
Menatap langit yang tenang. Meski masalah belum selesai, ia tidak mau ambil pusing dan membiarkan Zian yang mencari siapa yang melakukannya dengan mengingat daftar nama yang menyukainya.
Hari ini Safira pergi ke sebuah yayasan sosial. Ia dan teman-temannya pun mengirim beberapa sumbangan dari teman kampus. Ya, Zian membuat bungkam orang-orang yang membicarakannya sehingga semua tampak biasa saja. Terlebih banyak orang yang membelanya.
"Fira. Tolong bawa bingkisan ya! Hehe Aku lupa ada di mobilku. Nih kuncinya,"
Safira mengangguk begitu saja. Ia bahkan lupa juga dengan bingkisan itu.
"Safira," suara itu terdengar tidak asing bagi Safira. Membuat gadis itu menghentikan gerakan tangannya yang mengeluarkan bingkisan dari mobil.
"Pak Naufal," Safira begitu terkejut dengan adanya Naufal disana.
Hampir satu tahun sudah ia berusaha untuk melupakan Naufal terlebih saat ia tahu Naufal bertunangan. Gadis itu berusaha keras untuk menerima kenyataan bahwa apa yang diucapkannya tidak akan terjadi. Ia pasrah jika tidak bisa bersama dengan Naufal, karena pria itu sudah punya pilihan.
"Pak Naufal kenapa ada disini?" tanya Safira.
"Saya bekerja disini untuk sementara dan Saya akan kuliah Pascasarjana." Jawab Naufal.
"Ku-kuliah lagi,"
"Iya. Senang bertemu denganmu,"
Gadis itu hanya tersenyum kemudian memilih untuk pamit meninggalkan pria yang membuat jantungnya berdegup dengan kencang itu.
"Sayang, Aku bantu," ujar Zian yang tiba-tiba datang.
Awalnya Naufal akan mengikutinya dan berbicara pada gadis yang ia rindukan itu. Namun, langkahnya terhenti dan langit seakan kelabu saat ia mendengar ada yang memanggil "Sayang" pada Safira.
*****
Di sebuah kampus Naufal mencari Risa yang kabarnya kuliah disana bersama Faiz. Ia berusaha untuk mencari tahu tentang keberadaan Safira.
"Risa,"
"Loh. Pak Naufal kok ada disini?" tanya Risa heran.
"Saya mau tahu kabar Safira,"
"Tanyain aja sendiri! Saya ada nomornya sih,"
Naufal meminta nomor Safira pada Risa. Dengan terpaksa Risa memberikan nomor itu padanya. Padahal, Risa malah belum berani menghubungi Safira karena ia tidak ingin Faiz kembali menghubungi gadis itu.
Saat malam. Naufal mencoba menghubungi Safira. Terdengar suara sapaan di sebrang sana, tapi ia tidak kuasa untuk bicara. Ia menyesal tidak tegas dalam membuktikan bahwa ia begitu mencintai gadis itu. Hatinya seakan bergemuruh meski hanya mendengar suara singkat gadis itu.
Naufal bahkan memberi pesan singkat meski tanpa ada balasan. Ya, iya tahu mungkin saja Safira tidak menganggapnya penting karena ia tidak mengatakan siapa dirinya.
__ADS_1
Seiring waktu berjalan. Gadis lain masuk ke dalam kehidupannya. Gadis itu memang sangatlah cantik, tapi hati Naufal hanya untuk gadis yang entah dimana saat ini.
Pertemuan keluarga membuat Naufal dalam dilema. Ia dijodohkan oleh sang ayah padahal ia tidak berniat menikah lebih awal apalagi menikah dengan gadis lain.
"Kamu harus menikah dengan gadis itu, Nak!" pinta sang Ibu.
"Tapi Bu. Ibu tahu Naufal menyukai Safira,"
"Lalu. Kemana gadis itu? Sudah beberapa bulan ini 'kan Kamu tidak bertemu. Bahkan, orangtuanya saja pun tidak mau peduli dikala Kamu menanyakan keberadaan anak gadis mereka,"
"Jangan bicara seperti itu, Bu! Mereka baik sama Naufal. Pasti ada alasan kenapa keluarga Safira tidak memberitahu keberadaan Safira," bela Naufal.
Ibunya menyerah untuk menasehati anaknya itu. Hingga sang ayah pun turun tangan. Ia pun mengatakan bahwa mereka dijodohkan karena permintaan orang tua si gadis yang ingin anaknya segera bertunangan dan dalam jeda seminggu menikah. Hal itu membuat Naufal mengernyitkan dahi. Ia berpikir ada yang janggal dalam perjodohan mereka.
Dua hari sebelum bertunangan. Gadis bernama Via itu pun datang padanya. Ia merasa heran pada sikap gadis itu dan kini gadis itu terlihat sangatlah pucat.
"Jangan menikah denganku!" larang gadis itu. Sesaat setelah mereka saling berhadapan.
Naufal berpikir sejenak. Saat mereka bertemu ia tidak mengatakan apa-apa di depan keluarganya.
"Ada apa?" tanya Naufal.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Naufal heran.
"Aku ingin menikah dengan orang yang selalu menemaniku dari saat Aku sehat sampai sekarang Aku sakit," ujar gadis itu.
"Tapi,"
"Ayahmu berhutang pada ayahku karena kuliahmu 'kan?"
"Hutang?"
Naufal kecewa. Selama ini, ia mendapat beasiswa. Ia pun terkejut dengan hutang ayahnya.
"Lebih baik membayar dengan uang daripada dengan hidupmu. Aku sudah lemah. Aku ingin bahagia dengan pria yang Aku cinta di sisa hidupku," tutur gadis itu.
"Baiklah," jawab Naufal lirih. Dalam hati ia pun senang karena ia tidak jadi menikah dengan Via.
Gadis itu pun pergi. Langkahnya dibantu oleh seorang wanita yang sedari tadi diam di dekatnya.
Naufal merasakan sesak di dada. Ia kecewa terhadap ayahnya. Ia pun langsung bertemu dengan sang ayah dan menanyakan tentang hutang ayahnya. Pria itu pun mengakui dan sebenarnya uang itu pun dipakai untuk beberapa project yang gagal dilaksanakan.
Dalam hati Naufal ingin membantu sang ayah. Namun, hatinya tidak mungkin tega membuat gadis yang lemah itu harus menikah dengannya sedangkan ada pria lain yang lebih mencintainya.
__ADS_1
Di hari pertunangan. Wajah Naufal tampak masam. Ia kembali menatap wajah sendu Via yang seakan meminta untuk menghentikan semuanya.
"Saya batalkan pertunangan ini," ucap Naufal lantang. Membuat para tamu undangan pun menoleh pada sumber suara.
"Apa-apaan ini, hah? Kamu mau mempermalukan keluarga Saya," cecar ayah Via.
"Saya lebih baik menghentikannya sekarang daripada nanti. Saya tidak ingin setiap detiknya putri Anda menangis," ujar Naufal.
"Alasan," sinis pria setengah baya itu.
"Maaf Bapak Handoko terhormat. Via sudah mencintai orang lain dan bahagia karenanya. Apa karena pria itu miskin? Sehingga Bapak tidak menyetujuinya,"
Handoko terdiam seribu bahasa. Tibalah seorang pria yang berpakaian sederhana. Via memeluk dan menangis di dada pria itu.
"Apa Bapak tidak peka terhadap putri Bapak yang begitu mencintai pria ini. Pria ini memang tidak punya apa-apa, tapi dia selalu ada di saat orang lain mungkin akan pergi begitu saja ketika putri Bapak sakit,"
"Bapak pikir dengan menikahkan Via dengan Saya, ia akan bahagia. Via datang pada Saya dan tidak ingin Saya setuju untuk menikah dengannya, karena ia sangat mencintai orang yang rela menemaninya. Meski terkadang Bapak menyakiti hati pria itu dengan sumpah serapah. Harta bisa dicari, Pak. Jangan bersikap egois!"
Ucapan Naufal membuat kedua keluarga terdiam. Via masih menggenggam tangan kekasihnya. Ia menatap sang ayah dengan penuh harapan.
"Baiklah. Apapun untuk putriku. Maafkan Ayah, Nak!" ucap Handoko menghampiri putrinya.
Pertunangan terjadi. Namun, bukan Naufal yang ada di sana.
Setelah masalah pertunangan selesai. Naufal pun bertemu kembali dengan Risa. Ia memaksa Risa untuk mengatakan dimana Safira.
"Bukannya Pak Naufal tunangan?" tanya Risa.
"Saya gak jadi tunangan. Please, Risa!"
Risa pun mengatakan tempat kuliah Safira. Namun, Risa tidak tahu dimana Safira tinggal. Karena, saat itu ia dan Faiz hanya bertemu di kampus.
"Tapi Pak. Safira udah punya pacar,"
"Aku tidak percaya jika belum melihat sendiri," ujar Naufal.
Ia berusaha untuk mencari pekerjaan disana dan pada akhirnya di terima di sebuah perusahaan. Itu hanyalah batu loncatan agar ia bisa kuliah kembali dan menjadi seorang dosen.
Naufal begitu antusias pergi ke kota dimana kekasihnya ada disana. Ia berharap Safira berpacaran dengan orang lain itu tidak benar.
"Aku ingin bertemu denganmu, Safira," lirih Naufal yang selama ini menahan rindu.
*****
__ADS_1