
Santika mencari-cari dompetnya di dalam tas yang kemarin dia pakai untuk arisan bersama teman-teman sosialitanya. Santika ingat, kalau dia tidak lupa menaruh dompetnya. Semalam dia masih melihat kalau dompet itu berada di dalam tas, tapi barusan saat Santika ingin mengambil uang buat membayar belanja online-nya, Santika tidak menemukan dompetnya di mana-mana.
Santika beralih ke meja riasnya, dia mencari di dalam laci tapi masih juga tidak ketemu. Dia tidak menyerah, Santika ganti mencari dompetnya ke tasnya yang lain namun hasilnya tetap sama. Santika tidak mendapatkan dompetnya di mana-mana.
"Bu, saya masih harus nganterin paketan ke tempat lain." Kurir paket di depan kembali memanggil Santika karena Santika tidak kunjung keluar.
Dengan langkah cepatnya, Santika mencari Martin yang tadi ada di dapur. Namun di tengah jalan menuju dapur, Santika melihat Bu Marni sedang menghitung uang di dalam kamar. Santika langsung masuk ke kamar dan mengambil uang Bu Marni sebanyak empat lembar berwarna merah.
"Eh, kamu apa-apaan sih? Balikin uang Ibuk!" sentak Bu Marni sambil melotot.
"Nanti aku balikin, Bu. Ini pinjam dulu sebentar untuk bayar barang belanjaan aku. Ibu ini, kayak sama siapa saja. Sama anak sendiri juga pelit," balas Santika. Dia langsung keluar dari kamar Bu Marni dan keluar rumah. Dia berikan uang berwarna merah sebanyak empat lembar tadi kepada kurir paketnya.
"Makasih, Bu." Kurir tadi langsung pergi begitu saja dari sana tanpa banyak kata. Baginya, yang penting dia sudah dibayar. Untuk urusan hal-hal lainnya, kurir itu tetap tidak mau tahu karena bukan urusannya.
Santika kembali ke dalam rumah. Setibanya di kamar, dia melihat Martin sedang tidur-tiduran di atas ranjang sambil main ponsel. Santika meletakkan kotak paketnya ke atas meja lalu dia menghampiri Martin.
"Mas, kamu lihat dompet aku yang ada di dalam tas nggak?" tanya Santika seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Martin melirik ke arah Santika, lalu dia ganti melirik paket yang tadi diletakkan di atas meja rias oleh Santika. Martin mendesah pelan, dia masukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu berdiri.
"Lihat, aku ambil uangnya buat beli rokok, kuota, kopi, sama buat traktir alkohol teman-temanku semalam," jawab Martin enteng.
Dada Santika bergemuruh, dia marah mendengar jawaban Martin. Kedua matanya nyalang menatap suaminya, "Kamu itu bagaimana sih, Mas? Itu uang aku buat aku pakai bayar belanjaan aku! Kenapa malah kamu ambil?" sentak Santika yang sudah dikuasai emosi.
Martin pun ikut emosi, kedua bola matanya melotot melihat ke arah Santika, "Kamu itu harusnya sadar, uang itu juga yang nyari aku! Bukan kamu! Jadi wajar kalau aku ngambil uang itu!" Martin balas membentak Santika karena tidak rela dibentak oleh istrinya. Martin merasa harga dirinya benar-benar jatuh kalau sampai dia kalah dari perempuan. Itulah yang Martin pikirkan sekarang.
"Ya tapi 'kan uang itu sudah kamu kasih ke aku, Mas! Aku berhak atas uang itu! Aku ini istri kamu, tugas kamu itu memang mencari uang buat menafkahi aku!" balas Santika lagi.
"Ya aku belum gajian lagi! Wajar kalau aku ngambil uang yang sudah aku kasih ke kamu! Itu 'kan uang aku juga! Aku yang susah-susah nyari, panas-panasan, kehujanan, dan kamu enak-enak di rumah. Terus sekarang kamu mau protes kalau aku ngambil uang itu? Harusnya kamu ngaca dong!" Martin tak segan-segan melontarkan kalimat yang bisa menyakitkan hati Santika.
Bu Marni mendengar pertengkaran antara Santika dan Martin. Dia bergegas melihatnya dari ambang pintu kamar putri sulungnya. Bu Marni ingin maju dan membela Santika tapi dia tidak berani.
"Ya kalau kamu belum gajian, harusnya kamu nyari uang tambahan dari mana saja! Jangan begini! Sekarang 'kan jadinya aku nggak uang sama sekali. Gimana kita belanja buat makan besok?" Santika masih saja membentak-bentak Martin tanpa takut.
Martin merasa telinganya hampir pecah mendengar suara cempreng Santika yang terus berteriak-teriak tanpa henti. Kepalanya terasa pusing karena memikirkan istrinya itu yang sangat boros dan tidak bisa melihat barang bagus sedikit pun.
__ADS_1
"Kamu saja yang boros! Kamu tidak bisa mengatur keuangan! Kamu terus-menerus menghambur-hamburkan uang!" marah Martin kepada Santika. "Kamu yang dalam satu bulan bisa beli tiga tas branded, kosmetik, perawatan, pakaian bermerek dan segala segala macamnya! Kamu yang boros, Santika!" teriak Martin tepat di depan wajah Santika.
Santika tidak terima dibilang boros oleh Marin. Dadanya bergemuruh dan bibirnya ingin sekali melontarkan kata-kata kasar untuk suaminya, "Kamu saja yang sedikit ngasih uang ke aku! Kamu mau istri cantik, tapi kamu ngeluh buat modalin aku perawatan, beli kosmetik mahal dan pakaian bermerek. Kamu yang miskin, Mas!" balas Santika saking tak terimanya dibilang boros.
Martin marah semarah-marahnya. Kedua matanya sudah memerah, tangannya mengepal kuat-kuat dan dia siap melayangkan tamparan untuk Santika. Namun beruntungnya Santika, Bu Marni cepat-cepat berlari dan menghalau tangan Martin yang sudah hampir mengenai wajah Santika sehingga Martin gagal menampar Santika.
"Nak Martin, tolong jangan kasar sama Santika. Bagaimanapun juga, Santika ini istri kamu." Bu Marni memohon kepada menantunya supaya tidak kasar lagi kepada Santika.
"Dasar, anak sama Ibu sama saja. Sama-sama menyusahkan." Martin langsung saja pergi dari kamar dan dia keluar rumah, entah ke mana tujuannya juga Santika maupun Bu Marni tidak tahu.
Tubuh Santika ambruk di atas ranjang, untungnya dia tidak sampai pingsan dan hanya terduduk begitu saja. Santika menangis, mengingat semua perkataan Martin yang menyayat hatinya. Bu Marni mencoba menenangkan Santika, dia peluk putri sulungnya dengan harapan kalau Santika tidak akan memasukkan semua perkataan Martin ke dalam hati.
"Kenapa Mas Martin tega ngambil uang aku yang sudah dia kasih ke aku, Bu? Itu 'kan uang aku, hak aku mau aku pakai buat beli apa saja. Lagi pula, Mas Martin juga seneng kalau dia punya istri cantik. Aku dandan dan perawatan juga buat dia, Bu." Santika memeluk Bu Marni, dia menumpahkan tangisnya dalam pelukan ibunya.
Bu Marni mengusap-usap punggung Santika dan berharap tangisan Santika akan segera reda. Dia juga tidak menyangka kalau Martin tadi tega hampir memukul wajah Santika.
Sementara di luar, Martin masih saja mengomel sendiri, "Dasar istri tidak tahu diri. Sudah bagus aku mau menikahinya yang seorang janda anak satu. Masih saja dia seenaknya saja menghamburkan."
__ADS_1