Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
ayah


__ADS_3

Satria kembali melihat ponselnya, dia menunggu telepon dari Santika. Sebenarnya bukan kabar dari Santika yang Satria nantikan, melainkan dari putri kecilnya.


Sudah dua minggu yang lalu Satria mengirimkan mainan untuk Natasya, tetapi sampai hari ini dia belum juga mendapatkan kabar tentang kondisi putrinya di kampung. Tentu saja hal itu membuat Satria cemas.


Satria takut kalau terjadi apa-apa kepada putri kecilnya. Terlebih lagi Satria tahu betul bagaimana karakter Santika dan Martin. Mantan istrinya dan suaminya itu sama-sama orang yang kasar.


Wajar saja kalau Satria takut putrinya tidak mendapatkan perlakuan layaknya anak kecil pada umumnya.


Satria yang merasa kasihan dan khawatir kepada Natasya, dia berinisiatif untuk mengirimkan sejumlah uang buat putrinya. Dia transfer uang itu ke nomor rekening mantan istrinya dan transaksi berhasil. Usai mengirimkan uang, Satria cepat-cepat menelepon Santika buat memberi tahunya bahwa barusan dia mentransfer uang.


"Santika ke mana sih? Kenapa teleponnya tidak diangkat?" tanya Satria kepada dirinya sendiri.


Satria tidak menyerah, dia kembali mencoba menelepon Santika. Barulah pada telepon ketiga, panggilannya diterima oleh Santika.


"Mau apa kamu nelepon aku lagi? Mau minta uang? Pasti kamu lagi nggak ada uang 'kan?" tanya Santika ketus.


Satria cuma tersenyum menanggapi pertanyaan Santika meski mantan istrinya itu tidak akan bisa melihat senyumannya, "Bukan itu, aku menelepon kamu itu karena aku cuma mau ngasih tahu ke kamu, barusan aku transfer uang ke rekening bank kamu. Itu untuk biaya hidup Natasya, bagaimanapun juga 'kan Natasya itu anak aku. Dia tetap tanggung jawab aku, meski sekarang kita sudah bukan suami istri lagi."


"Kamu dapat uang dari mana? Nyopet?"


"Aku bekerja di sini, San," jawab Satria. "Bagaimana kabar Natasya? Dia baik-baik saja 'kan? Aku kangen sama dia. Aku bisa bicara sebentar nggak sama Natasya?" Banyak sekali yang Satria tanyakan karena dia terlalu senang akhirnya Santika mau menerima panggilannya.


"Aku nggak lagi sama Natasya. Aku lagi sibuk, ya sudah aku tutup dulu." Sambungan telepon benar-benar terputus, Satria mendesah pelan.


Dia padahal ingin sekali mendengar suara gadis kecilnya, tapi Santika sepertinya sudah tidak betah bertelepon dengannya lama-lama.

__ADS_1


Satria melihat jam yang melingkar di tangannya, dia bergegas ke ruangan Pak Dewa karena tadi pagi Pak Dewa bilang kalau beliau ingin mengajaknya makan siang.


Di lain tempat, Santika terheran-heran kepada Satria. Banyak sekali pertanyaan dalam benak Santika mengenai uang yang dikirimkan kepadanya.


Santika tentu saja penasaran, dari mana Satria bisa mendapatkan uang itu? Namun Santika tidak peduli dari mana Satria bisa mendapatkannya. Sekarang yang Santika pedulikan hanyalah, dia punya uang dan bisa makan enak serta bisa perawatan.


Santika cepat-cepat pamit pulang kepada majikannya dengan alasan anaknya sakit. Padahal, Santika ingin berdandan dan pergi belanja lalu makan enak.


"Mau ke mana kamu dandan rapi begitu?" tanya Martin yang penasaran ketika melihat istrinya memakai riasan.


Santika sebenarnya kesal kepada Martin karena suaminya itu sudah menjual beberapa tas branded miliknya, tetapi Santika lebih merasa takut daripada kesal.


Sehingga dia pun masih memasang wajah baik setiap di depan Martin.


"Mau keluar sebentar, Mas," jawab Santika.


"Jadi selama ini kamu masih dapet transferan dari mantan suami kamu itu? Terus uangnya kamu pakai seneng-seneng sendiri?" Martin marah ketika tahu Satria mengirimkan uang kepada Santika.


"Enggak, Mas. Baru kali ini Mas Satria ngasih aku uang." Santika tidak bohong, karena memang kenyataannya begitu.


"Terus sekarang kamu mau seneng-seneng sendiri? Iya?" sentak Martin lagi.


Santika memutar bola matanya malas, "Aku mau shopping terus makan di kafe. Kalau kamu mau ikut, ayo kita berangkat sekarang." Santika mengambil ponselnya lagi dari tangan Martin dan menunggu Martin di luar kamar.


"Ibu mau ke mana? Ibu mau ketemu Ayah?" Natasya yang mendengar nama ayahnya disebut-sebut, dia jadi penasaran dan memilih bertanya kepada Santika.

__ADS_1


"Ibu mau pergi sama Ayah Martin. Kamu di rumah aja, nggak usah ikut. Nanti kamu ngerepotin lagi," jawab Santika tidak ada manis-manisnya.


Martin sudah keluar, dia menarik tangan Santika dan pergi dari rumah untuk ikut belanja bersama istrinya.


Santika dan Martin kini sudah ada di mall. Santika membeli beberapa potong baju untuknya dan Martin.


Selesai belanja, mereka ke kafe yang ada di samping mall. Keduanya sama-sama memesan makanan super enak dan mahal tanpa memikirkan bagaimana Natasya di rumah.


Martin tiba-tiba mengambil tas Santika, dia ambil lebih dari separuh uang yang dikirimkan oleh Satria tadi, "Itu sisanya cukup buat bayar semua makanan ini. Kamu pulang sendiri, aku sudah selesai makannya." Martin meninggalkan Santika sendirian di sana.


"Dasar, suami nggak tahu diri. Seenaknya saja dia mengambil uangku?" Santika sebenarnya marah, tapi dia malu kalau harus berdebat dengan Martin di tempat umum begini.


Di rumah, Natasya merasa perutnya sakit karena sedari pagi belum makan. Natasya mendatangi Lusiana yang sedang menonton televisi sambil menikmati sepiring batagor. Natasya melihat Lusiana lama, sampai membuat Lusiana tak nyaman.


"Apa kamu lihat-lihat?" sentak Lusiana.


"Tante, aku laper," keluh Natasya seraya meremas pakaiannya di bagian perut. Natasya melihat piring yang ada di tangan Lusiana.


"Minta makan sama Ibu kamu sana!" Lusiana membentak Natasya yang masih kecil.


Sekarang, pandangan Lusiana kepada Natasya sangat berbeda, dia seperti jijik melihat keponakannya sendiri. "Jauh-jauh kamu dari sini. Jijik aku lihat kamu. Sudah dekil, kucel, bau, nggak pernah mandi." Lusiana mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Natasya agar anak kecil itu menjauh darinya.


Natasya menangis dibilang begitu. Sebenarnya yang membuat Natasya menangis, bukan kata-kata yang Lusiana keluarkan. Melainkan karena Lusiana tidak mau mengambilkan makan untuk dirinya yang memang kelaparan.


"Ini ada apa sih? Ribut banget." Bu Marni keluar dari kamar, melihat putri keduanya dan cucunya yang ada di ruang keluarga.

__ADS_1


"Anaknya Mbak Santi tuh, Bu, nggak terurus banget. Aku jijik lihat dia, mana bau lagi, nggak pernah mandi. Mending Ibu urus dia deh, bikin emosi aja dia di sini," sahut Lusiana sambil menunjuk Natasya yang masih menangis.


Bu Marni seketika menarik tangan mungil Natasya, dia bawa cucunya ke kamar mandi lalu dia guyur tubuh kecilnya pakai air bak yang dingin. Natasya semakin menangis sejadi-jadinya karena ulah Bu Marni.


__ADS_2