
Seusai mengembalikan uang milik Pak Dewa ke rumahnya, Satria tentu saja kembali ke kantor. Dia bahkan tadi sampai lupa untuk izin kepada kepala kebersihan perusahaan.
Satria sudah bisa menduga kalau setibanya di kantor nanti, dia pasti mendapat omelan dari kepala divisinya.
Satria berjalan ke arah ruang alat, dia bertemu dengan kepala divisi kebersihan. Cepat-cepat Satria minta maaf karena barusan dia pergi tanpa pamit. Namun tanpa Satria sangka, kepala bagian kebersihan tadi tidak marah kepada Satria karena Pak Dewa sudah meneleponnya terlebih dulu dan mengatakan kalau Satria sedang ada perlu di rumahnya.
Satria bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena sudah diberikan pimpinan sebaik Pak Dewa.
Hari terus berlanjut, Satria menjalani kehidupannya seperti biasa. Sepulang dari kantor, dia akan langsung membersihkan diri dan ikut salat berjamaah di masjid, lanjut mengaji, mencari makan malam, dan beristirahat di kontrakan.
"Ayah selalu berdoa untuk kesehatan kamu, Nak." Sebelum tidur, Satria lebih dulu mencium Natasya dari kaca pigura yang sedari tadi dia pegang. Hanya ini yang dapat Satria lakukan setiap dia merindukan putri kecilnya yang jauh dari pelupuk mata.
Hari berganti, sorot matahari pagi perlahan-lahan masuk dari celah-celah jendela kontrakan Satria. Suara burung gereja pun terdengar saling bersahutan satu sama lain. Tentunya Satria sudah bangun dari sebelum adzan subuh berkumandang. Sekarang, Satria bahkan sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia sama sekali tidak malu kalau harus memakai seragam office boy dari kontrakan ke kantor.
"Bismillah," ucap Satria sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kontrakan.
Selangkah demi selangkah yang Satria lalui, akhirnya dia sampai juga di kantor tempat dia bekerja. Jarak antara kontrakan dan kantornya memang tidak terlalu jauh. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, Satria hanya akan menghabiskan waktu sekitar lima belas menit. Bagi Satria, lebih baik dia berjalan kaki daripada naik angkot karena uang ongkosnya bisa dia tabung.
"Selamat pagi, Pak," sapa Satria kepada satpam kantor, yang juga dibalas dengan ucapan selamat pagi oleh sang satpam.
Satria lanjut berjalan menuju ruang kebersihan. Semuanya masih berjalan seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Hingga akhirnya kepala bagian kebersihan memanggil Satria, membuat Satria yang sudah siap tempur bersama alat-alat pelnya jadi dia urungkan.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Satria bingung.
__ADS_1
"Kamu dipanggil sama Pak Dewa buat ke ruangannya sebentar," jawab kepala bagian kebersihan tadi.
Satria mengerutkan keningnya, dia antara takut dan waspada. Jujur saja, Satria takut kalau-kalau uang yang dia kembalikan kemarin itu ada yang kurang. Jadilah Satria waspada dalam hati.
"Kira-kira ada apa Pak Dewa memanggil saya ya, Pak?" tanya Satria lagi yang benar-benar ketakutan.
"Saya juga tidak tahu, mending sekarang kamu ke sana saja biar lebih jelas." Kepala bagian kebersihan tadi langsung pergi meninggalkan Satria begitu saja dari sana.
Satria berjalan perlahan ke ruangan Pak Dewa. Hatinya bergemuruh, takut dan bingung campur aduk menjadi satu. Bahkan Satria bisa merasakan tangannya gemetar sekarang karena saking takutnya.
"Mas Satria sudah ditunggu sama Pak Dewa di dalam," ucap sekretaris Pak Dewa memberi tahu ketika Satria baru saja sampai di depan ruangan Pak Dewa.
"Oh, iya Mbak. Terima kasih," jawab Satria seadanya.
Satria masuk ke dalam ruangan Pak Dewa. Dia disambut baik oleh Pak Dewa, sementara Satria masih bingung. Untuk urusan apa dia dipanggil ke ruangan atasannya?
"Ada apa Bapak memanggil saya ya?" tanya Satria was-was. Tangannya sudah *******-***** ujung seragamnya.
Pak Dewa berjalan maju, dia menghampiri Satria dan menepuk bahunya beberapa kali sambil tersenyum," Mulai hari ini, jabatan kamu akan saya naikkan. Kamu tidak lagi menjadi office boy, melainkan jadi manager keuangan di perusahaan ini." Pak Dewa menjelaskan alasannya memanggil Satria ke ruangannya.
Satria syok, dia tidak mengira akan mendapat kabar seperti ini. Padahal tadi Satria mengira kalau dia akan mendapatkan omelan dari Pak Dewa atau komplenan mengenai jumlah uang yang dia kembalikan kemarin.
"Bapak serius? Bapak tidak salah orang?" tanya Satria saking tidak percayanya kalau dia diangkat menjadi manager keuangan di perusahaan milik Dewa Anggara.
__ADS_1
Pak Dewa menganggukkan kepalanya, "Saya tidak pernah bercanda dalam berbicara. Sekalinya saya bilang A maka itulah jawabannya," jawab Pak Dewa menjelaskan.
Satria seketika sujud syukur di sana, dia terus mengucap terima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena telah memberinya limpahan rezeki. Satria hampir saja menangis kalau dia tidak ingat bahwa sekarang ini dia sedang berada di dalam ruangan bosnya.
"Ini saya punya hadiah untuk kamu, semoga ukurannya pas di kamu." Pak Dewa memberikan satu paper bag kepada Satria.
Satria bangun dari sujudnya lalu dia menerima paper bag tadi. Ketika Satria membukanya, ternyata itu isinya adalah setelan kemeja, celana, jas, dasi dan juga satu kotak sepatu pantofel. Lagi-lagi Satria mengucapkan terima kasih kepada Pak Dewa yang sudah sangat baik kepadanya.
Tak berselang lama, pintu ruangan Pak Dewa terbuka. Ternyata yang masuk itu adalah beberapa karyawan Pak Dewa dan juga sekretaris pribadinya Pak Dewa. Mereka sama-sama memberikan selamat atas kenaikan jabatan untuk Satria. Melihat hal ini, Satria semakin saja dibuat haru. Dia merasa menjadi orang yang sangat berguna.
"Terima kasih semuanya," ucap Satria kepada semua karyawan yang memberinya ucapan selamat. Satria juga mendapatkan kalung bunga, bouquet bunga dan sebuah kue tart untuk merayakannya.
Acara kenaikan jabatan untuk Satria pun telah usai. Satria sekarang sudah berganti pakaian, dia mengenakan semua pakaian yang diberikan oleh Pak Dewa. Ada senyuman merekah di wajah tampannya yang tidak pernah lelah memberikan senyuman bagi siapa saja.
"Ini ruangannya, Pak," ucap seorang perempuan yang menjabat sebagai sekretaris Satria.
Satria menganggukkan kepalanya, dia berterima kasih dan minta kepada sekretarisnya untuk membantunya bekerja. Karena bagaimanapun juga, Satria masih harus banyak belajar agar dia tidak ditertawakan oleh karyawan lain karena ketahuan tidak becus bekerja.
"Bapak bisa mempelajari semua berkas ini, nanti kalau ada yang tidak Bapak mengerti, Bapak bisa langsung panggil saya saja," ucap sekretaris Satria tadi dengan ramah.
"Oh ya, terima kasih banyak ya." Satria lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
Kini tersisa Satria seorang di dalam ruangannya. Dia tidak mengira akan bekerja di ruangan besar, ber-AC dan menggunakan jas serta dasi begini.
__ADS_1
"Mimpi apa aku semalam, bisa sampai jadi manager keuangan begini?" tanya Satria pada dirinya sendiri.