Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 23


__ADS_3

Angin membuai dalam lamunan. Safira menatap langit yang kini kelam. Ia baru memulai hubungan meski telah lama terjalin.


"Hai, Sayang!" sapa Naufal sembari mengecup pucuk kepala sang istri.


"Darimana?" tanya Safira lembut.


"Beli makanan buat kita. Makan yuuk!" jawab Naufal yang kemudian mengajak istrinya itu makan.


Safira nampak tertegun meski Naufal sudah menyiapkan makanan untuknya.


"Kenapa?" tanya Naufal.


"Enggak apa-apa, Kak." Jawab Safira dengan senyuman.


"Liburan kita ke Bandung lagi. Mau 'kan?" ajak Naufal.


"Beneran, Kak?" tanya Safira dengan matanya yang berbinar.


"Beneran lah."


"Tapi," ucap Safira yang kembali berpikir.


"Tapi apa?"


"Lumayan ongkosnya, kan?" keluh Safira.


"Ish, 'kan sekarang suamimu ini kerja sampingan juga." Jelas Naufal.


"Hehe,"


"Apa sih yang enggak demi Kamu," ucap Naufal yang membuat Safira tersipu.


"Ish, gombalnya mulai deh."


"Lah, biarin! Ke istri ini bukan ke cewek lain," celoteh Naufal.


Safira menatap tajam suaminya. Sementara yang di tatapnya hanya tersenyum. Ya, akhir-akhir ini Safira memang sering cemburu.



Apa yang dikatakan Naufal pun benar. Safira dan suaminya pun berlibur ke kota asal mereka. Dengan bersemangat keduanya melalui perjalanan yang cukup lama.


Setiba di rumah Safira. Keduanya disambut oleh Vina dan suaminya. Safira melepas rindu pada ibunya.


"Hemm, seneng deh karena kalian datang juga," tutur Vina.


"Ya Ma, tapi kami ke rumah Kak emmm A' Naufal dulu ya." ucap Safira.


"Kalian mau nginap dimana?" tanya Vina.


"Emmm, kita nginap di rumah orang tua A' Naufal aja, Ma." Jawab Safira.


"Ya sudah. Tapi sekarang kalian makan dulu disini!" pinta Vina.


Mereka pun mengangguk setuju dengan permintaan Vina.


Dua sejoli itu merasa canggung di hadapan Vina dan sang suami. Vina yang mengerti pun akhirnya mencoba mencairkan suasana. Ia pun berusaha untuk tidak menyinggung soal anak, karena keduanya masih memikirkan pendidikan.


Usai selesai makan keduanya bersiap untuk menuju rumah keluarga Naufal yang kini menjadi keluarga Safira juga. Gadis itu tampak ragu, karena pernikahan mereka yang terbilang terburu-buru tanpa mengenal orangtua Naufal.

__ADS_1


"Menantu Ibu cantik sekali," puji sang mertua ketika Safira memeluknya.


Gadis itu tersipu karena pujian dari ibu mertua.


"Apa kabar, Bu?" tanya Safira dengan senyuman.


"Alhamdulillah baik, Nak. Akhirnya kalian pulang juga."


"Do'akan saja pendidikan Kami lancar, Bu."


"Ibu selalu do'akan kalian kok, Nak. Ibu juga udah pengen momong cucu," celetuk Ibu Naufal yang membuat Safira menunduk.


Naufal memberi isyarat dengan mata agar sang ibu tidak membahas itu. Ya, bukan tidak mau tapi jurusan yang ia pilih membuat ia harus tetap fokus.



Semilir angin nan sejuk. Safira dan Naufal berjalan di taman kota. Mereka sangat menikmati suasana taman berdua.


"Pacaran setelah menikah," senyum Naufal mengembang.


"Lah, emang Kak eh A' duh ribet. Emangnya gak pernah pacaran?" celetuk Safira.


"Belum. Aku baru pacaran sama Kamu sekarang." Jelas Naufal.


"Serasa seperti bohong gitu," ucap Safira ragu.


"Ya, mau bagaimana lagi? Toh yang bikin Aku jatuh cinta itu murid SMA yang kelihatan bandel mudah bergaul juga sih, tapi hatinya baik dan suka menolong,"


"Jangan puji Aku! Nanti Aku terbang," canda Safira.


"Kamu terbang Aku yang nangkap Kamu,"


Keduanya tampak sangat bahagia dan bersenda gurau. Ya, hal yang jarang dilakukan karena aktivitas padat termasuk aktivitas dan tugas padat Naufal.


"Hai! Apa kabar?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Siapa ya?" tanya Naufal yang berusaha mengingat wajah wanita itu.


"Ini Aku, Sania. Bukankah dulu kita dekat," ucap wanita itu.


"Sania anak IPS itu 'kan?" terka Naufal.


"Nah, Kamu inget. Kita kan sering jalan bareng pas SMA. Aku lagi ngajak anak Aku jalan-jalan. Kenapa gak datang ke acara nikahan Aku sih? Jangan-jangan Kamu masih ada rasa ya. Tapi sekarang Aku jadi single mom, soalnya kita udah cerai," cerocos wanita itu tanpa memperdulikan Safira yang ada di samping Naufal.


"Oh gitu."


"Oh ya, dia siapa? Adik Kamu?" cecar Sania.


"Dia istri Aku," jawab Naufal.


"Aku pikir adik Kamu,"


"Dia istri Aku, Sania. Hemm, kami pergi dulu ya." Ucap Naufal saat melihat raut masam di wajah istrinya. Ia yakin ada api cemburu yang kini berkobar dan membuat ia harus segera menyingkir dari wanita yang merupakan teman lamanya itu.


Saat berada di rumah. Safira tampak cemberut karena kejadian di taman. Ia tampak kesal pada suaminya.


"Kenapa manyun kayak tutut (keong sawah)?" tanya Naufal.


"Kagak,"

__ADS_1


"Ya elah, itu bibirnya gak bisa bohong,"


"Apaan sih?"


"Kenapa Sayang?" goda Naufal.


"Sayang-sayang ada maunya," celetuk Safira.


"Malu loh berantem di rumah orangtua. Ada apa dong? Cerita sama suami tercintamu ini!"


"Sejak kapan Kak emmm, A' Naufal gitu?" tanya Safira yang masih kaku dengan memanggil suaminya itu.


"Sejak jatuh cinta sama Kamu," ujar Naufal.


"Alaaah, paling pas jatuh cinta sama cewek yang cantik putih plus bohai itu," cerocos Safira.


"Cemburu nih?" goda Naufal.


"Kagak,"


"Aku tahu Kamu cemburu. Bersyukur banget kalau Kamu cemburu," tutur Naufal.


"Hemmm,"


"Suamimu ini hanya mencintaimu, Sayang," bujuk Naufal dengan mendekap istrinya dan membuat sang istri pun tersipu.


Meski ia menganggapnya hanya angin lalu. Namun, ia merasa memang Sania pernah menjadi yang spesial di hati suaminya itu.


________


Rasa penasaran menjalar di hati Safira. Ia pun mencoba mencari tahu siapa sebenarnya Sania walau hanya melewati sosial media. Ia berusaha mencari akun milik Sania lewat beberapa teman sosial media suaminya karena suaminya tidak ada di daftar teman Naufal.


Terlihat di layar ponsel akun Sania terpampang di sana. Safira kemudian mencari tahu tentang Sania lewat postingan. Tidak ada yang aneh selain beberapa potret yang terlihat di sana. Ya, album bertuliskan reuni SMA membuat mata Safira terkejut karena dalam potret itu Naufal dekat dengan Sania.


"Oh begitu ya?"


[Kira-kira dua orang itu bakal CLBK gak ya?] Sebuah tulisan ditandai Sania disana oleh salah satu akun.


"Hemmm, baru tahu pacaran atau cuman alasan biar dilihat baik aja," gumam Safira.


Sepasang tangan merangkul Safira dari belakang. Safira terdiam tanpa sambutan. Ia masih memikirkan wanita yang telah bertemu dengannya itu.


"Apa Kau masih mencintai gadis itu?" tanya Safira membuat kening Naufal mengkerut.


"Katakan saja jika seperti itu!" titah Safira.


"Apa Aku harus mengatakan apa yang tidak Aku rasakan. Aku tidak mencintainya juga tidak pernah berpacaran dengannya," tutur Naufal.


"Lalu, apa ini?" tanya Safira.


"Kami berteman dekat dan mereka pun mengira kami berpacaran,"


"Jika pengakuan dan kenyataan salah bagaimana?" tanya Safira.


"Aku terima apapun yang Kamu lakukan," ucap Naufal.


Safira menghembus napas dengan kasar. Entah wanita mana lagi yang mengusik hidupnya. Berusaha untuk sabar, itulah yang ia lakukan.


Naufal dengan perlahan duduk di samping sang istri dan bersandar di bahu wanitanya itu. Ia pun berusaha untuk membuat suasana Safira tenang yang kemudian mendekapnya. Membiarkan wajah Safira menempel di dada dan membiarkan wanita itu mendengar degup jantung miliknya.

__ADS_1


__ADS_2