Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 15


__ADS_3

Dalam kesendirian. Kini Safira mulai terbiasa untuk tidak terlalu intens bertemu dengan Zian. Ia sadar hubungan mereka telah berakhir. Ia pun mulai menjaga jarak dengan mantan pacarnya itu.


"Fira," panggil Naufal pada gadis yang sebenarnya membuat hatinya begitu senang, tapi sedih karena rindu yang harus terpendam begitu saja. Ia tidak tahu apakah Safira akan menerimanya.


"Eh. Kok ada disini?" tanya Safira gugup. Ia bahkan sudah hampir tidak bertemu dengannya setelah ia sering bersama Zian.


"Saya lihat Kamu sendirian," jawab Naufal.


"Oh. Maaf Fira pergi dulu. Ada urusan," ujar Safira memberi alasan. Padahal, ia sama sekali tidak punya urusan dengan siapapun.


"Safira," panggil Naufal. Gadis itu menghentikan langkahnya seketika.


"Menikahlah denganku!" ucap Naufal dengan lantang. Safira membalik tubuhnya hingga ia bisa menatap pria itu meski berjarak. Ia menatap tidak percaya dengan apa yang Naufal katakan.


"Aku sedang tidak mau bercanda," tukas Safira.


"Saya serius," ucap Naufal bersungguh-sungguh. Hal itu tidak bisa membuat Safira langsung percaya.


Safira memalingkan wajahnya kemudian pergi begitu saja. Naufal hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ada beberapa pasang mata melihat keduanya.


"Ish, malah jadi bahan gosip lagi nih Gue," gerutu Safira.


Benar saja. Dengan cepat gosip tentang Safira yang diajak nikah itu pun tersebar meski belum satu jam. Ia merutuki orang-orang yang sudah membicarakannya. Saat masuk ke dalam kelasnya, Michelle dan Mira menatap penuh tanya.


"Ngapain liatin kayak gitu?" tanya Safira.


"Kamu mau nikah?" tanya Mira.


"Hey, hey. Kalian tahu sendiri Aku masih ngerasain patah hati. Ini malah bikin hoax segala," protes Safira.


"Lah, banyak yang lihat Kamu,"


"Aku gak ngomong apa-apa. Langsung pergi." Jelas Safira.


"Tapi yang namanya Naufal itu cakep juga. Apalagi kuliah lagi gitu kayaknya mau jadi Dosen ya,"


"Mana Aku tahu. Dia mau jadi apa kek terserah," ketus Safira.


Gadis itu pun heran. Karena, saat pertama kali bertemu Naufal bilang bekerja juga. Akan tetapi, Naufal malah sering ada di kampus



Semilir angin membuat gadis patah hati merasa terbuai olehnya. Safira mendengarkan musik dan memasang earphone di telinganya. Semenjak dari hari itu, Safira merasa risih dengan ucapan teman-temannya dan dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak berniat menikah saat ini. Kemudian, gosip itu pun berhenti begitu saja. Namun, waktu yang tidak berhenti dan berada di tempat yang sama membuatnya masih sering bertemu dengan Naufal ataupun Zian. Dua orang yang pernah membuatnya patah hati. Dua orang yang pernah memberi harapan yang indah.



Disaat ia tengah menikmati alunan musik dan lagu yang di dengarnya. Manik matanya menangkap sosok yang baru satu bulan ini hengkang dari dalam hatinya.


"Dia dengan mudah melupakanku," gumam Safira saat melihat Natalie tampak lengket dengan mantannya itu.


Safira menundukkan kepala tanpa ia tahu orang yang dimaksud menatap Safira. Ia memang belum sepenuhnya melupakan Safira dan cintanya pada gadis itu.

__ADS_1


"Fira," panggil Naufal.


Gadis itu menoleh pada sumber suara. Ia terkejut dengan adanya Naufal.


"Gak usah kayak gitu kali! Saya bukan hantu," ujar Naufal.


"Ya gimana gak kaget coba. Datang tiba-tiba dari belakang. Untung gak copot ni jantung," protes Safira.


"Kalau jantung Kamu copot. Saya siap jadi gantinya,"


"Lebay ah,"


Naufal tersenyum. Ia menatap lekat gadis yang selalu dihatinya itu.


"Saya kangen Kamu," ucapnya lirih.


"Bukannya ada cewek lain di Bandung. Ngapain bilang kangen ke Aku? Udah mau nikah juga malah pecicilan," cecar Safira. Jantungnya berdegup kencang, membuat ia hampir salah tingkah.


"Saya tidak tunangan. Saya hanya ingin menikah denganmu,"


"Maaf! Emm, Kak Naufal. Saya tidak bisa percaya. Permisi!" ucap Safira.


Saat ini yang dirasakan Safira seperti permen nano-nano yang tidak jelas rasanya. Ia tidak tahu harus mengaku sedih, marah atau senang. Safira bergegas pergi meninggalkan Naufal yang mematung.


"Kamu kenapa, Fira? Muka kayak udang rebus," tanya Mira.


"Kayaknya lagi jatuh cinta deh, Mir." terka Michelle.


"Sok tahu," ucap Safira ketus.


"Terserah deh, ah."


Dalam hati. Ia masih tidak mengerti dengan rasa yang mungkin kembali muncul setelah tenggelam oleh luka dan kekecewaan. Namun, hatinya ragu untuk kembali percaya dengan ucapan Naufal.



------


Hari ini Safira memilih berjalan-jalan di alun-alun kota. Sebenarnya, gadis itu menunggu Mira dan Michelle yang ingin sekedar jalan-jalan disana. Akan tetapi, kedua gadis itu belum juga datang.


"Safira,"panggil suara yang tak lain adalah Naufal.


"Kenapa Kak Naufal ada disini?"tanya Safira.


"Hemm, Aku merasa senang saat Kau memanggilku seperti itu,"ucap Naufal dengan senyuman.


"Mau dipanggil Pak lagi?"tanya Safira dengan ketusnya.


"Ish, galaknya."


"Udah tahu galak. Kenapa masih ngikut aja kayak bayangan?"omel gadis itu.

__ADS_1


"Aku mau kok jadi bayangan Kamu. Asal Kamu selalu ada bersamaku,"tutur Naufal yang masih dengan senyuman.


Deg, perasaan Safira kembali tidak karuan.


"Jangan asal ngomong, ya! Aku bukan cewek yang mudah percaya dengan bujuk rayu cowok,"celoteh Safira.


Safira mengerucutkan bibirnya. Ia pun kesal karena yang ditunggu entah masih dimana.


"Kamu lapar?"tanya Naufal saat mendengar bunyi dari perut Safira.


"Hemm,"


"Sejak kapan Kamu disini?"tanya Naufal.


"Dari dua jam yang lalu,"jawab Safira kesal.


"Kita makan ya,"ajak Naufal.


Safira mengangguk setuju. Ia merasa canggung saat mengikuti langkah Naufal.


"Dulu kita guru dan murid. Sekarang kita sama-sama kuliah di tempat yang sama,"tutur Naufal mengawali percakapan.


"Hemmm,"


"Kamu gak kangen Bandung, Fira?"tanya Naufal.


"Tidak,"


"Padahal disana ada orangtuamu juga sahabatmu,"


"Aku ingin lebih fokus disini. Kuliah dua tahun lagi itu cukup membuatku harus fokus,"


"Apa karena patah hati yang di sebabkan mantanmu itu? Kau jadi lebih memilih fokus belajar,"


"Tidak. Aku sudah terbiasa dengan belajar yang ekstra dari semenjak sekolah,"tutur Safira.


"Mengapa Kau pergi ke tempat ini dan tidak ada kabar sama sekali, Safira?"tanya Naufal.


"Aku hanya mencoba untuk menjaga jarak dari orang-orang yang menyukaiku,"jawab Safira.


"Termasuk Aku,"ucap Naufal yang tidak lagi formal.


"Tidak,"


"Kau menjauh dariku, Safira. Itu karena Raisa yang terus mengganggumu. Kau membuatku...,"ucapan Naufal terjeda.


"Kita bukan siapa-siapa. Untuk apa mengatakan hal itu padaku,"Safira menyela.


"Aku hanya menunggu sampai Aku bisa layak untukmu,"ucap Naufal membuat Safira membulatkan kedua manik matanya. Ia menatap Naufal tidak percaya.


"Aku tidak paham,"tukas Safira.

__ADS_1


"Aku ingin menikahimu. Tapi itu hal yang terlalu dini terlebih Kau masih sekolah dan Aku masih tidak punya apa-apa, Safira."Jelas Naufal.


Safira membisu. Ia memilih untuk fokus pada makanan yang sedari tadi sering terjeda untuk disantap karena percakapan keduanya. Naufal menatap penuh harap pada gadis yang ia sukai itu. Ia tidak ingin lagi terus menghindar dan membuat Safira menjadi milik orang lain lagi. Hatinya begitu sakit saat tahu Safira dengan Zian dulu. Sekarang ia tidak ingin menyerah begitu saja untuk mendekati Safira.


__ADS_2