Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Menolak Tawaran Pak Dewa


__ADS_3

Syarat yang diberikan Martin dan Santika beberapa hari lalu membuat Satria tidak fokus bekerja. Beberapa hari ini Satria jadi sering melamun dan tidak fokus. Bahkan tak jarang ketika dia sedang berdiskusi bersama sekretarisnya untuk membuat laporan atau mengerjakan berkas lainnya, sekretaris Satria selalu menegur Satria.


Sekarang sudah masuk jam makan siang, Satria juga tidak ada nafsu makan. Dia memilih berdiam diri di ruang kerjanya sambil memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak 100 juta. Sedangkan gaji Satria di perusahaan milik Dewa Anggara, kalau dikumpulkan selama satu tahun pun tidak akan terkumpul sebanyak itu.


"Apa aku pinjam saja ke kantor?" tanya Satria kepada dirinya sendiri. Tak lama, Satria menggelengkan kepalanya. Satria rasa kalau itu bukanlah ide bagus. Satria tidak berani pinjam ke perusahaan karena dia merasa masih karyawan baru. Selain itu, Satria juga tidak ingin menimbulkan kesenjangan sosial di antara para karyawan kalau sampai mereka tahu dirinya meminjam uang perusahaan.


Satria mengusap wajahnya, "Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu, Ya Allah?" tanya Satria.


Lelaki itu memilih keluar ruang kerjanya, dia pergi menuju masjid untuk salat.


Hari ini Satria lagi-lagi tidak ada acara makan siang bersama Pak Dewa karena atasannya itu bilang bahwa beliau ada rapat penting dengan para investor sedari pagi. Jadi mungkin saja, Pak Dewa juga akan makan siang bersama mereka di luar.


Di masjid, Toni mengajak Satria makan siang tapi kali ini ditolak oleh Satria. Toni hanya bisa mengiyakan saja dan membiarkan Satria kembali ke ruang kerjanya.


Toni ikut prihatin kepada yang menimpa Satria, namun Toni juga tidak bisa membantu banyak.


"Kamu yang namanya Toni?"


Toni menolehkan kepalanya, dia kaget saat mendapati di sampingnya ada Pak Dewa. Benar, Pak Dewa atasannya yang sekarang bertanya kepadanya.


Toni menganggukkan kepala, "Benar, Pak. Saya Toni," jawab Toni seadanya. Dia menundukkan kepala karena tidak berani membalas tatapan Pak Dewa.


"Kamu ada waktu? Bisa bicara sebentar dengan saya?" tanya Pak Dewa sopan. Toni lagi-lagi menganggukkan kepalanya, meski dalam hati sebenarnya Toni merasa takut kalau dia akan dimarahi oleh Pak Dewa.


Pak Dewa mengajak Toni makan siang bersamanya. Toni merasa kurang nyaman karena takut melakukan kesalahan.


Sedangkan Pak Dewa, dia terus meminta kepada Toni untuk tenang.

__ADS_1


"Kamu Toni teman baiknya Satria, 'kan?" tanya Pak Dewa lagi berbasa-basi.


"Iya, Pak." Untuk yang ke sekian kalinya, Toni hanya menjawab dengan kalimat yang sama. Toni semakin dikagetkan ketika bahunya ditepuk beberapa kali oleh Pak Dewa.


"Beberapa hari ini, saya perhatikan Satria itu seperti orang yang banyak pikiran. Dia tidak seperti biasanya. Apa kamu tahu alasannya?" tanya Pak Dewa langsung ke intinya.


Toni menggigit bibir bawahnya, "Saya tidak tahu, apakah saya boleh mengatakan ini atau tidak," jawab Toni ragu-ragu.


Pak Dewa memaksa Toni untuk menceritakan semuanya supaya dia tahu permasalahan yang sedang dialami oleh Satria.


Sampai akhirnya, Toni memberi tahu tentang semua yang dia tahu tentang permasalahan Satria dengan mantan istrinya dan putrinya di kampung.


Mulanya Pak Dewa kaget ketika mendengar bahwa Satria sebenarnya adalah seorang duda.


Namun tak lama, Pak Dewa bisa memahami posisi Satria.


Sesampainya di ruangannya, Pak Dewa meminta sekretarisnya untuk memanggil Satria ke ruangannya.


Pak Dewa ingin membantu masalah Satria, siapa tahu Pak Dewa bisa melakukan hal buat meringankan beban Satria.


Di dalam ruangannya, Satria melihat pintunya dibuka oleh sekretarisnya, "Ada apa?" tanya Satria.


"Maaf Pak, tadi saya sudah mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada sahutan dari Bapak. Jadi saya langsung masuk saja," ucapnya memberi alasan yang diangguki oleh Satria. "Saya mau memberi tahu kalau Bapak dipanggil ke ruangannya Pak Dewa sekarang," lanjut sekretaris Satria.


Satria mengiyakan, dia bergegas ke ruangan Pak Dewa. Satria bertanya-tanya dalam hati, kenapa Pak Dewa memanggilnya.


Setibanya Satria di ruangan Pak Dewa, dia malah disuruh duduk di sofa tempat biasa Pak Dewa menjamu para tamunya. Satria cuma bisa menurut saja tanpa bertanya. Lagi pula, nanti Pak Dewa juga akan memberi tahunya.

__ADS_1


Pak Dewa menatap kasihan kepada Satria, cuma langsung dia alihkan karena Pak Dewa tahu bahwa Satria mungkin saja tidak suka ditatap seperti itu.


Pak Dewa menghela napas panjang sebelum berbicara. Belum sampai Pak Dewa mengatakan maksudnya, sekretarisnya sudah lebih dulu mengetuk pintu dan masuk untuk memberikan dua cangkir kopi buat Pak Dewa juga Satria.


"Saya tahu, kamu sedang ada masalah. Saya dengar, kamu ingin mengambil hak asuh anak kamu tapi kamu harus memberikan uang sejumlah 100 juta kepada mantan istri kamu? Benar begitu?" tanya Pak Dewa langsung ke intinya.


Satria tentu saja kaget mendengar pertanyaan Pak Dewa. Satria membatin kalau dari mana Pak Dewa tahu tentang masalah yang sedang dia alami sekarang. Namun Satria juga tidak bisa mengelak.


"Iya, Pak." Satria mengangguk beberapa kali. Lagi pula, berbohong juga tidak ada untungnya buat dia, jadi lebih baik Satria jujur saja.


Pak Dewa mengetukkan jarinya ke atas sofa tempatnya duduk, "Saya akan kasih pinjam kamu sebanyak yang kamu butuhkan. Bagaimana? Kamu mau?" tawar Pak Dewa.


Mulanya Satria tidak tahu kenapa Pak Dewa sangat baik kepadanya dan mau memberinya uang pinjaman.


Sebenarnya Satria juga senang, akhirnya ada yang mau membantunya, tetapi akhirnya Satria menggelengkan kepala, "Maaf Pak, bukan maksud saya menolak niat baik Bapak, tapi saya takut kalau saya tidak bisa mengembalikan uang itu." Satria menolaknya, walau dalam hati dia tetap mengkhawatirkan kondisi putrinya.


Pak Dewa terkejut mendengar jawaban Satria. Tadinya Pak Dewa pikir, Satria akan menerimanya. "Ya sudah kalau begitu, tapi saya harap kamu tidak menyesal nantinya," ucap Pak Dewa.


"Insyaallah tidak, Pak," jawab Satria. Tanpa meminum kopinya terlebih dulu, Satria langsung pamit dari ruangan Pak Dewa karena masih banyak berkas yang harus dia kerjakan.


Pak Dewa cuma bisa mengiyakan.


Melihat Satria yang seperti itu, malah membuat Pak Dewa semakin salut kepada Satria. Pak Dewa semakin kagum akan kelembutan hati Satria.


Tadinya Pak Dewa ingin membantu Satria bukan karena semata-mata Satria karyawannya saja. Melainkan karena Pak Dewa juga seorang ayah yang memiliki putri.


Jadi Pak Dewa tahu bagaimana rasa sakit hatinya sebagai ayah kalau melihat putrinya terluka.

__ADS_1


"Harus bagaimana aku menolongnya tapi tidak merendahkan harga dirinya?" tanya Pak Dewa kepada dirinya sendiri.


__ADS_2