
Dengan beredarnya gosip itu. Safira semakin menghindar dari Naufal.
"Ris, Gue mau ngumpet," ucap Safira terburu-buru. Ia mencari tempat aman di perpustakaan saat melihat Naufal masuk ke sana.
"Lo ngapain ngumpet segala?" tanya Risa heran.
"Itu," tunjuk Safira. Risa menahan tawa karenanya.
"Lah, kemarin-kemarin cuek aja. Kok sekarang malah main petak umpet,"
"Ish, gara-gara gosip itu. Tiap Gue deket sama pak Naufal, Gue disangka lagi pacaran. Gak mau lah," celoteh Safira dengan suara yang dipelankan.
"Hush, ngomong asal aja. Lo bilang gitu, tahu-tahu Lo malah suka sama dia," celoteh Risa.
"Berisik banget sih, Lo. Udah diem aja. Anggap Gue gak ada sekarang!"
"Emangnya Lo hantu, bisa ngilang dari mata Gue. Lo juga buka liliput yang kecil banget. Badan Segede gitu," celoteh Risa. Cubitan malah mendarat di tangan Risa, membuat ia pun menuruti perkataan Safira.
Saat dirasa Naufal keluar dari perpustakaan. Safira keluar dari bawah meja. Ia merasa pegal, karena meringkuk dibawah sana.
"Huh, nyebelin banget. Kayak sengaja ngikutin Gue," gerutu Safira.
Risa menahan senyum, karena orang yang dibicarakan berada di dekat Safira.
Naufal memang keluar, tapi hanya sampai depan dan kembali masuk. Ia tahu gadis yang dicarinya dari tadi ada di perpustakaan. Bahkan, ia juga tahu gadis itu bersembunyi di bawah meja.
"Siapa yang nyebelin?" tanya Naufal. Saat ia duduk tepat di samping gadis yang disukainya itu.
"Au," rintihnya. Saking terkejutnya ia malah membuat lututnya berbenturan dengan meja.
"Tadi kenapa ngumpet?" tanya Naufal.
"Ish, Aku gak ngumpet. Cuman pengen duduk di bawah," kilah Safira.
"Memangnya Saya anak kecil. Menggerutu segala. Kamu ngomongin Saya?" cecar Naufal.
"Ish, udah sana Pak Naufalnya. Aku males ya terus-terusan jadi bahan gosip. Mending kalau jadi artis," celetuk Safira. Ia menutupi rasa gugupnya, karena baru saja menggerutu tentang gurunya itu.
"Saya nyari Kamu dari tadi. Saya ada perlu sama papa Kamu. Bisa pulang bareng Saya?" tanya Naufal.
"Pak Naufal mau laporan sama papa?" tanya Safira nampak gelisah. Padahal, selama ini ia tidak terlalu berbuat onar. Kenapa juga harus gelisah?
"Laporan apa? Saya mau mencoba tawaran pak Andra mengenai pekerjaan. Saya tidak bisa fokus menjadi honorer jika ingin kuliah lagi." Jelas Naufal.
"Oh, baiklah." Jawab Safira pasrah. Ia memang mendengar pembicaraan Andra dan Naufal setelah sampai di rumah.
Saat itu Safira pikir, Naufal akan langsung pulang. Namun, dugaannya salah. Pria itu tampak akrab dengan sang ayah.
Pria itu pun tersenyum dan pamit pada Safira. Risa menatap penuh tanya pada temannya itu.
"Sejauh mana Lo sama dia sampai dia udah kenal orangtua Lo?" tanya Risa ingin tahu.
"Dia kan yang jadi supir dadakan pas bokap Gue pulang dari Rumah sakit," jawab Safira.
__ADS_1
"Oh, kirain,"
"Gue ngenalin dia ke bokap Gue kalau dia bukan siapa-siapa Gue, Ris." Jelas Safira.
"Okelah. Ya udah! Balik ke kelas sekarang," ujar Risa.
Gadis itu berharap Safira dengan Naufal. Ya, seperti yang sudah diketahui kalau Risa menyukai Faiz. Sehingga, ia berusaha membuat Safira dengan orang lain dan membuat Faiz semakin menjauh dari temannya itu.
Hari minggu. Saat ini Safira tampak lebih santai. Ia tidak lagi merasa tertekan dengan keadaan. Saat ini, ia hendak mengambil botol minum yang selalu dibawanya ke sekolah. Ia menemukan surat terselip disana. Surat yang tidak ia ketahui siapa penulisnya.
From: Penggemarmu.
To: Safira
Biarkan aku tetap menjadi pengagum rahasia. Yang selalu mengagumimu lewat semua tentangmu.
Safira menyimpan surat itu. Tulisan yang berbeda itu bukanlah tulisan dalam surat yang ia simpan. Namun, saat ia hendak pergi. Ia melihat kertas merah yang terselip di buku yang ia bawa hari rabu yang lalu.
"Lah, kok Aku gak tahu ada surat?"
Safira bergegas mengambil benda tadi. Dengan senang, ia membaca tulisan yang sama seperti sebelumnya.
From: ...
To: Safira Tania Putri
Kau tahu aliran listrik. Aliran listrik itu statis dan dinamis. Sementara itu, cinta yang ku rasakan padamu seperti aliran listrik dinamis yang terus mengalir padamu.
"Gimana caranya supaya bisa tahu orangnya,"
Safira berpikir keras. Namun, ia pun menyerah. Mungkin saja suatu saat ia akan melihat siapa pemilik kedua surat dengan tulisan berbeda itu.
Semester dua. Semua murid kelas dua belas tampak sibuk termasuk Safira. Gadis itu tampak begitu serius dengan belajar. Walau ia tidak jadi dikirim ke Luar Negeri, bukan berarti ia lalai dan tidak lagi belajar.
"Safira!" seru Naufal.
"Ya,"
"Ini tugas buat nanti jadwal Saya," ujar Naufal.
"Kenapa gak Pak Naufal aja?" tanya Safira.
"Saya ada kepentingan hari ini," jawab Naufal.
"Baiklah,"
Safira menerima buku Naufal. Tanpa sengaja ia pun melihat catatan kecil yang terjatuh.
"Pak," teriak Safira. Namun, pria itu berlalu pergi.
Gadis itu pun mengamankan buku di saku rok miliknya. Ia kemudian berjalan ke kelasnya sebelum terlambat.
__ADS_1
Di dalam kamar yang temaram. Hanya lampu untuk belajar yang ia nyalakan. Safira yang penasaran dengan buku itu pun membuka buku. Meski ia rasa terlalu lancang, tapi ia tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya saat ini.
"Ini tidak mungkin," gumam Safira saat melihat isi itu.
Gadis itu pun menyimpan buku kecil itu di tasnya. Bayangannya kembali pada saat-saat yang membuat jantungnya berdebar begitu kencangnya.
Keesokan harinya, Safira mencari si pemilik buku. Ia tidak menemukan pria sama sekali. Ia berpikir, mungkin saja tidak ada jadwal untuk Naufal hari ini.
Dengan pikiran yang tidak menentu. Safira berusaha untuk fokus belajar. Sampai jam belajar di sekolah usai. Ia memilih langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada Risa yang merupakan temannya itu.
Hal yang tidak disangka. Safira menemukan Naufal yang berada di sebuah toko. Ia menghampiri gurunya itu dengan tergesa-gesa.
"Pak Naufal," panggilnya. Membuat orang yang dipanggil olehnya terkejut.
"Safira,"
"Boleh bicara sebentar di sekitar sini?" tanya Safira.
"Baiklah," jawab Naufal setuju.
Naufal membayar belanjaannya. Ia mengikuti Safira yang melajukan motornya dengan pelan. Safira menghentikan kendaraannya. Ia duduk dan menghela napas panjang.
"Ada apa, Fira?" tanya Naufal.
"Ini," katanya. Ia menyerahkan catatan kecil milik Naufal.
"Safira,"
"Mengapa Anda melakukan itu?" tanya Safira.
"Sa-saya...,"
"Saya tidak menyangka saja. Pak Naufal membuat dua surat dengan tulisan berbeda,"
"Saya cuma...,"
"Cuma apa?"
"Saya suka Kamu, Safira." Ungkap Naufal.
Safira menatap pria itu. Ia teramat terkejut dengan yang dikatakan Naufal.
"Hemm,"
"Maaf!"ucap Naufal.
"Baiklah. Hanya saja, jangan menulis surat itu lagi?"
"Safira,"
"Terimakasih atas waktunya! Permisi!"ucap Safira menyela.
Gadis itu kembali melajukan motornya. Kini, ia berada dalam rasa yang tidak karuan karena ungkapan Naufal. Namun, ia juga tidak bisa begitu saja mempercayai seseorang.
__ADS_1