
Alhamdulillah, gaji aku bulan ini lebih dari cukup untuk membelikan mainan buat Natasya." Satria mengucap syukur saat dia melihat struk gaji atas nama dirinya. Dia segera membereskan berkas-berkasnya di atas meja dan pulang. Kebetulan, jam pulang kerja juga sudah tiba. Rencananya, Satria akan pergi ke toko mainan untuk membelikan mainan yang diinginkan Natasya.
Tanpa merasa malu, Satria sudah masuk ke toko mainan dan boneka. Dia membelikan mainan masak-masakan, rumah barbie beserta barbie-nya dan juga satu boneka berukuran sedang. Satria juga meminta kepada pelayan toko untuk mengirimkan semua mainan itu ke alamat yang dia berikan. Tentu saja Satria masih ingat betul alamat rumah mantan ibu mertuanya dulu di kampung.
Sepulang dari toko mainan, Satria kembali ke kontrakan sambil menenteng sekeresek nasi bungkus dan air minum. Hari juga sudah gelap, Satria akan langsung makan dari salat di kontrakan saja karena sekarang sudah lewat dari jam salat isya.
"Semoga nanti kamu suka sama mainan yang Ayah kirimkan ya, Nak. Sekarang Ayah sudah bisa membelikan kamu mainan apa saja." Satria berbicara dengan foto Natasya yang ada di ponselnya.
Sebelum makan, Satria memilih memutar video Natasya saat putrinya baru saja belajar berjalan. Satria menjadikan video itu sebagai tontonannya. Alih-alih menonton video di aplikasi, Satria lebih baik menonton video putrinya.
Tadi Satria juga menyertakan nomor teleponnya di dalam paket yang dia kirimkan, agar kalau Natasya ingin meneleponnya, Natasya bisa meminta tolong kepada Santika. Semoga saja Santika mau mengizinkan Natasya untuk bertelepon dengannya.
Siang ini di kampung, Martin kembali dibikin emosi saat melihat ada kurir paket yang datang. Dia kira kalau itu ulah istrinya lagi yang berbelanja online.
"Santika! Belanja apa lagi kamu?" teriak Martin dari arah luar. "Aku nggak ada uang buat bayar biaya tagihannya!" seru Martin lagi.
"Maaf Pak, ini paketnya sudah dibayar lunas. Jadi Bapak tidak perlu membayar lagi, soalnya bukan COD." Kurir paket tadi menjelaskan mengenai paket yang dia kirimkan.
Kening Martin mengerut, dia sedikit heran karena tidak biasanya Santika belanja langsung dibayar. Terlebih lagi, kardus paket itu bisa dibilang sangat besar. Martin tentu saja penasaran mengenai isinya.
__ADS_1
Santika keluar dari rumah, "Ada apa sih, Mas? Kenapa kamu teriak-teriak begitu?" tanya Santika heran.
"Tuh, paket apa lagi yang kamu beli kali ini?" sahut Martin seraya menunjuk kardus yang dibawa oleh kurir paket tadi.
Pandangan Santika beralih ke arah kurir paket yang biasa mengantar ke sini. Keningnya mengerut dan dia bingung pada paket yang dipegang oleh kurir tersebut karena seingat Santika, dia tidak memesan apa-apa. Santika merasa dia tidak ada uang buat belanja, makanya dia tidak shopping.
"Paket apa ya, Mas?" tanya Santika.
"Saya tidak tahu, Bu. Tapi ini dikirim ke alamat ini atas nama Ibu dan dalam kurung ada namanya Natasya." Kurir tadi menjelaskan lalu meletakkan paketnya ke atas meja dan pamit.
Santika melihat kertas bagian pengirim, dia sedikit kaget saat melihat bahwa yang mengirim paket itu bernama Satria. Santika membawanya masuk dan membukanya di ruang tamu. Di saat yang bersamaan, Natasya keluar dari kamar. Dia ikut membuka paket bersama ibunya, karena itu kegiatan yang menyenangkan bagi Natasya.
"Ini untuk Natasya, dari Ayah." Santika membaca notes tulisan tangan, dia ingat kalau itu memang tulisan tangan mantan suaminya.
"Jadi, itu dari mantan suami kamu?" tanya Martin yang sedari tadi menyaksikan dari ambang pintu.
Santika yang mulanya berpikir, dari mana Satria mendapatkan uang untuk membelikan mainan buat Natasya, jadi buyar karena pertanyaan Martin. Santika tidak suka Satria membelikan mainan buat putri mereka.
"Ibu nggak suka kamu main pakai ini. Ibu akan buang mainannya!" Santika seketika mengambil kardus berisi mainan tadi dari tangan kecil Natasya.
__ADS_1
Natasya tentu saja tidak rela, dia menangis dan menyusul ibunya ke belakang. Natasya berlari dengan langkah kecilnya, "Ibu, jangan dibuang mainannya! Itu dari Ayah!" mohon Natasya, namun sayangnya Santika tidak mau mendengarkan apa kata Natasya.
Santika benar-benar tidak memiliki hati nurani. Dia tega menginjak-injak semua mainan itu di depan Natasya, sampai putrinya menangis histeris sejadi-jadinya. Semua mainan itu hancur tak berbentuk. Bahkan boneka yang tadinya masih cantik pun, sudah dirobek-robek pakai pisau dapur. Santika meninggalkan Natasya sendirian di halaman belakang yang masih menangis meratapi mainannya dihancurkan oleh ibunya.
Siang berlalu, malam menyambut. Santika dibikin panik karena Natasya tiba-tiba demam tinggi. Dia meminta Martin buat mengantarnya ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dokter bilang kalau Natasya harus rawat inap. Mau tak mau, Santika mengiyakan karena dia juga tidak ingin putrinya kenapa-napa.
"Terus sekarang bagaimana kamu mau membayar biaya rumah sakit? Mau pakai daun?" tanya Martin kepada Santika yang masih menunggu Natasya di ruang rawat.
Bu Marni yang juga menemani pun kembali was-was ketika dia mendengar Martin mulai marah-marah lagi kepada Santika. Dia menengok ke sekitar, banyak keluarga pasien yang sekarang melihat ke arah Martin dan Santika.
"Ya kamu cari uang buat biaya pengobatan Natasya dong, Mas. Kamu 'kan Ayahnya sekarang," balas Santika dengan nada pelan.
Martin tertawa sinis sambil melirik ke arah Natasya yang terlelap akibat pengaruh obat tidur, "Ayah kamu bilang? Dia saja bukan anak kandungku," balas Martin.
"Mas, kamu tuh ngomong apa sih?" sentak Santika namun pelan.
"Kamu sendiri pokoknya yang harus cari biaya rumah sakit buat Natasya. Aku nggak mau pusing." Martin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Santika menarik tangan Martin keluar ruangan karena dia malu harus dilihat oleh keluarga pasien yang lain. Martin menghempaskan tangan Santika begitu saja sampai Santika meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa lepas tanggung jawab gitu aja dong, Mas. Aku sama Natasya itu sudah menjadi tanggung jawab kamu. Jadi kamu yang harus nyari uang buat biaya pengobatan Natasya." Santika tentunya menuntut agar Martin tidak lepas tangan begitu saja.
"Lagian Natasya sakit juga karena siapa? Karena kamu 'kan? Kamu yang sudah merusak semua mainan yang dikirimkan Satria. Jadi kamu yang harus nyari uang buat biaya rumah sakit Natasya. Tanggung jawab kamu, karena ulah kamu jadinya anak kamu begini." Martin langsung meninggalkan Santika begitu saja. Lagi-lagi begitu, Martin selalu menghindar dan tidak pernah mau mencari jalan keluarnya bersama-sama.