
Matahari menyapa pagi dua insan yang kini berada dalam hangatnya dekapan. Safira berusaha menepis rasa. Ia hanya berharap itu hanya pemikirannya saja dan bukan hal yang nyata.
"Sesungguhnya wanita sanggup menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun tidak sanggup menyembunyikan cemburu walau hanya sesaat." Ali bin Abi Thalib
Memang benar wanita tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu. Begitu juga Safira. Ia masih kesal dengan Sania yang bicara dengan suaminya seolah tidak ada dirinya disana.
"Kenapa?" tanya Naufal saat melihat wajah istrinya masih tidak baik.
"Gak kenapa-kenapa," jawab Safira ketus.
"Kenapa? Kalau gak kenapa-kenapa gak bakal cemberut dong," ucap Naufal dengan lembut.
"Gak kenapa-kenapa," jawab Safira mengulang lagi kalimat.
"Kalau gitu Aku pengen meluk dong," goda Naufal.
"Peluk aja tuh Sania yang cantik jelita seksi membahana," celetuk Safira.
"Hahaha, ternyata masih kesel sama itu," ucap Naufal yang geli dengan ucapan Safira.
"Malah ketawa,"
"Kita hanya dekat, Sayang. Itu pun dulu saat SMA. Lah, sekarang 'kan cuman Kamu di hati ini," ujar Naufal meyakinkan istrinya.
"Lebay," ketus Safira.
"Ish, ke istriku ini. Oh ya, besok kita kembali ke Yogyakarta, Sayang." Ucap Naufal.
"Hemmm, I know."
"Kita bisa bebas," bisik Naufal menggoda.
Pipi Safira memerah. Ia menyikut suaminya.
Kembali ke Yogyakarta membuat keduanya kembali melanjutkan pendidikan mereka. Kesibukan antara keduanya membuat Safira dan Naufal sulit untuk bersama. Meski di bawah atap yang sama keduanya sibuk dengan masing-masing tugas. Namun, kedamaian dirasakan oleh mereka. Keduanya lebih saling mengerti dengan keadaan.
------
Waktu bergulir dengan cepat. Safira kini lulus kuliah dan Naufal pun akhirnya bisa bekerja di salah satu Universitas di Bandung. Dua sejoli itu pun memilih untuk tinggal di Bandung dan tinggal di sebuah rumah. Ya, mereka berusaha untuk mandiri dan tidak ingin tinggal di antara orang tua mereka.
"Sayang," panggil Naufal dengan lembut.
"Ya,"
__ADS_1
"Bisakah kita berencana untuk memilikinya saat ini?" tanya Naufal.
Safira mengangguk setuju. Meski sekarang ia baru saja bekerja, tapi untuk hal ini ia tidak bisa menolak lagi karena keluarganya begitu mengharapkan kehadiran bayi kecil yang menjadi keturunan.
Naufal membelai lembut pucuk kepala Safira dan mengecup lembut kening istrinya.
Lima bulan kemudian Safira nampak begitu pucat dan lemas. Ia selalu merasa mual di setiap pagi membuat Naufal merasa khawatir dan lebih memilih segera membawanya ke klinik terdekat.
"Bagaimana, Bu?" tanya Naufal dengan cemas.
"Tidak apa-apa. Nyonya Safira sedang hamil empat minggu," jawab Dokter.
Rona bahagia terpancar di manik mata keduanya. Naufal menggenggam lembut istrinya yang kini tengah mengandung anak pertama dan cucu pertama di keluarga mereka.
Saat ini Safira menikmati masa hamil mudanya. Naufal begitu sigap dan tidak membiarkan istrinya terlalu lelah.
"Kenapa?" tanya Naufal yang melihat Safira tiba-tiba cemberut.
"Pengen mangga, tapi pengen yang baru dipetik. Dipetiknya jangan sama orang lain," rengek Safira. "Terus pengen buah strawberry. Kayaknya segar deh kalau di jus," sambungnya.
"Maksudnya harus Aku yang naik?" dahi Naufal mengkerut. Ia tidak bisa jika harus naik pohon mangga. "Terus strawberry 'kan sekarang lagi susah," sambung Naufal.
"Ayolah Sayang! Demi calon dede bayi," rengek Safira dengan mata memelas. Wajah itu membuat Naufal gemas dan tidak bisa menolak.
"Ish, itu alasan aja."
"Apaan sih, Yang? Bawa-bawa ibu segala. Nanti Aku malah kena semprot," protes Naufal.
"Ya makanya turutin," rengek Safira.
"Hadeuh, ya deh iya. Aneh anaknya ibu siapa sih? Yang dimanja dan diperhatiin malah Kamu terus," protes Naufal.
"Ya iyalah, menantu satu-satunya. Apalagi mau punya bayi. Ya harus diperhatiin," cerocos Naufal. Akhir-akhir ini memang ibunya over protektif terhadap menantunya itu.
"Debat gak bakal selesai deh. Saya undur diri dulu Tuan putri cantik,"
Safira terkekeh. Tidak lama Naufal pun keluar untuk mencari pohon mangga tetangga yang entah dimana.
Safira menunggu Naufal yang keluar. Ia melihat ponsel Naufal yang tidak dibawa oleh suaminya. Tiba-tiba sebuah dering ponsel membuat ia menjawab panggilan itu. Ia pikir panggilan itu adalah panggilan yang penting, sehingga ia pun tidak berpikir panjang untuk menggeser layar.
[ Halo, Pak Naufal. Aku boleh minta tolong lagi gak? Aku pergi sama temen tapi dia pulang duluan. Pak Naufal bisa gak jemput Sisi,] cerocos suara perempuan di sebrang sana.
[Hemmm, kok gak dijawab? Lagi sibuk ya!]
__ADS_1
"Sisi mana?" Safira pun bersuara. Seketika panggilan pun dimatikan tanpa berpamitan.
[Lain kali kalau minta tolong jangan ke Dosen yang udah punya istri. Kamu main nyerocos gak sopan,] pesan Safira dengan nomor suaminya itu.
Tidak ada jawaban dari si pemilik nomor. Safira mendengus kesal akibat telp yang baru saja ia terima.
Satu jam kemudian, Naufal datang dengan pesanan Safira. Namun, istrinya tidak menghiraukan kedatangan Naufal.
"Kenapa?" tanya Naufal.
"Sisi siapa?" tanya Safira.
"Sisi?" Naufal mencoba mengingat.
"Malah bengong. Sisi siapa?" tanya Safira penuh penekanan.
"Sisi mahasiswi di Kampus. Aku jadi Dosen pembimbingnya, Sayang." Jelas Naufal.
"Oh, Dosen pembimbing sekaligus ojeg gratis gitu," ketus Safira. Ia menatap tajam suaminya.
"Maksud Kamu apa sih, Yang?" tanya Naufal heran.
"Dia nelpon dan bilang pengen dijemput. Seberapa sering antar jemput dia?" cecar Safira.
"Udahlah, Sayang! Aku gak ada apa-apa kok,"
"Gak ada wanita yang bisa sabar kalau dalam hubungannya terusik wanita lain. Jika sampai sengaja bertemu lagi di luar kepentingan. Silahkan! Aku beri kebebasan dan pergi saja dengannya!" cecar Safira dengan wajah yang begitu masam. Bahkan asamnya mangga muda yang dibawa oleh Naufal.
Wanita yang tengah hamil itu pun pergi meninggalkan suaminya. 'Belum usaikah dengan masalah yang sama. Aku lelah,' batin Safira. Ia membenamkan wajahnya dengan memeluk guling disana.
Naufal terus-menerus mengetuk pintu. Namun, Safira tidak berniat untuk membukanya dan membiarkan Naufal begitu saja.
Malam tiba. Safira masih mengurung diri di kamarnya. Naufal berusaha mencari cara untuk membuat ia keluar dari kamar. Ia khawatir pada Safira yang saat ini sedang mengandung.
"Sayang. Kita makan yuk! Ada makanan spesial buat Kamu," bujuk Naufal pada Safira yang sedari tadi enggan membuka pintu dan memilih mengurung diri di kamar.
"Gak kasian apa sama baby kita," ucap Naufal. Ia berharap Safira masih mau memikirkan kandungannya.
Safira keluar dengan terpaksa. Ia membuka daun pintu dengan menatap tajam suaminya. Naufal pun hanya membisu karena itu memang kesalahannya walau ia tidak bermaksud membuat celah untuk Sisi mendekatinya.
Safira yang masih kesal pun menyantap makanan tanpa menoleh pada suaminya. Meski Naufal mencoba bicara, Safira seolah menganggapnya tidak ada. Wanita hamil itu pun menandaskan makanannya karena perut yang lapar akibat mogok makan sejak siang hari.
"Sayang,"
__ADS_1
"Aku lagi gak mau debat," ucap Safira penuh penekanan.
Naufal yang mengerti akhirnya ia menghentikan niatnya untuk mengutarakan apa yang ada di benaknya saat ini. Dengan pasrah Naufal pun memilih tidur di sofa karena Safira tidak mengizinkannya bicara apalagi masuk ke dalam kamar. Ya, Naufal tahu jika Safira selalu ingin sendiri untuk meredam amarah. Ia tidak ingin membuat istrinya semakin marah jika terus memaksa mengajaknya bicara.