
Hari ini entah mengapa perasaan Safira tidak enak. Ia pun berusaha untuk menenangkan diri di bawah pohon rindang di dekat pintu gerbang.
"Safira!" pekik Mira.
"Apaan sih?" tanya Safira kesal. Gendang telinganya tersentak dengan pekikan Mira.
"Itu, itu loh. Ish, Aku mau ngomong apa lupa,"
"Gak jelas gitu,"
"Ish, cius deh. Itu tuh ada cowok cakep nyariin, tapi sama cewek juga sih." Jelas Mira.
Gadis itu terkejut. Ia tidak berbicara apapun dan langsung pergi begitu saja.
"Lah, malah nyelonong segala," celoteh Mira. Ia kemudian membuntuti temannya.
"Yah, kemana itu anak? Ngilang kayak hantu," gerutu Mira.
Pada akhirnya Mira tidak jadi mengikuti temannya itu.
Di sebuah mobil Safira membisu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan dua orang yang ada dihadapannya itu.
"Apa kabar, Fira?" tanya Faiz.
"Baik," jawab Safira singkat.
"Oh ya, kita sekarang pacaran loh," ujar Risa antusias.
"Oh Gue pikir dia gagal move on. Kalau gagal move on, Gue gak mau ketemu," celoteh Safira.
"Sadis bener, Lo. Gue udah pacaran sama Risa. Lo nya aja yang ngilang kayak ditelan bumi," protes Faiz.
"Gimana Lo disini? Betah?" tanya Risa.
"Lumayan," jawab Safira.
"Lo gak mau apa pulang ke Bandung disini mulu?" tanya Risa.
"Gue sibuk, Dodol."
"Hehe. Oh ya. Pak Naufal mau tunangan katanya," ucap Risa.
"Gak penting juga," ujar Safira.
"Gue pikir pas di SMA itu Lo suka sama dia. Makanya Gue kasih tahu Lo," ujar Risa. Ia bahkan yakin betul Safira pergi tanpa kabar gara-gara ingin menjauh dari Naufal. Karena dulu gurunya Raisa menyinggung soal kedekatan Safira dan guru fisika mereka itu.
"Kagak penting. Gue udah punya pacar," ujar Safira dengan berbohong.
"Serius? Gue mau dong ketemu!" Risa menatap sahabatnya tidak percaya. Memang dia tahu bagaimana sikap Safira terhadap laki-laki.
"Kapan-kapan aja,"
"Besok juga Gue balik. Sekarang deh telpon dia,"
__ADS_1
Safira semakin terpojok saat Faiz dan Risa terus memintanya untuk mendatangkan sahabatnya ke Kafe. Ia memberi pesan pada satu orang yang mungkin ia percaya.
"Hai, Sayang!" sapa pemuda yang membuat dua teman Safira menatap tidak percaya.
"Hai," sahut Safira. Ia bersyukur dengan kedatangan orang yang kini duduk disampingnya itu.
"Beneran pacaran ternyata," ujar Risa.
Faiz terdiam. Dulu saat ia selalu mengejar cinta Safira. Hati itu seperti membeku dan seperti tidak ada yang bisa mencairkannya.
"Aku Zian. Salam kenal," ucap Zian yang mengehentikan kebisuan mereka.
Mereka berbincang sembari menunggu pesanan datang. Risa dan Faiz saling menatap saat kedua orang yang mengaku pacaran itu terlihat begitu kaku. Namun, keduanya enggan untuk bertanya lebih lanjut terhadap hubungan mereka dan lebih memilih membicarakan apapun yang seru bagi mereka.
Usai bercengkrama dan menyantap makanan di hadapan mereka. Risa dan Faiz pun pamit. Mereka akan kembali untuk sebuah urusan yang sama-sama dilakukan mereka.
Safira bernapas lega setelah jauh dari dua sejoli itu. Namun, masalah baru pun ia buat. Zian terlihat menatapnya penuh tanya.
"Safira,"
"Ya,"
"Bisakah kita berpacaran beneran? Aku gak bakal ganggu apapun kegiatan Kamu,"tutur Zian.
Safira membisu. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi, harapannya pada pria yang nan jauh disana itu pun hilanglah sudah.
"Iya Kak," jawab Safira dengan senyuman simpul di bibirnya.
Zian terlihat bahagia, tapi hati gadis itu tidak sebahagia orang yang berada dihadapannya.
"Kau bohong," lirih Safira.
"Kau bohong. Mengapa Kau membuat Aku menyukaimu dan malah berpaling begitu saja,"
Tetesan bening mendarat di pipi putihnya itu. Ia kecewa terhadap Naufal. Namun, jika kembali mengingat apa yang dilakukan dan diucapkan olehnya pada Naufal dulu membuat Safira begitu menyesal. Meski gadis itu menampik soal perasaannya, tetapi hatinya ternyata menyukai pria itu.
Dalam hening. Safira menatap layar ponselnya. Disana ada pesan masuk dari Zian yang hanya dibuka lewat notifikasi. Sehingga, orang yang memberi pesan pun tidak akan tahu jika Safira sudah membaca pesannya.
"Maaf, kak Zian!" gumamnya.
Seketika ia merasa bersalah pada pemuda yang ia beri harapan padahal hatinya tidak menyukai Zian.
Di kampus begitu ramai saat Safira datang. Mereka berbisik dan entah apa yang terjadi.
"Dia ya perebut pacar orang," celoteh salah seorang mahasiswi kepada lawan bicaranya.
Safira yang tidak mengerti menghampiri papan pengumuman dimana di tempat itu banyak orang yang berkerumun. Ia menembus kerumunan tanpa peduli orang-orang yang membicarakannya.
"Apa-apan ini? Siapa yang melakukan ini?" pekik Safira kesal.
Selama ini ia menghindar dari masalah, tapi ada yang ingin bermasalah dengannya. Semua yang ada disana menyuraki Safira. Mira dan Rio datang dengan cepat pada Safira yang tengah kesal.
"Kenapa sih?"
__ADS_1
"Ada yang cari masalah," jawab Safira.
"Kamu emang sekarang pacaran sama siapa?" tanya Mira.
"Kak Zian,"
Mira menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia terkejut dengan Safira yang berani berpacaran dengan Zian.
"Zian temen pacar Aku 'kan?" tanya Mira.
Safira mengangguk mengiyakan.
"Jelas Kamu malah menimbulkan masalah kalau pacaran sama dia. Hati-hati! Banyak cewek yang jadi korban disini kalau sama Zian,"
"Masalahnya apa sih?" tanya Safira.
"Natalie,"
"Hemm,"
Mira dan Rio memilih pamit. Safira langsung menelpon Zian.
Usai di telepon, Zian dengan cepat datang pada orang yang sudah dianggapnya pacar itu.
"Kenapa?"
"Ini," kata Safira. Ia menyodorkan kertas pamflet yang di dalamnya ada tulisan bahwa ia merebut pacar orang.
"Ada masalah Kamu yang belum kelar ya. Jadinya ngerembet ke Aku. Urus aja dulu, Kak!" imbuh Safira.
Gadis itu melangkah pergi dari Zian yang sedang mematung. Baru dua bulan mereka berpacaran, tapi masalah kembali terjadi.
"Natalie," gumam Zian.
Ya, Zian yakin itu adalah hal yang dilakukan oleh Natalie meski tidak ada foto dirinya disana. Natalie tahu betul orang yang dekat dengan Safira adalah Zian.
Zian mencari Natalie di kelas. Namun, ia tidak melihat Natalie saat ini. Menurut temannya yang lain. Natalie cuti untuk hari ini karena ada urusan.
"Aku semakin yakin gadis itu yang melakukannya," gumam Zian.
Sementara itu di kelas Safira. Semua temannya tidak berani mengganggu Safira.
"Fira," suara Mira menghentikan lamunannya.
"Ya,"
"Kayaknya ini akal-akalan orang yang benci sama Kamu deh. Itu orang gak ada pas mau dilabrak sama pacar Aku dan pacar Kamu,"
"Biarin lah. Gak mau ambil pusing," ujar Safira.
Gadis itu memilih diam seribu bahasa. Meski benar ia Natalie. Ia tidak mau peduli.
Saat ini, ia harus menahan panas daun telinganya karena banyak yang membicarakan tentangnya.
__ADS_1
"Salah Gue juga sih. Hadeuh pusing deh. Gak di SMA gak di kampus banyak aja haters. Padahal Gue bukan artis," gerutu Safira.
Dosen pun datang, membuat Safira lebih memilih fokus pada materi dibandingkan memikirkan masalahnya itu.