
*****
Naufal tengah membereskan buku-buku di meja melihat sebuah kartu mahasiswa istrinya. Ia pun melihat tanggal lahir Safira yang berarti tiga hari lagi dari sekarang. Sejenak ia juga ingin melupakan masalah di kampus dan memilih untuk memberi kejutan pada Safira.
"Kenapa manggil Gue?" tanya seseorang bernama Revano yang merupakan temannya itu.
"Lo tanyain ke Mira dong soal kejutan ulang tahun harus gimana?" tanya Naufal pada Revano.
"Lah, Lo tinggal ngasih kejutan. 'kan Lo pinter ngasih kejutan ke Gue. Tiba-tiba udah nikah Gue gak dikasih tahu," celoteh Revano.
"Ish, malah bikin pidato Lo. Cepetan hubungin pacar Lo! Waktu mepet,"
"Gini nih yang gak pernah pacaran. Gak tahu masalah bahagiain cewek. Di internet banyak juga," cerocos Revano yang akhirnya melakukan panggilan juga dengan kekasihnya.
Dari pertemuan itu. Naufal berusaha menghubungi orang tua Safira dan orangtuanya juga. Ia ingin membuat Safira senang. Mira dan yang lainnya pun ikut membantu dan ide. Sementara yang diambil oleh Naufal adalah ide dari Mira dan Michelle Walau Mira masih sebal dengan mereka yang menyembunyikan kebenaran pernikahan. Ia pun dengan senang hati membantu untuk membuat hubungan mereka semakin erat. Ia juga tahu masalah fitnah itu pun belum selesai, karena saat di kampus orang-orang masih membicarakannya. Jadi, Mira akan membuat pasangan itu melupakan masalah mereka.
*****
"Kenapa Mas bela-belain gini sih?" tanya Safira.
"Lah, bukannya senang malah gitu."
"Ya deh,"
"Demi Kamu apa sih yang enggak," ucap Naufal.
"Gak mempan digombalin," ketus Safira.
Dengan perlahan pria itu pun menghampiri Safira dan membuat istrinya pun mundur. Manik mata mereka beradu dan jantung mereka berdebar dengan cepatnya.
"Emm, Aku pengen makan," ucap Safira yang sebenarnya kikuk dengan tingkah Naufal.
"Aku makan Kamu aja dulu," goda Naufal.
"Eh,"
Safira dan Naufal hanyut dalam kehangatan di tengah dinginnya malam.
Pagi yang cerah. Naufal tampak sedang memasak makanan. Ia merasa bersalah karena telah membuat istrinya kelaparan saat malam.
"Kak," suara manja Safira terdengar. Ia pun memeluk Naufal dari belakang membuat prianya itu menghentikan gerakan.
"Apa Sayang?"
"Aku kira kemana."
"Ish, gak bakal kemana-mana lah. Kita bisa pulang pas ada yang jemput itu juga kalau ada yang inget," celoteh Naufal.
"Apa?" Safira terkejut.
"Disini sinyal jelek."
"Kak Naufal gimana sih. Kita kejebak disini dong," ujar Safira kesal.
"Ya setidaknya kita bisa berbulan madu disini," tutur Naufal. Ia pun terkekeh.
"Ya, Fira tahu. Ini rencana kalian semua 'kan?" terka Safira. Pria itu pun terkekeh.
"Pada nyebelin amat sih,"
"Mama Kamu sama ibuku 'kan mau kita emmm,"
"Gak dulu ih," tolak Safira.
"Gak dulu apa?" tanya Naufal mengernyitkan kening.
__ADS_1
"Aku gak mau punya anak dulu,"
"Aku tahu kok. Nanti Aku jelasin lagi ke orang tua kita," tutur Naufal dengan lembut.
Naufal kembali memeluk sang istri dengan mesra. Sebenarnya, Naufal pun belum siap untuk hal itu. Ditambah Safira belum lama menerimanya sebagai suami.
------
Deru mobil terdengar dari luar. Benar saja Michelle dan yang lainnya menjemput mereka.
''Kalian sengaja bikin kita lama disini," cecar Safira yang malah membuat mereka tertawa.
"Ya elah. Disini juga sama suami Kamu 'kan anget," goda Mira.
"Cepet ke penghulu tuh! Biar gak ngiri terus," celoteh Safira.
"Ya udah! Mau pulang atau masih mau disini?" tanya Mira.
"Pulang," tukas Safira.
Safira dan Naufal bersiap kemudian masuk ke dalam mobil Michelle. Dua gadis itu terus menggoda pasangan yang berada di belakang mereka. Wajah Safira memerah dan Naufal pun kikuk. Mungkin ia merasa menyesal juga sudah melibatkan mereka untuk urusan hubungannya dengan Safira.
"Duh yang sengaja tinggal di tempat yang gak bisa diganggu," goda Mira.
"Apaan sih?"
"Gak apa-apa, tapi kalian juga harus klarifikasi hubungan kalian di kampus. Dengan kalian ngilang gini orang-orang pasti nyangkana Safira beneran salah," tutur Mira.
"Aku sudah urus dan tahu siapa yang memfitnah Safira." Jelas Naufal yang membuat ketiganya terkejut.
"Serius?" tanya Michelle.
"Ya. Tenang saja! Safira istriku. Aku tidak akan membuat namanya tercoreng gara-gara orang itu," tutur Naufal.
Di kampus.
Safira dan Naufal menuju ruangan dimana ada seorang gadis yang sedang duduk disana dengan gelisah.
"Bagus jika Kau datang kesini," ucap Naufal.
"A-aku,"
"Cepat jelaskan pada istriku!" titah Naufal.
"Kamu," pekik Safira. "Kamu anak teknik informatika 'kan? Ngapain disini?" cecar Safira.
"Dia yang nyebar tentang kita," jawab Naufal.
"Apa?" pekik Safira.
"Aku gak punya urusan sama Kamu, bahkan gak punya masalah sama Kamu. Ngapain Kamu nyebar rumor gitu?" Cecar Safira.
"A-aku minta maaf!" ucap gadis bernama Talita itu. "Aku disuruh," akunya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Safira.
"Kak Lia,"
"Mau-maunya Kamu kayak gitu," pekik Safira.
"Maaf Fira. Aku punya hutang padanya,"
"Bukan kayak gitu juga kali. Mau Aku seret Kamu ke pihak berwajib?"
__ADS_1
"Ja-jangan Fira! Aku mohon! Aku terpaksa,"
"Perbaiki kesalahanmu! Jika tidak, Aku akan menyeretmu dan Lia,"ucap Safira dengan penekanan.
Safira dan Naufal berlalu pergi meninggalkan gadis yang kini terdiam. Gadis itu merasa tak karuan, tapi ia tidak ingin masuk jeruji besi juga.
"Kok cemberut gitu?" tanya Naufal.
"Ish, siapa yang cemberut?"bketus Safira.
"Lah, bibirnya cemberut gitu. Masa disebut lagi senyum?"
"Ngapain coba gak bilang-bilang soal yang tadi?" ketus Safira.
"Kan udah, Sayang. Lagian itu tugas Aku yang jadi suamimu," ucap Naufal dengan senyuman.
"Gak mempan senyumnya,"brajuk Safira yang kemudian pergi begitu saja.
Naufal menggaruk tengkuk tak gatal. Baru saja Safira bersikap manis sekarang kembali seperti semula.
'Harus punya banyak stok sabar kalau kayak gini,' pikir Naufal.
Sesaat setelah Safira pergi dari hadapan Naufal. Lia terlihat berjalan beberapa meter dan melewati Naufal dengan menunduk.
"Meski Kau seperti itu. Kita sekelas dasar konyol," gerutu Naufal.
Di dalam kelas. Lia yang semula selalu mengganggu dan mencari muka sekarang lebih banyak diam dan menjaga jarak dari Naufal. Pria itu hanya memasang wajah datar dengan sikap Lia yang takut padanya.
******
Naufal yang mendapat informasi dari seseorang pun mencoba mengikuti orang yang selama ini dicurigai oleh seorang informan. Di sebuah tempat terpencil di kampus. Gadis yang telah diketahui pemilik akun gosip kampus itu pun telah menunggu seseorang disana.
"Ayolah! Aku gak mau kayak gini Kak Lia. Bikin gak tenang,"
"Lo bilang gak tenang. Uang yang Gue kasih ke Lo harus Lo ganti lima kali lipat,"
"Jangan Kak! Aku udah kasih uang itu buat bayar hutang orangtuaku,"
"Nah, Lo nyadar gak bakal bisa ganti uang Gue yang gede itu. Ah, atau Gue ambil aja di orang yang mau nikahin Lo kalau Lo gak ganti uang itu,"
"Jangan Kak!"
"Nah, nurut jadi orang! Jangan banyak ulah!"
Prok, prok ,prok.
Sebuah tepuk tangan terdengar membuat mereka terkejut, terlebih orang yang memiliki akun itu.
"Kamu manfaatin keadaan Talita buat bikin onar ya,"cecar Naufal.
"Naufal, Aku...,"
"Buktinya udah Aku kirim ke seseorang dan tinggal sebar." Jelas Naufal.
"Ja-jangan Naufal! Aku ngaku salah,"ucap Lia pada Naufal.
"Bersihkan nama baik istriku! Kalian harus mengaku salah juga pada rektor dan dosen!" titah Naufal.
"Jadi,"
"Ya kita suami istri yang sah secara agama dan hukum negara. Jika Kau masih membuat onar dengan mengusik istriku. Siap-siap saja! Kau bisa masuk jeruji besi atas pencemaran nama baik." Jelas Naufal.
Lia dan Talita menunduk malu. Naufal berlalu pergi dan tidak memperdulikan keduanya. Yang ia inginkan adalah nama baik istrinya yang tercoreng karena yang dilakukan oleh keduanya.
******
__ADS_1