
Di rumah sakit. Safira menunduk pilu. Ia masih menanti kapan ia bisa menemui ayahnya. Hatinya pilu saat melihat ayahnya terbaring tidak berdaya di dalam ruangan sana.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Naufal.
"Saya baik-baik saja, Pak." Jawab Safira.
Ia masih menunduk lesu.
"Kau boleh kembali sekolah, jika merasa lebih baik,"
"Tapi, Pak,"
"Saya akan mengatakan hal ini pada wali kelasmu," tutur Naufal.
Safira menunduk setuju. Naufal pun pamit untuk pergi. Gadis itu sangat berterimakasih pada gurunya yang begitu baik.
Setelah beberapa pekan akhirnya pria yang di tunggu untuk pulih itu pun pulang. Safira nampak senang dengan kesehatan sang ayah.
"Fira,"
"Iya Pa,"
"Itu yang nunggu kita diluar pacar Kamu?" tanya sang ayah.
"Bukan ih, Pa," sangkal Safira. Wajahnya nampak memerah. Hatinya berdegup kencang, padahal ia sama sekali tidak terlalu dekat dengan Naufal.
"Pacar Kamu juga gak apa-apa," ujar sang ayah dengan senyuman terukir di bibir pria itu.
"Fira fokus belajar, Papa. Jangan aneh-aneh!"
"Maaf!" lirih pria yang kini dalam posisi duduk itu. Istrinya terdiam menatap suaminya yang tiba-tiba meminta maaf pada putri mereka.
"Buat apa minta maaf, Pa?" tanya Safira heran.
"Papa gak bakal nuntut Kamu lagi. Mulai sekarang Kamu gak terlalu Papa kekang," ujar sang Ayah.
"Ish, giliran anaknya udah taubat malah disuruh bebas," protes Safira.
"Kamu mau belajar terus?" tanya pria bernama Andra itu.
"Iya enggak sih, Pa. Udah ah! Kita pulang, ya!" Ucap Safira.
Andra mengangguk dengan senyuman. Sementara wanita yang kini di sampingnya itu pun ikut tersenyum melihat hubungan ayah dan anak kembali menghangat.
Naufal mengambil alih kemudi karena supir masih belum sembuh sempurna. Safira tampak canggung melihat gurunya berada di belakang kemudi.
"Saya kira kalian pacaran," celetuk Andra secara tiba-tiba.
"Sa-saya gurunya," ucap Naufal yang terlihat begitu gugup. Ia merasa seakan ada desiran di sana dan harapan gadis yang disampingnya itu miliknya.
__ADS_1
"Papa, ih. Kok kayak gitu?" tanya Safira yang berada di samping Naufal.
Darahnya seolah mengalir dengan cepat saat ini. Jantungnya pun berpacu dan wajah Safira kembali memerah.
"Saya tidak ingin pacaran, Pak."
"Panggil Om Andra saja! Sepertinya, Kamu masih muda sekali," ujar Andra.
"Saya baru lulus tahun kemarin, Om"
"Oh. Kenapa gak ke perusahaan aja? Terus kuliah lagi buat jadi dosen," ucap Andra.
"Saya ada rencana tahun depan, Om." Jelas Naufal.
"Kamu juga, Fira. Kamu kuliah dimana aja terserah buat sekarang,"
"Beneran, Pa?" tanya Safira.
"Iya beneran,"
Safira kegirangan. Naufal melihat senyum di bibir Safira. Senyuman yang tulus dan benar-benar mewakili perasaannya.
Pagi ini, Safira tengah asik dengan musik yang di dengarnya melalui earphone. Ia melihat beberapa teman yang mengenalnya menatapnya dan tersenyum.
"Cie-cie. Jadian gak. Jadian dong! So sweet banget," goda Risa.
"Apaan sih? Siapa yang jadian coba?" cecar Safira yang tidak mengerti.
"Kagak lah. Gue kagak punya pacar,"
"Ish, padahal banyak yang ngiri,"
"Udah deh. Gue pengen tenang sama ngerasa fun. Karena Gue gak jadi dikirim ke London," ucap Safira dengan senyuman.
"Emangnya paket diekspor ke London," celetuk.
Safira pun kesal. Sementara Risa tertawa. Namun, hatinya masih bimbang karena itu berarti Faiz masih bisa bersama Safira.
Raisa datang dengan wajah merah padam. Wajahnya seperti guru killer, padahal guru killer di SMA itu hanya ada satu.
"Tolong ya. Jangan ada cinta-cintaan sama guru disini. Itu malah mengganggu belajar. Bahkan mungkin salah satu murid yang punya hubungan dengan guru akan mendapat nilai terbaik tanpa bersusah payah." Jelas Raisa.
"Ibu nyindir Saya, karena Saya selalu punya nilai tinggi meski Saya jarang masuk," ucap Safira yang begitu lantang.
"Jaga sopan santun, Safira!" pekik Raisa.
"Ibu baru satu tahun disini bukan? Coba Ibu tanya pada wali kelas sepuluh sampai sekarang. Apa yang Saya lakukan selama ini untuk menjadi juara kelas bahkan juara di setiap lomba. Saya tidak pernah menggunakan kelicikan. Ibu juga tidak tahu juga 'kan? Benar atau tidaknya cerita siswa dan siswi disini," cecar Safira.
"Kamu itu. Saya akan menurunkan nilai Kamu. Jika Kamu...," ucap Raisa terjeda.
__ADS_1
"Saya masih punya adab. Jika Saya tidak suka pada orang. Saya akan secara langsung mengatakannya pada orang tersebut, bukan malah menyindir dengan tuduhan tak jelas. Permisi Ibu guru terhormat!" Ucap Safira yang kemudian keluar dari kelasnya. Raisa menatap Safira tidak suka. Ia pun kembali memulai pelajaran.
Di bawah pohon yang rindang. Gadis itu terdiam. Ia pun merogoh ponsel di sakunya dan memasang earphone di telinganya. Ia merasa bosan dan perasaannya buruk saat semua membicarakan dirinya.
"Bolos?" tanya Naufal yang tiba-tiba datang.
"Jaga jarak!" pekik Safira.
"Emangnya lagi flu apa? Harus jaga jarak segala," protes Naufal.
"Aku malas jadi omongan orang,"
"Hemm, soal Kamu dekat dengan Saya?" tanya Naufal.
"Dekat apanya? Yang ada males Aku ketemu sama Pak Naufal. Ada aja yang bikin Aku apes," celetuk Safira.
"Eits, jangan ngomong gitu? Awas! Nanti malah jadi do'a,"
"Udah sana. Pak Naufal ngajar aja! Jangan deket-deket!" Cerocos Safira.
Naufal hanya menggelengkan kepalanya. Ia pun pergi meninggalkan Safira. Saat berjalan di koridor pria itu menoleh ke arah kelas Safira.
"Mungkin dia penyebabnya," gumam Naufal.
Baru saja, ia ingin mengenal Safira lebih jauh. Ada Raisa yang selama ini mengejarnya.
Jam pergantian pelajaran. Safira pun kembali masuk ke kelas. Ia menatap tajam wanita yang di hadapannya, lalu masuk tanpa peduli dengan kehadiran wanita itu.
Kemudian, terlihat wanita itu bergegas untuk pergi.
"Lo malah ngelawan sama bu Raisa," protes Risa.
"Ngapain juga Gue nerima gitu aja masalah sikap dia?"
"Nilai Lo gimana, Safira?" tanya Risa.
"Lihat aja! Gue mau tahu dia profesional atau gak."
"Gimana Lo aja deh, Fira." Risa begitu pusing dengan sikap Safira.
Guru kimia mereka datang. Safira tampak biasa saja. Pengajaran pun dimulai.
------
Langit putih mulai berubah jingga. Safira hendak menjalankan motornya. Sekilas ia melihat Naufal yang menatapnya, tapi ia pun kembali fokus pada kuda besi yang dikendarainya dan melakukannya. Naufal menatap Safira kembali saat Safira melewatinya, tapi gadis itu pun mengabaikannya.
Semenjak tersebar gosip itu. Safira menjaga jarak dengan gurunya, walau pria itu cukup membantu saat ayahnya berada di rumah sakit. Naufal menatap langit yang gelap. Ia merasa tak suka dengan sikap orang yang disukainya.
Dering ponsel berbunyi. Naufal melihat layar benda pipih itu.
"Ya, Bu Raisa," ucapnya pada sambungan telepon.
__ADS_1
"Maaf! Saya tidak ada waktu," jawabnya pada wanita di sebrang sana.
Menghadapi sikap berlebihan wanita itu saja malas. Apalagi jika harus makan malam bersamanya. Lagi pula, pria itu memang tidak terbiasa keluar berdua dengan wanita. Ia membayangkan sikap Raisa di sekolah saja bergidik, apalagi jika berada di luar sekolah.