
Dalam ruang kerjanya, Satria kembali memeriksa berkas yang harus dia serahkan kepada Pak Dewa hari ini juga. Dia dibantu oleh sekretarisnya untuk memeriksa apakah masih ada yang salah atau sudah benar. Lagi pula, Satria merasa kalau dia masih harus banyak belajar. Jadi tidak ada salahnya Satria meminta bantuan kepada asistennya untuk mengecek lagi pekerjaannya.
"Bagaimana?" tanya Satria.
"Sudah semua, Pak. Ini juga sudah benar, jadi Bapak tidak perlu khawatir kalau Pak Dewa bakal marah." Sekretaris Satria tadi membenarkan pekerjaan Satria.
Mendengar pekerjaannya sudah benar, Satria merasa kalau dia sudah banyak kemajuan dan tidak sia-sia dia belajar selama ini. Satria pun menyuruh sekretarisnya buat keluar ruangan karena Satria juga harus mengantarkan berkas itu ke ruangan Pak Dewa.
Selama di perjalanan menuju ruangan Pak Dewa, Satria bertemu dengan Toni. Temannya di kantor dari awal mereka bekerja di sini. Hanya bedanya, Toni masih memakai seragam office boy, sementara Satria tidak. Namun mereka masih dekat sebagai teman.
"Pak Satria," panggil Toni bercanda. Satria tertawa, begitu pula dengan Toni yang juga tertawa karena melihat Satria tertawa renyah.
"Sudah aku bilang, khusus untuk kamu itu jangan panggil aku, 'Pak'. Aku merasa tidak enak," sahut Satria.
"Tidak apa-apa, lagi pula tidak sopan kalau aku memanggil yang lebih atas hanya dengan nama saja," balas Toni. Mereka berdua sekarang sama-sama berdiri di depan pintu lift. Toni ada tugas untuk membersihkan lantai atas, jadi otomatis dia akan naik lift.
"Ayo masuk!" ajak Satria kepada Toni, karena Toni tidak ikut masuk ke dalam lift bersamanya.
"Boleh?" Toni memastikan kalau Satria memang mengizinkan dirinya buat baik di lift yang sama dengan Satria.
"Kamu ini, masuk saja," titah Satria lagi yang diangguki oleh Toni. Mereka berdua pun naik di lift yang sama dan saling menanyakan pekerjaan masing-masing apakah berjalan lancar atau tidak.
"Bagaimana kalau sehabis aku dari ruangan Pak Dewa nanti, kita makan siang bareng?" Satria menawarkan diri untuk menjadi teman makan siangnya Toni, karena dia juga tidak punya banyak teman. Akibat dari diangkatnya jabatan Satria secara dadakan dan tanpa seleksi, hal itu membuat beberapa karyawan yang sudah bekerja di sana lebih dulu dari Satria, menjadi tidak suka kepada Satria. Mereka bukannya iri, hanya tidak suka karena Satria bisa menjadi manager tanpa seleksi terlebih dahulu. Karena hal itulah, Satria jadi lebih pendiam di kantor. Dia hanya mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan, menyapa sewajarnya dan hanya Toni teman dekatnya. Satria melakukan itu karena dia tidak ingin mencari rasa sakit hati dari karyawan lain.
__ADS_1
"Boleh, aku tidak masalah." Toni menganggukkan kepalanya. "Nanti aku tunggu di lobi kantor," lanjut Toni.
Pintu lift terbuka, mereka juga sama-sama keluar. Satria mengiyakan apa kata Toni sebelum akhirnya dia menemui sekretaris Pak Dewa untuk memberi tahukan kedatangannya.
Tidak sampai satu menit, Pak Dewa sudah memberi jawaban. Satria pun masuk usai sekretarisnya Pak Dewa membukakan pintu untuknya. Ketika sampai di dalam ruangan Pak Dewa, ternyata atasannya itu tidak sedang sendirian, melainkan sedang bersama perempuan yang tidak diketahui oleh Satria.
Apa jangan-jangan Pak Dewa punya selingkuhan? Tanya Satria dalam hati.
Astagfirullah, nggak boleh mikir jelek begitu. Pokoknya nggak boleh suudzon. Kata hati kecil Satria lagi.
"Assalamualaikum, Pak." Satria mengucap salam untuk menyapa Pak Dewa, dan ucapan salamnya membuahkan hasil. Pak Dewa jadi sadar kalau Satria sudah berdiri di samping kursi sofa untuk tamu kantornya.
Pak Dewa berdiri dari kursi kejayaannya, dia meminta Satria agar mendekat. Satria pun menurut, dia langsung memberikan berkas yang sudah berhasil dia kerjakan itu ke meja Pak Dewa.
"Itu berkas yang Bapak minta kemarin," kata Satria saat dia melihat Pak Dewa mengambil map yang tadi dia letakkan di atas meja.
"Ini sudah semua?" tanya Pak Dewa seraya melirik Satria sekilas.
"Sudah, Pak." Satria menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Pak Dewa masih memeriksa sampai lembar terakhir. Pimpinan perusahaan itu tidak berkata apa-apa dan dia langsung saja membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang sudah dia periksa. Satria lega melihatnya.
"Oh ya, kenalkan, ini putri saya. Namanya Zaskia Anggara." Pak Dewa tiba-tiba memperkenalkan perempuan yang sedari tadi memainkan ponselnya di samping meja Pak Dewa.
__ADS_1
"Halo Mbak, nama saya Satria." Satria pun ikut memperkenalkan dirinya kepada Zaskia. Dalam hati, Satria jadi merutuki dirinya sendiri karena tadi dia sempat mengira bahwa perempuan itu adalah simpanannya Pak Dewa.
"Nama kamu Satria?" tanya Zaskia sambil melirik ke arah Satria sebentar.
"Iya, Mbak," angguk Satria sopan.
"Kampungan banget namanya," balas Zaskia lagi yang mendapat teguran dari Pak Dewa. Namun Zaskia tidak memedulikan hal itu, dia tetap fokus ke arah ponselnya tanpa berminat buat minta maaf kepada Satria. "Ya sudahlah Pa, aku pergi dulu. Masih ada janji sama teman-temanku." Zaskia langsung pergi begitu saja usai menyalami tangan Pak Dewa dan tanpa melihat ke arah Satria.
Satria cuma tersenyum mendengar namanya dibilang kampungan. Lagi pula memang dia berasal dari kampung, jadi untuk apa Satria sakit hati.
"Maafkan putri saya ya, Satria. Dia memang seperti itu orangnya," kata Pak Dewa sedikit merasa tidak enak kepada Satria.
"Iya, Pak. Tidak apa-apa kok. Kalau begitu, saya juga permisi." Satria pun ikut pamit dari sana karena dia rasa urusannya di sini pun sudah selesai.
Pak Dewa mengiyakan, Satria pun keluar. Dia melihat Toni yang sepertinya sedang melihat ke suatu arah. Satria sengaja menepuk bahu Toni sampai membuat Toni kaget, "Kamu ini, sukanya ngagetin aku saja," desah Satria.
"Kamu melihat apa? Sampai tidak berkedip begitu?" tanya Satria penasaran.
"Barusan ada bidadari lewat, cantik banget," jawab Toni membuat Satria mengerutkan keningnya. "Dia keluar dari ruangannya Pak Dewa, berarti kamu juga ketemu sama dia," celetuk Toni lagi. Satria paham sekarang, ternyata yang dimaksud itu Zaskia.
"Oh, itu anaknya Pak Dewa. Namanya Zaskia katanya," kata Satria memberi tahu.
Toni langsung lemas, "Bagaikan langit dan bumi kalau aku mengharapkan dia," ucap Toni sok dramatis. Padahal dia hanya bercanda supaya Satria tertawa.
__ADS_1