Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 10


__ADS_3

Suara dering ponsel berbunyi. Safira menggeser layar gawainya itu, meski tidak tahu siapa yang menghubungi. Nomor ponsel yang dimilikinya saat ini adalah nomor yang baru. Sehingga, tidak ada yang tahu nomornya kecuali keluarga dan teman barunya di Yogyakarta.


"Hallo! Dengan siapa, ya?" tanya Safira pada orang yang belum bersuara itu. Namun, untuk beberapa menit Safira sabar menunggu lebih memilih mengakhiri panggilan.


"Ganggu aja. Diajak ngomong malah gak ngomong kayak ditelpon hantu aja," celoteh Safira pada diri sendiri.


Safira tidak mengambil pusing hal itu. Ia lebih memilih untuk tidak peduli pada nomor yang baginya begitu tidak jelas.


Kembali sebuah pesan dengan berbeda nomor pun mengirim pesan padanya.


[Kenapa ngilang?]


[Maaf, ini siapa?] tanya Safira.


[Risa, Safira.] balas pesan itu.


[Kami kok tahu nomor Gue?] tanya Safira dalam pesannya.


[Gue tahu dari nyokap Lo. Lagian, ngapain ngilang kayak hantu gitu?]


[Biar gak ada yang ganggu Gue,]


[Okelah. Gue ada acara ke Yogyakarta. Kebetulan juga 'kan Lo di Yogyakarta. Awas kalau Lo malah banyak alasan buat gak ketemu Gue. Mentang-mentang udah punya teman baru,] pesan Risa panjang lebar.


Safira mengerutkan keningnya. Jika Risa sudah berkata seperti itu. Ia tidak mungkin menghindar dari Risa. Lagipula hanya Risa yang ingin bertemu dengannya. Ia berharap Risa benar-benar menemuinya sendiri.


Di kampus. Safira masih memikirkan tentang Risa yang akan menemuinya. Ia tidak ingin jika harus bertemu Faiz yang selalu mengganggunya. Namun, mungkin saja selama beberapa bulan ini Faiz sudah bisa melupakannya. Ia juga berharap Faiz bisa lebih dekat dengan Risa saat ia tidak ada.


Apa yang ia lakukan saat ini bukan karena ingin menghindar. Ia hanya ingin menjaga perasaan Risa yang menyukai Faiz dan menghindar dari Faiz yang menyukainya.


"Kenapa?" tanya Mira yang tiba-tiba datang padanya.


"Gak apa-apa," jawab Safira.


"Lagi mikirin sesuatu?" tanya Mira lagi.


"Gak kok."


"Ke kelas yuk," ajak Mira.


Safira mengangguk setuju. Ia kemudian berjalan beriringan dengan Mira. 'Semoga Risa tidak mengajak siapapun,'batinnya penuh harap.


"Eh, Aku lupa soal kak Zian. Dia kayaknya suka sama Kamu." Jelas Mira.


"Apaan sih, Mir?"

__ADS_1


"Beneran Safira. Ini buktinya. Dia ngasih cokelat ke Kamu," ucap Mira dengan memperlihatkan bingkisan cokelat untuk Safira.


"Akal-akalan Kamu aja kali," ujar Safira. Ia memang tidak mudah untuk percaya.


Safira terdiam. Ia pun kembali bingung dengan orang yang mencintainya. Safira yang masih belum bisa membuka hatinya untuk siapapun kembali bimbang dengan apa yang ia hadapi.


"Kamu gak suka sama dia?"


"Gak tahu deh, Mira,"ucap Safira.


Mira hanya tersenyum simpul pada temannya itu. Ia tahu gadis itu dekat dengan beberapa mahasiswa dengan masuk organisasi juga. Namun, ia melihat gadis itu cuek pada orang-orang yang mencari perhatian padanya.


Usai materi selesai. Safira dan ketiga temannya pun keluar dari kelasnya.


"Hai!" sapa Zian.


"Hai juga," sahut Safira.


"Aku suka ngirim pesan sama nelpon kok gak ada tanggapan?" tanya Zian.


"Nomor yang mana?"


Zian mengerutkan kening. Itu nomor Zian dan ada dua nomor yang tidak dikenal di ponselnya setelah nomor Risa diberi nama. Safira bergegas memberi nama nomor kontak itu.


"Aduh, maaf Aku jarang mainin ponsel,"


"I-iya," jawab Safira gugup.


"Cokelat dari Mira?"


"Udah ada kok, Kak Zian. Makasih ya buat cokelatnya!" ucap Safira.


Zian mengucap terimakasih kembali. Senyumnya mengembang, karena senang cokelat yang ia beri pada Safira diterima oleh gadis itu. Safira menunduk, pipinya memerah kerena tersipu.


"Kamu udah punya pacar, Safira?" tanya Zian dengan lembut.


"Hemmm, belum kepikiran." Jawab Safira. Padahal, dipikirannya ada orang yang selama ini belum ia lupakan.


"Oh begitu. Aku antar ya! Sambil Aku traktir makan!" ajak Zian.


"Tapi...," Safira mencoba menolak.


"Ayolah! Hari ini Aku ulang tahun," bujuk Zian.


Safira mengangguk. Ia mengikuti Zian di belakangnya. Pemuda itu pun langsung membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Safira untuk masuk. Kemudian, ia pun menuju tempat duduk di belakang kemudi.

__ADS_1


"Kamu gak nyaman ya?" tanya Zian.


"Bukan gitu, Kak."


"Kita gak berdua kok. Mira dan temanku juga mau ke tempat yang mau kita datangi,"


Gadis itu mengangguk. Ia lega jika mereka tidak hanya berdua.


Di sebuah Kafe modern. Safira dan Zian pun menuju meja dimana dua orang tengah menunggu mereka.


"Serasi," celoteh Mira.


"Ish, apaan sih?" ketus Safira. Ia kembali tersipu saat Zian tersenyum dan melihat ke arahnya.


Acara kecil itu membuat Zian semakin menyukai gadis itu. Ia tidak menyangka Safira sangat asik diajak bicara.


-----


Kedekatan Safira dan Zian berlangsung di kampus juga. Hal itu membuat seseorang menatap dengan cemburu keduanya. Matanya menatap tajam dengan penuh benci pada kedekatan mereka.


"Hai!" sapa Zian pada Safira.


"Jugq, Kak."


"Sibuk tugas ya?" tanya Zian.


"Iya nih, Kak." Jawab Safira.


Zian menawarkan diri untuk membantu. Safira yang enggan, tapi kemudian menyerah dan menerima penawaran orang yang kini menjadi temannya.


Safira begitu serius memperhatikan apa yang Zian ucapkan padanya. Membuat jarak antara mereka cukuplah dekat.


"Zian. Kita harus ke kelas," ujar salah seorang mahasiswi yang begitu cantik dan putih. Gadis itu seperti keturunan Tionghoa.


Saat Safira hendak menyalaminya, gadis bernama Natalie itu malah tidak menggubrisnya dan menatapnya sinis. Kemudian ia pun pergi tanpa menunggu Zian.


Selang beberapa menit. Zian pun pamit pada Safira. Wajahnya tampak masam karena berpisah dengan Safira. Ia sudah sangat nyaman berada dekat dengan gadis itu. Ia hanya berharap Safira juga merasakan hal yang sama padanya.


"Siapa gadis itu?" tanya Natalie pada Zian.


"Bukan urusan Kamu," ucap Zian ketus.


Natalie tampak mengerucutkan bibirnya. Ia sangat kesal pada Zian yang tidak peka terhadap perasaannya.


"Kau sangat dekat dengannya. Apa dia pacarmu?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Apa maumu? Itu urusanku," ujar Zian ketus.


Ya, gadis itu cemburu pada Safira yang dekat dengan Zian. Sementara itu, selama hampir dua tahun ia mencoba mendekatinya. Zian malah selalu mengabaikannya. Ia tidak suka jika ada orang lain ada di dekat Zian. Pernah suatu waktu ada gadis yang dekat dengan pemuda itu. Natalie dengan mudahnya mengancam gadis itu dan membuat gadis itu menghindar walau masih berada dalam satu kampus. Hal itu diketahui oleh Zian dan membuat pemuda itu tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Natalie. Bisa dibilang gadis itu terlalu egois. Ia berpikir, jika ia tidak bisa dekat dengan Zian orang lain pun tidak akan ada yang bisa dekat dengan pemuda tampan itu.


__ADS_2