Surat Cinta Dari Istriku

Surat Cinta Dari Istriku
Mengambil Natasya


__ADS_3

Setelah beberapa bulan bekerja di rumah Pak Dewa, akhirnya uang 100 juta pun terkumpul. Tentu saja Satria merasa senang, itu artinya dirinya bisa secepatnya mengambil serta memindahkan hal asuh Natasya, putri kesayangannya dari tangan Santika dan Martin.


Sore ini setelah menjemput atasannya dari kantor, Satria meminta izin kepada atasannya untuk menjemput sang anak yang berada di rumah mantan mertuanya.


“Maaf Pak sebelumnya jikalau saya menyita waktu Bapak. Sore ini saya berniat untuk menjemput anak saya,” tutur Satria kepada Dewa, berharap atasannya itu mengerti dan membolehkannya pergi serta membolehkan putrinya untuk tinggal di rumah besar tersebut.


Dewa tersenyum, dia benar-benar kagum akan kesopanan dan kelembutan tutur kata asisten pribadinya itu. Keinginannya untuk menjadikan Satria sebagai menantu begitu besar, hanya saja dia takut jikalau Satria menolak, atau pun putrinya yang menolak niat baik tersebut, mengingat putrinya selalu bersikap kasar, jutek dan sedikit sombong kepada Satria.


“Memangnya uangmu sudah terkumpul Satria?”


“Alhamdulillah, sudah Pak. Tentu saja itu semua tidak lepas dari bantuan Bapak.”


“Ah, kamu terlalu berlebihan. Kerja keras dan kegigihanmu itulah yang mendatangkan rezeki tersebut.”


“Terima kasih Pak.”


“Kamu pergilah, toh saya juga tidak akan ke mana-mana lagi, kalaupun ada tugas dadakan yang mewajibkan saya untuk pergi saya akan meminta antar kepada bawahan lain. Kamu jemput dulu lah anakmu itu, bawalah dia.”


“Benarkah Pak?”


“Apa wajah saya terlihat meragukan?”


“Tentu saja tidak Pak.”


“Sekarang pergilah, sebelum saya berubah pikiran.” Pak Dewa tersenyum, sengaja menggoda Satria.


“Baik Pak, terima kasih sebelumnya. Kalau begitu saya pamit dulu.” Dewa membalikkan badan, kemudian bergegas melangkahkan kaki.


Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Pak Dewa memanggil namanya.


“Satria.”


Satria langsung menoleh, hatinya merasa kalut, dia takut jikalau tuannya itu berubah pikiran.


“Ya, Pak, ada yang bisa saya bantu,” jawab Satria pelan.


“Kamu mau ke mana?”


“Saya mau jemput anak saya Pak di rumah mantan istri saya.”

__ADS_1


“Iya saya tahu, tadi kamu sudah bicara kan? Saya belum pikun juga, maksud saya itu kamu mau ke sana pakai apa?”


“Saya ke sana naik ojek Pak.”


“Bawalah mobil saya, kasihan nanti anak kamu kalah kedinginan apalagi sebentar lagi malam, udara malam hari kurang baik untuk anak-anak.”


“Boleh Pak?”


“Tentu saja boleh kalau kamu pakai, asal jangan kamu jual saja.”


“Sekali lagi terima kasih Pak.”


Pak Dewa masuk ke dalam kamar, meninggalkan asisten pribadinya yang polos itu, sedangkan Satria bergegas mengambil kunci mobil yang tadi dia masukkan ke dalam laci lemari yang berada di ruang tamu. Setelah mendapatkannya, Satria pun berjalan tergesa hendak keluar, tetapi nahas dirinya malah menabrak Zaskia di depan pintu utama.


“Kamu ini, jalan itu pakai kaki dan mata!” bentak Zaskia yang baru saja pulang jalan-jalan bersama temannya.


“Maaf Mbak saya tidak sengaja.”


“Mbak, Mbak, saya bukan Mbakmu ya.” Setelah menjawab perkataan Satria, Zaskia melengos sembari mendelik ke arah pemuda itu.


Satria menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya pelan. Ucapan atasannya kembali terngiang di ingatan, ‘jangan di masukkan ke hati, Zaskia memang begitu orangnya, cuek dan ketus.’


Mobil Pajero berwarna hitam metalik yang di kendarai oleh Satria melesat membelah jalanan dengan kecepatan sedang.


Rasa rindu yang berbulan-bulan lamanya dia bendung, sebentar lagi akan dia curahkan kepada putri terkasihnya itu.


Satria benar-benar tidak sabar menunggu momen indah itu, momen di mana tangan mungil sangat putri memeluk tubuh kurusnya.


Beberapa menit kemudian, Satria sampai di depan sebuah rumah sederhana, rumah yang dulu pernah di tempatinya, rumah yang pernah menciptakan bahagia juga menciptakan duka yang begitu dalam sampai terasa hingga sekarang.


Satria mendekati rumah bercat kuning gading itu. Setelah mengatur hatinya, Satria pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan mengucap salam.


Tidak lama, sang pemilik rumah keluar.


“Eh, si miskin,” sindir Santika sembari berkecak pinggang. Alis tebalnya naik sebalah, mata berlensa biru mudanya terus menilik memerhatikan penampilan mantan suaminya.


“Berbulan-bulan lamanya tidak berjumpa, ternyata keadaanmu masih sama saja.” Santika kembali melontarkan omongan pedas.


Satria yang dari rumah sudah menguatkan diri hanya bisa tersenyum tipis mendengar penghinaan dari mantan istrinya.

__ADS_1


Tidak dapat di mungkiri jika kata-kata Santika melukai hatinya, tetapi Satria tidak bisa marah karena apa yang di ucapkan Santika memang fakta dan benar adanya.


“Aku ke sini bukan untuk mendengarkan cacianmu Santika, tapi aku ingin bertemu Natasya.”


“Kamu memiliki keberanian dari mana hah untuk menemui Natasya? Apa kamu sudah mempunyai apa yang aku inginkan?!”


“Kamu jangan lupa jikalau aku adalah ayah kandung Natasya.”


“Iya tapi kamu seorang bapak yang miskin!”


“Iya aku sadar, aku tahu untuk itu aku sadar diri.”


Mendengar perdebatan antara Santika dan Satria, Marni keluar dari dalam rumah dengan Natasya di gendongannya, tidak hanya itu beberapa warga lain pun yang rumahnya dekat dengan rumah Marni ikut mendekat ke arah mereka.


Sebagian ada yang penasaran dengan apa yang terjadi apalagi tadi mereka melihat Satria datang mengendarai mobil, sebagian lagi ada yang berniat untuk melerai, sebagian lagi ada yang hanya berniat untuk menjadi penonton.


“Bagus. Kamu memang harus sadar diri.”


“Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu. Aku ke sini bukan untuk berdebat tetapi untuk meminta hak asuh Natasya.”


“Heh, enak saja main minta-minta mangnya Natasya anak kucing.” Marni ikut mencampuri perdebatan antara Satria dan Santika.


Merasa keadaan sudah tidak kondusif, Satria langsung saja mengeluarkan isi tasnya. Dia menyodorkan sebuah amplop tebal ke arah Santika yang masih melipat tangan di dada.


“Itu kan yang kamu mau, sekarang aku meminta hak asuh Natasya jatuh kepadaku.” Satria hendak mengambil Natasya dari gendongan Marni, tetapi wanita paruh baya itu menghalangi.


Dia ingin memastikan jikalau amplop yang Satria berikan benar-benar berisi uang 100 juta.


Karena sebentar lagi azan Magrib akan berkumandang, jadi Satria meminta secepatnya agar Natasya diberikan kepadanya.


"ayah, gadis kecil dalam kamar segera keluar melihat ayahnya yang sangat dia rindu kan,"


"sayang ayah datang menjemput mu nak,"


Namun, Marni terus saja menepis tangan mantan menantunya itu. Marni masih tidak percaya jikalau mantan menantu miskinnya itu tiba-tiba mempunyai uang 100 juta. Sedangkan Santika masih menghitung uang yang Satria berikan.


Merasa geram melihat kelakuan Santika para tetangga yang memang tahu akan kebusukan dia wanita gila harta itu pun langsung membantu Satria untuk mengambil alih Natasya.


Ya, tetangga-tetangga Marni memang sudah mengetahui jikalau Natasya sering di bentak bahkan ibu atau pun neneknya itu tidak akan segan memukul tangan kecil Natasya saat bocah kecil itu melakukan kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2