca pesan itu, ia beranjak untuk ke toilet. Namun, setelah kembali ia menemukan pesan dengan warna kertas berbeda.
---------
From: Penggemar rahasia
To: Safira
Aku rindu saat selalu melihatmu. Meski itu dari jauh.
---------
Tulis penggemar rahasia itu. Safira semakin bingung dengan dua surat yang tidak tahu siapa. Ia pun melihat tulisan keduanya memang berbeda.
"Mereka siapa sih? Gak ada kerjaan banget," celoteh Safira. Ia pun memilih mendengarkan musik lewat earphone miliknya sembari menunggu Risa datang.
"Kenapa Lo bengong?" tanya Risa.
"Gue lagi mikir," jawab Safira yang menopang dagu dengan tangannya.
"Kenapa Lo?" tanya Risa lagi.
"Ada-ada aja hari ini. Gue dapet surat segala," celetuk Safira.
"Lah, bukannya Lo sering dapet surat,"
"Iya, tapi aneh. Tulisannya baru Gue lihat. Ada yang rapi banget malah,"
"Perasaan Lo aja kali,"
"Ish, Lo kalau diajak ngomong,"
"Hehe, Gue udah bosen. Lo dikejar-kejar cowok terus, tapi gak ada yang nempel ke Gue," keluh Safira.
"Hadeuh, Faiz mau kemanain kalau Lo ngarepin dari penggemar Gue. Udah ah, Gue masih mau bebas, gak mau pacaran,"
"Kalau ada yang tiba-tiba ngajak nikah?" goda Risa.
"What? Ya ogah lah. Gue masih muda," kilah Safira.
__ADS_1
Risa hanya tertawa menanggapi ucapan Safira. Ia tidak yakin jika sahabatnya itu menjadi jomblowati seumur hidup. Ia juga berharap ada yang bisa membuat hati gadis itu tersentuh, tapi bukan Faiz. Karena, ia sangat menyukai Faiz.
Teman-teman Safira datang. Mereka nampak merasa aneh pada Safira yang sudah datang. Namun, gadis itu mengabaikan mereka.
Bel berbunyi tanda jam pelajaran pertama dimulai. Semua murid tampak diam.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa guru yang tidak lain adalah Naufal.
"Pagi," sahut semua yang ada di dalam kelas.
"Kumpulkan tugas yang sudah Bapak beri minggu kemarin!" titahnya.
Semua tampak menyiapkan buku tugas mereka. Safira pun sama seperti mereka. Naufal menatap gadis yang baru saja menyimpan bukunya di meja miliknya.
"Ekhem," suara deheman di antara para siswa yang berada di kelas membuat pria itu pun mengalihkan pandangannya.
Seperti biasa, Safira tampak cuek begitu saja. Padahal, banyak juga yang menyukai pria itu.
Jam menunjukan waktu pulang sekolah. Teman-teman Safira yang dulu menghampirinya.
"Sombong sekarang," ucap salah seorang siswa bernama Aris.
"Kagak lah," sangkal Safira.
"Lo tobat, Fira?" tanya Aris.
"Gue mau serius sekolah, Ris. Gue juga harus dapet nilai baik,"
"Kenapa?"
"Maksud Lo, Elo bakal pergi ke London," cecar Aris yang tak percaya. Sebenarnya ia juga suka pada gadis itu.
"Ya, Gue harus pergi ke London,"
"Apa gara-gara kita sering bikin ulah?" tanya Aris.
"Entahlah."
"Gak asik ah," protes gadis bernama Maya.
"Asikin aja kali, May. Lagian bagus juga gak ada Gue. Aris bisa perhatian sama Lo,"celoteh Safira, mem
buat pipi Maya pun memerah.
*****
Hari ini ada mata pelajaran yang kurang difahami oleh gadis bernama Safira. Selebihnya ia pun bosan dengan pelajaran itu, karena menjadi pelajaran yang diulang-ulang baginya. Ibu dan ayahnya membuat ia harus mengikuti bimbingan bahasa Inggris. Bahkan ada juga bimbingan dari kaset dan buku yang bertulis universitas Oxford di sana.
"Lo ngapain disini? Bukannya Lo kelas sebelah?"
"Yang Lo lihat apa?" balas Safira dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Iya, Gue tahu. Cuman, ini jam pelajaran. Lo bakal dimarahin sama Guru,"
"Gue gak peduli deh. Gurunya bisa diajak kompromi. Setengah semester disini Gue udah enek sama pelajarannya,"
"Emang pelajaran Lo apa?" tanya siswa yang mempunyai tanda pengenal Aris itu.
"Lo banyak nanya. Ngapain juga Lo disini? Yang ada Lo malah ganggu Gue terus belajar juga kagak. Kayak kurang kerjaan padahal kerjaan banyak," cerocos Safira.
Aris menggelengkan kepala karena sikap gadis itu. Ia melihat Safira dengan lihainya mendribble bola.
Gadis yang tomboy itu salah besar. Usai ia bolos dalam belajar. Esoknya ia pun dipanggil ke ruang guru BK.
Untuk beberapa saat. Hal itu menjadi hal biasa. Safira pun jadi terkenal di sekolahnya dan ia pun terkenal dengan kepintarannya dalam berolahraga dan pelajaran. Para Guru pun mulai pusing dibuatnya, karena untuk beberapa pelajaran selalu terlambat masuk kelas. Terkadang ia juga izin ke toilet yang ada seperti tidur di toilet, karena saking lamanya untuk kembali ke kelas.
******
Ujian tengah semester. Seperti biasa, para siswa menghapal saat akan ujian bukan dibaca dengan teratur dan berulang ulang. Sementara untuk fisika dan kawan-kawannya mereka berusaha melatih untuk mengisi soal-soal yang sama rumusnya.
Suasana tampak sepi saat guru mata pelajaran mereka tampak serius menjaga agar mereka tidak menyontek, tapi tetap mereka kecolongan juga 'kan? Safira tampak diam. Ia berusaha untuk konsentrasi mengisi lembar soal yang diberikan oleh Guru.
Setelah jam pelajaran terakhir, rupanya Safira lebih dulu keluar dari kelas. Ia pun melewati kelas yang kini Naufal berada disana.
'Masih lima belas menit lagi. Apa dia asal isi soal?' tanya Naufal dalam hati. Ia pun kembali fokus mengawas muridnya itu.
Rasa lelah membuat Safira memilih untuk diam sejenak di bawah pohon rindang di taman sekolah. Ia tidak mau terburu-buru untuk pulang saat ini. Risa menghampiri sahabatnya itu dan heran. Seharusnya Safira pulang sedari tadi.
"Kenapa Lo?" tanya Risa.
"Kagak,"
"Ngapain bengong disini? Harusnya langsung pulang,"
"Agak cape,"
"Makanya mikir jangan kebangetan. Soal segitu susahnya Lo kok bisaselesai cepet?" Cerocos Risa.
"Gue udah banyak ngisi soal kali, Ris."
"Gue lupa. Walau Lo suka terlambat. Lo paling jago sama pelajaran."
"Dibalik Gue sering terlambat. Gue dituntut buat belajar terus di rumah."
"Lo tertekan ya?"
"Gue tertekan, karena Gue gak bebas masalah belajar di rumah. Bayangin aja! Kalian kalau udah di rumah udah pada merdeka. Tugas kadang dikerjain kadang enggak. Gue gak bisa kayak gitu. Tuntutan nilai yang bikin Gue berontak." Jelas Safira.
"Hem, karena Lo terlalu lelah ya,"
"Ya. Lo tahu juga 'kan, Gue banyak les dari sana sini. Pusing Gue," keluh Safira.
"Papa Lo kenapa kayak gitu?" tanya Risa heran.
__ADS_1
"Entahlah. Setelah sekolah dari sini Gue juga harus kuliah di London. Ya, stress amat lah Gue," celoteh Safira.
Risa yang mendengar keluhan sahabatnya itu merasa kasihan pada gadis yang selama ini memikul beban.