Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Terpaksa


__ADS_3

Buka pintunya!" teriak Martin dari luar rumah sambil menggedor-gedor pintu.


Santika bergegas keluar dan membukakan pintu untuk suaminya. Setelah dibuka, sekarang Santika mendapatkan Martin yang sudah teler. Suaminya itu baru saja selesai mabuk-mabukan. Dengan sekuat tenaga, Santika membantu Martin masuk ke kamar mereka.


"Kamu kenapa mabuk-mabukan sih, Mas?" tanya Santika sedikit kesal.


"Halah, diam kamu. Gara-gara kamu, aku jadi begini!" sentak Martin. Dia tidak lagi memerhatikan istrinya dan langsung tidur begitu saja tanpa berganti pakaian. Begitu pula Santika yang malas menggantikan pakaian untuk Martin.


Pagi-pagi sekali, Martin sudah ribut memanggil-manggil Santika. Dia mengeluh mengenai kepalanya yang terasa berat akibat pengaruh alkohol kemarin. Santika membuatkan secangkir teh manis untuk suaminya. Tak lupa, Santika pun sudah menyiapkan sarapan buat Martin berangkat kerja.


"Ini, Mas. Dihabiskan makanannya." Santika meletakkan sepiring nasi beserta lauk-pauk untuk Martin di atas meja makan.


Tanpa banyak kata, Martin pun memakan masakan yang dihidangkan. Seusai makan, Martin kembali lagi ke kamar dan bermain ponselnya. Santika dibuat heran karena tingkah Martin kali ini. Didekatinya Martin yang acuh tak acuh kepada Santika.


"Kamu nggak berangkat kerja, Mas?" tanya Santika pelan, karena takut Martin bakal marah kepadanya.


"Aku dipecat kemarin," jawab Martin enteng.


Emosi Santika memuncak mendengar Martin dipecat, "Ya kalau kamu dipecat, kamu cari kerjaan lain dong, Mas. Bukan malah santai-santai main HP di kamar begini. Memangnya kamu kira, beras bisa turun dari langit?" Santika sudah marah-marah kepada Martin karena perkara pekerjaan.


Martin yang juga sebelas dua belas dengan Santika, dia bangun dari baringannya. Tangannya maju, dia pegang leher istrinya kuat-kuat hingga Santika sedikit sulit bernapas. Santika memegang tangan kanan Martin pakai kedua tangannya dan berharap Martin mau melepaskan cengkeraman tangannya di leher Santika.

__ADS_1


"Kamu kalau ngomong itu dipikir dulu! Dipikir pakai otak, baru ngomong!" sentak Martin, di saat yang bersamaan pula Martin melepaskan cengkeraman tangannya di leher Santika. Akibat perbuatan Martin, Santika jadi terbatuk-batuk akibat sulit bernapas. "Kamu sekarang yang cari kerja, aku capek kerja terus cuma buat memenuhi kegilaan kamu sama belanja barang-barang nggak jelas itu!" lanjut Martin tanpa memedulikan Santika yang sudah hampir menangis.


Santika keluar kamar, dia menangis di dapur karena merasa tak tahan akan perlakuan Martin yang kasar. Bu Marni dan Lusiana melihat semuanya, tapi mereka hanya bisa menenangkan Santika di belakang Martin.


"Kamu yang kuat ya, Mbak. Mungkin saja Mas Martin kayak begitu karena dia lagi capek dan marah karena habis dipecat dari pekerjaannya." Lusiana berusaha menenangkan Santika, dia peluk kakaknya yang masih menangis.


Santika tidak bisa apa-apa selain menangisi nasibnya. Dia tidak terima kalau Martin tidak lagi bekerja. Di dalam pikiran Santika sekarang hanyalah uang, dia tidak bisa hidup tanpa uang. Bagaimana caranya dia bisa berbelanja barang-barang mewah kalau Martin saja tidak bekerja. Otomatis Martin tidak akan memberinya uang selama suaminya itu tidak kerja.


***


Kesabaran Santika sudah berada di ujung tanduk. Dia kesal kepada Martin yang kerjaannya hanya main HP, makan, ngopi dan menonton video para biduan dangdut di aplikasi video. Saking kesalnya, Santika sampai mengambil ponsel milik Martin dari tangannya.


"Kamu itu harusnya kerja, Mas. Bukan malah kayak anak kecil begini!" sentak Santika yang sudah dipenuhi emosi.


Kedua mata Martin memerah, kemarahannya kepada Santika tidak bisa dibendung. Tangannya terkepal kuat-kuat dan Martin langsung menampar wajah Santika. Rasa panas menjalar di pipi Santika. Perempuan itu bahkan sampai terjengkang dan tubuhnya membentur lemari pakaian di belakangnya. Santika pikir, Martin hanya akan memberinya satu tamparan, tapi Martin kembali menampar wajahnya. Namun kali ini pipi Santika yang bagian kanan yang dijadikan sasaran.


Lusiana dan Bu Marni mendengar keributan, mereka berlari ke arah Santika yang sudah terduduk di lantai seraya menangis memohon ampun kepada Martin. Santika meringis menahan nyeri ketika kedua pipinya dicengkeram erat-erat oleh Martin tanpa perasaan.


"Tolong jangan tampar aku lagi, Mas." Mohon Santika dengan suara anehnya karena pipinya dicengkeram begitu kuat.


"Kamu itu harusnya bersyukur, karena aku mau menikahi janda kayak kamu! Apalagi kamu janda beranak satu!" sentak Martin.

__ADS_1


Hati Santika sakit mendengar ini, dia tidak mengira kalau kata-kata itu akan keluar dari bibir Martin. Kenapa Martin juga harus menyakiti hatinya? Kenapa tidak cukup dengan fisiknya saja?


Lusiana memeluk ibunya yang menangis melihat Santika dihajar oleh Martin. Lusiana tidak ingin ibunya ikut campur karena dia tidak mau kalau Bu Marni juga terkena serangan fisik oleh Martin.


"Mulai sekarang, kamu yang kerja! Kamu yang cari uang! Lagi pula, di rumah ini itu semuanya keluarga kamu!" sentak Martin seraya menghempaskan tubuh Santika begitu saja. "Kalau kamu nggak mau kerja, akan aku pukul dan aku hajar kamu!" Martin mengancam Santika supaya mau menurutinya.


Santika mengangguk mengiyakan, dia tidak mau dihajar lagi oleh Martin. Jadi jalan satu-satunya hanyalah menuruti apa yang Martin katakan. Sekarang juga, Santika keluar kama dan mencuci wajahnya. Diikuti oleh Lusiana dan Bu Marni.


"Mbak mau nyari kerjaan di mana? Memangnya Mbak Santi bisa kerja sama orang?" tanya Lusiana, dia prihatin kepada kakaknya.


Santika mengangguk, dia bilang kalau dia harus bisa. Lagi pula, mereka juga butuh makan. Belum lagi keperluan Natasya juga banyak.


Santika keluar dari rumah, dia berjalan ke sana kemari untuk mencari pekerjaan apa saja yang sekiranya bisa dia lakukan. Namun kebanyakan, orang-orang membutuhkan tenaga sebagai asisten rumah tangga, buruh nyuci dan setrika, dan pelayan di warung-warung sisi jalan. Santika bingung harus kerja apa. Dia ingin kerja di tempat yang nyaman, yang membuatnya tetap terlihat cantik tapi Santika tidak menemukannya. Hingga akhirnya, mau tak mau Santika pun mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah besar yang membutuhkan asisten rumah tangga cepat. Rencananya, Santika akan berangkat pulang pergi dari rumah ke rumah majikannya setiap hari.


"Kamu tidak perlu mencuci pakai tangan, di sini mencucinya pakai mesin kok," kata sang pemilik rumah sambil menunjukkan letak mesin cuci, tempat menjemur dan tempat buat menyetrika.


"Iya, Bu," jawab Santika sambil mengangguk.


Ibu pemilik rumah tadi lanjut memberi tahu Santika tentang semua yang harus Santika kerjakan. Santika akan melakukan pekerjaan dari memasak, mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel dan memberi makan kelinci peliharaan sang tuan rumah.


Sebenarnya Santika tidak suka bekerja seperti ini. Dia merasa harga dirinya turun drastis, tapi Santika terlalu takut kepada Martin kalau tidak mendapatkan pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2