
Liburan akhir tahun. Safira memilih untuk berlibur di Bandung. Gadis itu memang sudah lama meninggalkan tempat kelahirannya itu. Saat ia menunggu bis di salah satu terminal di Yogyakarta. Sebuah suara yang dikenal pun terdengar di netranya.
"Kamu mau kemana, Fira?" tanya pria itu.
"Ke Bandung,"
"Bareng ya," ujar Naufal.
Gadis itu hanya mengangguk saja tanpa bicara.
Safira dan Naufal akhirnya bersama dalam satu bis.
"Fira. Aku selalu menghubungimu tapi tidak ada tanggapan," ujar Naufal yang mulai jujur.
"Nomor yang mana?" tanya Safira heran.
"Yang pernah nelpon Kamu, tapi Aku gak berani ngomong. Terus selalu ngirim pesan kata-kata,"
"Hemm,"
"Aku tahu Kau tak akan suka jika Kau tahu itu adalah Aku. Apalagi Kau mencintai Zian," tutur Naufal.
"Aku sudah lama berpisah dengannya dan ia sudah punya wanita lain. Kenapa Kak Naufal membahasnya lagi?" ketus Safira.
"Aku...," ucapan Naufal terjeda. Ia tidak mungkin terus bicara saat dalam perjalanan. Dimana banyak orang yang berada di bis itu.
Perjalanan panjang membuat Safira mengantuk dan ia pun terlelap. Naufal membiarkan gadis itu bersandar di bahunya agar tak jatuh. Jantungnya berpacu dengan cepatnya. Untuk pertama kalinya Naufal sangatlah dekat dengan Safira. Ia pun tersenyum dan sama-sama terlelap.
------
Sesampai di kota Bandung. Naufal pun meminta Safira tetap ikut dengannya mengendarai taksi online menuju rumah mereka. Sembari mereka menunggu, Naufal pun memberi satu botol minuman untuk gadis kesayangannya itu.
"Minumlah!"
"Aku gak haus,"
"Ish, Kau ini. Aku gak ngasih racun tahu. Nih, masih disegel," celoteh Naufal.
Gadis itu tersenyum dan menerima air minum dari Naufal.
"Kau tahu. Aku selalu mencarimu sebelum Aku tahu kemana Kau pergi." Ungkap Naufal.
"Ngarang cerita nih,"
"Aku gak ngarang, Safira. Tanyain aja ke papa Kamu!"
"Papa?" Safira mengernyitkan kening.
"Iya. Papa Kamu yang ngasih biaya supaya Aku kuliah lagi." Jelas Naufal.
"Ngaco Kamu, Kak." Ucap Safira tidak percaya.
"Aku hanya berusaha untuk menebus salahku yang membiarkanmu pergi dariku," tutur Naufal.
Safira terdiam. Ia tidak mengerti ada perjanjian apa antara Naufal dan ayahnya. Karena, secara untuk kuliah itu tidaklah murah.
"Kak Naufal ada janji sama papa? Gak mungkin kayaknya kalau Kak Naufal dikasih biaya cuma-cuma. Aku kenal papa, Kak." cecar Safira.
__ADS_1
"Aku berjanji akan menjagamu dan...,"
"Dan apa?" Safira yang tidak sabar menyela.
"Aku akan menikahimu,"
"Makin ngaco, ah." Ucap Safira.
Tidak lama taksi online pun datang. Safira menunduk dan membisu. Ia tersipu dengan ungkapan Naufal. Akan tetapi, ia tidak bisa luluh begitu saja. Apalagi, dulu Naufal tampak tidak berbuat apapun setelah Safira mengetahui surat darinya itu.
Sesampai di sebuah perumahan. Safira terlebih dulu turun dan kemudian tak lama Naufal pun sampai di rumahnya.
"Nak. Kamu sudah pulang?" tanya ibu Naufal bernama Nia itu.
"Iya Bu. Bagaimana kabar Ibu?" tanya Naufal.
"Ibu baik, Nak. Dan bagaimana dengan...," ucapan wanita itu terjeda.
"Safira masih tidak mau menerimaku,"
"Ya sudah. Biar Ibu urus,"
"Maksud Ibu bagaimana?" tanya Naufal heran.
"Kamu tahunya bisa dapetin Safira aja. Kayaknya harus orang tua yang urus," tutur sang Ibu yang membuat Naufal semakin heran.
Nia memberikan senyuman. Sementara itu, Naufal lebih memilih menyerah untuk tidak berdebat dengan ibunya.
"Kenapa, Nak?" tanya Vina-sang Mama.
"Kenapa papa biarin kak Naufal satu kampus sama Safira?" tanya Safira kesal. Ya, percakapannya dengan Naufal itu membuat Safira tidak menyangka kalau kehadiran Naufal di kampusnya itu karena papanya.
"Ya, itu keputusan papamu,"
"Ish, mulai berulah lagi deh papa," omel Safira.
"Itu buat kebaikan Kamu juga 'kan? Lagipula Naufal baik banget anaknya,"
"Baik sih baik, Ma. 'kan gak usah langsung setuju Safira punya hubungan sama kak Naufal. Apalagi sampai menikah," protes Safira.
"Oh gitu. Ya udah. Nanti Mama bicara sama papa," ujar Vina.
"Ya deh,"
"Berarti Kamu gak suka ya sama Naufal. Duh, gagal deh pengen punya mantu baik kayak dia," ujar Vina.
Gadis itu menatap heran ibunya. Padahal ibunya tahu kalau Naufal lah yang membuat ia memilih kuliah di Yogyakarta.
Dalam hening malam. Safira menatap layar ponselnya dan melihat kembali pesan dari nomor tidak bernama itu.
"Aku pikir tidak akan melihatmu kembali," gumam Safira.
Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan pun terdengar di netranya. Safira terkesiap saat nomor Naufal lah yang memberinya pesan.
[Safira. Apa Kau sudah tidur?] tanya Naufal dalam pesannya.
__ADS_1
[Belum.] balasnya untuk pertama kali pada nomor itu.
[Apa Kau marah padaku?]
[Tidak,]
[Bisakah besok kita keluar bersama. Hanya saja bukan pake mobil,] pesan Naufal.
[Baiklah,] balas Safira setuju.
Gadis itu tersenyum begitu saja. Ya, meski terus menampik rasa. Pada kenyataanya hatinya pun memang tersentuh oleh cinta Naufal saat ini.
Sementara itu di kamar Naufal. Pria itu tampak kegirangan. Ia akan berusaha untuk membuat Safira senang dan nyaman bersamanya. Untuk pertama kalinya juga, pria itu berani untuk mendekati Safira.
Semua yang terjadi sebelumnya membuat Naufal tidak ingin memberi celah pada orang lain untuk mendekati Safira. Meski terbilang egois. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu bersama yang lain. Karena rasa sakit itu pernah dirasakannya saat pada kenyataannya Safira berpacaran dengan Zian. Saat pertemuan itu pula lah momen yang membuat ia senang sekaligus sedih, karena ada orang lain yang mampu menyentuh hati gadis itu.
Keesokan harinya. Safira bersiap untuk pergi. Ia begitu sibuk memilah pakaian yang akan ia kenakan.
"Mau kemana?" tanya Vina.
"Eh lupa, Mah. Aku mau jalan-jalan keluar," jawab Safira.
"Baju-baju berantakan gitu, Nak." Ujar Vina.
"Nanti diberesin. Safira buru-buru," ucap Safira.
"Sama siapa hayoh?" tanya Vina.
"Hehe, sama kak Naufal. Udah lama gak jalan-jalan keliling kota,"
"Oke deh. Hati-hati! Semoga hemm," Vina menggoda.
"Ih, Mama. Apaan sih?" ucap Safira yang salah tingkah.
Pipi gadis itu memerah. Saat malam ia menolak untuk dekat dengan Naufal dan kini gadis itu pergi dengan Naufal.
Di taman kota. Safira dan Naufal berada di taman kota. Mereka tengah bercengkrama mengingat masa dimana mereka berada di satu tempat dengan berbeda status.
"Aku tidak menyangka akan bersamamu seperti ini. Dulu Aku tidak mengambil sikap meski dalam hati Aku begitu menyukaimu, Safira." Jelas Naufal.
"Hemm,"
"Ah, rasanya percuma saja jika Aku mengatakan ini. Jelas-jelas Kau tidak mau menerimaku," keluh Naufal.
Safira menekuk wajahnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada pria yang kini di sampingnya itu.
"Kau bahkan tidak berharap Aku ada 'kan?" Naufal menerka. Padahal, ia belum mendengar penjelasan apapun dari Safira.
"Dulu Aku gak bisa deketin Kamu karena Aku tahu diri. Aku tidak mungkin bisa mencukupi jika Aku langsung mengatakan ingin menikahimu. Hal yang tidak mungkin juga Aku melamarmu saat Kamu masih status siswi SMA. Ish, ternyata setelah Kau pergi dariku ada hati yang menemanimu di sana," ucap Naufal panjang lebar. Ia masih merasa kesal pada keadaan.
"Sudahlah. Aku tidak akan membahasnya. Kau tampak tidak suka dengan ucapanku,"
Naufal mengalihkan pada pembicaraan lain, walau pada akhirnya mereka saling membisu. Bahkan sampai Naufal memutuskan untuk mengantar gadis itu pulang.
"Masih bisakah Aku berharap padamu, Safira," ucap Naufal lirih.
Safira menatap Naufal. Ia tidak bisa mengatakan apapun pada pria dihadapannya itu.
__ADS_1