
Sore hari yang secara kebetulan cerah. Mira datang ke kontrakan Safira yang kini pindah. Mira nampak heran dan mungkin dalam hatinya tidak berhenti bertanya. Safira menghampiri ketika temannya mengucap salam. Senyumnya mengembang meski sang sahabat menatap heran dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia kembali menatap tak percaya saat Naufal keluar dari kamarnya.
"Kalian beneran nikah?" tanya Mira.
"Iya," jawab Naufal.
"Katanya gak bakal suka sama Kak Naufal apalagi nyampe nikah," ucap Mira yang terpaksa berhenti saat Safira menutup mulut sahabatnya itu.
"Bilangnya gitu ya, Mir?" goda Naufal seketika melihat ke arah Safira. Mira tidak dapat menjawab karena tangan yang masih menempel. Ia mungkin tidak ingin apa yang dikatakan dulu pada Mira soal Naufal terbongkar.
"Masuk yuk!" ajak Safira mengalihkan pembicaraan. Matanya melotot dan ia memberi isyarat untuk diam.
Mira menatap ruangan yang ada di hadapannya. Ia merasa tidak percaya jika mereka benar-benar menikah.
"Ayo bilang!" pinta Mira.
"Ish, gak basa-basi dulu,"
"Lah, makanya jangan nyembunyiin hal sebesar ini dari Aku!"
"Hehe, Aku belum siap. Ini mendadak pas kita ke Bandung." Ucap Safira.
"Ke Bandung?"
"Kita itu tetangga di Bandung, Mira." Jelas Safira.
"Katanya gak suka sama Kak Naufal," celoteh Mira.
"Awalnya Aku gak mau karena dijodohin, tapi Aku udah nerima pernikahan kita dan memang dari dulu suka cuman pernah sakit hati aja," aku Safira.
"Hemmm, ada-ada aja,"
Begitu lama mereka berbincang. Pada akhirnya Mira pun memilih untuk pulang.
Safira masuk ke dalam kamar. Namun, ia melihat Naufal yang melipat tangan di dada. Pria itu pun menatap Safira.
"Kenapa natap Aku kayak gitu?" tanya Safira.
"Udah curhatnya,"
"Udah. Aku mau mandi gerah," ujar Safira.
Usai mandi, Safira kembali ke kamar dan tidak ada Naufal disana. Ia pun bergegas memakai pakaian dan mencari sosok pria itu. Hingga pada akhirnya ia melihat Naufal yang sedang berkomunikasi dengan seseorang lewat ponselnya.
"Urus sampai selesai," ujar Naufal pada seseorang di sebrang sana. Safira mengernyitkan dahi ketika mendengar kalimat itu. Entah apa yang dibicarakan Naufal sebenarnya.
Saat makan malam pun Naufal lebih banyak diam. Wajahnya terlihat begitu serius dan sedang memikirkan sesuatu. Safira yang sebenarnya ingin tahu alasan mengenai sikap Naufal lebih memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya pada suaminya.
Malam yang sunyi. Safira berada di tepi ranjangnya. Gadis itu masih terdiam meski ingin bertanya. Namun, ia tidak tahu harus bagaimana.
"Sayang,"panggil Naufal lembut.
"Ya Kak,"jawab Safira yang terhenti dari lamunannya.
"Tadi Kamu nyuekin Aku. Ngerasa gak?"tanya Naufal yang terus mendekat.
"Eh, itu. Emm, Miranya susah pulang,"
__ADS_1
"Ish, tinggal usir aja,"
"Emangnya ayam,"
"Kalau gitu Aku ngasih hukuman ke Kamu,"
"Eh, hukuman. Ma-mau apa?"tanya Safira.
Naufal semakin mendekat dan mendekat pada tubuh Safira.
"Hahaha, geli ih. Ampun Kak!" Naufal rupanya menggelitik Safira. Padahal mungkin saja pikiran itu sudah merembet kemana-mana.
Mereka saling membalas sampai akhirnya lelah dan Naufal membiarkan Safira berada di bahunya.
"Kak,"
"Ya,"
"Jika ada masalah apapun itu bicara padaku. Fira harap Kak Naufal tidak lagi menyelesaikan masalah sendiri. Sekarang Fira juga bagian dari hidup Kak Naufal,"
"Tidak ada yang harus membebani pikiranmu, Sayang. Selama Aku bisa menyelesaikan. Aku tidak ingin menjadikan masalahku beban bagimu. Yang harus Kamu pikirkan saat ini adalah Aku selalu mencintaimu,"
"Ish, orang lagi serius juga."
"Lah, ini serius loh." Ucap Naufal.
Safira mengerucutkan bibirnya membuat gemas yang melihatnya.
--------
Pagi ini Safira mempunyai janji dengan Mira dan Christina untuk berbelanja. Entah akan berbelanja kemana membuat Safira harus bangun pagi. Tibanya dua gadis itu di rumah Safira mereka hanya tersenyum menggoda.
"Oke," jawaban Naufal justru malah membuat Safira bingung.
'Bukannya malam dia bilang gak suka kalau Aku ngobrol lama sama Mira?" pikir Safira.
"Hemm, harumnya pengantin baru," goda Michelle.
"Apaan sih?"
"Pagi-pagi aja udah keramas,"
"Ish, Aku udah biasa keramas kali,"
"Iya udah biasa. Tapi kalau mandi subuh ya beda lagi hahaha," goda Mira. Ia bahkan tertawa. Sementara Safira merasakan panas di telinganya.
Rambutnya memang hampir kering, tapi orang lain pasti tahu kalau ia baru mandi karena harum yang masih menyengat di rambutnya.
"Kita kemana sih? Berangkat pagi banget,"celoteh Safira.
"Ada aja. Tinggal duduk manis aja,"
"Tapi," Safira ragu.
"Duduk manis aja. Kayak anak kecil yang nurut sama emaknya," ujar Mira terkekeh. Tiba-tiba ia pun meringis karena Safira mencubit pingganya.
"Udah deh! Kalian malah bikin konsentrasi buyar kalau tingkah kalian kayak bocah,"protes Michelle.
__ADS_1
"Bilang aja pengen ikutan, tapi gak bisa!" celoteh Mira.
"Tuh 'kan Kamu tahu. Udah ah! Aku lagi nyetir. Masih jauh perjalanan,"
"What?" Safira terlonjak kaget. Ia akan merasa sangat bersalah jika terlalu lama di luar rumah.
Safira menutup wajahnya. Ia terus bertanya akan kemana, tapi dua gadis itu tidak juga memberitahunya.
Tiba di sebuah Villa. Safira terdiam dan semakin tidak mengerti dengan mereka yang saling melempar senyum.
'Apa mereka mau berbuat jahat?' pikirnya. Ia begitu ketakutan terlebih ia tidak mengenal daerah yang dituju.
Keduanya masuk ke dalam Villa dan menggandeng Safira yang ragu untuk masuk.
"Mau apa sih?" tanya Safira.
"Ada aja,"
"Kalian mau macem-macem,"
"Enak aja. Aku gak bakal jahat sama Kamu kali,"
Mereka melangkah ke dalam. Tempat itu begitu sunyi dan membuat Safira merinding dan ingin pergi. Mungkin di pikirannya dua temannya itu tengah menculiknya dan membawanya ke Villa yang sepi.
"Kejutan," suara riuh terdengar saat Safira berbalik badan dan akan pergi. Ia pun kembali berbalik untuk melihat siapa saja yang mengatakannya.
"Ini,"
"Selamat ulang tahun, Sayang!" ucap Naufal yang langsung menghambur pelukan pada istrinya membuat iri yang melihatnya bahkan menarik baju di pria berharap segera dinikahi seperti Safira.
"Terimakasih, Kak!" ucap Safira.
"Thanks teman-teman!" ucapnya lagi.
"Ada kejutan lagi buat Kamu," ujar Naufal pada istrinya.
Safira yang melihat siapa yang muncul membuatnya semakin terharu. Gadis itu memeluk orang di hadapannya yang tidak lain adalah sang mama dan ia memeluk ibu Naufal yang kini menjadi mertuanya.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian makin harmonis," ucap Vina pada putri kesayangannya.
"Ma,"
"Selamat ulangtahun, Sayang! Semoga cepat diberi momongan ya!" ucap Vina.
Safira terdiam sementara Naufal terus menggoda Safira dengan matanya.
Pesta begitu ramai, setelah usai kedua orang tua itu pun memilih pulang sebelum gelap dan memilih menginap di penginapan lain. Mira dan yang lainnya pun sama. Mereka memilih untuk memberi waktu mereka untuk berdua di sana.
"Beneran mau cari penginapan lain?" tanya Safira.
"Ya iyalah. Kalian udah nikah bebas. Kita masih harus jaga jarak," ucap Mira terkekeh. Ia pun menoleh pada sang pacar yang berada di sampingnya.
"Udah lulus Gue nikahin," ucap si pacar yang merasa terpojok.
Christina pun memberi isyarat dengan menyikut pacarnya.
"Udah Kamu lulus. Aku gak mau ganggu belajar Kamu," tutur si pria yang merupakan teman Naufal itu.
__ADS_1
Dua pasang kekasih itu pun pergi meninggalkan Villa yang kini sepi. Safira merasa merinding karena sepi dan berdua dengan Naufal saat ini.