
Minggu berikutnya adalah pertemuan yang ketiga bagi Safira dengan guru fisikanya yang dingin itu. Pada akhirnya, ia pun bisa datang sebelum Naufal datang ke ruang kelasnya.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Naufal saat masuk ke dalam ruang kelas.
"Pagi," sahut semua murid di kelas.
Naufal pun tersenyum saat melihat gadis yang dua kali terlambat itu kini sudah berada di kelas. Sementara Safira hanya bersikap acuh pada gurunya itu.
Usai pelajaran selesai, Naufal pun masuk ke kelas yang lain.
"Anak-anak. Bu Ida berpesan untuk membuka lembar kerja halaman duapuluh lima, lalu simpan di ruang guru oleh Safira," ucap guru matematika.
Mereka tampak mengerjakan lembar kerja tersebut. Dengan teliti Safira mengerjakannya. Mungkin dia berusaha jadi murid yang baik sekarang, karena biasanya dia akan membuat suasana kelas begitu ramai. Ia tidak ingin kelas sebelah mendengar ramainya kelasnya. Ya, karena Naufal ada di sana.
"Tumben," kata Risa yang heran.
"Tumben apaan?"tanya Safira ketus.
"Biasanya Lo yang suka bikin onar tiap gak ada guru," ujar Risa.
"Males Gue,"
"Gara-gara guru baru itu 'kan?" Risa menerka.
"Males debat,"
"Oh, oke deh. Tuh yang lain juga pada ngerasa aneh sama sikap Lo," papar Risa.
"Udah ah. Gue mau ngerjain," ujar Safira.
"Gue nyontek ya,"
"Kagak lah. Kerjain sendiri! Kalau gak bisa, Gue ajarin caranya." Ucap Safira.
Risa dan yang lainnya memang faham. Ya, sebagian dari mereka ada yang pernah sekelas dengannya di kelas sepuluh ataupun di kelas sebelas. Mereka tahu bahwa Safira tidak pernah mau memberi contekan, tapi ia selalu memberi tahu cara agar menemukan jawabannya.
Semua murid di kelas Safira telah selesai mengerjakan tugas mereka. Tentu dengan beberapa bantuan Safira.
"Gue bantu ya!" tawar Faiz pada Safira.
"Gak usah! Gak berat kok," tolak Safira.
Faiz menatap kecewa, tapi Safira mengabaikannya. Ia pun berlalu keluar ruangan dengan buku lembar kerja siswa di tangannya.
"Yang sabar, Bro!" ucap salah satu temannya yang menepuk pundaknya.
Faiz adalah teman Safira dari kelas sepuluh. Mereka dengan kebetulan selalu satu kelas. Hingga Faiz menyukai gadis itu, tapi selalu diabaikan. Bahkan kadang Faiz berpikir Safira tidak menyukai laki-laki. Hem, apa itu ya yang selalu dipikirkan oleh orang yang ditolak dan melihat orang yang menolaknya pun masih sendiri.
Di koridor. Safira berjalan terburu-buru, karena ia sangat lapar akibat tidak sarapan. Ia pun bergegas masuk dan mengucap salam, karena beberapa guru ada di sana. Lalu mengucap salam dan bergegas pergi. Ia berpikir Risa pasti menunggu di kantin dengan teman yang lainnya. Sehingga ia fokus pada melangkah, tapi menabrak tubuh seseorang.
"Maaf!" ucapnya. Ia terkejut karena bermasalah lagi dengan guru fisikanya.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati!" ucap pria itu lembut. Safira menjawab ya dan bergegas berjalan. Jantungnya berdebar begitu cepat setelahnya.
Setelah sampai di kantin. Teman-teman Safira berkumpul untuk menyantap jajanan dan setelah usai mereka kembali ke kelas.
"Kenapa Lo?" tanya Risa heran.
"Kenapa apanya sih, Ris?" Safira balik bertanya.
"Lo kayak orang yang lagi suka sama cowok," selidik Risa.
"Kagak lah," kilah Safira.
"Ya gak apa-apa kali," celetuk Risa.
"Sekarang kelas dua belas, Ris. Gue mau fokus belajar," ujar Safira.
"Baiklah. Kalau Lo suka sama seseorang bilang ke Gue!" ucap Risa.
"Bawel amat. Gue lapar,"
Seketika Safira menyantap makanannya dengan cepat.
Pulang sekolah. Safira lebih memilih mampir ke bengkel untuk memperbaiki motornya yang sering mogok.
"Untung dibawa kesini sekarang, Dek. Akinya harus beli yang baru!" ucap pemuda yang tengah mengecek motornya itu.
"Ganti aja!" pinta Safira.
"Pokoknya perbaiki! Motornya udah rewel terus," ucap Safira yang kemudian memainkan benda pipih miliknya.
"Mas, motor Saya sudah selesai diperbaiki?" tanya suara seorang pria. Safira terkejut, karena pria itu gurunya sendiri.
'Ish, nyebelin. Kenapa harus ketemu lagi sih?' umpat Safira dalam hati.
"Kami disini?" tanya Naufal.
"Iy-iya Pak," jawab Safira.
"Oh benerin motornya,"
"Ya,"
Naufal terdiam. Ia pun hendak menyalakan motor miliknya.
"Udah, Dek. Semuanya empat ratus ribu."
Safira mencari kertas merah itu. Namun, tidak ditemukannya.
"Duh, uangnya ketinggalan. Aku simpan disini aja dulu. Nanti kesini lagi,"
__ADS_1
"Boleh, Dek."
"Berapa, Mas?" tanya Naufal.
"Yang Mas ini dua ratus aja," jawab pemuda itu.
"Sama biaya service motor gadis ini juga," ujarnya. Ia pun menyerahkan uang pada pemuda itu.
Safira yang hendak pergi pun malah mematung. Ia tidak percaya pada guru yang dia anggap sikapnya seperti es itu.
"Bapak ke rumah Saya. Rumah Saya dekat. Saya tidak enak jika berhutang," ucap Safira.
"Besok saja! Besok Saya ngajar." Ucap Naufal dengan senyuman.
Safira malah tersipu karena. Ia pun menjadi salah tingkah.
Safira sampai di rumahnya dengan hati tak tenang. Sementara itu, Naufal yang lewat pun menjadi tahu rumah Safira.
"Rumah deket, tapi suka telat. Aneh," gumam Naufal yang kemudian berlalu menjauh dari tempat itu.
Keesokan harinya. Safira berangkat lebih pagi. Ia sengaja menunggu gurunya di dekat gerbang sekolah setelah menyimpan tasnya di kelas. Saat motor Naufal terlihat, Safira menunggu motor itu berhenti di parkiran.
"Pak Naufal!" seru Safira.
"Fira. Tumben pagi-pagi udah di sekolah,"
Tanpa menjawab Safira menyodorkan uang yang dipakainya saat di bengkel.
"Hemm, ngembaliin uang ternyata,"
"Saya tidak mau berhutang," tukas Safira.
"Baiklah." Naufal pun mengambil uang di tangan Safira. Tangannya menyentuh tangan lembut gadis itu.
"Saya harus ke kelas," ucap Safira. Wajahnya memerah dan ia bergegas untuk menjauh dari gurunya itu.
Sementara itu, Naufal menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali. Ia tersenyum simpul melihat Safira yang menjauh dari pandangannya.
Di dalam kelas. Faiz rupanya sudah berada disana dengan Risa.
"Ngapain Kamu berduaan sama guru fisika itu?" tanya Faiz sinis. Ia merasa tidak senang melihat orang yang disukainya bersama laki-laki lain.
"Gue minjem uang ke dia buat bayar bengkel. Lo kepo aja jadi orang," cecar Safira. Ia memang tidak suka dengan sikap Faiz yang berlebihan.
Tanpa Faiz sadari ada hati yang terluka, karena Faiz lebih mementingkan Safira. Ia bahkan tidak memahami perasaan dan perhatian orang lain. Karena, perhatian Faiz untuk Safira. Meski seringkali Safira melarangnya untuk hal itu. Tanpa keduanya sadari, hati gadis yang kini mematung melihat perdebatan mereka merasa teriris.
'Mengapa hanya Safira?' lirihnya dalam hati.
Safira yang kesal dengan sikap Faiz pun tidak memperdulikan pemuda itu. Ia memasang wajah masam pada Faiz dan merasa malas untuk berbicara padanya.
__ADS_1
Dua mata pelajaran usai. Itu artinya jam istirahat. Safira tetap tidak bicara pada Faiz. Ia pergi begitu saja, karena ia masih kesal pada sikap Faiz yang seolah ia adalah pacarnya. 'Ish, temen aja kayak gitu. Apalagi pacar,'umpat Safira. Jika ia merasa kesal pada Faiz.
Safira memang tahu perasaan Faiz padanya. Akan tetapi, sikap Faiz justru malah membuatnya jengah dan tidak suka. Sikap pemuda itu bukan malah membuatnya bisa menerimanya. Justru semakin membuat Safira enggan untuk menjadi pacar pemuda itu.