
Seminggu berlibur. Safira dan Naufal tidak lagi canggung. Mereka begitu asik dengan kebersamaan mereka. Ketika Naufal mengantar Safira ke rumahnya. Ia merasa heran dengan adanya mobil milik sang ayah disana beserta mobil yang tak lain milik ayah Safira. Keduanya saling menatap seolah mereka sama-sama ingin bertanya. Tidak lama mereka pun bergegas untuk masuk ke dalam rumah Safira.
"Naufal," panggil sang ayah.
"Ayah. Ayah kok ada disini?" tanya Naufal heran.
"Duduklah. Ada yang harus kita bicarakan saat ini," ucap Nia pada putranya itu.
Dua sejoli itu pun duduk di dekat orang tua mereka masing-masing. Safira menatap ibunya dengan penuh tanya.
"Jadi bagaimana tentang pernikahan mereka?" tanya Ayah Naufal.
"Dipercepat saja. Lebih cepat lebih baik,"
"Papa kok gitu?" tanya Safira cemberut.
"Kamu dan Nak Naufal lebih baik menikah. Daripada main petak umpet terus padahal pada saling sayang," ucap Vina.
"Tapi Tante, Saya belum punya apa-apa buat,"
"Tidak apa-apa. Lagipula Nak Naufal sebentar lagi jadi Dosen 'kan?"
"Ya,"
"Safira masih kuliah. Skripsi masih jauh," tolak Safira.
"Lah, kalian masih bisa kuliah meski sudah menikah Safira,"
"Gak mau, Ma." tolak Safira lagi.
Naufal menunduk lesu. Meski ini adalah kesempatan baginya untuk mendapatkan Safira seutuhnya. Ia tidak mungkin terus memaksa hati Safira untuk mencintainya.
"Tidak ada tapi-tapi," ucap Vina.
Safira terdiam. Gadis itu menatap Naufal kesal. Ia tidak bisa menerima begitu saja pernikahan ini. Apalagi ia masih belum percaya pada Naufal.
Usai pertemuan itu, Safira mengurung diri di kamar.
"Aku harus buat perjanjian dengan pria itu," gumam Safira.
Hatinya begitu dilema. Seharusnya liburan kali ini ia tidak datang. Dengan pulangnya ia dan Naufal justru membuat masalah baru untuk dirinya.
Di sebuah Kafe. Safira menunggu seseorang untuk bertemu. Gadis itu tampak terus menerus memperhatikan ke arah luar Kafe, kemudian ia pun memainkan gawainya.
"Sudah lama?" tanya sebuah suara.
"Baru beberapa menit," jawab Safira.
"Ada apa?"
"Kak Naufal kok biasa aja. Ish, ini 'kan masalah besar,"
"Masalah besar apa, Safira?" tanya Naufal.
"Huh, sepertinya ini hanya masalahku saja. kau tentu senang 'kan dengan pernikahan kita,"
"Safira, Aku...," ucap Naufal terjeda.
"Sudahlah! Percuma saja Aku berbicara padamu," ucap Safira ketus.
__ADS_1
"Safira,"
"Kau pasti setuju dengan pernikahan kita, tapi Aku tidak. Jika sampai kita benar-benar menikah. Jangan pernah menyentuhku," tutur Safira.
Gadis itu memilih menandaskan minumannya dan pergi meninggalkan Naufal begitu saja.
Sebenarnya Naufal pun tidak ingin pernikahan itu terlalu cepat, tapi orang tuanya malah mempercepat semua. Ia pun merasa belum pantas untuk bersanding dengan Safira, karena ia belum mempunyai pekerjaan.
"Safira!" seru Naufal. Gadis itu menghentikan langkah kakinya, tapi kemudian kembali melangkah.
"Tunggu!"pinta Naufal.
Naufal mengejar Safira. Dengan cepat Naufal mencekal tangan Safira.
"Jangan seperti ini!"
"Apa yang mau Kau bicarakan lagi?" tanya Safira dengan menatap tajam Naufal.
Pria itu membisu. Untuk pertama kalinya Safira menatap dengan tajam.
"Aku berjanji tidak akan memaksa kehendak sebelum Kau mau menerimaku dan mencintaiku," tutur Naufal.
"Bermimpilah!" ketus Safira. Gadis itu pun memilih untuk pergi saja.
Naufal terdiam menatap gadis itu pergi. Ia merasa tidak memiliki harapan untuk mendapatkan cintanya. Gadis itu bahkan tidak menerima pernikahan mereka.
---------
Hari ini Safira dengan pakaian adat dan riasan pengantin. Safira tidak menyangka keputusan kedua orangtuanya benar-benar dilakukan sekarang. Dalam waktu dekat pria itu akan menikah dengannya.
"Kamu cantik, Sayang." Puji Vina yang berada di dekat Safira.
"Jangan gitu loh!"
"Mama sih. Bukannya belain anaknya yang gak mau nikah,"
"Kamu tahu juga 'kan papa Kamu. Udah ya!"
Safira tertegun. Menatap wajahnya di cermin. Hari ini dirasa seperti mimpi baginya.
Terdengar suara para tamu undangan mengucap sah di luar sana. Jantungnya berpacu. Kini ia harus keluar dan berada di samping Naufal yang telah menjadi suaminya.
'Hubungan ini. Apakah akan bertahan lam?'tanya Safira dalam hati.
Dengan berusaha tenang, gadis itu pun melangkah keluar bersama Vina. Ia berusaha untuk tersenyum pada yang ada, meski hati tidak karuan.
"Cantik banget ya,"
"Iya cantik,"
Terdengar bisik-bisik memuji dirinya.
Usai gadis itu duduk di samping Naufal. Naufal tampak tersenyum padanya. Senyuman yang menandakan bahagia, meski ia tahu gadis yang kini resmi menjadi istrinya itu tidak menerima pernikahan ini.
Hari yang melelahkan bagi pasangan baru itu. Meski tidak terlalu mewah para tamu undangan lumayan banyak.
"Safira," panggil Naufal yang akan naik ke atas ranjang.
"Eits, tidur di bawah!" perintah Safira.
__ADS_1
"Lah, kok dibawah?"
"Inget ya! Aku gak Kamu. Enak aja main naik ke ranjang," celoteh Safira.
"Kita suami istri, loh."
"Kagak," bentak Safira.
"Galak amat,"
"Apa?"
"Eh enggak itu gulai tadi enak banget,"ucap Naufal berbohong. Bisa kacau jika Safira mendengar apa yang diucapkannya.
Safira membiarkan Naufal tidur di atas sebuah tikar. Gadis itu membuat tubuhnya tergulung selimut. Ia takut jika Naufal tiba-tiba nekat padanya. Matanya sulit terpejam. Ia hanya mendengar dengkuran halus suaminya di atas lantai itu.
"Hebat banget udah tidur. Gue yang parno," gerutu Safira.
[Risa,] pesannya pada Risa.
[Malam pertama ini. Ngapain Lo chat Gue?] balas Risa.
[Malam pertama apaan? Dia udah tidur,]
[Ya paling pas dia bangun langsung makan Lo,]
[Ish, Lo. Gue mau ngajak chat juga,]
[Gue ada pertemuan keluarga, Neng. Biar bisa nyusul Lo. Udah ya. Jangan lupa baca do'a!]
"Ini anak malah bikin kesel. Bikin Gue makin gak tenang juga," gerutu Safira.
Naufal yang matanya terbuka. Ia hanya tersenyum begitu saja. Ia tahu gadis itu sangatlah khawatir jika ia mencari kesempatan di saat Safira tertidur. Pria itu mengabaikan Safira yang begitu tidak tenang. Dalam hati, ia yakin kalau suatu saat Safira akan menerimanya.
Tubuh yang lelah dan malam semakin larut membuat Safira pun akhirnya tertidur. Ia bahkan selalu berharap apa yang terjadi hanyalah mimpi . Kemudian, esok pagi ia akan terbangun dengan kenyataan bahwa dia belum menikah.
Keesokan harinya. Safira tampak panik dan mengecek tubuhnya yang dibalut selimut.
"Ngapain ekspresi kayak gitu?" tanya Naufal.
Safira melotot saat melihat Naufal yang sudah mandi.
"Aku gak sejahat itu," ucap Naufal yang menerka.
"Iya,"
"Cepat mandi! Biar gak ada yang curiga kalau kita pisah tempat tidur,"
"Iya Kak,"
Naufal menghampiri Safira. Ia mendekat dan terus mendekat pada istrinya itu. Safira yang takut pun mundur.
"Ish, Kau cantik meski baru bangun tidur."
"Apaan sih?"
"Kamu kayaknya mikir Aku mau cium Kamu."
"Enggak lah. Ngapain Aku...," ucapan Safira terhenti ketika kecupan mendarat di pipinya.
"Untuk sementara hanya pipi dan kening. Jika Kau belum menerimaku. Aku tidak akan memaksamu. Aku mencintaimu," tutur Naufal.
__ADS_1
Safira bergegas ke kamar mandi dengan pipi yang memerah. Sementara Naufal tersenyum dengan tingkah istrinya itu.