
Di pagi ini, suasana masih hening. Safira memilih diam di bangku kelasnya. Ia ingin tahu siapa yang mengirim surat itu dua pekan yang lalu. Akan tetapi, rupanya orang yang mengirim surat itu lebih dulu. Ia menemukan surat itu di laci meja miliknya lagi, membuat gadis itu mengerutkan kening.
"Aku kira dia gak bakal berani ngirim surat lagi pas Aku sering ke sini pagi banget," gumam Safira.
Gadis itu pun membuka amplop merah yang seperti biasa berada di bawah meja.
-----
From:....
To: Safira Tania Putri
Saat berada di dekatmu. Kau seperti elektro yang mengalirkan listrik pada tubuhku. Jantungku berdebar tidak berirama padahal Aku hanya melihatmu.
-----
Safira menggelengkan kepalanya. "Lebay amat sih," gerutu Safira.
"Kecolongan lagi deh. Gak tahu siapa yang ngirim, tapi tulisannya bagus banget," gumamnya.
Biasanya gadis itu membuang surat yang menumpuk di meja laci yang tidak tahu siapa pengirimnya. Namun, untuk kali ini ia menyimpan surat itu di tasnya. Ia pun akan mencari tahu lewat tulisan teman-temannya, walau itu sangat konyol.
Di taman sekolah. Safira tengah membaca. Hal itu membuat orang-orang yang mengenalnya pun merasa heran padanya.
"Itu Safira 'kan?"
"Iya itu Safira,"
"Wah, udah taubat ya."
"Ish, biarin aja kali!"
Terdengar bisik-bisik yang sebenarnya masih bisa tertangkap oleh indera pendengaran Safira dari kerumunan yang melewatinya. Mereka tengah membicarakan Safira. Sementara itu, gadis yang dibicarakan hanya fokus pada bacaannya.
Mengubah diri memang bukanlah hal yang mudah. Disaat ia pernah berontak dan dianggap sebuah kenakalan. Pastinya disaat ia mulai mengubah diri menjadi lebih baik untuk kelas tiga ini. Banyak sekali yang membicarakannya.
"Fira," panggil sebuah suara yang tidak asing baginya.
"Hai, Ris!" sapa Safira dengan senyuman.
"Lo baca apa?" tanya Aris.
"Gue lagi baca buku,"
"Itu buat kuliah di...," ucapan Aris terjeda.
"Hemm,"
"Lo mau pergi?" tanya Aris.
"Ya,"
"Dan,"
"Lo jangan terlalu berharap sama Gue, Ris!" larang Safira.
__ADS_1
"Jadi Lo tahu kalau Gue...,"
"Gue tahu. Karena, Mira ngasih tahu ke Gue kalau Lo suka sama Gue, tapi Ris. Gue dituntut buat kuliah disana." Jelas Safira. "Dan... Gue gak bisa bales rasa Lo," sambungnya.
"Tempat kuliah disini banyak," ucap Aris yang merasa kecewa
"Itu tuntutan orangtua Gue," ucap Safira.
"Baiklah. Gue juga berubah. Karena sebenernya sih yang bikin Gue sering bolos Lo sih, Fira." Jelas Aris.
"Gue yang disalahin. Udah ah sana ada yang cemburu liat Lo sama Gue," protes Safira.
"Siapa?" tanya Aris.
"Bebeb Mira hahahaha,"jawab Safira tertawa lepas.
Safira memang selalu menggoda Aris atau malah mengerjainya. Namun, hal itu entah mengapa membuat Safira begitu special di hatinya.
Aris meninggalkan Safira yang masih membaca. Beberapa menit kemudian Safira kembali ke kelasnya. Ia terkejut saat melihat tatapan tajam Faiz yang berada di dalam kelas.
"Jangan menatapku seperti itu, Faiz!" Bentak Safira.
"Kau bersama Aris lagi. Bukankah dia yang membuat Kamu sering bolos?" Cecar Faiz.
"Jaga ucapanmu, Faiz!" bentak Safira.
Faiz hendak kembali bicara, tapi dicegah oleh Risa. Safira yang kesal pun duduk tanpa mengatakan apapun pada kedua temannya itu.
Pelajaran dimulai. Safira masih dengan raut wajah masam. Ia bahkan tidak banyak bicara saat ini. Ia fokus pada materi yang disampaikan oleh gurunya. Bahkan, saat istirahat pun ia enggan untuk mengatakan apapun pada Faiz. Ia merasa kesal dengan sikap Faiz yang berlebihan padanya, padahal dengan siapapun ia tidak terkekang meskipun beberapa orang menyukainya.
"Safira!" seru seorang pria yang masih terbilang muda itu.
"Iya, Pak." Jawab Safira.
"Saya dengar ada keributan saat Saya lewat kelas. Ada apa?" tanya Naufal menyelidik.
"Hanya masalah biasa dengan teman, Pak. Maaf! Saya permisi duluan,"
Naufal menatap punggung Safira yang semakin menjauh.
"Pak,"
"Eh, ya. Ada apa?" tanya Naufal yang terkejut.
"Pak Naufal lagi apa diem disini?" tanya wanita itu.
"Saya mau ke kantor, Bu Raisa." Jawab Naufal.
"Oh, Saya juga mau ke sana,"
Naufal mengangguk ragu. Ia kemudian berjalan bersama guru yang masih terbilang muda, walau usia diatasnya. Mereka sama-sama guru honorer disini dan Naufal baru selesai pendidikannya.
Di rumah Safira. Gadis itu masih tampak kesal. Namun, ia pun meredamnya sesaat. Ya, dia masih berpikir untuk apa pusing memikirkan sikap Faiz. Ia pun mungkin harus menjaga jarak pada pemuda itu agar Faiz tidak terlalu berharap padanya.
Dua pekan sudah Safira menjaga jarak dengan Faiz. Ia berusaha memberi luang pada Risa yang menyukai Faiz. Pagi ini Safira sibuk dengan membaca buku mengenai tempat kuliahnya nanti itu.
__ADS_1
"Safira," panggil Naufal.
"Iya. Ada apa, Pak?" tanya Safira.
"Tolong bilang sama anak-anak nanti ke laboratorium!" Titah Naufal.
"Iya Pak,"
"Itu buku tentang Universitas di London?" tanya Naufal mengernyitkan keningnya.
"Iya Pak," jawab Safira.
"Kamu...," ucapan Naufal terjeda.
"Jika tidak ada halangan Saya kuliah disana," sela Safira.
"Oh. Semoga sukses!" ucap Naufal seolah ada raut kecewa di dalam hatinya. Namun, Safira tidak menyadari hal itu.
Bel berbunyi tanda masuk. Safira dan teman-temannya mulai memadati laboratorium. Mereka melakukan praktek tentang listrik disana. Safira tampak serius dan tidak banyak bicara. Hal yang aneh bagi beberapa temannya. Gadis itu hanya bicara saat diajak bicara.
Naufal diam sejenak. Ia menatap Safira dengan wajah serius dan raut wajahnya itu tampak menyebalkan bagi Naufal. Padahal, selama ini gadis itu selalu aktif dan banyak bicara.
Dering ponsel berbunyi. Naufal menerima panggilan dari wali kelas Safira. Ia nampak terkejut dan tak dapat berkata apa-apa.
"Kalian lanjutkan. Setelah itu kumpulkan lampirannya,"
"Baik, Pak."
"Safira. Kamu ikut Saya! Ada hal penting yang harus Saya sampaikan,"
Safira mengangguk tanpa bertanya apapun. Gadis itu mengikuti Naufal.
"Kamu yang tabah ya. Ayahmu sekarang di rumah sakit,"
"Apa?" pekik Safira.
"Adakah supir yang bisa menjemputmu?" tanya Naufal. Ia sangat khawatir jika Safira mengendarai motornya sendiri. Biarlah siapa saja yang mengantar motor itu ke rumah Safira. Pria itu sangat mengkhawatirkan keadaan gadis yang merupakan muridnya itu.
"Ada, tapi cuman supir papa," jawab Safira.
"Hemm, supir papamu pasti juga di rumah sakit,"
"Ada apa sebenarnya, Pak?" tanya Safira.
"Ayahmu kecelakaan,"
Safira meneteskan air mata. Gadis itu hendak bergegas pergi.
"Aku antar Kamu!"
Safira mengangguk. Ia pun mengikuti Naufal ke tempat parkir. Kemudian, mereka pergi ke rumah sakit bersama. Safira tampak begitu gelisah karena ayahnya yang berada di rumah sakit. Gadis itu meneteskan air mata di pipi. Naufal melihat air mata Safira untuk pertama kalinya semenjak mereka bertemu.
'Mengapa hatiku sakit? Aku merasa tidak bisa melihatmu meneteskan air mata,' batin Naufal.
Ia sesekali melihat Safira yang menatap dengan kosong. Meski gadis itu kesal terhadap tuntutan ayahnya. Ia masih selalu menyayangi ayahnya itu.
__ADS_1