
Satu bulan sudah Naufal mengajar di SMA itu. Ia mulai merasa nyaman dengan keadaan di sana.
"Pak. Boleh Saya ikut pulang?" tanya Raisa-guru bahasa Indonesia.
"Maaf, Bu! Saya ada urusan lain setelah pulang," tolak Naufal.
Wanita lajang itu pun mengerucutkan bibirnya. Ia kecewa pada penolakan Naufal. Sementara pria itu pun pergi begitu saja dari hadapannya.
"Ish, sebel," umpat Raisa.
Di tempat parkiran. Safira tengah menyalakan kuda besinya itu.
"Hem," Naufal berdehem.
"Eh, Pak Naufal," wajah gadis itu memerah seketika.
"Baru mau pulang jam segini?" tanya Naufal.
"Iya Pak. Ada pelajaran tambahan." Jawab Safira.
"Oh, kirain pacaran."
"Ish, Pak Naufal ada-ada saja. Saya duluan ya, Pak," ujar Safira. Kemudian, ia pun melajukan kuda besi itu dan menjauh dari Naufal.
Naufal tersenyum begitu saja menatap punggung Safira yang semakin menjauh dari hadapannya.
Raisa tampak kesal melihat Naufal begitu akrab Naufal. Padahal, ia dengan susah payah membuat pria itu bisa berbicara dengannya. Naufal memang termasuk pria yang bicara seperlunya pada orang lain. Namun, bagi sahabat karibnya sosok pria itu adalah orang yang sangat asik jika diajak bicara.
Guru itu pun kembali melewati rumah milik Safira. Ia melihat Safira tengah keluar dengan celana jeans dan kaos oblong. Kemudian, gadis itu pun pergi entah kemana.
"Udah sore gini mau keluyuran," gumam Naufal menerka. Ia pun kembali melajukan motornya sebelum Safira keluar dari gerbang rumahnya.
Setelah sampai di rumah. Pria itu masih menerka-nerka perginya Safira saat ia lewat tadi. Padahal, itu adalah hal yang tidak perlu dilakukan.
"Ish, buat apa Aku memikirkannya?" gumam Naufal pada diri sendiri.
Naufal membenamkan wajahnya di bantal. Ia berharap bisa tertidur tanpa memperdulikan muridnya itu. Hingga akhirnya, ia pun tertidur.
----
Hari ini, Safira dan teman kelasnya mengikuti olahraga. Safira mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda.
"Anak-anak! Sekarang kalian lakukan pemanasan," tutur sang Guru olahraga.
Murid yang berada di depannya mengangguk. Seperti biasa, Safira yang akan memberi instruksi dan berdiri di depan teman-temannya sendiri. Faiz tampak memperhatikan gadis itu, tanpa ia sadari gadis di sampingnya memperhatikannya. Sungguh rumit memang, jika mencintai orang yang tidak peduli padanya sama sekali.
__ADS_1
Usai olahraga Safira berlari mengejar Risa yang tiba-tiba pergi begitu saja dengan rasa kesal. Ia pun melihat Risa nampak masam.
"Ada apa?" tanya Safira.
"Kenapa sih, Fira?"
"Maksudnya?" tanya Safira heran.
"Kenapa banyak yang suka sama Lo, termasuk orang yang Gue suka," cecar Risa.
"Maksud Lo siapa?" tanya Safira.
"Gue suka sama Faiz, tapi dia suka sama Lo," pekik Risa.
"Risa, Risa. Ini sekolah, gak perlu bersikap kayak gitu,"
"Lo gak ngerti, karena Lo gak pernah mencintai siapapun,"
"Hemm, Lo bener. Gue emang gak suka siapapun termasuk Faiz," ucap Safira. "Lo gak perlu kayak gitu buat dapetin orang yang Lo mau," sambungnya.
"Tapi,"
"Dengan Lo bersikap kayak gini. Lo bakal sulit buat deketin Faiz. Tenang! Gue gak suka Faiz sama sekali. Udah! Jangan ngambek gak jelas gitu!" imbuh Safira.
Memang begitu rumit menghadapi kedua orang itu. Risa menyukai Faiz sementara pemuda itu menyukai dirinya. 'Hadeuh, kapan Gue bisa tenang deh? Kalau kayak gini Gue pusing sendiri dengan sikap mereka berdua,' umpat Safira.
"Fira, Gue bareng Lo ya! Motor Gue mogok," ucap Faiz pada Safira. Sebenarnya Faiz sangat ingin bersama Safira, terlebih saat ini gadis yang disukainya itu jarang sekali mengajaknya bicara. Ia pun ingin mencoba meminta maaf pada Safira yang pasti marah padanya. Membuat gadis yang diajak bicara pun menoleh pada gadis yang masih duduk di bangku.
"Eh, Risa. Lo bukanya mau ke toko buku dulu ya. Lo 'kan searah sama Faiz," ucap Safira.
"Eh iya, Aku mau ke sana." Jawab Risa.
"Lo bareng Risa ya!" pinta Safira.
"Hemm, oke deh." Jawab Faiz pasrah.
Dengan tergesa-gesa Safira pun keluar dari kelas. Sementara itu, Faiz pasrah untuk pulang bersama Risa.
Dari jauh Safira melihat Faiz menyetir motor sahabatnya itu. 'Semoga Faiz bisa nyaman sama Risa," ucapnya dalam hati.
Safira melajukan motornya dengan santai. Ia mulai merasa lega dengan sikap Risa yang membuatnya kebingungan usai olahraga tadi.
Malam begitu hening. Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan terdengar.
__ADS_1
"Hah, kenapa ada grup segala?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia terkejut melihat pesan grup. Padahal, ia tidak pernah masuk dalam grup apapun.
"Grup Fisika kelas duabelas ipa satu," gumam Safira membaca tulisan pada info grup.
"Ngapain juga kayak gini?" tanyanya pada diri sendiri.
Safira yang penasaran pun menghubungi Risa.
[Siapa yang masukin Aku ke grup ini sih?] tanya Safira.
[Kalau Aku sih, Hildan.] jawab Risa.
[Udah tahu Gue gak suka ginian,]
[Sabar! Kita udah kelas tiga SMA.]
[Gue males sama yang namanya telepon atau pesan dari sana-sini,]
[Tinggal abaikan aja! Jangan ambil pusing!] balas Risa.
Safira yang menyerah pun akhirnya tidak peduli. Jika ia keluar dari grup pesan, itu malah jadi pembicaraan para siswa dan siswi. Gadis itu memang jarang masuk ke dalam grup pesan. Ia malas jika ada teman-teman yang secara pribadi ingin mengenalnya.
"Kenapa?" tanya sang Mama yang masuk ke dalam kamar putrinya itu.
"Pusing Ma," jawab Safira.
"Sama pelajaran?"
"Bukan,"
"Kamu bandel lagi di sekolah,"
"Bukan. Safira udah insaf,"
"Oh iya, ya. Kamu udah insaf. Udah lama Mama gak denger Kamu dipanggil ke ruang BK, hehe," ledek Sania pada putrinya.
"Ish, Mama. Bukannya bagus ya kalau Fira udah makin baik. Mama malah ngeledek,"
"Terus kenapa dong, Sayang?" tanya Sania lagi.
"Teman cowok Fira bikin teman-teman cewek Safira pada kesal ke Fira, karena mereka suka sama Fira," keluh Safira.
"Udah ya! Sekarang Kamu tidur."
__ADS_1
Tidak adanya tanggapan dari sang Mama membuat Safira mengerucutkan bibirnya. Ia pun bergegas untuk mencoba tidur dan mengganti mode nada deringnya sebelum beberapa orang mengganggu tidurnya dengan kiriman pesan grup itu. Menjadi primadona di sekolah, membuatnya pusing kepala. Padahal, sebelumnya ia terkenal badung dan selalu dipanggil ke ruang BK karena masalah. Gadis itu pun terkenal tomboy. Namun, gadis itu memang selalu peduli pada orang yang lebih membutuhkannya. Bisa dibilang, gadis itu punya sisi baik dan buruk. Ya, karena tidak ada manusia yang sempurna. Di setiap ada kebaikan, pasti ada kebalikannya.
Safira memang suka bolos dalam beberapa mata pelajaran. Namun, hal itu membuat pihak sekolah merasa bingung. Karena ia adalah gadis yang selalu mengharumkan nama baik sekolah lewat prestasinya. Safira juga memiliki batasan untuk bergaul. Memang benar bukan? Jangan menilai orang hanya dalam satu sisi saja, karena gadis itu masih menjunjung tinggi norma yang berlaku. Bahkan, saat ini ia pun memilih untuk berubah dan lebih fokus pada pelajaran. Meskipun, banyak orang menanyakan tentang ia yang tidak lagi nongkrong di kantin dengan mereka disaat bolos belajar.