Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Jual tas atau jual diri?


__ADS_3

Satu botol minuman keras masih ada di tangan Martin. Lelaki itu berjalan sempoyongan dari tempat biasa Martin nongkrong bersama teman-temannya. Kepalanya juga terasa pusing dan dia merasa dirinya melayang. Kadang Martin tertawa sendirian, khas orang yang sedang mabuk.


Tubuh Martin ambruk di depan pintu rumah Bu Marni, botol kaca yang tadi dia pegang terlepas dan pecah. Untungnya botol itu pecah di tempat lain, bukan di tempat Martin terjatuh. Sehingga dia masih bisa dibilang selamat.


Santika yang mendengar suara pecahan, seketika keluar rumah untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi di luar. Betapa kagetnya Santika ketika dia mendapati tubuh suaminya sudah tergeletak di lantai.


"Bu! Ibu!" panggil Santika ke Bu Marni yang mungkin saja sudah tertidur. "Ibu, bantuin aku bawa Mas Martin ke kamar!" Santika memanggil-manggil Bu Marni berulang kali karena ibunya tak kunjung keluar.


Pintu kamar Bu Marni terbuka, dia yang masih terkantuk-kantuk berusaha berjalan ke arah pintu utama. Bu Marni melihat putri sulungnya sedang berusaha membopong Martin. Bu Marni segera membantu Santika dengan meletakkan satu tangan Martin ke bahunya.


"Martin kenapa?" tanya Bu Marni heran karena menantunya tergeletak di lantai depan rumah.


"Paling juga mabuk, Bu." Santika menjawab seadanya karena tadi dia juga melihat ada pecahan botol alkohol yang berada tak jauh dari tempat Martin tergeletak.


Santika dan Bu Marni berusaha membaringkan tubuh Martin perlahan-lahan di ranjang. Tiba-tiba Martin bangun dan bergumam pelan kalau dia butuh air minum. Santika segera membantu suaminya untuk minum, sementara Bu Marni keluar kamar lalu menutup pintu rumahnya lagi.


Martin menoleh ke samping, dengan mata satunya Martin melihat ada Natasya yang tidur di sebelahnya. Martin mendesah kasar dan dia bangunkan putri dari istrinya itu.


"Bangun kamu! Tidur di luar sana!" titah Martin kepada Natasya.


Santika pun berinisiatif buat membangunkan Natasya, dia menarik paksa tangan anaknya hingga Natasya benar-benar terbangun.

__ADS_1


Gadis kecil itu menangis, suaranya mengudara di keheningan malam. Membuat seisi rumah jadi semakin kesal dan ingin marah.


"Mulai malam ini, kamu tidur di luar kamar. Jangan berani-berani lagi kamu tidur di kamar sama Ibu, sama Ayah!" ancam Santika kepada Natasya yang masih menangis. Gadis kecil itu terduduk di sofa ruang tamu sambil memeluk boneka usangnya yang sudah gepeng.


"Kamu bisa ngurus anak nggak sih sebenarnya? Berisik nih, aku mau tidur!" Suara Martin kembali terdengar dari dalam kamar, dia berteriak-teriak guna mengekspresikan kekesalannya karena tangisan Natasya.


Emosi Santika sudah mirip seperti kompor yang siap meledak. Dia jewer telinga Natasya, "Diam kamu! Berisik banget sih jadi anak. Jangan bikin Ayah kamu marah lagi sama Ibu," ancam Santika kepada putrinya sendiri. Santika sama sekali tidak memikirkan bagaimana putrinya akan tidur malam ini.


Natasya yang masih kecil, dia berusaha memahami apa yang terjadi. Di dalam pikiran Natasya, kalau dia tidak berhenti menangis maka dia akan mendapatkannya cubitan ataupun pukulan dari Santika lagi, akhirnya Natasya memaksakan diri untuk diam.


Gadis kecil itu membaringkan tubuhnya di sofa, perlahan-lahan dia mulai terlelap seraya memeluk boneka stitch berwarna biru yang sudah kumal dan bentuknya berubah gepeng. Natasya tidur tanpa selimut ataupun bantal di sana. Bahkan tidak ada dari Bu Marni ataupun Lusiana yang mau mengajak Natasya ikut tidur bersama mereka di kamar.


Tepat pukul dua pagi, Santika bangun dari tidurnya. Seperti biasa, dia akan membuat donat yang nantinya akan dia titipkan di warung seraya berangkat ke rumah majikannya. Dia harus menahan kantuknya dan rasa lelahnya. Semua ini Santika lakukan hanya agar dia tidak dipukul oleh Martin apabila suaminya itu meminta uang kepadanya.


Pagi-pagi sekali, Martin bangun dari tidurnya. Santika sudah tidak heran kalau dia harus mendengar Martin muntah-muntah di kamar mandi seperti sekarang ini. Santika pun membuatkan teh hangat buat Martin sebelum dia berangkat kerja.


Martin berjalan gontai menuju meja makan, dia menyesap teh hangat yang dibuatkan oleh istrinya. Pandangannya kini tertuju ke arah tas yang tergeletak di atas meja makan juga. Martin mengambil tas istrinya dan mencari uang di dalamnya.


"Kamu nyari apa, Mas?" tanya Santika kaget, dia baru saja kembali dari kamar untuk berganti pakaian tapi setelah ke dapur malah Santika melihat Martin sedang menggeledah isi tasnya.


Tidak ada jawaban dari Martin, dia mengambil dompet istrinya namun Santika dengan cepat bisa merebutnya lagi. Bukan Martin namanya kalau dia langsung kalah.

__ADS_1


Sekarang Martin malah semakin brutal, dia tampar wajah Santika hingga perempuan itu terhuyung ke belakang. Tak berhenti sampai di sana, Martin juga mendorong tubuh Santika sampai istrinya terjengkang.


Diambilnya dompet yang berada di tangan Santika tadi lalu Martin ambil semua uang di dalam dompet istrinya.


"Jangan diambil, Mas. Itu buat beli bahan-bahan buat bikin donat lagi besok sama buat belanja!" sentak Santika sambil menangis menahan sakit di wajah, punggung dan pinggangnya akibat tamparan dari Martin dan terkena benturan tembok.


"Cuma segini uangnya? Kamu pasti masih nyimpen yang lain 'kan?" tanya Martin menggebu-gebu. Uang yang barusan dia dapatkan dari dompet Santika hanya ada sebanyak 300 ribu rupiah.


"Memang cuma sisa itu uang aku, Mas. Aku nggak ada uang lainnya lagi," jawab Santika.


Martin meninggalkan Santika begitu saja, dia pindah ke kamar dan mengambil beberapa tas branded milik istrinya yang disimpan di dalam lemari.


Santika mengikuti Martin dan dia berusaha mencegah Matin, "Mau kamu bawa ke mana tas-tas aku, Mas?" sentak Santika di sela-sela tangisannya.


"Mau aku jual, biar aku dapat uang!" jawab Martin sambil mendorong tubuh Santika lagi hingga perempuan itu kembali terjatuh.


"Jangan kamu apa-apain barang-barang aku, Mas! Itu punya aku!" Santika tidak rela kalau barang-barang mewahnya dijual oleh Martin.


"Terus, mau bagaimana kamu ngasih uang ke aku? Kamu mau jual diri? Mending kamu jual diri atau tas-tas ini yang aku jual?" Martin menatap marah ke arah Santika, kedua matanya pun memerah karena marah.


Santika terdiam, dia tidak mengira kalau Martin tega menyuruhnya untuk jual diri. Padahal Santika itu berstatus sebagai istrinya, bukan kekasih apalagi orang lain.

__ADS_1


"Tega kamu ngomong begitu sama aku, Mas." Santika semakin menangis.


Sedangkan Martin, dia tidak peduli kepada Santika dan langsung pergi membawa beberapa tas branded milik istrinya untuk dia jual lagi. Martin tahu tempat yang suka menjual barang-barang bekas namun kualitas tidak murahan.


__ADS_2