
Satu bulan sudah Satria bekerja di perusahaan milik Dewa Anggara. Dia bekerja keras tanpa mengenal lelah. Satria juga terkenal ramah di kalangan karyawan kantor. Saking ramah dan baiknya Satria, dia bahkan sering dimanfaatkan oleh karyawan lain untuk membelikannya makanan. Namun Satria selalu bilang kalau dia tidak apa-apa melakukan itu. Lagi pula, Satria ikhlas membelikan makanan untuk karyawan.
Seperti halnya hari ini, Satria ke luar kantor untuk membelikan pesanan beberapa karyawan. Satria juga sering mendapatkan makanan gratis oleh mereka sebagai upah karena sudah mau membelikan makanan.
Meski aslinya bukan itu tujuan Satria mau membelikan mereka makanan, tapi kalau dikasih maka Satria tidak bisa menolak.
Satria baru saja memasuki kantor tempatnya bekerja. Dia akan janjian dengan karyawan yang memesan di dapur kantor. Setibanya di dapur, ternyata sudah banyak yang menunggunya.
"Mas Sat, pesanan aku ada?" tanya salah seorang karyawan yang bekerja di lantai tiga.
"Ada, Mbak. Pokoknya ada semua," jawab Satria disertai senyuman ramahnya.
Mereka bersorak senang karena bisa makan menu yang mereka inginkan. Satria membagikan satu persatu bungkus nasi kepada sebelas karyawan yang menitip makanan. Tak lupa, Satria juga sama-sama mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah membelikan makan untuknya.
Di dapur sekarang tersisa Satria dan beberapa office boy yang memang sedari tadi ada di sana. Satria langsung makan bersama yang lain. Dia memiliki satu teman dekat selama berada di kantor. Panggil saja teman Satria itu dengan nama Toni. Mereka sama-sama dari kampung, mengadu nasib ke kota untuk mencari uang yang banyak. Jadi paling tidak, Satria dan Toni bisa saling mengerti satu sama lain.
"Kamu sudah bisa menghubungi putrimu, Sat?" tanya Toni di sela-sela kegiatan makan siang mereka.
Satria menggelengkan kepalanya, "Aku tetap tidak bisa menghubunginya. Bahkan aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang," sahut Satria.
Toni mengusap bahu Satria, dia mencoba menghibur temannya walau hiburannya mungkin juga tidak terlalu berpengaruh untuk Satria. Tapi setidaknya Toni ada sedikit simpati untuk Satria daripada tidak sama sekali.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, Sat. Mending kamu kerja keras saja di sini, nanti pulang-pulang bawa uang buat anak kamu. Tahan dulu kangennya, fokus buat kerja aja dulu." Toni lagi-lagi mencoba menguatkan Satria.
"Terima kasih ya, Ton," sahut Satria. "Kamu juga yang kuat." Satria pun tak ingin kalah, dia juga balas menyemangati Toni.
Mereka segera menyelesaikan acara makan siang karena masih banyak tempat yang belum mereka bersihkan. Terlebih lagi lantai, karena lantai selalu diinjak-injak setiap waktu.
Satria lanjut membersihkan kamar mandi laki-laki. Saat dia masuk ke area toilet, di dalam sana hanya ada satu orang yang sedang mencuci tangan di wastafel. Satria tidak terlalu memperhatikannya, dia langsung masuk ke salah satu toilet.
Sambil membersihkan toilet, Satria sambil bernyanyi-nyanyi guna mengalihkan rasa sedihnya karena merindukan Natasya di kampung. Tak berselang lama, Satria ganti membersihkan bagian luar toilet. Ketika Satria ke area wastafel, ternyata laki-laki bersetelan jas hitam tadi baru saja keluar dari toilet. Namun laki-laki tadi tak sengaja meninggalkan sebuah keresek hitam berukuran lumayan besar.
"Orang jaman sekarang, sampah bukannya dibuang ke tong sampah malah ditinggalin gitu aja di sini," gumam Satria seraya mengambil keresek tadi. Satria membuka tali keresek tadi hanya untuk memastikan apa isinya. Betapa kagetnya Satria ketika yang dia lihat bukanlah sampah, melainkan uang dengan jumlah yang sangat banyak. Uang itu juga berwarna merah semua dan masih wangi khas uang.
"Astagfirullah, berarti Bapak tadi lupa sama kereseknya." Satria langsung menenteng alat kebersihannya beserta keresek hitam tadi. Niat hati, Satria ingin menyusul orang yang tadi tidak sempat dia lihat wajahnya.
Kepala Satria celingak-celinguk mencari-cari orang yang tadi hanya dia lihat bagian punggungnya saja. Di tangannya ada keresek hitam berisi uang yang dia temukan tadi. Satria bahkan tidak tahu berapa total uang tersebut. Dan ini pertama kalinya Satria melihat uang sebanyak itu. Seumur-umur inilah pertama kalinya buat Satria. Tangannya saja sampai gemetar membawa keresek hitam itu.
"Nah, kalau nggak salah Bapak itu deh tadi," gumam Satria. "Benar, Bapak itu. Soalnya aku ingat betul jam tangannya." Satria mempercepat langkahnya, dia ingin mengejar laki-laki yang sepertinya sedang bertelepon dengan orang lain.
"Pak! Tunggu!" panggil Satria, tapi yang menoleh bukannya orang yang dia maksud, melainkan orang lain.
Satria melihat laki-laki setengah baya tadi masuk ke sebuah mobil dan meninggalkan area gedung perusahaan. Satria tidak punya pilihan lain selain menyetop taksi dan mengikuti mobil tersebut.
__ADS_1
Duh, mana uangku pas-pasan lagi. Terus ini malah naik taksi. Batin Satria.
Tapi enggak apa-apa lah, lagi pula uang ini juga pasti penting banget buat Bapak itu. Namanya nolong orang nggak boleh perhitungan. Lanjut Satria lagi masih bergumam dalam hati.
Taksi masih mengikuti mobil laki-laki yang entah siapa. Sampai akhirnya, mobil itu masuk ke dalam rumah megah. Satria juga ikut turun setelah membayar argo taksi tadi. Sayangnya, Satria tidak bisa masuk ke dalam rumah. Satpam menggalang-halanginya karena Satria dianggap orang aneh.
Tidak sampai dua menit laki-laki tadi masuk rumah, dia sudah hampir keluar lagi. Namun kali ini dia berhenti di depan gerbang dan menemui Satria karena merasa hapal dengan keresek hitam yang ada di tangan Satria.
"Loh, ini rumahnya Pak Dewa?" tanya Satria, dia tahu kalau laki-laki paruh baya tadi adalah Dewa Anggara. Tentu saja Satria tahu karena dia sudah melihat wajahnya, berbeda dengan tadi.
"Kamu mencari saya?" tanya Pak Dewa.
"Iya, Pak. Saya ke sini untuk mengembalikan ini. Tadi Bapak meninggalkannya di toilet karyawan." Satria menyerahkan keresek hitam tadi kepada Dewa.
Dewa berulang kali mengucapkan syukur seraya menatap ke arah langit. Dewa sekarang ganti melihat wajah Satria, "Terima kasih ya, kamu sudah mengembalikan uang saya. Ini nilainya sebanyak tiga ratus juta, dan tadi niatnya ingin saya sumbang-sumbangkan ke beberapa panti asuhan. Saya sudah takut kalau uangnya hilang, ternyata ditemukan oleh orang baik dan jujur seperti kamu." Pak Dewa terus mengucap syukur dan terima kasih kepada Satria yang sudah berbaik hati kepadanya.
"Sama-sama, Pak," balas Satria.
"Kalau begitu, kamu itu salah satu karyawan di perusahaan saya?" tanya Pak Dewa memastikan.
Satria mengangguk, "Iya, Pak," jawab Satria sopan.
__ADS_1
Pak Dewa senang bahwa di perusahaannya ternyata ada laki-laki sejujur Satria.