Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Jatuh...


__ADS_3

Kekisruhan rumah tangga Santika dan Martin sepertinya belum cukup untuk membuat Bu Marni sakit kepala. Sekarang ditambah lagi keributan yang terjadi antara Lusiana dan Rendi. Sudah dari satu minggu yang lalu, Bu Marni mendengar Lusiana dan Rendi terus-menerus bertengkar. Seperti halnya hari ini, Lusiana dan Rendi kembali adu mulut.


"Apa hebatnya perempuan itu sampai kamu lebih memilih dia, Mas? Jelaskan padaku sekarang!" tuntut Lusiana kepada Rendi.


"Kamu masih nanya apa hebatnya kekasihku daripada kamu, hah? Kamu ngaca dong! Kamu dan keluargamu itu cuma benalu buat aku! Kalian itu bisanya cuma menyusahkan aku saja! Beda jauh sama kekasihku itu, yang bisanya cuma membuat aku senang dan bahagia!" Rendi juga membalas bentakan Lusiana.


Lusiana merasa dadanya panas, kelopak matanya pun tak kalah panasnya. Air mata sudah hampir jatuh namun Lusiana berusaha menahan. Lusiana tidak mengira kalau Rendi akan tega menyelingkuhi dirinya. Padahal selama ini Lusiana sudah merasa baik berperan menjadi istrinya Rendi. Lusiana selalu berpenampilan mewah dan cantik, tapi Lusiana tidak habis pikir kenapa Rendi masih saja tergoda dengan wanita lain di luar sana.


Satu minggu yang lalu, Lusiana memergoki Rendi sedang jalan berdua dengan seorang perempuan yang berpenampilan seksi. Lusiana jelas marah, dia menampar perempuan itu namun malah Rendi memarahinya habis-habisan. Semenjak itu, Rendi jadi semakin terang-terangan untuk melanjutkan hubungan gelapnya dengan kekasihnya itu.


Mulanya Lusiana ingin mempertahankan Rendi, dia tidak mau kehilangan Rendi karena jelas saja Lusiana tidak ingin hidup miskin seperti saat dia belum menikah dengan Rendi. Namun sepertinya tidak dengan Rendi, dia ingin berpisah dari Lusiana. Selama satu minggu ini juga Rendi terus berusaha membujuk Lusiana supaya mau bercerai dengannya. Bahkan surat gugatan cerai yang Rendi layangkan kemarin saja, dirobek oleh Lusiana.


"Oke, aku nggak masalah kalau kamu mau selingkuh sama cewek itu. Aku akan tetap bertahan jadi istri kamu, bagaimanapun juga aku nggak akan mau mengalah demi perempuan perebutan suami orang!" Lusiana menurunkan egonya, hanya demi bisa bertahan dengan Rendi. Dia bahkan tidak lagi memikirkan tentang harga dirinya, yang Lusiana pikirkan hanyalah dia tetap bisa hidup enak. "Aku juga nggak masalah kalau kamu mau menikah lagi sama dia. Aku rela dimadu," ucap Lusiana membuat Rendi terkekeh.

__ADS_1


Bu Marni dan Santika pun sama-sama kaget mendengar keputusan Lusiana yang menurut mereka itu keputusan gila. Di mana-mana tidak ada perempuan yang mau berbagi suami, tapi kali ini malah Lusiana terang-terangan bilang kalau dia rela membagi Rendi dengan wanita lain.


Rendi tertawa mengejek, "Tapi sayangnya, kekasihku tidak dijadikan yang kedua. Dia mau menjadi Nyonya di istanaku, dan dia tidak mau berbagi suami seperti yang kamu lakukan sekarang," balas Rendi mengejek.


Lusiana tidak bisa berkata-kata, dia mencoba menahan amarah yang membeludak di dalam dadanya. Rasanya ingin sekali Lusiana berteriak kencang di depan wajah Rendi, kalau dia tidak mau bercerai. Namun sepertinya percuma, Rendi tetap teguh pada pendiriannya.


"Ini, sudah aku buatkan surat cerai lagi. Kali ini, kamu harus tanda tangan," ancam Rendi kepada Lusiana. Rendi tahu-tahu menarik rambut panjang Lusiana sampai istrinya menjerit kesakitan. Tak berbeda jauh dengan Bu Marni dan Santika, mereka pun ingin mendekat buat menolong Lusiana namun keburu dihentikan oleh Rendi dengan ancaman kalau Rendi bakal berbuat yang lebih nekat kepada Lusiana apabila mereka berani mendekat.


"Dasar, keluarga hancur." Martin keluar dari kamar dengan wajah kesalnya. Sepertinya dia baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara teriakan Lusiana. Martin tak menghiraukan mereka, dia pun pergi dari rumah tanpa ingin membantu melerai.


Lusiana tidak bisa apa-apa selain mengiyakan. Dia menangis ketika harus menandatangani berkas perceraiannya dengan Rendi. Tangannya sampai gemetar, terlihat pada tandatangan yang barusan dia coretkan di atas surat perceraian mereka. Rendi tersenyum melihat Lusiana menurutinya, dia lepaskan rambut Lusiana yang tadi dia jambak ketika Lusiana baru saja selesai menandatangani semua berkas perceraian mereka.


Rendi mengambil surat tadi dan segera dia masukkan ke dalam amplop sebelum Lusiana merebutnya lalu dirobek lagi, "Jangan lupa buat datang ke persidangan perceraian kita," kata Rendi sebelum dia meninggalkan rumah Bu Marni.

__ADS_1


Lusiana terjatuh, dia menangis sejadi-jadinya karena dia tidak bisa mempertahankan Rendi sebagai suaminya. Padahal Lusiana sudah bersedia kalau Rendi mau memadunya dengan perempuan lain. Lusiana tidak tahu harus bagaimana, dia mengingat kalau uang dalam rekeningnya tersisa sedikit.


Santika dan Bu Marni membantu Lusiana berdiri. Santika pun mengambilkan air minum untuk Lusiana, dia turut bersedih atas musibah yang menimpa adiknya. Santika kira, Rendi memang benar-benar baik. Ternyata semuanya juga busuk.


Seperti kata Rendi beberapa hari lalu, kalau hari ini adalah sidang perceraiannya dengan Lusiana. Hakim sudah mengetukkan palu dan mereka berdua resmi bercerai. Bu Marni membantu Lusiana berjalan pulang. Sementara Santika, dia tidak bisa izin karena harus tetap bekerja. Santika tidak ingin gajinya dipotong kalau izin, terlebih lagi dia butuh uang banyak untuk hidupnya sekeluarga.


Setibanya di rumah, Lusiana langsung mengurung dirinya di dalam kamar. Tangis menghiasi wajahnya. Bu Marni jadi khawatir kalau terjadi apa-apa pada Lusiana.


Dua minggu berlalu, Lusiana jadi semakin frustrasi karena dia tidak punya uang. Kehidupan Santika sekeluarga semakin tak keruan. Terlebih lagi, Martin masih saja suka mengacau. Kemarin Martin baru kena masalah karena melakukan penyerangan kepada teman judinya, sehingga Santika harus memberi biaya pengobatan untuk orang yang diserang Martin itu.


Kehidupan Santika semakin sulit. Apalagi setelah perceraian Lusiana dan Rendi dua minggu lalu. Semuanya jadi semakin berat. Dulu saat masih ada Rendi, setidaknya masih ada yang membantu untuk urusan dapur, membayar tagihan listrik dan air. Namun setelah Rendi menceraikan Lusiana, semuanya jadi semakin berat karena Santika harus menanggung semuanya sendiri.


Setiap malam, Santika sering menangis diam-diam di kamarnya. Rasanya hampir gila, Santika seolah-olah tidak bisa menanggung semua ini sendirian lagi, tapi Santika juga tidak bisa mengandalkan Martin yang malah membebani dirinya.

__ADS_1


Keluarga Santika semakin berantakan, Martin sering tidak pulang dan sering mabuk-mabukan. Setiap hari selalu meminta uang kepada Santika. Untuk memenuhi keinginan Martin, Santika bahkan setiap malam harus membuat donat yang nantinya akan dia titipkan di warung sambil berangkat bekerja ke rumah majikannya.


__ADS_2