Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 19


__ADS_3

Hai luka!


Bisakah kau tidak datang lagi


Hati ini mulai lelah karena mu


Harapan ini mulai hancur karena mu


Hai luka!


Bisakah kau pulih saja dan tak ada di kehidupanku lagi


Namun....


Pada kenyataannya tidak ada hati yang tidak pernah terluka


Hai luka!


Akankah aku sanggup untuk bertahan


Atau menyerah pada keadaan


Dalam angan cinta begitu indah


Dalam kenyataan cinta itu menyakitkan


Hai luka!


Janganlah datang dengan bertubi


Hati ini seakan tertusuk belati


Meski tidak berdarah


Tapi membuatku seakan terluka parah


Tulis Safira pada sebuah kertas putih dengan tinta hitam miliknya. Safira tampak ragu dengan perasaan yang ia miliki. Ia pun begitu dilema dengan hubungan yang tidak tahu harus bagaimana.


Naufal menatap Safira diantara celah daun pintu yang sedikit terbuka. Pria itu menatap sendu sang pujaan hati. Entah sampai kapan ia akan mengumpulkan keberanian untuk tegas dalam perasaannya. Ia ingin membuktikan perasaannya, tapi Safira seolah tidak menginginkan kehadirannya.


Naufal terdiam masuk ke dalam kamarnya Safira tanpa disadari oleh Safira.


"Kak, Kak Naufal," ucap Safira yang begitu terkejut dengan kehadiran Naufal.


Tanpa bicara Naufal mengambil secarik kertas yang di genggam Safira. Gadis itu tidak berkutik saat Naufal membacanya.


"Apa Kau tidak bisa melupakan dia?" tanya Naufal. Suaranya penuh dengan cemburu, karena yang ia tahu orang yang pernah melukai hati istrinya itu adalah Zian.


"Aku," ucap Safira terjeda saat Naufal pergi keluar begitu saja.


Puisi yang ia buat telah membuat kesalahpahaman antara keduanya. Gadis itu mulai bingung dengan sikap Naufal. Ya, gadis itu berpikir mungkin Naufal marah karena pria itu tahu ia pernah terluka oleh Zian. Namun, pria itu tidak tahu kalau ia juga pernah menyakiti hati Safira. Ya, pria itu tidak pernah tahu alasan ia memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta itu untuk apa.


Canggung.


Mereka seolah dua insan yang baru bertemu. Safira mencoba mencairkan suasana di atas sikap dingin sang suami. Pria itu tidak tahu kalau Safira pernah menyukai pria itu dan terluka saat merasa tidak diperjuangkan sama sekali. Ia juga tidak tahu betapa kecewanya Safira saat itu.


-----


Sinar mentari menembus celah-celah udara di kamar Safira. Gadis itu pun keluar mencari keberadaan Naufal, tapi netranya tidak menemukan suaminya itu.


"Dimana dia?" gumam Safira.

__ADS_1


Safira mencari keberadaan Naufal ke setiap sudut rumah. Namun, tidak ada pria itu sama sekali. Gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk membuka kamar yang tak terkunci.


"Jam segini dia kemana?" tanyanya pada diri sendiri.


Untuk pertama kalinya Safira masuk ke kamar Naufal. Terlihat banyak buku dan alat-alat lain disana.


"Ini buku apa ya?" Safira yang penasaran mengambil buku dengan sampul merah polos itu.


"Ini kata-kata yang dulu pernah dia kirim lewat surat dan pesan. Hemm, banyak coretan ternyata," gumam Safira.


Gadis itu begitu asik membaca tulisan di buku itu. Sampai ia pun menemukan lembar terakhir yang membuat senyum di bibirnya terhenti.


Aku bukanlah bayangan


Yang selalu mengikuti dirimu


Tapi tak dianggap ada


Aku bukanlah angin


Yang hadirnya kau rasakan


Tapi kau abaikan


Aku bukanlah penawar luka


Yang setelah kau sembuh


Kau campakkan begitu saja


Aku disini menunggu


Bahwa aku ada dan nyata


Sampai rasa ini


Menguap oleh waktu


Sampai rindu ini


Berhenti membelenggu


Gadis itu terdiam dan kemudian keluar dari kamar dengan rasa yang tidak menentu.


"Apa itu yang dirasakannya sekarang?" gumam Safira.


Saat Safira berada di kamarnya. Ia pun berusaha menelpon Naufal. Namun, tidak ada jawaban dari sebrang sana.


-----


Langit berubah senja Safira tetap menunggu Naufal di ruang tamu. Ia terus menerus menelpon Naufal, tapi walaupun berdering tetap saja pria itu tidak menjawab telponnya. Tidak lama terdengar suara langkah dari luar dan membuka daun pintu.


"Kamu dari mana aja? Aku nelpon dari tadi, Kak." Ucap Safira mencecar Naufal.


"Untuk apa Kau peduli? Bukankah Aku gak ada artinya buat Kamu?" tanya Naufal.


"Kak,"


"Aku capek, mau istirahat," Naufal pun menyela.


Gadis itu terdiam. Mungkin itu juga yang dirasakan Naufal saat ia mengatakan untuk tidak peduli dan ikut campur padanya.

__ADS_1


Malam yang sunyi. Dua insan dalam satu atap, tapi seolah terhalang jarak. Mereka berada dalam pikiran masing-masing dan tidak mencoba untuk menyelesaikan masalah saat ini.


Keesokan harinya. Safira keluar dari kamar untuk mencari Naufal. Terlihat dari luar Naufal mencari sesuatu di dalam kamarnya.


"Cari ini?" tanya Safira yang memegang buku sampul merah polos yang belum ia kembalikan.


"Bagaimana barang itu ada di Kamu?" tanya Naufal.


"Kemarin tidak sengaja menemukannya saat mencarimu ke dalam kamar. Maaf Aku lancang!"


"Hemm,"


"Kak,"


"Ya,"


"Maaf juga karena Aku selalu menyakiti perasaanmu!" ucap Safira penuh sesal. Gadis itu menunduk. Ia tidak memiliki keberanian untuk menatap manik mata suaminya.


"Tak apa. Aku mengerti," ucap Naufal dengan lembut.


Tanpa Safira sadari, ia pun memeluk Naufal. Sementara orang yang kini berada di pelukannya pun membiarkan begitu saja. Ia merasakan hangat dan nyaman saat gadis yang selama ini dicintainya berada di dekapannya.


"Maaf!" ucap Safira yang tersipu.


"Minta maaf untuk apa?"


"Apa yang Aku lakukan baru saja,"


"Justru Aku merasa senang karena Kau memelukku," ucap Naufal dengan senyuman. Hal itu membuat Safira semakin tersipu.


Pria itu kembali memeluk Safira meski tanpa persetujuan istrinya itu.


"Kita berangkat bareng ya!" tutur Naufal dengan lembut.


"Tapi," Safira merasa ragu.


"Sayang,"


"Iya," pada akhirnya Safira pun setuju.


Setelah sekian lama Safira akhirnya pergi bersama saat ke kampus. Ia merasa nyaman dan hangat saat berada di dekat Naufal. Ia juga merasa senang saat pria yang kini menjadi suaminya itu menggenggam tangannya saat ini.


"Naufal," panggil seorang gadis yang tidak lain adalah Lia.


"Eh, Lia. Ada apa?" tanya Naufal. Pria itu tidak pula melepas genggamannya.


"Hemm, katanya bukan muhrim. Kok pegangan tangan sama cewe," protes Lia.


"Dia istriku," ucap Naufal. Hal itu mengejutkan kedua wanita itu.


Safira terkejut karena seharusnya ini menjadi rahasia dan Lia terkejut karena tidak tahu kapan mereka menikah.


"Bohong 'kan?" Lia tampak tidak percaya.


"Kami menikah di Bandung." tegas Naufal.


Lia memalingkan wajah dan pergi begitu saja. Gadis itu kecewa pada Naufal yang tiba-tiba menikah dan mengabaikan perasaannya. Safira yang masih di genggam oleh Naufal pun tidak bersuara. Gadis itu menunduk.


"Kau istriku dan tidak akan Aku biarkan siapapun menyakitimu," tutur Naufal.


Safira mengangguk setuju. Mereka pun kembali berjalan hingga pada akhirnya masuk ke kelas masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2