Surat Cinta Dari Guru

Surat Cinta Dari Guru
Surat Cinta dari Guruku Bab 8


__ADS_3

Sejak hari itu Safira tidak tahu harus percaya atau tidak. Saat jam pelajaran pun pria itu tidak banyak bicara. Hanya bicara formal dan sepenting saja.


"Dia menyukaiku, tapi seolah ia tidak peduli dengan ucapannya seminggu yang lalu," gerutu Safira usai pelajaran selesai.


"Kau bicara apa?" tanya Risa.


"Gak ada. Perasaan Kamu kali," kilah Safira.


Risa mengerutkan keningnya. Ia merasa bukan salah mendengar walau dengan samar.


"Ada masalah?" tanya Risa.


"Gak ada, Ris." Jawab Safira.


Ia terus berkilah, tapi Risa tahu temannya itu pasti sedang bermasalah.


Saat Naufal datang. Safira bersembunyi dari pria itu. Jantungnya berdegup kencang dengan hadirnya pria yang menjadi gurunya.


"Lo ngapain coba ngumpet mulu,"


"Sssstt," Safira menempelkan telunjuk di bibirnya.


"Itu pak Naufal. Ngapain Lo ngumpet?" bisik Risa.


"Rahasia. Yang penting Lo diem! Jangan ngomong!" pinta Safira.


Risa yang heran pun justru malah berniat menjahili gadis itu.


"Kecoa!" pekik Risa.


"Mana? Mana kecoanya? Ish, jauhin dari Aku dong!" Pekik Safira yang begitu panik.


Terdengar gelak tawa Risa saat melihat ekspresi ketakutan Safira. Naufal menatap Safira dari jauh dan tersenyum.


'Apa mungkin mereka saling menyukai?" tanyanya dalam hati.


"Ada apa?" tanya Naufal. Padahal, ia tahu Safira ketakutan karena Risa. Mungkin, hanya sekedar basa-basi untuk mendekat pada gadis yang disukainya.


"Gue duluan deh," ucap Risa yang pergi begitu saja tanpa persetujuan Safira.


"Kenapa dengan sikapmu?" tanya Naufal saat Risa sudah tidak ada disana.


"Enggak kenapa-kenapa. Biasa aja. Perasaan Pak Naufal aja kali," kilah Safira.


"Kamu menjauhi Saya, karena Saya suka sama Kamu?" tanya Naufal.


"Gak juga. Saya sudah terbiasa banyak penggemar, jadi gak aneh sama surat-surat seperti itu," ujar Safira ketus.


"Ya. Saya selalu mendengar mengenai itu,"


"Seperti yang Pak Naufal katakan bahwa Anda tidak mau pacaran. Saya juga demikian," tutur Safira.


"Hemm,"


"Sudah Pak. Saya harus ke kelas sebentar lagi masuk. Permisi!" ucap Safira.


Gadis itu pun berlalu pergi dari hadapan sang guru. Walau hatinya berdegup kencang saat berada di dekat pria itu. Ia tidak mungkin juga mengungkapkan perasaannya, karena ia sudah mengatakan bahwa ia tidak ingin pacaran.


Usai ujian. Safira memilih untuk refreshing dengan rajin lari pagi seperti di akhir pekan ini. Ia berkeliling komplek rumahnya dengan lari santai. Sementara itu, Naufal tidak sengaja melihat gadis yang disukainya melewati rumahnya.


"Safira," lirihnya. Ia merasa ingin menemui gadis itu, tapi urung ia lakukan. Ia tidak ingin Safira tahu bahwa rumah Safira dan dirinya begitu dekat.

__ADS_1


"Aww," rintih Safira yang terjatuh.


Hati Naufal tidak bisa melihat gadis itu merintih kesakitan karena kakinya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Naufal.


"Pak Naufal,"


"Saya obati," ujarnya tanpa mendengar penolakan dari gadis itu.


Setelah diobati. Safira mencoba untuk berdiri sendiri. Namun, dia tidak bisa berdiri.


"Aww,"


"Sepertinya Kamu keseleo, Safira."


"Aku gak apa-apa, Pak." Ucap Safira.


Tanpa berkomentar apapun pria itu menggendongnya. Safira yang kini berada tepat di punggung Naufal pun pasrah. Pria itu berjalan perlahan.


"Biar Saya sendiri, Pak!" pinta Safira.


"Tenang saja! Kamu tidak berat buat Saya," ujar Naufal.


"Terimakasih!" ucap Safira.


"Untuk apa?" tanya Naufal.


"Membantuku,"


"Itu tidak masalah,"


Naufal sampai di rumah Safira. Gadis itu memanggil ibunya agar keluar.


"Fira jatuh, Ma." Jawab Safira.


"Saya pamit pulang, Tante!" pamit Naufal.


"Eh, disini aja dulu! Kamu udah bantu putri Saya. Sekalian makan siang ya,"


Naufal hanya mengangguk pelan, meski ia tidak yakin Safira akan suka jika ia berada di rumahnya. Ia tahu betul kalau Safira selalu menjauhinya.


Ibu Safira beranjak ke dapur. Sementara itu Safira dan Naufal duduk di ruang tamu. Sesekali Safira mendapati Naufal melihat padanya.


"Kenapa?" tanya Safira ketus.


"Tidak ada," jawab Naufal mengalihkan pandangannya.


"Kenapa harus bela-belain nganterin Saya ke sini?" tanya Safira.


"Sebagai seorang manusia, kita harus saling membantu," ujar Naufal.


"Hemm,"


"Sa...," ucapan Naufal terjeda.


"Fira, Nak Naufal. Ayo makan! Makanan sudah siap," ucap Ibu Safira di sela perbincangan mereka.


Safira berjalan dengan kaki yang pincang dipapah oleh ibunya. Naufal melihat keadaan gadis itu merasa kasihan padanya. Namun, ia tidak mungkin juga kembali membantunya karena ada ibu dari Safira di sana.


Naufal duduk dengan ragu. Safira seakan tidak terlalu memperhatikan pria yang telah menolongnya itu. Ia hanya meringis jika memindahkan posisi kakinya dan kembali fokus pada makanannya.

__ADS_1


"Ayo makan, Nak Naufal. Maaf seadanya!"


Naufal mengangguk pelan. Walau wanita itu mengatakan seadanya, tapi makanan yang terhidang terlihat sangat lezat dan menggugah selera.


Usai makan siang, Naufal pun lebih memilih untuk pulang. Ia tidak ingin gadis itu merasa tidak nyaman atas kehadirannya.


"Pak Naufal," panggil Safira pada sang guru.


"Ya," sahut Naufal.


"Terimakasih!" ucap Safira lembut.


"Terimakasih kembali. Cepat sembuh, Safira!" ucap Naufal.


Gadis itu tampak menunduk. Naufal tersenyum simpul kemudian pergi meninggalkan rumah itu.


--------


Kelulusan. Dengan gelisah Safira mencoba melihat pengumuman, tapi ia pun senang setelah melihat bahwa namanya tertulis disana dengan nilai yang baik. Ancaman Raisa tentang nilainya pun mungkin urung dilakukan oleh wanita itu. Sehingga, nilainya pun tidak begitu buruk. Begitu pula dengan nilai fisika. Meski diantara keduanya ada masalah. Sepertinya, Naufal tidak menyangkut pautkan masalah mereka.


"Selamat ya!" Ucap Risa.


"Selamat juga buat Kamu, Ris!" Ucap Safira.


Mereka saling berpelukan. Faiz yang berada di dekat mereka pun mengucap salam pada keduanya. Ia menatap sendu pada gadis yang disukainya. Karena, ia berpikir gadis itu benar-benar akan pergi ke Universitas ternama di Inggris itu. Rupanya, Safira tidak memberitahu Faiz soal batalnya ia untuk kuliah di sana.


Usai kelulusan. Safira memilih pulang tanpa merayakan. Ia menyalakan mesin kuda besinya itu.


"Selamat ya, Safira!" ucap Naufal yang tiba-tiba berada di dekatnya.


"Iya. Permisi! Saya duluan, Pak." Ujar Safira.


Sesaat ia menatap kepergian siswinya itu, tapi kemudian ia pun menaiki kuda besinya dan menyusul Safira. Naufal menyalakan kendaraannya dengan cepat agar dapat menyusul gadis itu.


"Safira! Tolong berhenti!" Teriak Naufal.


Gadis itu berhenti. Ia tidak mungkin melajukan kendaraannya jika Naufal terus menerus mengganggu konsentrasinya.


"Ada apa?" tanya Safira.


"Apa Kau masih tidak percaya padaku?" Naufal balik bertanya.


"Bukankah Pak Naufal tidak ingin pacaran dan ingin menikah. Cari saja orang yang mau langsung menikah!"


"Kau menyukaiku?" tanya Naufal menyelidik.


"Enggak. Siapa yang suka sama Pak Naufal? Jangan geer!" Kilah Safira.


"Aku akan menunggu,"


"Menunggu? Itu adalah hal tidak mungkin. Ah, sudahlah! Saat ini Saya sudah lulus. Kita jalani hidup masing-masing," ujar Safira. "Maaf! jika selama jadi murid Pak Naufal, Saya memiliki kesalahan. Terimakasih juga karena pernah membantu Saya saat Saya jatuh," ucap Safira panjang lebar.


"Safira,"


"Jika kita berjodoh kita akan bertemu lain waktu dan bersama. Jika tidak maka kita tidak bisa memaksa kehendak-Nya. Saya harus keluar kota untuk kuliah disana. Selamat tinggal, Pak Naufal!" Ucapnya lagi


Safira kembali menaiki kendaraannya dan berlalu dari Naufal.


"Mungkinkah ada yang membuatnya menjauh dariku?" Tanyanya pada diri sendiri.


Naufal melajukan kendaraannya. Ia melewati rumah Safira dan melihat motor yang terparkir disana.

__ADS_1


Dalam hati Naufal. Sebenarnya ia ingin dekat dengan Safira. Namun, ia merasa hal itu tidak mungkin juga jika dalam keadaan ia tidak memiliki apapun. Ia pun masih mengandalkan orang tua karena pekerjaannya tidak mencukupi kebutuhannya sendiri.


__ADS_2